Istana Biru Yang Mulai Mengusang

image
Istana biru yang mengusang.

Jauh sebelum menghampiri Karaton Surakarta atau dalam Bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat di Surakarta alias Solo, saya sudah mendengar banyak keluhan mengenai tempat ini. Banyak yang berujar Karaton mulai tak terurus. Banyak barang yang rusak. Dan komentar-komentar sejenisnya.

Dan ternyata,………………… semua itu benar adanya. Mengecewakan, sungguh. Siang itu, matahari yang sudah mencapai ubun-ubun kepala, menjadi tanda saya tiba di pintu samping Karaton. Supir becak menyuruh saya masuk saja mengikuti arah. Baru masuk, sudah disambut fotografer keliling yang rada maksa untuk memotret saya. “Bu, foto dulu. Ayo foto dulu!”, kata satu mas dan satu mbak. Iih, kok maksa sih mas, mbak? Terpaksa jalan buru-buru demi menghindar tampang manis saya akan terekam kamera. Gara-gara jalan buru-buru, akhirnya nyelonong aja ke pintu masuk yang akhirnya dimintain petugas tiket masuk. Lhaa, kan belum beli tiket! Malu deh, akhirnya mundur pelan-pelan, celingak-celinguk cari loket, eh, itu dia, ada di sebelah kanan, mojok, redup, dalam hati bilang, “jelek amat sih loketnya?? Beda sama yang di Jogja.”

Selepas membeli tiket, kemudian melalui proses yang sama, menyapa kembali petugas yang tadi menagih tiket, lantas memasuki lorong yang bermuara pada halaman di tengah bangunan kotak itu. Sampai dekat halaman, tadaaaaEalah, kok begini amat sih rumahnya seorang pembesar? Di halamannya, rumput-rumput agak meninggi, dengan sampah daun berguguran yang enggan dibersihkan. Lihat kiri, lihat kanan, nggak ada yang menarik ya. Suasananya, lingkungannya, warna dan detail bangunannya bikin nggak semangat gitu buat lihat-lihat.

Saya lantas melanjutkan langkah menuju ruang pamer benda-benda kerajaan. Sungguh, rasanya nggak pengen lama-lama di dalam. Sudah tahu langit-langit bangunan tinggi, tapi malah dikasih lampu kuning berwatt kecil. Mana enak lihat-lihat benda pajangan dengan cahaya remang-remang. Malah bikin sakit mata. Belum ditambah lemari kaca dan pajangan di dalamnya yang berdebu tebal. Nyokap langsung komen, “Itu bayar sepuluh ribu, tapi nggak ada yang bersihin?!” Iya juga. Apalagi Karatonnya nggak sepi-sepi amat kok. Siang itu lumayan ramai sama rombongan pelajar. Belum ditambah wisatawan. Ada juga turis asing. Pertanyaannya, kenapa Karaton Surakarta tidak dipelihara dengan baik? Bagaimana Pak Sultan?

image
Bangunan museum yang nampak reyot.

 

image
Beberapa sudut terlihat kusam.
image
Kereta kencana yang sudah tak dikenali lagi keanggunannya.

Di bagian luar ruang pamer, ada lorong memanjang yang menurut saya akan sangat cantik kalau dicat atau diganti dengan ubin yang lebih “ceria” warnanya, atau minimal ubinnya disapu dan dipel deh. Biar lebih bagus gitu. Tapi ya, dibiarkan begitu saja. ada beberapa kursi kayu dengan anyaman rotan di bagian dudukannya, dan guci-guci besar di sampingnya. Sebenarnya bagus, antik banget. Tapi itu, berdebu juga, jadi malas buat duduk-duduk cantik di situ.

Di lorong yang sama juga terdapat beberapa kereta kencana, nasibnya pun lebih buruk. Bukan hanya berdebu, tapi sudah rusak, bahkan ada yang parah. Padahal kalau saya lihat, desain dan bentuknya bagus, bergaya Eropa begitu. Kalau diperbaiki, pasti cantik sekali. Tapi malah dibiarkan membisu di pojok lorong, menunggu waktu dibuang. Nihil pula papan yang menjelaskan apa fungsi si kereta di masa lalu. Lagi-lagi sayang sekali.

Langkah makin tak nikmat. Ingin kabur, saya pun menuju bagian dalam Karaton. Di depan jalan masuknya, trus mulai parno pas lihat tanda dilarang memakai sandal. Berhubung tiap jalan-jalan saya selalu pakai sandal jepit, langsung kepikiran, jangan-jangan nggak boleh masuk lagi. Sedetik kemudian, lihat satu bapak habis nyeker dari dalam dan lagi ambil sandal yang dia taruh di lemari penitipan. Damn! Pasti saya mesti nyeker nih ke dalam. Tapi karena anaknya ngeyel, saya nekat aja masuk dan berharap petugasnya nggak ngeh. Apalagi jalanannya lagi padat sama rombongan pelajar yang baru mau keluar. Eeh, memang nasib ya, satu bapak ngeh dan saya akhirnya masuk halaman Karaton tanpa alas kaki. Yeay! Mama dan kakak saya langsung cekikan lihat saya nyeker sepanjang jalan kenangan. Kakak saya malah ngebet banget pengen foto saya karena nggak pakai sandal. Norak deh, sist!

image
Area yang tak boleh dimasuki pengunjung yang memakai sandal.
image
Sepi tanpa kegiatan berarti.
image
Ruang yang dilarang untuk dimasuki.
image
Menurut cerita, ini adalah ruang untuk bersemedi.

Terlepas dari insiden nyerker, ternyata saya menyukai bagian dalam Karaton. Langsung disambut udara segar dari sederet pohon (entah ini pohon apa) yang tumbuh rindang sepanjang halaman. Pohonnya ditanam teratur, sehingga manis kalau difoto. Rindangnya pohon bikin hawa jadi sejuk dan cukup menyenangkan. Akhirnya ada juga satu titik yang membuat saya bisa menemukan rasa nyaman.

Tak banyak orang yang beredar di sini. Mendekat ke arah pendopo, saya dan semua pengunjung hanya bisa merapat, tanpa boleh masuk lebih jauh. Di sisi barat, ada ruangan yang diisi para abdi dalem yang sedang melantunkan puji-pujian. Di sisi timur, ada bangunan serupa menara, yang katanya sebagai lokasi untuk semedi. Menurut si bapak yang sempat saya berbincang dengannya, yang juga salah satu abdi dalem di situ, pasir yang ada di halaman Karaton berasal dari Gunung Merapi, Pantai Parangtritis, Parangkusumo, lalu ada lagi yang dia sebutkan, tapi saya nggak dengar jelas. Entahlah, ini benar atau tidak. Karena sejujurnya, penampakan si bapak membuat saya jadi ragu buat percaya. Apalagi pas dia bilang Jokowi malam itu akan ke Karaton. Heeee!! Wong Jokowi lagi di Australia kok! (saya nggak bilang gitu sih di depan beliau, cuma senyum-senyum ramah aja ke dia). Akhirnya pamit sama si bapak, sebelum dia cerita banyak. Soalnya itu udah banyak juga yang dia ceritain. Dan tipikal orang-orang Indonesia pada umumnya yang selalu melakukan repetisi dalam tiap kisahnya. Iya ya, kenapa kebanyakan orang Indonesia suka mengulang-ngulang kalimat yang sama kalau lagi bicara? Buat lebih meyakinkan gitu? Ya ya ya ya.

Selebihnya, saya merasa cukup betah di sini. Lebih tenang. Sisa waktu dihabiskan untuk merekam jejak melalui kamera. Narsis juga. Akhirnya mama saya mau juga diajak narsis pakai tongsis, walaupun suka kebingungan mesti lihat ke arah mana. 10 menit kemudian, saya pamitan pada istana biru dengan telapak kaki berwarna cokelat kehitaman (iya kotor bener gara-gara nyeker). Semoga perjumpaan berikutnya Karatonnya bisa lebih cantik dipandang.

image
Mother and sisters.
image
Malu deh mesti nyeker.

 

Sekilas Karaton Surakarta Hadiningrat:

-Didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II tahun 1744, sebagai pengganti Karaton Kartasura yang hancur akibat Geger Pecinan.

-Salah satu arsitek Karaton adalah Pangeran Mangkubumi yang juga kita kenal sebagai Sultan Hamengkubuwono I.

-Ada beberapa selebrasi penting yang kerap dilaksanakan di Keraton Surakarta, yakni Grebeg, upacara tiga kali dalam setahun, di mana raja memberi sedekah wujud rasa syukur kepada Tuhan. Sekaten, upacara selama tujuh hari untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Dan yang teranyar, Malam Satu Suro, perayaan tahun baru menurut kalender Jawa.

Karaton Surakarta Hadiningrat:

www.karatonsurakarta.com

How to get there?

Bisa naik taksi atau becak. Lokasi strategis di pusat kota.

Need to know!

Tiket Masuk
Wisatawan domestik : Rp10.000
Wisatawan asing : Rp15.000
Izin foto(kamera) : Rp3.500

Jam Buka
Senin-Kamis : 09:00-14:00
Sabtu-Minggu : 09:00-15:00
Jumat : Tutup

Note: Pengunjung Keraton tidak boleh memakai topi, kacamata hitam, celana pendek, sandal, dan jaket.

 

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s