Floating Palace

image
Taman Ujung, istana air yang elok.

Bali tuh ngangenin! Saya nggak bisa menyangkal itu. Tiap kali mendarat di Bali, langsung tercium bau dupa, melihat tatakan sesajen, mendengar denting gamelan, semuanya menyedot seluruh indra, membangkitkan rasa yang telah hilang. Jadi maaf-maaf saja, bukan maksud hati mengikuti arus mainstream yang kerap membawa pelancong ke Tanah Dewata, tapi bagaimana dongI heart Bali!

Sekarang pertanyaannya bukan sudah pernah ke Bali atau belum? Tapi sudah berapa kali ke Bali? Saya sendiri sudah lima kali. Pertama kali ke sana 12 tahun silam. Terakhir ke sana Desember 2013. Setahun yang lalu ya, nggak berasa. Well, setiap pengalaman ke Bali membawa saya menemui banyak tempat baru. Ada yang magis. Ada yang menakjubkan. Ada yang bikin kenyang perut dan mata. Ada yang bikin speechless. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Di antara setumpuk destinasi yang pernah saya kunjungi, saya ogah bahas pantainya. Saya ingin menikmati Bali tanpa pantai, tanpa ombak bergulung, tanpa pasir putih, dan bau laut yang menyegarkan itu. Walau saya anak pantai banget, tapi bagi saya, Bali nggak melulu soal pantai.

Sasaran saya adalah Bali pesisir timur. Berjalan darat dengan mobil sewaan menuju kawasan ini nikmat betul. Membiarkan jendela mobil terbuka, menghirup udara segar, sambil melirik sisi timur yang dihuni jajaran pantai berpasir hitam. Jalanan landai, tanpa curam dan belokan tajam, membuat perjalanan berlalu santai. Sudah lewat satu jam. Sudah pula melewati Goa Lawah. Jauh di depan sana akan melewati Tulamben. Jadi sebenarnya saya mau ke mana? Tujuannya Taman Soekasada Ujung atau yang biasa disingkat Taman Ujung.

Pertama kali lihat di layar komputer. Wow! Cantik sekali! Dalam hati membatin, saya harus ke sana. Emang ya, kalau uda niat, kesampean juga inginnya. Hampir dua jam dari Kuta, akhirnya tiba di The Water Palace. Sebelum memasuki areal cagar budaya, mobil mengitari setengah bangunan, sehingga dari jalan raya bisa terlihat tatanan rapi tempat peristirahatan Raja Karangasem yang terletak dekat pantai di Desa Tumubu, Kecamatan Karangasem. Saya sudah keburu excited pas lihat. Nggak sabar pengen cepat-cepat masuk.

image
Segala tampak cantik dari segala arah.
image
Pada beberapa kolam terdapat patung-patung cantik.

TiTiba di lokasi, beli tiket dekat pelataran parkir, langsung masuk melalui jembatan. Suasananya tenang waktu itu. Nggak terlihat banyak pengunjung. Lihat depan, kiri dan kanan, ya ampun, menyenangkan sekali tempatnya. Pantesan Raja Karangasem pilih lokasi di sini sebagai tempat leyeh-leyeh. Hijau di mana-mana. Pohon-pohon tumbuh menjadi penyejuk suasana. Belum lagi dipermanis kolam-kolam air dengan air mancur dan teratai. Itulah mengapa tempat ini disebut Taman Air Kerajaan atau The Water Palace.

Taman Soekasada memiliki tiga kolam besar dan luas dekat bangunan utama. Kolam-kolam ini disertai patung-patung. Namun ada satu yang istimewa, yaitu Kolam Dirah. Ini merupakan kolam pertama yang dibangun Raja Karangasem. Faktanya, gara-gara Kolam Dirah, terciptalah Taman Ujung. Objek wisata ini memang merupakan hasil pengembangan dari Kolam Dirah.

image
Mendaki menuju Bale Kapal.

image

image
Pemandangan menghadap Lautan Hindia yang luas bebas.
image
Nggak mungkin nggak foto narsis dengan pemandangan seperti ini. Photo by Novena Assen.

Menjelang siang, hawa panas mulai memancing peluh. Tapi saya penasaran pengen ke atas, menaiki 107 anak tangga menuju Bale Kapal. Rupanya seperti pilar-pilar yang sudah tak berbentuk sempurna. Katanya dulu bentuknya seperti kapal, makanya diberi nama Bale Kapal. Dari sini bisa melihat panorama yang fantastis. Sebelah barat ada bangunan Bale Kambang dengan latar pohon-pohon hijau berbaris rapat, dengan langit biru sebagai pelengkap keelokan. Di sisi timur, tampak Bale Bunder dengan kolamnya, dan di belakangnya, lautan lepas tanpa ujung. Speechless! Speechless lihat itu semua. Akhirnya cuma berdiri dalam panas sambil memandang lukisan nyata di depan mata. Oh ya, di lokasi ini sering banget dipakai buat foto prewed. Keren banget soalnya.

Setelah puas (nggak puas juga sih. Pengen duduk-duduk lama di sini), Saya kemudian bergerak ke Bale Kambang. Melewati jembatan cantik yang oke banget buat foto narsis, lalu memasuki bangunan yang dominan berwarna putih. Tempat ini dulu digunakan sebagai areal istirahat raja dan keluarganya. Juga untuk menyambut tamu-tamu kerajaan. Di dinding banyak terpajang foto-foto hitam putih yang memamerkan raja dan kerabatnya. Masing-masing foto disertai profil singkat mengenainya. Di sini juga terdapat beberapa ruang, seperti ruang peraduan raja yang dikeramatkan, ruang keluarga, ruang untuk putera-puteri raja, dan ruang makan. Khusus untuk ruang peraduan raja yang dikeramatkan, ada tanda yang melarang wanita haid untuk memasukinya. Entah apa alasannya.

image
Bale Kambang.
image
Jembatan cantik penghubung ke Bale Kambang.
image
Altar sembahyang.
image
Di Bale Kambang banyak terdapat foto-foto hitam putih milik kerajaan.
image
Raja Karangasem yang terakhir, I Gusti Bagus Djelantik.

Keluar dari Bale Kambang, saya cuma jalan tanpa arah, sekalian motret. Sempat kepikiran kalau bikin acara nikahan di sini. Garden party di sini pasti keren banget. Tapi kayaknya nggak mungkin deh, secara ini cagar budaya. Tapi entahlah. Mungkin ada yang inisiatif mau cari tahu? Kalau sudah tahu, kabarin saya ya 🙂

Lewat tengah hari saya berpisah dengan Taman Ujung. Eksplorasi yang menyenangkan hati. Kalau kesampean ke Bali, mau ke sini lagi. Mungkin datangnya agak sorean, siapa tahu bisa lihat sunset dari Bale Kapal.

Sekilas Taman Soekasada Ujung:
-Dibangun tahun 1919 pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik, dengan arsitektur bangunan perpaduan gaya Eropa dan Bali.
-Taman Ujung pernah rusak parah karena letusan Gunung Agung tahun 1963, untuk kemudian diperparah lagi oleh gempa bumi pada 1976.
-Untuk mengembalikan kemegahannya, sepanjang 2001-2003, Pemerintah Kabupaten Karangasem memperbaiki taman sehingga bisa secantik dahulu kala.

How to get there?
Berada di Desa Tumubu, Karangasem. Transportasi ke sana antara sewa mobil atau motor.

Need to know!
Tiket masuk Rp20.000
Izin foto (kamera DSLR) Rp50.000

Note:
Wanita haid dilarang memasuki ruang peraduan raja yang dikeramatkan. Pakai topi dan kacamata hitam ataupun payung jika datang saat siang. Di pelataran parkir tersedia warung-warung makan.

-PJLP-

Advertisements

3 thoughts on “Floating Palace

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s