How I Met Angkor Wat?

image
One magical morning.

Di luar efek kepanasan selama day trip di Kompleks Angkor Wat, pengalaman bertamu di sini sangat sangat membekas. Sudah lama diimpikan, hadir tepat di depan mata. Bersinar bersama sang surya yang membuka hari dengan tampilan tanpa cela. Ah, saya maju beberapa langkah. Mari mundur dan mengawali kisah pertemuan dengan Angkor Wat, sang permata di Siem Reap.

Perjalanan ke Siem Reap sempat menjadi dilema. Saya dan Eka (travelmate langganan) mesti memilih antara Phuket atau Siem Reap, dalam rangkaian perjalanan mengitari tiga negara. Dari Bangkok, mesti menentukan, mesti ke barat untuk leyeh-leyeh di pantai atau langsung ke timur dan mengagumi bangunan bersejarah yang dielu-elukan dunia. Thank God kami sehati sepaham, tanpa drama dan memilih Siem Reap dengan mantap. Alasannya cuma satu, Angkor Wat susah ditolak. Lagian, masih bisa kok menikmati pantai di Indonesia. So Siem Reap, here we come!

Perjalanan dari Bangkok ke Siem Reap penuh perjuangan. Panas, lama, capai, tapi seru. Makanya akan dibuat di postingan berbeda. Singkatnya kami berangkat dari Bangkok jam enam pagi, tiba di Siem Reap sekitar jam lima sore. Sampai hostel buat check-in, nggak kebayang mempesonanya tampang kami…Hehehe.

Sisa hari itu dipakai buat kulineran dan sight-seeing seputaran Pub Street, yang bikin kami langsung jatuh hati sama kota ini. Bagaimana nggak jatuh hati kalau makan Pork Ribs enak (banget) cuma $2 aja. Iyaaaa, benerrr! Trus trus, Khmer Massage yang menurut saya lebih enak dari Thai Massage juga super murah di sini. Di luar hingar-bingar Pub Street yang bikin mupeng sana-sini, kami sebetulnya pengen banget keliling-keliling sampai larut. Cuma besok subuh mesti jalan. Jadi sebelum tengah malam, jadi dua Cinderella udah balik ke hostel.

A new day has come. Jam setengah lima pagi saya dan Eka sudah duduk di tuk-tuk yang kami sewa seharian dengan harga $20. Lumayan mahal, tapi sudah jadi harga standar. Awalnya sih kami berpikiran buat sepedaan keliling kompleks. Kayaknya seru ya. Lebih murah pula. Ya ampun, untung otak kami lagi cerdas saat itu dan milih naik tuk-tuk. Nggak kebayang mesti genjot sepeda keliling Kompleks Angkor Wat yang gede bangeeettt sambil panas-panasan dengan suhu di atas 40°C.

Anyway, perjalanan dari hostel yang berada di pusat kota menuju pintu masuk kompleks kuil dan candi sekitar 15 menit. Sepagi itu sudah terlihat kerumunan turis yang antri beli tiket. Supir tuk-tuk kami menyuruh turun dan beli tiket. Ada beberapa loket yang menjual varian tiket. Mau beli one day ticket, bisa. Mau yang tiga hari, ada juga. Buat seminggu, yes, tersedia kok. Beda jumlah hari kunjungan, beda harga pastinya. Kami beli one day ticket seharga $20. Mahal? Relatif. Lagi pula, ini kan destinasi maha megah, sebanding menurut saya.

Tiket masuk disertai foto diri pengunjung. Masing-masing pengunjung akan difoto dulu pas beli tiket, alhasil, tampang ngantuk tanpa make-up terpajang manis di tiket saya. Siapa juga yang niat dandan subuh-subuh?!? Mesti diingat, tiket mesti disimpan baik-baik, karena ini kan kompleks, which is banyak kuil dan candinya, jadi tiap kali mau masuk di satu objek, akan dicek tiketnya. Kalau nggak punya tiket, akan kena denda, tapi saya lupa berapa sanksinya.

image
Jalan setapak menuju Angkor Wat.
image
Deretan manusia penikmat sunrise.
image
Siluet sempurna.

Dari pintu masuk menuju Angkor Wat memakan waktu 10 menitan. See, mulai terlihat kalau kompleksnya gede aja. Diturunkan di tempat parkir, kami berjalan ke arah di mana banyak orang tuju. Masih gelap sih, tapi bisa kelihatan jalanannya. Sebenarnya agak bingung juga sama arahnya. Akhirnya saya tanya satu bapak yang lagi sibuk siapin peralatan fotonya. Kata dia masuk aja, lewatin jembatan batu, nanti keliatan kok lokasinya.

Ya sudah, kami nurut sama instruksi dia. Setelah lewat jembatan dan gapura batu, nan jauh di sana, itu dia tampak depan Angkor Wat yang begitu mendunia. Perlahan mendekat, ada beberapa reruntuhan bangunan di kiri-kanan jalan setapak batu. Kami maju terus, lalu membelok ke kiri, di mana sudah berkumpul ratusan wisatawan yang duduk dan berdiri menanti satu ritual setiap hari baru muncul, yakni matahari terbit.

Somehow, saya dan Eka terpisah. Sama-sama sibuk cari celah untuk motret di antara keramaian. Malas foto-foto, malas berdiri, saya duduk sebentar di atas sebongkah batu. Diam ditemani obrolan dalam banyak bahasa di sekitar. Instantly, I’m thanking God for making my dream come true. Thank you Lord Jesus.

Sesaat kontempelasi, saya mulai cari si nenek (iya, itu julukan Eka..Hehe). Itu dia, lagi foto-foto di sebelah barat kolam. Kolam yang biasa dipakai untuk menangkap pantulan Angkor Wat di air. Sambil membunuh waktu, kami sibuk selfie dengan tongsis, yang bikin banyak bule terkagum-kagum..haha. Di langit, cahaya jingga mulai muncul. Kami berjalan mendekat, semakin dekat dengan Angkor Wat. Di halamannya, kami menyambut surya tercantik dengan efek jingga yang susah dilupakan. Difoto saja bagus. Apalagi lihat langsung. Perfetto kalau kata orang Italia.

image
Iconic hallway.
image
Ukiran dinding batu terdapat di sekeliling Angkor Wat.
image
Beautiful art carving.

Nggak lama setelah matahari terbit, kami masuk, mumpung belum ramai. Mata saya menangkap banyak ukiran cerita pada dinding batu. Karena nggak ada petunjuk, jadi kurang paham juga isi kisahnya apa. Seandainya kami pakai pemandu, pasti lebih enak nih. Kemudian menghampiri satu lorong panjang dengan pilar-pilar batu sebagai penopangnya. Saya langsung ingat posting-an Afif di Instagram. Ini lorong sama yang dia posting waktu itu. In my opinion, this is one of the best spot to capture your moment.

Karena Angkor Wat yang luas sekali, kami nggak bisa keliling maksimal mengitari seluruhnya. Too bad. Akhirnya cuma berjalan tanpa arah yang sistematis, belok kanan belok kiri sesuka hati. Naik-turun tangga, masuk-keluar lorong. Ada juga beberapa ruangan yang dijaga biksu, yang kalau dimasuki, kita akan didoakan lalu setelahnya mesti kasih sumbangan di meja persembahan. Lalu ada beberapa area yang diberi tanda larangan masuk. Sebagai wisatawan yang bijak, jangan coba-coba melanggar ya, walaupun pengamannya mudah saja untuk ditembus.

image
Banyak area yang bisa dieksplor di sini.
image
Senam pagi dulu.
image
Photo by Eka Eldina.

Oh ya, ada satu cerita. Waktu lagi blusukan di lorong-lorongnya, tiba-tiba saya cium bau busuk. Makin dekat, makin bau yak, makin mirip kayak bau tai. Yesss, so damn true, di pojokan ada tai gede menganga dikerubutin lalat. Guess what? Itu bukan kotoran binatang, tapi kotoran manusia. (((Astagaaahhh!))) Spontan saya teriak dan langsung kabur. Issshh, siapa sih yang kebelet mampus, pagi-pagi, trus berpikiran BAB di lorong Angkor Wat tuh semacam ide brilian? Emang ya, tiap jalan ada aja cerita-cerita kayak gini (bukan soal tai aja nih). Kapan-kapan mesti diceritain kejadian pas di Toraja :)). Menggelikan!

Enough with shit things, kami keliling Angkor Wat hampir empat jam. Itu aja berasa kurang. Pengen lebih lama, cuma masih ada beberapa tempat yang mesti didatangin. Kami pun jalan santai keluar. Bahkan sesiang ini, masih aja orang-orang ambil foto di spot sunrise. Sebagian juga baru berdatangan. Jam sembilan kurang kami menjauhi Angkor Wat menuju Bayon Temple. For your information, jam sembilan pagi di Siem Reap itu rasanya kayak jam 12. Matahari menyengat tanpa ampun. Siap-siap kepanasan di Bayon Temple..Yeehaaww!

image
After sunrise.
image
Adios Angkor Wat.

Sekilas Angkor Wat:
-Awalnya merupakan kuil Hindu, kemudian beralih menjadi Buddhist Temple.
-Dibangun sekitar abad ke-12 oleh Raja Khmer, Raja Suryavarman II.
-Nama Angkor Wat sendiri berarti Temple City atau City of Temples.

Angkor Wat

How to get there?
-Angkor Wat ada di Kota Siem Reap. Untuk menuju Siem Reap, bisa naik bus (6-7 jam) dari Phnom Penh ataupun naik pesawat. Kalau dari Jakarta, belum ada direct flight ke sana.
-Eksplorasi Angkor Wat bisa sewa tuk-tuk, sewa sepeda, atau mobil kalau ingin nyaman.

Need to Know!
Tiket, 1 day pass $20, 3 days pass $40, 7 days pass $60.

Note:
Bawa kacamata hitam, payung, topi, air minum, dan camilan kalau anaknya laperan. Upayakan sudah stand by dari jam 4.00-4.30 kalau pengen dapat spot ok pas lihat sunrise.

 

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s