Kepanasan di Bayon Temple

image
Bayon Temple.

This is so hot! This is so hot! Even I’m a Cambodian, I think this is so hot!” itu komentar pemandu wisata yang pas banget lagi duduk ngadem di sebelah saya, di balik patung-patung Bayon Temple. Doi kepanasan heboh gara-gara suhu di Siem Reap kala itu mencapai 45°C. Serius! Kamboja di bulan April rasa-rasanya matahari seperti nempel sama kepala. Oh Gusti, panasnya minta ampun! No wonder semua orang yang saya temui sepanjang keliling Kompleks Angkor Wat pasti lusuh karena berkeringat dan baju jadi basah pula. Literally mandi keringat.

Jauh sebelum mandi keringat sepanjang  perjalanan mengitari Bayon Temple, saya sudah berjumpa dengan Angkor Wat dan menyeruput pagi yang magis. Tapi setelah menjauhi Angkor Wat, udah feeling kalau hari itu bakalan panas. Bagaimana nggak panas, jam sembilan aja sudah sama panasnya seperti tengah hari.

Selepas dari Angkor Wat, supir tuk-tuk mengantarkan ke areal makan yang tersedia di dalam kompleks. Ada beberapa tempat makan, tapi si supir sudah punya langganan, jadi dia bawa ke situ untuk sarapan. Pas sekali, memang butuh makan. Keluar hotel dari subuh, belum ada satu pun makanan yang mampir di usus dan lambung. Tempat makannya sendiri sederhana, tapi cukup bersih.

Sajian menunya berkisar omelet, pancake, fried rice, fried noodle, ya pokoknya standarlah variasinya. Harganya, saya lupa berapa nominal tepatnya, tapi bagi saya, nggak terlalu mahal. Oh ya, bayarnya pake US Dollar. Iya, itu yang selalu membingungkan kalau di Kamboja, transaksi pembayaran bisa dilakukan dalam US Dollar atau Riel Kamboja. Sebagai catatan, hitungan standar di sana $1 = 20.000 Riel.

Selesai sarapan, kembali menaiki tuk-tuk untuk menuju perhentian selanjutnya. Sepanjang jalan menemui pemandangan kompleks yang dihuni pohon-pohon rindang super tinggi. Tuk-tuk pun ramai berseliweran sepanjang jalan. Sampai tiba di satu lokasi jembatan yang di sisi kiri-kanannya diapit patung-patung dan di ujung jembatan, terpampang gapura batu yang kokoh. Banyak yang akhirnya berhenti di sini untuk memotret. Memang keren sih. Tapi saat itu saya terus melanjutkan perjalanan. Karena kepengen cepat-cepat sampai di Bayon.

image
Jajaran patung-patung searah Bayon Temple.
image
Tampak depan Bayon Temple.
image
Wefie!

Dari tempat makan menuju Bayon Temple palingan cuma lima menit. Begitu terlihat rupanya, wow, luar biasa. Akhirnya bisa juga lihat kuil seratus wajah yang terpahat di batu-batu Bayon. Dari jauh terlihat banyak wisatawan yang sedang mengeksplor Bayon. Saya dan Eka diturunkan agak jauh dari lokasi yang dituju. Karena memang di situlah tempat parkir untuk setiap tuk-tuk yang mengantar. Ya sudah, mau gimana lagi.

Mendekati Kuil Bayon, semakin terlihat jelas lekuk keagungannya. Walau bangunannya sendiri telah berdiri sejak abad ke-12, tapi rupa aslinya masih kokoh hingga sekarang. Sebagai candi utama dari kota kuno Angkor Thom, Kuil Bayon atau Bayon Temple sesungguhnya adalah kuil untuk umat Buddha. Namun, kalau diperhatikan, akan mendapati unsur-unsur kosmologi Hindu di dalamnya. Sepertinya kedua ajaran ini saling bertautan satu sama lain.

Reruntuhan batu-batu besar menjadi penyambut kami saat menapaki kaki di Bayon. Tanah merah menjadi permadani kuil ini. Ada tangga dengan anak tangga tak seberapa yang akan mengantarkan kita ke bagian lain dari kuil ini. Walau ada sekat-sekat batu dan lorong yang mesti ditembus untuk memasuki bagian dalam kuil, namun patung-patung kepala yang kondang itu masih bisa dilihat dari luar. Posisinya memang lebih tinggi. Iya, patung kepala selalu menjadi identifikasi kuil yang didirikan oleh Raja Jayavarman VII pada tahun 1190.

Patung-patung ditempatkan di masing-masing titik mata angin, yang diamanatkan untuk mengawasi pandangan di tiap-tiap posisi. Patung kepala ini sebenarnya adalah Bodhisattva Avalokiteshvara. Ekspresi patungnya seakan tersenyum, lantas membuat orang-orang berasumsi bahwa itu adalah gambaran si raja sendiri. Mungkin karena itulah banyak yang menyebut patung ini sebagai Monalisa dari Asia Tenggara.

image

image
Bayon Temple terkenal dengan ukiran wajah berukuran besar yang menghadap arah tertentu.
image
The face.

Kuil Bayon memang tidak seluas Angkor Wat, tapi lorong-lorongnya cukup menarik untuk ditelusuri. Saya jalan tanpa mengingat rute, hanya berjalan mengikuti ke mana ingin melangkah. Menemukan juga banyak relief di dinding batunya. Menurut catatan sejarah, ada sekitar 11.000 relief di dinding sepanjang 1,2 km. Proses pembuatannya sendiri dengan dilukis kemudian disepuh. Dengan usia ratusan tahun, tak heran kalau beberapa relief mulai memudar.

Setelah meliuk-liuk di lorong-lorong Bayon, sampai juga di bagian tengah kuil. Banyak orang berkumpul di sini, ada yang berfoto ria, ada yang menaruh perhatian penuh pada penjelasan pemandu, atau duduk ngadem ditudungi patung kepala yang besar, seperti yang saya lakukan. Payah nih, saya sudah kepanasan mampus. Jadi kurang begitu semangat untuk melihat tiap inci dari Bayon.

Nah, di saat saya lagi duduk itu tuh, bersebelahan sama si pemandu yang kepanasan tadi. Bahkan sampai sekarang saya masih ingat tampang dan gaya dia mengeluh… Hehehe. Wajahnya bulat, dengan butir-butir keringat sebiji jagung menyebar di muka bulatnya. Sambil setengah duduk setengah rebahan pada dinding batu, dia menggeleng-gelengkan kepala menandakan ketidaksanggupannya terhadap suhu panas pagi itu. Ingat, itu belum tengah hari lho.

image
Ukiran batu pada dinding kuil.

image

image

Karena nggak mungkin lama-lama ngadem, saya pun beranjak, mencoba mencari ruang lain untuk disusuri. Secara umumnya, gambarannya sama saja. Maksudnya, titpikal ruang dan lorongnya sejenis. Cuma ya itu, kebingungan aja sama makna relief ataupun fungsi tiap-tiap ruang yang ada. Akhirnya cuma bisa foto-foto saja kalau ketemu yang bagus.

Dari Bayon Temple menuju tempat parkir kami menghampiri satu kuil lagi, yang letaknya tak seberapa dari Bayon. Jalan setapak batu yang letaknya agak tinggi dari tanah menjadi penghubung kami menuju Baphuon Temple. Penampakannya mengingatkan saya akan candi-candi di Jawa. Kotak dengan beberapa tingkatan ke atas. Saya sih nggak pernah ngeh sama keberadaannya.

image
Beberapa kuil terletak berdekatan satu sama lain.
image
Kayak candi-candi di Indonesia.

Di ujung tangga untuk naik ke pelataran candi, ada petugas yang mengecek tiket masuk. Tapi sebelum dicek, saya langsung ditolak (sakitnya di sini). Karena hari itu saya pakai kaos tangan buntung dan celana pendek, akhirnya dilarang masuk, kecuali saya bawa penutup seperti cardigans atau pashminah. Sebenarnya sih bawa pashminah, tapi kan nggak bisa nutupin tangan dan kaki bersamaan. Ya sudah, akhirnya Eka aja yang masuk, sedangkan saya duduk ngadem di batu-batu. Palingan cuma 10 menitan nungguin Eka. Katanya nggak gimana-gimana sih2. Dengar itu, saya nggak terlalu menyesal karena nggak bisa lihat langsung.

Sebelum benar-benar mendekati tuk-tuk, kami sempat menyusuri sebuah labirin berdinding batu yang mengingatkan saya akan film The Maze Runner. Memang nggak pajang lorong-lorong yang mesti dilewati, tingginya pun tidak seberapa, tapi cukup menyenangkan. Terlebih bisa bebas sejenak dari sinar matahari yang makin menyengat. Menjelang siang, sudah duduk kembali di kursi penumpang tuk-tuk, siap melaju menemui tempat mainnya Lara Croft.

Quick facts about Bayon Temple:

-Dibangun 100 tahun setelah Angkor Wat.

-Raja Javavarman yang membangun kuil ini dikenal sebagai raja yang paling berkuasa dan memberi kesejahteraan bagi kerajaannya. Namun selepas ia, Kerajaan Angkor Thom melemah dan pada akhirnya ditinggalkan, kemudian terasing bersama hutan selama sekian lama hingga akhirnya ditemukan arkeologis Prancis.

-Ada empat wajah utama yang menjadi ikon dari kuil ini, lengkap dengan 54 menara yang mewakili jumlah provinsi di Khmer pada era Great Khmer Empire. Walau penampakan patung wajah mencerminkan senyum, tapi bila diamati, ada karakter dalam tiap senyum. Ada senyum yang menawan, senyum dalam kesenduan, senyum kelegaan, dan senyum yang manis.

Bayon Temple
Angkor Thom, Siem Reap

How to get there?
Karena masih satu lokasi dengan Angkor Wat, bisa sekalian mengunjungi keduanya bersamaan, berlokasi di Kota Siem Reap, yang bisa dijangkau menggunakan pesawat (dari Bangkok, Kuala Lumpur, atau Singapura). Kalau dari Jakarta, belum ada direct flight. Bisa juga naik bus dari Phnom Penh (sekitar 6-7 jam perjalanan). Atau naik kereta api ekonomi dari Bangkok menuju Arranyaprathat, kemudian dilanjutkan dengan naik taksi atau bus dari Kota Poipet, kota perbatasan Kamboja menuju Siem Reap.

Need to know!
Tiket masuk $20 (dibeli di pintu masuk Kompleks Angkor Wat). Satu tiket bisa digunakan untuk tanda masuk di Angkor Wat, Bayon Temple, Ta Phrom, dan kuil-kuil lainnya.

Note:
Pastikan memakai topi, kacamata hitam, membawa air minum secukupnya, pakai pakaian yang berbahan tipis dan menyerap keringat, tapi ingat jangan yang menggunakan celana pendek atau kaos tangan buntung. Kalaupun iya, sediakan pashminah dan kardigans sebagai penutup sementara.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s