Seharusnya Kami Ke Bangka, Tapi… (Part: 1)

image
Lawang Sewu yang legendaris.

Pertemanan kami berempat sudah berusia belasan tahun. Dari zaman putih abu-abu sudah saling kenal. Malahan, saya ketemu Rini dari kelas 1 SMP. Banyak yang sudah kami alami. Banyak yang sudah kami lewati. Tapi untuk perkara liburan bersama, nihil pengalaman.

Bukannya kami nggak pernah jalan-jalan. Pernah kok. Tapi selama ini pesertanya cuma saya, Eka, Septy. Atau nggak saya dan Septy. Tapi paling sering saya dan Eka. Sedangkan versi komplit, nggak pernah sama sekali. Too bad! Tapi…tapi, ada satu masa ketika kami akhirnya bisa liburan bareng, walaupun diawali dengan drama sebelumnya. Yes, apalah arti hidup tanpa intrik..hehe.

Beberapa bulan sebelum pergi, kami sebenarnya sudah berhasil mengantongi tiket PP ke Bangka dengan Batavia Airlines. Cuma bayar 400 ribu buat tiket pulang-pergi. Lumayan banget kan. Tapiiii, khayalan leyeh-leyeh di pantai mesti pupus gara-gara maskapainya pailit. Jadi suatu waktu pas saya lagi di Jambi, malam-malam Septy telepon dan setengah panik kasih tau kalau Batavia pailit. Oh nooo!! Langsung lemes. Nggak kebayang betenya. Padahal uda susun itinerary. Udah ngebayangin banyak hal. Tapi semuanya musnah dalam sekejab. Pada akhirnya, kami berempat mulai nrimo gagal ke Bangka. Termasuk ikhlasin duit tiket yang nggak di-refund.

Nggak mau lama-lama sedih, kami sepakat cari destinasi lain. Sampai bikin rapat dadakan di Tjap Toean FX segala :)) Akhirnya mengerucut ke dua pilihan, antara Pangandaran atau Semarang. Tapi kami (saya, Septy, dan Eka) menyerahkan keputusannya ke Rini, karena trip kali ini sekaligus acara bachelorette-nya dia. So, Rini yang lebih berhak menentukan pilihan. In the end she picked… (drum roll)…….. Semarang.

Ok, kami jadi semangat lagi. Langsung deh secara instan cari-cari tiket kereta api ke Semarang. Mulai booking hotel dan Googling soal kuliner dan tempat wisata di Semarang. Dan tanpa terasa, tiba juga di hari keberangkatan. Kami janjian di Stasiun Pasar Senen dan dari sana akan naik Kereta Senja Utama Sore. Sebagian ada yang langsung meluncur dari kantor. Rini sempat telat, sampe-sampe mesti naik ojek.

Lagi, sebelum pergi diwarnai drama mamanya Septy yang tiba-tiba sms saya dan menanyakan soal perjalanan kami, karena anaknya pas ditanya-tanya malas gitu jawabnya. Kemudian makin intens karena Tante Lenny (mamanya Septy) baru tahu kalau kami berangkat dari Senen. Mulai parnolah doi. Takut copetlah dan lalalalala, berakhir dengan diceramahin supaya hati-hati. Thanks Asep.

image
Zzzz…

image

image
Rini ngantuk berat.

Walau sedikit ngaret, kami pun berangkat dari Senen sekitar pukul lima sore. Namanya juga kereta bisnis, nggak bisa diharapkan nyaman banget. Tidur pun seadanya. Sisanya ngobrol nggak jelas, makan, ngemil, dengarin musik, dan saya nggak mungkin melewatkan ritual yang satu ini, fotoin orang-orang yang lagi tidur..hehe. Sorry girls!

Jam 05:00 kurang keesokan harinya, kami merapat di Stasiun Tawang Semarang. Lapaaaarrr!! Bangeeett!! Mampir toilet dulu buat cuci muka dan buang air. Trus memutuskan untuk cari sarapan di Simpang Lima. Kemudian lanjut check-in hotel. Ada cerita lucu soal hotel yang kami inapin di hari pertama. Lokasinya memang bukan di pusat kota, tapi harganya murah, bersih, dan cukup nyaman. Tapi satu, dinding hotelnya terlalu tipis, sampai-sampai bisa dengar obrolan orang di kamar sebelah. Kamar mandinya saking sempitnya, tiap kali bungkuk pas kumur-kumur di wastafel, pasti pantatnya mentok kena pintu…hehehe. Bersyukur ajalah. Lagipula, setiap perjalanan pasti punya kisah yang menggelikan kan!

Hari pertama saya tidur sekamar Rini. Thank God kami bisa early check-in. Jadi bisa bayar utang tidur selama di kereta. Tengah hari, kami memulai petualangan di Kota Lumpia. Isi perut dulu di Ikan Bakar Cianjur di kawasan Kota Lama. Trus lanjut foto-foto depan Gereja Blenduk.

image
Lawang Sewu yang makin cantik.
image
Salah satu koleksi kereta api yang dipajang di bagian depan.
image
Cantik menyingkirkan kesan horor.

Setelah itu naik becak ke Lawang Sewu. Dari depan, Lawang Sewu tampak kokoh, antik, dan misterius. Terlepas dari unsur horor di dalamnya, bangunan ini mesti masuk daftar tempat yang wajib didatangi kalau pergi ke Semarang.

Setelah bayar tiket masuk, pemandu kami sudah siap untuk membawa keliling Lawang Sewu. Dia menjelaskan sejarah Lawang Sewu yang dulu di era Belanda, bangunan ini menjadi kantor jawatan perkereta-apian dengan nama NIS. Saat Jepang berkuasa, Lawang Sewu menjadi markas Kempetai, satuan polisi militer Jepang yang terkenal kejam dan sadis. Juga menjadi base Kidobutai, tentara kerajaan Jepang. Yang asyik dari pemandu kami waktu itu, tiap kali dia cerita mengenai sejarah dan detail bangunan, pasti diakhiri dengan dia nawarin untuk memotret kami.

Kunjungan dilanjutkan ke museum yang berada di Gedung C, yang ukurannya nggak terlalu besar. Isinya berupa ruang pamer alat-alat yang berkaitan dengan perkereta-apian. Kemudian berlanjut ke Gedung B yang diwarnai foto-foto hitam putih mengenai sejarah stasiun dan kereta api zaman dulu. Sebenarnya kepengen masuk di Gedung A, yang merupakan gedung utama, cuma masih direvitalisasi. Tapi dari lorongnya saja udah keliatan cantik. Penasaran sama bagian dalamnya.

image
Gedung A yang kala itu belum boleh dimasuki.
image
The big four.
image
Bagian dalam museum.
image
Lorong klasik di Gedung A.
image
Potret hitam putih stasiun-stasiun bersejarah di Indonesia.

Kemudian kami naik ke lantai dua. Di sini nih ada pintu-pintu kayu yang terkenal itu, yang berjajar dan biasanya dijadiin pose andalan dengan masing-masing orang berdiri di depan tiap pintu. Kesampean juga ya ngalamin momen itu. Setelah bernarsis ria, kami mengitari lantai dua untuk menelusuri bangunan yang kusen pintunya berjajar, seakan jadi lorong tanpa batas. Lorong ini biasa disebut Lorong Kereta Api. Iya sih, berasa lagi di dalam kereta dan melihat gerbong yang memanjang ke belakang. Di sini juga oke banget buat foto-foto.

Lalu kami pindah ke ruangan di sebelahnya. Ada ruangan besar dengan langit-langit yang begitu tinggi. Ada banyak jendela yang lantas dijelaskan oleh pemandu kami kalau bagian jendela yang terbuka ada di atas. Alasannya supaya meminimalisir debu yang masuk. Nice trick! Lalu di luar jendela ada parit yang dulunya sebuah kali yang lebar. Dulunya, sewaktu Lawang Sewu difungsikan menjadi penjara, kali ini menjadi tempat pembuangan mayat tahanan sesudah dieksekusi. Ya kalau lihat penampakannya sekarang, nggak akan kebayang kalau dulunya kali ini bergelimpangan mayat dan berlumuran darah. Scary!

image
Sekarang area ini jauh lebih cantik setelah direvitalisasi.
image
Iconic spot.
image
Dulu sungai ini lebih lebar dan menjadi tempat pembuangan mayat tahanan setelah dieksekusi.

Selepas ruangan itu, berlalulah kami melewati lorong yang minim cahaya. Menurut banyak orang, banyak penampakan di sini. Kami kemudian diantar ke satu lubang yang ada papan nama yang menjelaskan apa gitu. Lupa juga saya. Pokoknya lubang itu semacam sumur sih. Nah, di sini nih cerita horornya dimulai. Jadi waktu itu si Eka motret tuh si papan penandanya, trus di-posting di Path. Pas banget kebaca sama Dinad, salah satu teman sekolah kami.

Karena Dinad punya “kemampuan khusus”, dia bilang ke Eka kalau ada penampakan wanita dengan tampang kurang bersahabat gitu. Oke deh, langsung pada parno. Saya sih nggak ngerasa apa-apa waktu di situ. Lagian, uda berdoa dulu sebelum masuk, jadi selama di Lawang Sewu fine-fine aja. Kecuali sih, pas kami diajak ke bagian loteng. Letaknya paling atas, mesti naik tangga dua kali. Lowong aja sih ruangannya, malahan bisa main bola di situ pikir saya, dan banyak jendela terbuka, makanya bisa dengan mudah kena matahari. But somehow, auranya nggak enak. Di loteng ini katanya ramai dengan “itu”.

image
Looks spooky!
image
Area loteng yang katanya lebih seram.
image
Jalan-jalan perdana bersama gerombolan 102.

Anyway, gara-gara penampakan itu, Septy sama Eka jadi parno buat ikutan turun ke level bawah Lawang Sewu. Tapi setelah saya bujuk rayu buat turun, iya, saya anaknya ngototan emang, akhirnya mereka berdua mau juga turun dan nemenin saya ke ruang bawah tanah, yang katanya nyeremin juga. Rini memilih nggak ikutan. Ya sudah, trio chubby siap meluncur dengan beralaskan boots plastik yang wajib dipakai setiap pengunjung yang mau turun ke ruang bawah tanah. Big note: Siap-siap kakinya jadi basah karena tiap boots pasti kemasukan air dan coba deh cium bau kaki kalian abis itu. Fantastis pokoknya..hehe. Saran saya, siapin tisu basah 🙂

Dengan hati-hati kami menuruni tangga, cahaya mulai nampak remang-remang, lengkap dengan lantai yang tergenangi air sebetis. Dulunya, sebelum jadi penjara, bagian bawah tanah ini memang sengaja diisi air, gunanya sebagai pendingin ruangan di atasnya. Tapi di zaman pra kemerdekaan, khususnya di era Jepang, ratusan orang menderita dan dipasung kebebasannya di penjara bawah tanah ini. Nggak sedikit yang akhirnya menemui ajal di sini.

Kubangan air memang nggak merata di semua area. Tapi tetap saja, lantainya selalu basah. Kami mulai memasuki bagian penjara dan tempat eksekusi, yaitu tempat untuk memenggal kepala. Trus kami pun melihat langsung penjara berdiri yang jadi bukti nyata kekejaman Jepang. Ukurannya lebih kecil dari KBU wartel. Dengan ukuran sekecil itu, bisa diisi sekitar 5-6 orang, dalam keadaan berdiri, sekaligus berada dalam genangan air. Gosh! Parah banget! Saya sempat masuk ke dalam penjara berdiri, cuma karena pengen nyobain seperti apa. Menurut saya, buat seorang diri aja sudah cukup sumpek juga pengap, ini mesti berbagi dengan beberapa orang lagi. Dan ingat, mesti berdiri, dalam waktu lama. Di akhir tur singkat di bawah, pemandu kami sempat menawarkan uji nyali dengan mematikan seluruh lampu di satu bagian. Sontak, Eka dan Septy nolak. Yaaa.. padahal saya pengen. Karena kalah suara, kami sudahi turnya dan kembali ke atas.

Sampai di atas, lepas boots, bersihiin kaki yang jadi super bau karena sepatunya lembab, lantas lanjut menikmati sisi lain Lawang Sewu dengan sisa cerita dari mas pemandu kami. Kisah kami pun berakhir dengan pose cantik di bagian muka Lawang Sewu sekaligus pamitan sama mas pemandu yang baik hati itu. (Tapi dalam hati saya penasaran sih pengen eksplor Lawang Sewu di malam hari. Someday ya).

Short story about Lawang Sewu:
Menurut rumor yang beredar, para penghuni gaib di Lawang Sewu memiliki kasta. Kedudukan tertinggi berada di Gedung C, yang diwujudkan dalam penampakan orang Belanda bernama Van den Bosch.

How to get there?
Lawang Sewu berada di pusat Kota Semarang, tepat di depan Tugu Muda. Transportasi yang bisa digunakan adalah naik becak atau taksi.

Need to know!
Tiket masuk Rp10.000
Guide Rp30.000
Tiket masuk ruang bawah tanah dan sewa boots Rp10.000
(siapkan juga tip untuk pemandu)

Note:
Jangan lupa berdoa dulu sebelum memasuki Lawang Sewu. Hindari berperilaku dan berpikiran jahat selama di sini (dan di manapun juga). Jangan coba-coba jalan sendiri untuk eksplor bangunan, sebaiknya tetap bersama pemandu yang sudah menemani sedari awal. Siapkan tisu basah dan tisu kering untuk membersihkan kaki seusai memakai boots untuk menelusuri bagian bawah Lawang Sewu. Bisa juga sih cuci kaki di toilet yang tersedia.

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Seharusnya Kami Ke Bangka, Tapi… (Part: 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s