Seharusnya Kami Ke Bangka, Tapi…. (Part: 2)

image
Our weirdest moment.

Jumpalitan di Sam Poo Kong kelihatannya nggak pantas ya dilakukan di bangunan sakral nan megah ini. Tapi tenang, kami nggak lompat-lompatan di bagian dalam klenteng kok. Jadi nggak mengganggu yang lagi sembahyang. Mungkin keganggu karena gerombolan si berat ini (kecuali Rini) nampak kurang artistik dipandang mata pas lompat-lompat nggak jelas..hihihi.

Seusai bertamu di Lawang Sewu dengan tambahan kisah horor sesudah upload foto di Path, empat sekawan ini melaju ke lokasi berikutnya, yakni Klenteng Agung Sam Poo Kong atau biasa disebut Gedung Batu. Merupakan sebuah kleteng di daerah Simongan yang dahulu kala adalah kawasan pantai. Sekarang Simongan menjadi daratan luas yang lahir karena pantai utara Semarang mengalami proses pendangkalan, sehingga lambat laun lautan pun berganti darat.

Cerita sejarah dulu ya. Jadi, ratusan tahun yang lalu, jauh sebelum berdiri kokoh sebagai pusat ibadah, ziarah, juga wisata, di Simpongan ini terdapat gua batu yang pernah digunakan Wang jinghong, orang kedua yang terlibat dalam pelayaran Laksamana Cheng Ho. Suatu waktu Wang Jinghong (bukan jigong) sakit, sehingga sang pemimpin menyuruh untuk berlabuh. Iya, betul sekali. Cheng Ho memilih Simongan dan menemukan gua batu tersebut untuk kemudian digunakan sebagai tempat tinggal Wang Jinghong dan sepuluh anak buahnya selama masa pesakitan.

Eh, ternyata mereka jatuh hati dengan daerah ini, dan akhirnya memilih untuk menetap, bertani, berladang, berkebun, juga menemukan pasangan hidup serta beranak pinak. Sedangkan Cheng Ho sendiri kembali melanjutkan pelayaran dengan misi damai ke arah barat.

image
Apose sih?
image
Tempat duduk yang dicat cantik.
image
Salah satu tempat sembahyang di Sam Poo Kong.

Klenteng yang satu ini begitu kondang di Kota Semarang, bukan hanya ramai dikunjungi para penganut Buddha juga Kong Hu Chu, tapi banyak terselip wisatawan yang ingin mengagumi arsitektur bangunan sakral yang didominasi warna merah. Sekaligus ingin napak tilas, mengenang kembali sang laksamana agung keturunan Persia beragama Islam, yang pernah menginjakkan kaki di sini.

Wait! Cheng Ho seorang Muslim? Yes, indeed! Lalu kenapa bukan masjid yang didirikan di sini? Karena dulu bangunannya berdesain Cina dengan ornamen khasnya, maka terlihat pas jika dijadikan klenteng. Terlebih utama karena Cheng Ho sendiri pun sudah dianggap seperti dewa dan dalam ajaran Kong Hu Chu, orang yang sudah meninggal sekalipun dapat memberi pertolongan. Itu sebabnya Cheng Ho menjadi pujaan baru untuk disembah.

Sekian pelajaran sejarahnya. Dari Lawang Sewu kami berempat memilih naik taksi. Iya, kalau di Semarang dan enggan untuk sewa mobil atau malas naik becak, naik saja taksi. Pilihan aman ya si “burung biru”. Nggak usah takut bayar argo tinggi, Semarang itu kecil, kawan. Ke mana-mana hitungannya masih murah, mau itu jalan sendiri atau ramai-ramai kayak kami.

image
Terdapat beberapa klenteng di dalam Sam Poo Kong.
image
Salah satu yang terbesar di sini.
image
Warna merah mendominasi di seluruh area Sam Poo Kong.
image
Patung-patung juga banyak menghiasi area sakral ini.
image
Tidak bisa sembarang orang memasuki klenteng. 

Nggak sampai 15 menit, kami sudah tiba di pelataran parkir klenteng. Dari luar sudah terlihat tempatnya luas. Menjelang sore, kami baru memasuki klenteng. Senang ketika tempat peribadatan sekaligus objek wisata ini tak dipenuhi pengunjung. Yang berdoa lebih banyak ketimbang wisatawan. Makanya kami pun mesti sadar diri untuk tidak merusak kekhusyukkan prosesi ibadah.

Dari pintu masuk, ketika saya mengedarkan pandangan, terlihat ada beberapa bangunan yang tersebar. Semua sangat khas dengan ornamen berbau Cina, seperti warna merah, tulisan Mandarin, lampion merah, juga simbol-simbol naga. Makin masuk, akan menemukan lahan yang luas di bagian tengah, diapit beberapa bangunan kleteng pada sisi-sisinya.

image
Feels like in China.
image
The great Cheng Ho.
image
Desain China yang artistik.

Searah pandangan mata, ada patung perunggu super besar, tak lain adalah si Cheng Ho sendiri. Dibuat di Cina, dengan tinggi 10 meter lebih, dan diakui sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara. Tepat di sebelah barat patung, ada semacam gerbang, besar juga berwarna merah. Tipikal bangunan Cina. Kemegahannya bersanding pas dengan patung Cheng Ho. Areal ini namanya Plaza Utama. Siapa aja boleh masuk, foto-foto, lihat-lihat, termasuk jumpalitan kayak kami.

Nah, kalau ingin sembahyang, mesti masuk melewati pagar dan sepertinya mesti bayar lagi. Pengunjung biasa sih bisa lihat klenteng di balik pagar. Bisa juga difoto. Tapi kalau mau masuk, hanya yang berkepentingan saja.

image
Septy and Cheng Ho.
image
Oh gosh!
image
Mmmhh…
image
Woohooo!

Karena kami berempat nggak ada yang masuk bagian dalam klenteng, ya sudah, foto-foto aja. Dari narsis normal sampe lompat-lompat segala. Capai bookk! Lompat beberapa kali karena belum dapat hasil yang maksimal. Namanya juga anak jompi, sedikit-sedikit uda h tepar..hah! Untung kami datang sudah sore, jadi nggak terik-terik banget mataharinya. Mengingat di Plaza Utama nihil pohon selain di pojokan aja. Walau ini klenteng, tapi ada musholla juga. Makanya anak-anak bisa sholat dulu sebelum cabut.

Facts about Klenteng Agung Sam Poo Kong:
-Memiliki gua batu yang ditemukan sekitar tahun 1400an, kala Cheng Ho mencari tempat berteduh bagi kru pelayarannya yang didera sakit.
-Namun gua aslinya roboh akibat longsor 300 tahun kemudian. Untuk menghormati sejarah, lantas dibangun kembali gua batu yang telah hancur tersebut.
-Terdapat empat klenteng, yaitu Klenteng Dewi Laut, Dewa Bumi, Kyai Juru Mudi, dan Klenteng Sam Poo Kong.

Kelar dari Sam Poo Kong, mulai lapar (lagi). Kan abis jumpalitan, laper dong. Sepakat kami ke Toko Oen yang legendaris itu. Nggak afdol kalau ke Semarang tapi nggak ke sini. Kembali naik taksi dari Simongan menuju Jalan Pemuda. Nggak jauh dan nggak deket juga sih jaraknya.

Turun taksi, berhadapan dengan bangunan oldies, sedikit kumuh, tapi benar ini Toko Oen. Begitu masuk, aah.. suka dengan penataan klasik yang mendorong kita kembali puluhan tahun silam. Dekat pintu masuk ada stoples-stoples kue ukuran besar yang diisi aneka kue kering. Enak-enak kue keringnya. Terutama Lidah Kucing. Beda dengan Toko Oen Malang, kue kering di sini bisa dibeli dalam satuan ons. Kalau di Malang mesti beli per stoples.

image
Spanduk lawas di Toko Oen.
image
Suka dengan suasana klasik yang membawa kita kembali ke masa lalu.
image
Am a big fans of poppertjes ala Toko Oen.

Di Toko Oen kami nggak makan besar. Lebih pengen ngemil, makanya cobain Bitter Ballen, Poppertjes, kue keringnya, dan es krim. Soal es krim di Toko Oen, juaranya deh. Rasa jadul yang ngangenin. Saya pesan rasa Rum Raisin, enak! Walaupun banyak yang bilang mesti pesan Tutti Fruti. Overall, semua menu yang dicoba enak-enak semua. Harganya masih masuk akal.

Habis ngemil enak di Toko Oen, kami pun beranjak ke Toko Bandeng Juwana buat beli oleh-oleh, trus balik lagi ke hotel. Well, good night then! Hari berikutnya sudah menanti dengan perjalanan anti mainstream di Kota Lumpia.

Fact about Toko Oen Semarang:
-Didirikan Liem Gien Nio pada tahun 1936, awalnya merupakan toko kue yang menjual panganan khas Eropa karena banyaknya kaum Barat yang ada saat itu.
-Nama Oen sendiri merupakan nama belakang sang suami.
-Seiring berjalannya waktu, menu pun bertambah dengan sajian es krim dan makanan berat lainnya.
-Menu favorit antara lain Bistik Hamburg, Nasi Goreng Spesial Ham, Es Krim Tutty Fruty.

-PJLP-

Advertisements

One thought on “Seharusnya Kami Ke Bangka, Tapi…. (Part: 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s