Seharusnya Kami Ke Bangka, Tapi… (Part: 3)

image
Kami dan Semarang.

Memasuki bagian akhir dari perjalanan di Kota Semarang bersama empat sekawan, kisah kami melenceng dari trek biasa. Kunjungan ke tempat yang nggak lazim, sampai menutup kisah dengan basah-basahan di Tawang (wait until the end), resmi membuat perjalanan ini pantas dikenang 🙂

Bangun dan menyesap hari kedua di ibukota Jawa Tengah, lantas beberes, packing, dan check-out. Kami naik taksi tapi belum tahu mau ke mana. Memang dari awal sengaja nggak bikin itinerary, biar lebih mengalir aja perjalanannya. Mau check-in di hotel selanjutnya, tapi nggak bisa juga karena masih pagi. Kemudian mulai browsing-browsing dan ketemu Museum Jamu Nyonya Meneer. Sepertinya menarik. Semua setuju ke sana. Seperti biasa, kalau tanya pendapat pasti jawabannya terserah atau gue ikut aja. Enak sih, jadi nggak lama ambil keputusan. Tapi untuk beberapa kasus, malas juga kalau jawabannya itu mulu ..hehe.

Museum Jamu Nyonya Meneer sepertinya lumayan jauh juga jaraknya dari hotel. Lewati jalan tol gitu, trus di jalan ketemu truk-truk segala. Out of nowhere deh. Keluar-keluar kayak di kawasan industri gitu. Setelah putar balik, ketemulah museumnya. Ternyata museumnya jadi satu dengan pabrik. Sampai di parkiran lihat-lihat sekitar, sepertinya susah cari taksi, plus kami bawa tas pakaian, jadi suruh taksinya nunggu aja deh. Masuk gedung yang sedikit oldskul penataannya, kami izin untuk lihat museum yang gratis biaya masuknya.

Museum ada di lantai dua, ada seorang mbak yang mengantarkan kami sekaligus jadi pemandu. Di ujung tangga, ada foto Nyonya Meneer yang menyambut kami. Tiba di lantai dua, cuma ada kami berlima saja. Sepertinya jarang orang ke sini. Atau mungkin karena nggak tahu kali ada museum ini. Entahlah.

Anyway, museumnya sama sekali nggak gede. Bentuk kotak dengan lampu warna kuning. Dominan dengan unsur kayu dan di bagian tengah, pada atapnya dibuat ukiran gitu, tipikal pendopo Jawa. Ada pilar-pilar kayu sebagai penopangnya. Di bawah atap berukir ada meja kayu yang tersaji bahan-bahan yang kerap dipakai untuk membuat jamu.

image
Ini dia si Nyonya Meneer.
image
Toko lawas Jamu Nyonya Meneer. 
image
Ruangan museum yang lekat dengan nuansa Jawa. 
image
Perabot-perabot lawas yang kerap digunakan pada masanya. 
image
Beberapa produk kebanggaan Jamu Nyonya Meneer.

Bagian lain museum lebih banyak diisi foto-foto hitam putih, yang menunjukkan bagaimana awal mula perusahaan jamu ini berdiri, ada juga foto toko pertama, serta penampakan mbok-mbok jamu. Selain foto ada juga beberapa mesin hitung dan peralatan administrasi lain yang dulu sering dipakai. Di pojok ruangan ada patung wanita yang menggambarkan prosesi membuat jamu dengan cara manual. Bagian paling menarik sih pajangan bungkusan jamu. Segala macam jamu, dari dulu sampai sekarang ada di sini. Tentu saja dengan nama-nama unik.

Nggak lebih dari 15 menit kami mengitari museum. Agak garing krik krik juga sih. Karena museumnya nggak gede. Trus di situ cuma ada kami aja. Ditambah, mau foto-foto narsis juga rasanya kurang greget aja. Ya udalah, turun aja. Nggak bisa juga membiarkan supir taksi menunggu terlalu lama.

Di akhir perjumpaan, mbak pemandu menawarkan aneka jamu yang bisa dibeli untuk dikonsumsi di rumah. Karena saya bukan penikmat jamu, langsung skip. Saya cuma beli bedak dingin aja. Yang ngeborong si Rini. Sepertinya tawaran membeli jamu sudah jadi ritual selepas mengunjungi museum.

Kembali naik taksi, kami pun memutuskan untuk check-in hotel di kawasan Simpang Lima. Untuk hotel kedua, jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Itu juga beruntung banget bisa nginep di situ, karena last minute sebelum berangkat, saya dikasih dua voucher menginap di Hotel Ciputra Semarang dari Mbak Popie. Thanks Mbak Pops. Asoy banget kan! Untung bisa booking kamar sehari sebelum tinggal.

Sampai hotel trus masuk kamar, langsung pada norak. Mentang-mentang malam sebelumnya mesti sempit-sempitan di kamar hotel, giliran dapat kamar bagus jadi norak gitu..hehe. Uda kena nyaman, jadinya pengen leyeh-leyeh dulu.

Daripada ketagihan bernyaman ria di kamar hotel, kami bergegas ke Kampung Laut Restoran. Tempat ini hasil Googling on the spot sebelum berangkat. Pengen cari tempat makan enak, ketemu ini. Tertarik karena tempatnya lucu gitu. Kami naik taksi lagi, dengan waktu tempuh 20 menitan. Lokasinya sudah dekat ke arah pantai. Sepertinya bukan lokasi yang ramai lalu lintas. Nggak terlihat juga angkutan umum lalu-lalang.

image
One of the best Cumi Saus Telur Asin. Photo by Septiany Utami Dewi.
image
Bandeng pedas manis ini juga enak! Photo by Septiany Utami Dewi.
image
Begitu pun dengan Udang Mayonaise. Photo by Septiany Utami Dewi.
image
Photo by Septiany Utami Dewi. 

Well, Kampung Laut Restoran ya tipikal resto Indonesia yang mengusung tema seafood. Tempatnya pas untuk makan-makan keluarga atau gathering perusahaan. Kami memilih duduk ala lesehan. Buka buku menu, duh.. banyak banget yang dipengen. Kami pesan menu bandeng, cumi, sayuran, dan udang. Tapi satu yang pasti, Cumi Telur Asin-nya enak betul. Asli, enak banget! Nagih! Bandengnya juga enak. Pokoknya hampir semua yang diicip menyenangkan lidah dan perut, juga dompet. Iya, termasuk murah makan di sini. Untuk berempat, dengan porsi makan gragas, cuma kena 200 ribuan. Murah kan!

Setelah makan enak, kami memutuskan ke pantai. Heeee!! Pantai!? Di Semarang?! Iya, namanya anak pantai, kayaknya nggak afdol kalau belum ke pantai. Sebenarnya lebih ke penasaran aja sih, seperti apa pantai di Semarang. Jadilah kami meluncur ke Pantai Marina yang, hmm.., jauh di bawah ekspektasi. Ya tahu diri juga sih, nggak berharap pantainya akan seperti di Ancol (minimal mendekati). Tapi ini, ya lihat aja sendiri penampakannya.

image
Pantai Marina tanpa pasir putih.
image
Anak pantai.
image
Cari ikan.

Pantai Marina nggak punya bibir pantai, pasir pun nihil. Hanya ada batu-batu hitam dan jalan setapak sebagai pembatas daratan dan lautan. Bau pantai yang menyegarkan diganti bebauan amis yang berlebihan. Beberapa penduduk lokal yang ke sini datang untuk mancing. Kalau anak mudanya, ke sini buat nongkrong-nongkrong bersama angin sepoi-sepoi.

Selesai dengan Marina, langkah pun beralih ke Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Saya sih mengincar bakmi babi yang direkomendasiin Siska. Katanya endeus. Sayang, pas sampai sana restonya tutup. Jadi melipir ke klenteng di sebelahnya, yang dibangun sejak 1746.

image
Klenteng mungil yang cantik dipotret.
image
Penuh warna dan sakral.
image
Salah satu dewa yang dipuja.
image
Depan klenteng terdapat replika kapal Cheng Ho.
image
Pemandangan depan Gang Lombok.

Klenteng Tay Kak Sie memang nggak sebesar Sam Poo Kong. Tapi yang enak, kami bisa masuk dan foto-foto. Permisi dulu sebelumnya. Banyak detail menarik yang jadi objek foto. Altar dan meja persembahannya juga nggak luput dari pandangan lensa. Dewa-dewi Tao banyak dipuja di klenteng ini.

Suasana dalam klenteng begitu tenang, kecuali di luar sana. Ada sekelompok anak-anak yang lagi nongkrong dekat replika kapal Cheng Ho. Beberapa lagi mancing di kali kecil yang mengairi daerah itu. Puas motret, balik lagi ke taksi. Iya, sedari Kampung Laut kami tetap memakai taksi yang sama. Daripada repot cari taksi lagi kan. Pada akhirnya memilih balik ke hotel, udah sore juga sih.

Sampe hotel, langsung nyebur berenang. Ganti baju dululah sebelumnya. Lumayan bisa leha-leha menikmati fasilitas hotel. Saya, Rini, Eka berenang, lebih tepatnya mainan air. Septy lebih milih duduk-duduk santai di pinggir kolam sekaligus menjabat posisi tukang foto kalau tiga temannya pengen narsis.

Maju sekian jam, kami sudah menikmati makan malam di salah satu kafe di kawasan Semarang Atas. Dari sini bisa lihat Kota Semarang dengan lampu-lampunya. Sayang hujan, jadi nggak kelihatan jelas. Turun lagi ke kawasan Simpang Lima dan banjir pun menghadang. Taksi kami jadi sedikit repot buat ngelewatin kolam air sepanjang Simpang Lima. Malam terakhir di Semarang dihabiskan dengan foto-foto di lobi hotel, lift, sampe kamar tukeran kado dan berhasil membujuk Rini cobain bir pertamanya..hehe.

image
Yes, that’s us! Photo by Septiany Utami Dewi.
image
Dinner di Semarang Atas.
image
Simpang Lima yang kebanjiran.

Keesokan pagi mesti buru-buru buat ngejar kereta pulang yang berangkat jam 8 pagi. Saya yang sekamar sama Septy udah beres packing dan sarapan banyak karena turun duluan. Rini dan Eka sepertinya keasikan tidur, jadi rada mepet buat makan pagi.

Perut sudah keisi, check-out, cari taksi, baru banget duduk di taksi dan bilang mau ke Stasiun Tawang, eh supirnya bilang stasiunnya banjir. Oh shoott! Lihat jam uda hampir setengah delapan. Oke, kita tancap gas, dengan pertimbangan nanti lihat situasi seberapa parah banjirnya. Memang kawasan seputar stasiun selalu jadi langganan banjir. Ya itu, karena letak daratan lebih rendah dari laut.

Deg-degan semakin menjadi. Takut telatlah. Takut banjirnya parahlah. Semua jadi satu. Mendekati stasiun, banjirnya nggak parah sih. Cuma sebetis aja. Makin drama pas supir taksi nolak antar sampai depan stasiun. Gosh! Terpaksa berkubang banjir, ganti naik becak yang lebih berani (baca: nekat) buat antar ke Tawang.

Jam 07.57 sampai depan Tawang, yang juga digenangi air, masuk buru-buru. Bahkan di dalam stasiun juga banjir, makanya kami mesti naik di kotak kayu supaya nggak kena banjir. 08.00 naik kereta. 08.01 kereta berangkat..hahaha. We’re so damn lucky! Langsung cuci kaki, cari tempat duduk dekat jendela, dan menikmati perjalanan beberapa jam ke depan sambil kepanasan dan geli lihat Septy tahan pipis seharian karena anaknya nggak mau buang air di toilet umum..hehe.

Last words, thank you girls. So glad (at least) we have one journey to remember..XOXO.

-PJLP-

 

Advertisements

4 thoughts on “Seharusnya Kami Ke Bangka, Tapi… (Part: 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s