Tiga Hari Untuk Selamanya

image
I miss Gili Trawangan!

Perjalanan ke Gili Trawangan saya lakoni bersama Eka. Iya, Eka lagi.. Eka lagi. Bosan ya! 🙂 Saya sampai menyebutnya pacar wanita, karena ada masa di mana kami jalan terus berdua. Di mana ada saya, di situ ada Eka. Apalagi di 2013 kemarin, jadi tahun terbanyak kami traveling bersama. Dari Semarang, ke Bromo, Malang, Batu, lanjut Makassar, Tana Toraja, Tanjung Bira, dan ditutup manis Lombok beserta Gili Trawangannya. Nah, mengenai nama terakhir, kami punya kenangan di sana.

Day One

Setelah semalam di Senggigi, kami melaju ke Gili Trawangan. Dari kawasan Senggigi, naik travel menuju Pelabuhan Bangsal. Travel ini termasuk jasa penyebrangan ke Trawangan. Kami naik Avanza yang berhenti di beberapa hotel untuk mengangkut sesama pejalan yang ingin ke pulau, tidak hanya ke Trawangan, melainkan ke Gili Meno dan Gili Air.

Saya sendiri paling suka perjalanan ke Bangsal. Perjalanan ke pelabuhan paling menyenangkan yang pernah saya alami. Berjalan sepanjang pesisir pantai, naik turun, berkelok-kelok tak terhitung jumlahnya. Duduk dekat jendela, saya terbuai gugusan pantai yang membujur tanpa batas. Lautan biru menganga di belakangnya. Pagi itu begitu cemerlang, berkat matahari yang bersinar tanpa cela.

Kira-kira satu jam kemudian kami akhirnya tiba di Pelabuhan Bangsal. Belum di pelabuhannya persis, kami diturunkan di sebuah kafe yang menjadi basecamp travel tersebut. Di situ sudah ada beberapa traveler yang sedang duduk. Masing-masing menunggu waktu keberangkatan, baik untuk berlayar ke seberang, atau kembali ke pusat Lombok. Yang terlihat adalah 100% turis asing. Pejalan lokal, nein. Nggak terlihat sama sekali.

Sekitar 15 menit kemudian kami disuruh jalan kaki sekitar 250 m ke arah pelabuhan. Mobil memang dilarang lewat, hanya cidomo yang punya kuasa. Sengaja memang. Taktik bagi pemasukan agar penarik cidomo bisa meraih untung. Di pelabuhan sendiri nampak ramai. Banyak aktivitas, banyak orang juga seliweran. Jajaran kapal-kapal kayu parkir di bibir pantai. Kami pun masih menunggu.

Kemudian dari speaker terdengar panggilan untuk menaiki kapal ke Gili Trawangan. Ihiiyy.. nggak sabar! Naik kapal pelan-pelan, buka sandal jepit, kaki basah kena air laut melepas pasir yang menempel. Kapal kayunya sendiri mungkin hanya menampung 30-an orang. Duduk saling berhadapan dengan bagian tengah agak lowong. Sederhana, kurang begitu aman, tapi cukup kuat menghadapi ombak Desember. Mengayun dibuai gelombang, kantuk datang sedikit, tapi enggan menutup mata. Pemandangannya bagus.

image
Suasana di dalam kapal penyeberangan.
image
Tempat kapal-kapal bersandar.

30 menit kemudian sudah berlabuh di Trawangan. Pulaunya nggak besar, tapi ramai orang. Baru menjejakkan kaki di pasir putih, langsung diserbu calo-calo penginapan yang sibuk menawar. Berhubung trip kali ini serba random tanpa itineraty, kami berdua belum reservasi hotel. Mau nggak mau tertarik untuk menggunakan jasa calo. Eka yang maju angkat bicara. Saya sendiri sibuk mencerna keramaian dermaga yang begitu riweh pagi itu. Nggak lama, si calo sudah memimpin jalan menuju penginapan. Masuk gang, jalan terus, semakin menjauhi pantai. Kalau mau murah, resikonya jauh dari pantai.

Di dekat perempatan gang, itulah penginapannya. Lupa nama hostelnya. Dari luar keliatan kecil, tapi dalamnya cukup luas. Ada sekitar 6 kamar dengan taman kecil di bagian tengah, lengkap dengan dua bale-bale. Satu kamar dengan double bed, kamar mandi dalam (air payau), sarapan, free Wi-Fi, hanya dihargai Rp120.000 per malamnya. Langsung sikat.

Setelah unpacking, kami bersiap untuk eksplor pulau. Sebelumnya minta dipesankan snorkeling tour untuk esok hari dan meminjam sepeda. Karena nggak tahu seberapa luas pulaunya, sengaja milih sewa sepeda (cuma Rp25.000 sehari).

image
Awalnya aman terkendali sepedaan keliling Trawangan, di akhir perjalanan mesti nabrak bule sampe doi jatuh..hehe. Photo by Eka Eldina.
image
Salau satu lokasi buat leyeh-leyeh.
image
Hidup serasa menyenangkan di sini.

Sebenarnya saya nggak jago naik sepeda. Keseimbangan saya sungguh buruk. Dulu pas SD belajar sedikit. Lalu pengalaman naik sepeda hanya didapat kalau lagi liburan, seperti waktu ke Pulau Tidung dan Pari. Selebihnya, nggak pernah naik sepeda. Mulai ragu, Eka meyakinkan saya pasti bisa. Ya udah, nekat aja. Kami melajukan sepeda sedikit pelan karena jalanannya sempit. Tiba dekat dermaga, trus ketemu ibu penjual nasi bungkus. Cuma Rp10.000 saja per bungkus, sudah dapat nasi (banyak banget), lauk, sayur, dan sambal. Asoy! Kalau ada yang berpikiran makan di Trawangan itu semuanya mahal, itu salah besar.

Habis beli nasi bungkus, sepeda pun diarahkan ke timur. Melewati kios-kios penjual suvenir, tempat makan, kafe, dan beberapa hotel mewah di tepi pantai. Nggak lama, kiri-kanan mulai nihil bangunan. Jalanan sedikit melebar, dan pantai begitu dekat. Kami akhirnya memilih satu pojokan untuk duduk. Langsung habisin nasi bungkus yang dibeli tadi, dilanjutkan leyeh-leyeh beralaskan pasir, sambil dengerin musik, merem sebentar, kemudian datanglah perusak suasana. Dari tadi ada satu mas yang nggak jelas gitu. Mondar-mandir dekat tempat kita tidur-tiduran. And then, sekejab saja doi nyamperin kami, sambil ngomong “Welcome to Trawangan“. Heeee..!!?? Apaan siihh???

Kami sih cuekin aja, trus ngelanjutin aktivitas leyeh-leyeh. Kirain dia bakalan pergi kek setelah dicuekin, eeh, malah duduk dekat banget, sebelahan persis, cuma dibatasin pohon kerdil. Iishh.. Itu belum ada apa-apa sampai saya dengar suara klik kamera HP, seperti bunyi abis motret. Saya nengok dong, tebak..tebak, si mas nggak jelas tadi lagi ngarahin HP-nya ke kami yang lagi tiduran. What the…??!! Okeee, fix nih orang genggesin. Saya langsung ajak Eka buat pindah tempat. Huh!

image
Banyak spot untuk duduk santai, sun bathing, atau bermain air asin.
image
Look at the blue blue water.
image
Masih kepo sama super hot couple.

Setelah pindah, akhirnya bisa menemukan kedamaian juga, walau ketemu distraksi baru gara-gara lihat sepasang bule lagi tiduran di bawah pohon. Si cowok lagi meraba-raba badan (baca: toket dan perutnya, termasuk masukin tangan ke panties) pacarnya. Kemudian diikuti dua estrogen meletup-letup bergairah. Cewek bule itu (tentu saja) dan teman saya tercinta..hahaha. Ada yang jadi mupeng gitu deh 🙂

Daripada jadi penonton galau dan risau dengan adegan syur di depan mata, kami cari kesibukan dengan mainan air, tiduran, ya sesekali masih curi-curi pandang ke pasangan bule itu. Saat matahari memasuki masa penghabisannya, kami bergerak lagi, lebih ke timur. Senang karena kami terus ke arah sana karena bisa ketemu Sunset Bar. Awalnya meragu mau masuk atau nggak. Tapi musik reggae yang mengaduh ramai, bikin kami luluh juga. Sunset Bar benar-benar sederhana. Lahan luas dan terbuka, meja bar cuma kecil di tengah. Perabot lain cuma meja dan kursi kayu tanpa sandaran ditaruh hanya 50 m dari bibir pantai. Mau duduk di kursi, boleh aja. Mau ngample di pasir, monggo.

Duduk langsung menghadap matahari yang kelihatan besar banget, kami cuma pesan bir. Sempet ngobrol-ngobrol sama dua bule yang lagi ada show di Jakarta (lupa show apaan) trus milih liburan ke Lombok. Mendekati momen sunset, kami sudah duduk manis, saling bertatapan dengan surya tenggelam. Musik reggae menjadi latar yang menceriakan senja hari itu. One of my favorite sunset moment! Love Sunset Bar. Love the view too.

image
Sederhana aja sih Sunset Bar, tapi kece abis.
image
Sunset, beer, and beach.

Sebelum terlalu gelap, kami balik lagi ke arah hotel, sebelumnya beli nasi bungkus lagi dan nyobain gelato enak. Termasuk saya berhasil menabrak satu bule, cowok, yang lagi duduk di sepeda. Sepeda saya nyenggol sepedanya dia, alhasil, doi jatuh, cukup parah penampakan visualnya. Makin parah karena saya minta maaf sambil ketawa..hehe. Malam pertama di Trawangan nggak dihabiskan dalam seremoni hura-hura. Saya malah molor duluan, cukup aneh siiihhh. Good night then.

Day Two

Pagiiii! Hari kedua rencananya mau snorkeling seputaran Trawangan, Meno, dan Air. Dari awal sebenarnya pengen nggak ikutan. Lagi malas kena mabuk laut. Itu semua karena seminggu sebelumnya abis night snorkeling di perairan Great Barrier Rief dan ombak malamnya parah banget. Saya mabuk laut berat, untung nggak sampai muntah. Makanya pas mau snorkeling lagi, rada-rada parno. Tapi kasihan juga si nenek kalau tur sendirian.

Ya udah, sebelum berangkat uda beli pisang sesisir buat ganjal perut kalau laper di tengah laut. (Kenapa pisang? Pisang adalah salah satu makanan penghilang mabok laut). Tur snorkeling diikutin sekitar 30-an orang. Mayoritas diikutin makhluk-makhluk rupawan berdada bidang dan berbadan seksi. So far turnya menyenangkan. Walau memprihatinkan lihat kondisi karang-karangnya. Yang masih better cuma dekat Gili Meno. Sempat juga ketemu penyu. Perairannya dominan dihuni ikan-ikan kecil. Sempat terhalang ombak, makanya nggak bisa snorkeling di satu spot. Untuk makan siang, kami diajak ke Gili Air.

Yang menarik dari snorkeling tour ini adalah para pesertanya mirip sama public figure. Ada yang mirip Olivier Martinez (ini cakep bener juga misterius dan pendiam). Ada yang kayak Xabi Alonso. Satu cewe ada yang sekilas kayak Claire Danes. Ya ya ya, bule-bule itu terlihat serupa semua. Yang lucu, teman kami Septy percaya aja lagi kalau kami beneran satu boat sama Olivier Martinez. Ya keleeuuss Septy artis macam Olivier akan ikutan snorkeling tour seharga 100 ribu.

image
Area snorkeling sekitaran Gili Meno.
image
Mendung sehabis snorkeling.
image
Nungguin hujan sambil makan pizza.

Menjelang sore, balik lagi ke Trawangan. Malas balik ke hotel, kami muter-muter dulu. Pengen pijat, tapi mahal-mahal. Akhirnya memutuskan makan pizza dulu. Dan Trawangan sore itu hujan. Untung lagi neduh. Di antara itu, mesti keganggu sama urusan kerjaan. Duuuhh.. Dari awal liburan, saya dirongrong kerjaan mulu. Bete banget sih. I know emang urgent banget, cuma ya kepengen nikmatin cuti tanpa embel-embel kerjaan.

Anywaaayyy, di malam kedua juga terakhir kami manfaatkan betul. Sengaja makan malam di pasar rakyat dekat dermaga. Harga-harga di sini masih tahu diri dibanding jajaran kafe. Walau sebenarnya banyak banget kafe di Trawangan yang terlihat menarik dan cozy banget. Abis itu kami lanjut ke Reggae Bar (tempatnya asyik juga nih), hasil rekomendasi temannya Eka.

image
Trawangan di kala malam.
image
Romantis deh kalau malam.

Seru! Live music-nya bawain lagu-lagu asyik. Ambience-nya OK. Namanya juga bar, jadi cuma ngebir aja. Standarlah harganya. Di antara iringan musik, sempat lihat pasangan bule berantem di depan mata, trus cowoknya pergi ninggalin pacarnya yang kemudian nangis. Sumpah , ackward banget pas lihat itu. Persis di depan mata. Akhirnya kami pura-pura lihat ke tempat lain. Malam itu kami menikmati sisa waktu dengan menikmati fasilitas Wi-Fi di hostel sambil update status dan foto..hehe.

Day Three, Last Day

Hari ketiga begitu malas untuk bangun. Rencana pengen nyebrang balik ke Lombok jam 8-an jadi molor ke jam 10. Untungnya tiap jam ada kapal ke dan dari Bangsal. Beresin barang, packing, dan dilanjutkan dengan sarapan, lantas kami pun siap berpisah dengan Trawangan. Sebenarnya sih nggak pengen balik. Ini aja extend sehari, berubah dari rencana awal. Tapi mau bagaimana lagi, udah nggak bisa extend lagi. Hari itu mesti pindah ke Bali, tiket pesawat udah di tangan. Ya udah deh. Biarpun cuma tiga hari, tapi banyak hal seru yang kami nikmati di sini. Officially loving this island! Saat kaki menaiki kapal kayu, we’re saying see you soon.

How to get there?
Untuk mengunjungi Gili Trawangan, dari Lombok mesti ke Pelabuhan Bangsal. Bisa menggunakan jasa travel, naik taksi, atau sewa mobil. Dari Bangsal bisa naik kapal reguler dengan jadwal cukup banyak, dari pagi hingga sore.

Need to know?
*Banyak tempat penginapan dari yang murah hingga kelas berbintang. Begitupun dengan restoran dan kafenya.
*Untuk eksplor pulaunya, better jalan kaki atau sewa sepeda (Rp40.000-Rp50.000 per hari).
*Jangan naik cidomo-delman yang menggunakan roda mobil, mahal (Rp100.000-Rp150.000). Tapi kendaraan ini memang khas banget di Trawangan sih.
*Untuk snorkeling, murah banget. Cuma Rp100.000 per orang. Sudah termasuk sewa alat menyelam. Berangkat tiap pagi (sekitar jam 8).
*Jangan lupa mampir di Sunset Bar menjelang sore dan nongkrong di Reggae Bar pas malamnya.

-PJLP-

Advertisements

6 thoughts on “Tiga Hari Untuk Selamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s