Feeling Blue in Phnom Penh I

image
Tur sejarah di balik kelamnya Khmer Merah.

We’re off to Phnom Penh. Dari awal perjalanan ke Kamboja, saya penasaran banget sama destinasi yang berkaitan dengan Khmer Merah. Apaaa? Nggak tahu Khmer Merah?! Googling dulu ya sebelum lanjut baca tulisan ini.

Bagaimana? Sudah tahu mengenai Khmer Merah? OK, saya lanjut ya. Karena aksi kekerasan dan pelanggaran HAM yang dilakukan Khmer Merah atau disebut juga Khmer Rouge terjadi begitu dahsyat beberapa puluh tahun silam, saya merasa wajib untuk mengunjungi tempat-tempat historis yang bertalian dengannya. Tentu bukan jenis tempat wisata yang akan membangkitkan sukacita. Tapi saya merasa wajib untuk menghormati sejarah.

Ada dua objek sejarah yang masuk dalam daftar kunjung kali ini. Yang pertama Killing Fields of Choeung Ek. Berikutnya Tuol Sleng Genocide Museum. Saya dan Eka (orang yang sama yang pernah saya sebut dan akan terus muncul dibanyak tulisan saya) memilih untuk mengunjungi Killing Fields terlebih dahulu. Letaknya di luar pusat Kota Phnom Penh.

Perjalanan menuju salah satu tempat pembantaian ini tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Soalnya ketiduran sih di tuk-tuk..hehe. Ngantuk berat karena malam sebelumnya naik sleeper bus dari Siem Reap dan kurang lama waktu tidurnya. Sampe Phnom Penh pagi, dan langsung jalan. Samar-samar saya hanya melihat supir tuk-tuk membawa kami masuk keluar jalan, kecil dan besar, beraspal dan penuh tanah merah. Pasrah aja deh mau dibawa ke mana.

Kurang lebih 30 menit di jalan (perhitungan dari Royal Palace), kami tiba di gerbang masuk. Di tempat kami diturunkan ada warung-warung makan. Di sebelah kanan ada loket penjualan tiket. Seusai membeli tiket, masing-masing kami diberi audio player (semacam walkman), headphone, dan selebaran informasi.

Dari audio player tersebut kita dapat mendengar segala kisah yang terjadi di Killing Fields. Baik bagaimana para korban dibawa ke sini, cara membunuhnya, serta kesaksian mereka yang berhasil selamat. Tiap rekaman diberi nomor. Masing-masing nomor mewakili satu lokasi. Sepanjang tur, kita akan dituntun nomor per nomor, lokasi per lokasi, yang nantinya akan berakhir di Memorial Stupa yang berada di tengah areal. Upayakan untuk mengikuti rangkaian kisah sesuai urutan, biar nggak bingung. Oh ya, rekaman cerita tersedia dalam beberapa bahasa. Jangan ngarep ada Bahasa Indonesia.

Killing Fields of Choeung Ek merupakan ladang pembantaian. Diberdayakan dari tahun 1975-1978, puluhan ribu manusia, pria, wanita, anak-anak, hingga bayi, menyambut kematian di sini. Sebelum dibawa dengan mata tertutup dan tangan terikat ke Kamp Choeung Ek (dulu namanya begitu), mereka diinterogasi dan disiksa terlebih dahulu di S-21 (sekarang Tuol Sleng Genocide Museum).

image
Salah satu kuburan massal di Killing Fields.
image
Dalam satu liang kubur bisa menampung hingga ratusan mayat.
image
Foto pasca penemuan tengkorak para korban.

Kalau sekarang tak banyak yang tersisa dari Killing Fields. Ada tanah lapang. Ada beberapa gundukan tanah yang dulunya merupakan kuburan massal para korban. Bisa ribuan mayat ditumpuk jadi satu dalam kuburan massal ini. Tampak juga pepohonan, museum, dan pemandangan perkebunan yang mengelilingi lokasi ini. Sedikit yang bisa dilihat namun begitu banyak kisah yang tercurah.

Saya mulai mendengarkan rekaman. Khusyuk tak bergeming. Setelah mendengarkan beberapa nomor rekaman dengan serius, saya baru ngeh dengan sekitar. Saya mulai melihat-lihat pengunjung yang lain, semua nampak serius, hening menyimak kisah dari audio player masing-masing. Ada sedikit perasaan aneh. Mmhh.. Aneh bukan kata yang tepat. Tapi saya nggak pernah merasakan hal ini setelah sekian kali traveling. Seakan ada energi yang disita, yang membuat saya jadi meredup. Bukan, ini bukan soal horor atau berbau mistis.

image
Gelang-gelang yang ditaruh pengunjung sebagai tanda penghormatan.
image
Sisa-sisa tulang para korban.
image
Terdapat pula tumpukan baju para korban, yang tentu saja masih bersimbah darah.
image
Satu area yang bisa dijadikan untuk berteduh sambil duduk dan mendengarkan rekaman cerita dari audio player.

Di tiap lokasi yang ditandai dengan nomor yang diberi penjelasan apa fungsi dan ceritanya. Di beberapa lokasi disediakan kursi, sehingga pengunjung bisa lebih nyaman ketika mendengarkan kisah sendu yang menyuarakan jutaan orang meninggal hanya karena ia guru, dosen, kaum akademis, ibu rumah tangga, bahkan artis. Orang-orang yang sebenarnya tidak terkait erat dengan politik. Ada pula kotak kaca yang berisi tulang-tulang para korban serta baju yang dikenakan mereka di masa penghabisannya. Masih terlihat noda darah masih menempel pada beberapa baju.

Secara keseluruhan ada tiga lokasi yang bikin saya merinding dan terenyuh. Pertama, lokasi di mana para korban dibantai. Mereka dibunuh dengan perkakas sederhana yang biasa dipakai untuk kegiatan harian, seperti palu, celurit, linggis, cangkul, dan sejenisnya. Mereka sengaja tidak membunuh dengan senjata api karena saat itu peluru akan sangat menghabiskan biaya. Selain itu, menggunakan senjata api akan terlalu berisik, takutnya akan menimbulkan kecurigaan penduduk sekitar.

Lokasi kedua tepat berada di Killing Tree. Pohon berdarah ini menjadi saksi bisu banyak bayi tewas. Anggota Khmer Merah ini dengan sadisnya membunuh para bayi dengan cara melempar mereka ke batang pohon. Kalau bosan, kadang-kadang bayi dilempar ke atas lalu ditembak dari bawah. Semua itu dilakukan persis di hadapan ibu si bayi. My God, saya speechless. Parah banget. Mata mulai berair, iya, saya nggak bisa nahan air mata di depan Killing Tree.

Teganya mereka bunuh bayi-bayi yang sama sekali buta dengan politik. Tapi Polpot memiliki pembenaran akan tindakannya ini. Baginya, justru bayi-bayi ini akan menjadi ancaman. Mungkin saja jika bayi-bayi ini tumbuh dewasa mereka akan membalaskan dendam kematian orang-orang terdekatnya. Ya sudah, sekalian saja dibunuh, demi masa depan aman sentosa. Parah kan!

Dalam kemuraman di depan Killing Tree, ada warna-warni yang memberi sedikit efek berbeda. Ada gelang-gelang dari benang berwarna-warni, dominan warna merah yang ditancapkan pada Killing Tree. Di samping pohon ada gundukan tanah (dulu menjadi kuburan massal para korban) yang dikelilingi pagar bambu. Di ujung pagar juga digantung gelang-gelang tersebut. Gelang-gelang ini merupakan bentuk penghormatan pengunjung pada para korban.

Lokasi ketiga ada Magic Tree. Masih seputar pohon, dulunya digunakan untuk menggantung speaker. Speaker ini biasanya mengalunkan musik khas Kamboja. Tujuannya untuk menutup suara pembunuhan tiap malamnya. Sepanjang malam mereka sengaja memasang musik super kencang untuk menutupi suara-suara korban yang sedang dieksekusi. Dari audio player bisa terdengar musik pembunuhan yang kerap diputar waktu itu. Asli, langsung merinding pas dengarnya. Saya nggak mau dengerin lama-lama. Rasanya nggak enak aja. Padahal itu cuma musik tradisional biasa.

image
Killing Tree.
image
Magic Tree.
image
Memorial Stupa.
image
Ratusan tengkorak dipajang dalam Memorial Stupa.

Sisa perjalanan di Killing Fields berakhir di dalam Memorial Stupa. Ruangannya kecil, sempit, tinggi, di dalamnya terdapat kotak kaca. Kotak ini menyimpan banyak tengkorak para korban. Dari tengkorak-tengkorak tersebut kita bisa melihat lebih lekat bekas luka yang menimbulkan si pemiliknya tewas. Semua disusun secara sistematis berdasarkan gender, usia, dan jenis luka yang ditimbulkan. Di situ juga dipajang aneka perkakas yang difungsikan sebagai alat pembunuh. Karena luas ruangan benar-benar terbatas, pengunjung nggak bisa lama-lama di sini.

Saya sempat pula mampir di museum yang berada di pojok lokasi. Kalau masuk mesti buka alas kaki. Isi museum berkisar baju-baju yang dikenakan pasukan Khmer Merah, beberapa foto para petinggi, termasuk foto saat mereka disidang. Sayang nggak boleh motret di dalam museum.

Gara-gara mesti buka alas kaki, jadi keliatan banget kalau kaki saya kotor banget. Berdebu parah. Akhirnya inisiatif cuci kaki dengan ambil air dari gentong besar di depan museum. Kayaknya sih tampungan air hujan. Segar banget abis siram. Tapi nggak bertahan lama. Jalanan Phnom Penh berdebu parah. Baru di tempat parkir, uda kotor lagi. Yo wislah, naik tuk-tuk lagi ke destinasi berikutnya. We’re coming Tuol Sleng!

How to get there?
Naik tuk-tuk aja dari pusat kota, harga sekitar $15-20. Sekalian minta diantarkan ke Tuol Sleng Genocide Museum dan Royal Palace. Waktu itu kami bayar $20 untuk diantarkan ke tiga tempat tersebut, termasuk ke Russian Market.

Need to know?
-Tiket masuk $3
Biaya sewa audio player $3
-Nggak mesti berpakaian rapi tapi bawa aja minuman, kalau datang di siang hari, karena bakalan kepanasan.
-Di dalam museum nggak bisa motret dan mesti buka alas kaki.
-Kata Inne Free Wi-Fi di sini kenceng. Tapi kemarin saya nggak ngeh. Dicoba aja kalau ke sana.

-PJLP-

Advertisements

5 thoughts on “Feeling Blue in Phnom Penh I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s