Feeling Blue in Phnom Penh II

image
Tuol Sleng Genocide yang suram.

Dari Killing Fields of Choeung Ek, perjalanan bergerak menuju Tuol Sleng Genocide Museum. Dulu disebut S-21, merupakan penjara, tempat interogasi sekaligus penyiksaan para tahanan Khmer Merah di era kejayaan Pol Pot.

Selepas mengitari Killing Fields, rasa kantuk seketika sirnah. Nggak mood lebih tepatnya. Sudah pasti karena menyerap banyak kisah tak mengenakkan tadi, makanya jadi begini. Akhirnya saya lebih banyak mengamati jalanan berdebu yang dihujani teriknya matahari dalam perjalanan menuju Tuol Sleng. Asli, panas banget. Suhu Phnom Penh di awal April bisa mencapai 40°C. Sama aja kayak di Siem Reap. Makanya selalu siap sedia air mineral botol besar demi mencegah dehidrasi. Kira-kira butuh 20 menitan untuk tiba di Tuol Sleng. Posisinya benar-benar di pusat kota. Ada di pojokan jalan dengan suasana sekitar cukup ramai. Tuol Sleng dulunya sekolah, makanya nggak heran letaknya termasuk strategis.

Siang itu museum ramai sekali. Turis asing juga lokal, mewarnai tiap sudut. Memasuki areal dalam, yang terlihat adalah bangunan bertingkat, persis seperti bangunan sekolah yang selalu kita lihat sehari-hari. Dinding cat tampak pucat, ada pula yang telah mengelupas dan memperlihatkan batu bata. Sepertinya memang sengaja untuk tidak diperbaharui secara maksimal.

image
Makam para tahanan terakhir yang disiksa S-21.
image
Monumen peringatan.

image
Bekas gedung sekolah yang dijadikan tempat penyiksaan.

Sebelum memasuki gedung, setiap pengunjung pasti akan bertemu pandang dengan taman kecil yang dihiasi pohon kamboja. Di tengahnya ada 14 kuburan berwarna putih. Saya kemudian membaca papan petunjuk yang menerangkan kalau 14 kuburan ini merupakan milik dari korban yang ditemukan tewas secara mengenaskan di Gedung A. Mereka merupakan korban penyiksaan terakhir dari agen S-21 sebelum melarikan diri. Dari 14 korban, satu merupakan wanita.

Dekat papan tersebut ada pula papan lain. Isinya mengenai aturan yang mesti dipatuhi setiap tahanan di sini. Aturannya antara lain harus langsung menjawab pertanyaan jika ditanya, ketika dicambuk atau disengat listrik tidak boleh menangis, tidak boleh melakukan sesuatu-duduk saja-tunggu perintah-dan jika diberi perintah mesti melakukan dengan tepat tanpa boleh protes, jika tidak menuruti aturan akan mendapat lebih banyak cambukan atau sengatan listrik seperti 10 cambukan atau lima kali disengat listrik. Habis baca aturan biadap itu saya cuma geleng-geleng kepala sembari memasuki Gedung A, gedung pertama dekat pintu masuk. Bangunan-bangunan di Tuol Sleng diberi inisial saja, A, B, C, dan D. Masing-masing memiliki peran tersendiri di masa lalu.

image
Lorong bangunan yang sendu tak terurus.
image
Salah satu ruang penyiksaan.
image
Pada ruang penyiksaan kerap ditemukan rangka besi tempat tidur.
image
Bantal yang tersisa.

Merapat di Gedung A dengan lantai kotak-kotak putih-oranye, saya menemukan ruang-ruang kelas di sepanjang koridor. Bangunannya bertingkat tiga, tiap lantai sama saja bentuk dan gayanya. Tapi tiap ruang yang cukup besar ini tidak selalu sama isinya.

Ada yang hanya berisi rangka tempat tidur, dari besi. Ada rantai dan palungan untuk mengikat tangan atau kaki di atasnya. Juga sebuah kotak dan wadah besi yang mulai berkarat. Penjelasan yang bisa ditemui hanya melalui foto hitam putih yang tergantung di satu dinding. Terlihat jelas foto korban (dari 14 korban terakhir) yang sudah tewas dengan tubuh penuh darah bahkan beberapa sudah tak dapat dikenali lagi. Rasa-rasanya tak pantas untuk diperlihatkan secara frontal bagi siapa saja. Terlebih anak kecil bisa dengan bebas memasuki tiap ruangan.

Jadi ruang-ruang yang ada di Gedung A merupakan areal penyiksaan. Entah sudah berapa banyak orang disiksa, dicambuk, disengat listrik di sini. Di ruangan lain hanya kosong melompong dengan jendela-jendela sebagian tertutup dan terbuka. Tapi yang pasti saya menemukan noda darah yang masih membekas di lantai. Scary banget ini. Mood mulai nggak karuan. Saya yang biasanya berani buat eksplor-eksplor sendirian, sampai nungguin Eka biar bisa bareng-bareng masuk-keluar ruangan. Perasaannya nggak enak banget.

image
Tiang kayu biasa dijadikan tempat menggantung tahanan secara terbalik, dengan bagian kepal dimasukkan dalam gentong berisi air.
image
Ada beberapa jenis penjara yang dibangun di dalam Tuol Sleng Genocide ini.
image
Selain penjara berdinding batu bata, ada juga yang dibuat dengan pembatas dari kayu tebal.
image
Bagian penjara yang menjadi saksi bisu penderitaan para tahanan S-21.

Selesai dengan Gedung A, melipirlah ke Gedung B yang sama suramnya dari luar. Sebelum masuk, saya penasaran sama tonggak kayu yang cukup tinggi dengan tiga gentong besar di bawahnya. Menurut penjelasan papan informasi, dulu para tahanan akan digantung terbalik di tonggak kayu, di mana bagian kepala akan mencapai gentong yang diisi air. Badan mereka akan ditarik-ulur gitu. Ini merupakan salah satu dari sekian penyiksaan yang dilakukan di S-21. My God! Tega banget sih!

Lantas saya pun memasuki Gedung B. Sama juga memiliki tiga lantai. Di bagian terbawah lebih banyak menampilkan foto-foto para korban ketika mereka baru ditangkap. Khmer Merah saat itu menyusun administrasi cukup baik dengan mendata setiap orang, di mana masing-masing akan diukur tingginya, berat badan, dan difoto layaknya mau buat pass foto.

Naik ke lantai dua, nampak lebih redup. Cahaya matahari tak begitu bebas mengisi ruangan. Itu semua karena ditutup bangunan tanpa jendela yang dibentuk menjadi penjara. Penjara-penjara ini dibuat seadanya saja menggunakan batako ataupun kayu. Namun jajaran dinding penjara tidak dibuat mencapai langit-langit. Entah apa alasannya. Mungkin sekalian memberi saluran udara bagi tahanan. Ah, tapi mustahil jika mereka peduli dengan sirkulasi udara.

Pintu penjara terbuat dari kayu, cukup tebal dan nampak kokoh. Mengamati bagian dalam penjara, saya pikir akan sesak sekali jika diisi hingga empat orang sekaligus. Dengan catatan semua duduk melipat kaki. Sayang nggak ada keterangan mengenainya. Itu yang saya sesalkan dari Tuol Sleng. Minim informasi mengenai tempat ini. Papan petunjuk tak selalu ada. Membuat kita hanya mereka-reka sejarah dari bangunan dan detail interior yang tersisa. Di lantai teratas lebih kepada dokumentasi-dokumentasi menyangkut solidaritas dan keprihatinan mengenai aksi kekerasan Khmer Merah.

image
Sebelum ditahan, setiap yang ditangkap akan didokumentasi dengan foto diri.
image
Kebanyakan tahanan masih berusia muda.
image
Alat yang memasung kaki para tahanan.
image
Salah satu alat penyiksaan yang digunakan pasukan S-21.

Berlalu ke Gedung C yang diisi seputar foto-foto para korban juga beberapa alat penyiksaan. Mengerikan melihat itu semua. Makanya saya buru-buru keluar dan memilih duduk di bangku taman. Cukup sejuk sih, tapi ada rasa janggal. Sebersit hal melambung di pikiran. Isinya muram. Kunjungan ke Killing Fields dan Tuol Sleng benar-benar melelahkan hati. Teman saya yang pernah ke sini pun mengomentari hal yang sama. Dia malah jadi stres.

Tapi pengalaman saya ini tak semestinya membuat siapapun yang ingin ke sana jadi mundur dan menghindar. Jangan! Berkunjung ke tempat-tempat seperti inilah yang menjadi pengingat dan penyemangat kita akan arti hidup yang bebas dari ancaman dan kekerasan. Bahwa segala bentuk kekuasaan yang merantai nilai-nilai kemanusiaan mesti ditolak, dilawan. Dan jangan lupakan hati nurani yang menjadi pembeda kita dengan makhluk Tuhan lainnya. Karena nurani inilah yang menentukan siapa kita dan akan menjadi seperti apa.

Tuol Sleng Genocide

Cnr St. 113 & St. 350

Phnom Penh – Kamboja

Tiket masuk $2, guide $6
Jam buka pukul 07:00-17:30

How to get there?
Tuol Sleng Genocide Museum berada di pusat Kota Phnom Penh. Bisa dijangkau menggunakan tuk-tuk. Sewa saja tuk-tuk seharian, sehingga bisa diantarkan ke Killing Fields of Choeung Ek, Royal Palace, Russian Market. Kisaran harga sekitat $15-$20.

Need to know?

-Di beberapa ruangan museum memperlihatkan foto para korban yang tewas mengenaskan. Sebaiknya dijauhkan dari pengamatan anak di bawah umur.

-Sebaiknya tidak usah melihat foto jika tidak kuat, karena visualnya begitu frontal.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s