Matahari Yang Hilang

image
Karang-karang eksotis di Tanjung Papuma.

 

Beberapa waktu lalu notifikasi Timehop saya muncul. Pas dibuka, ada posting-an tiga tahun silam, saat saya menyambut hari baru di Tanjung Papuma. Cukup epik, walau pagi itu tak secerah dari yang saya harapkan.

Saya sendiri sebenarnya kurang begitu tahu mengenai Jember, sampai harus ke sana untuk urusan kantor. Mau nggak mau mesti browsing di internet, cari tahu apa saja yang menarik di sana. Tampilan pertama yang muncul adalah sebuah pantai berkarang dengan bagian ikonik yang berada di perairan, yakni batu karang yang berdiri kokoh di tengahnya. Itulah identitas Tanjung Papuma. Fix harus ke sana. Apalagi diiming-imingi pemandangan sunrise yang cantik, mana mungkin ngelewatin.

Maju beberapa pekan setelahnya, sampailah saya di Jember. Nginapnya di Kalibaru, satu daerah perkebunan yang berada di antara Jember dan Banyuwangi. Untuk menuju Kalibaru, pertama-tama saya naik pesawat dulu ke Surabaya (teknisnya Sidoarjo). Malamnya cus ke Kalibaru naik Kereta Api Mutiara Timur dari Stasiun Gubeng.

Ada cerita pas tunggu kereta. Saat itu di Gubeng banyak banget Bonek (Bodoh Nekat) fans berat klub bola Persebaya. Nggak ngerti mereka dari mana dan mau ke mana. Sempat takut juga. Tahu sendiri kan kalau supporter Bonek memiliki reputasi kurang baik. Pokoknya nggak tahu kenapa, tiba-tiba sudah banyak polisi di stasiun. Ada yang lagi kejar-kejaran sama Bonek, di antara rel. Pokoknya ramai banget. Akhirnya setelah ditangkap-tangkapin, mereka dikumpulin, suruh duduk jongkok. Saya kepo kan. Trus lihat lebih dekat, penasaran mereka mau diapain. Ada yang dipukul. Diomelin juga. Trus dibotakin rambutnya. Ditendang juga termasuk. Parah deh. Tapi abis itu diceramahin, dikasih makan, trus suruh pulang baik-baik. LhaaaHappy ending amat. Kirain bakal dibawa ke kantor polisi. Ya gitu deh. Drama kumbara sore-sore. Lumayan ada sensasi di stasiun kecil itu, jadi nggak bosan-bosan amat tunggu jam keberangkatan.

Kereta kami berangkat jam sembilan malam, sekitar jam 3 atau 4 pagi udah sampai di Kalibaru. Untungnya hotel yang akan diinapin persis di depan stasiun, namanya Margo Utomo. Hotel menyenangkan yang bikin betah. Pertama karena hotelnya asri banget, dikelilingi kebun cantik dengan pepohonan rindang. Kedua, ini yang saya suka, di tiap kamar nggak ada AC (ini karena Kalibaru berhawa sejuk), tv atau pun telepon. Malahan ada note yang ditaruh di meja kamar, isinya untuk tenang dan tidak menimbulkan bunyi yang menganggu mulai jam 22:00 ke atas. Alasannya karena pihak hotel ingin para tamunya hanya mendengar suara-suara alam dari luar kamar. Benar saja, begitu jam 10 malam, suasana hotel langsung sepi dan tenang. Cuma dengar bunyi jangkrik, kodok, dan daun pepohonan yang ditiup angin. Kapan lagi kan bisa ngerasa setenang ini bersama alam?

image
Touched down Sidoarjo.
image
Mati gaya nungguin kereta di Gubeng. Photo by Novena Assen.
image
Lobi Margo Utomo Hotel.

 

Hari kedua baru bisa ke Papuma. Awalnya mampir dulu ke Taman Nasional Meru Betiri. Ah, perjalanan panjang untuk pergi dan pulang dari sana. Sampai-sampai terlalu larut untuk kembali ke Kalibaru, padahal subuhnya udah mesti ada di Papuma.

Bagaimana ini? Seandainya waktu lebih dari 24 jam, akan sangat membantu. Kemudian pemandu saya menyarankan untuk langsung aja ke Tanjung Papuma, kemudian menginap di sana. Katanya ada penginapan dekat pantai. Tentu saja kalau nginap dekat pantai, jadi nggak perlu buru-buru ngejar sunrise dari Kalibaru. Baiklah, bukan ide buruk, walau resikonya jadi nggak bisa ganti baju dan mandi.

Kami pun melaju menuju Papuma. Saya, Noven (teman dan rekan kerja saya), pemandu dan supir dari Margo Utomo. Keluar dari Meru Betiri udah malam. Hujan pun turun. Lelah, kantuk, dan lapar makin melengkapi perjalanan. Kami pun mampir makan malam di salah satu restoran. Ya lumayanlah rasanya. Apa saja terasa enak kalau lagi lapar. Kelar makan, lagi bengong-bengong, ketemu foto Anang sama satu bapak (yang keliatan girang banget) dipajang dalam pigura super besar. Yup, sebagai artis asal Jember, nampaknya Anang begitu dipuja di kota asalnya. Sempet bingung juga di awal-awal mempertanyakan kenapa ada foto Anang.

Selesai makan perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kira-kira satu jam kemudian kami tiba di pintu masuk kawasan pantai. Sudah terlalu malam, tapi masih ada petugas yang menjaga. Si bapak penjaganya terlihat sedikit curiga melihat dua bapak dan dua wanita mau masuk pantai malam-malam. Pasti disangka mau mesum deh. Sampai disenterin segala muka kami satu-satu, trus mesti nunjukkin identitas segala plus kartu pers. Rempeus yee. Untung petugasnya woles setelah dijelasin sama pemandu kami, tentu aja pakai Bahasa Jawa dikit-dikit. Kami pun lolos dan melenggang masuk.

Untuk menuju pantai mesti melewati jalanan dua jalur yang super gelap. Nggak ada lampu sama sekali. Di kiri-kanan nggak ada bangunan. Makin lama makin terdengar bunyi gemuruh ombak. Pantaaiiii!!! Kami sudah begitu dekat dengannya. Sayang mesti menunggu subuh untuk melihat langsung. Mobil yang saya tumpangi diarahkan ke penginapan. Penampakan tempat inapnya sepi juga gelap. Penjaga hotel sudah tidur. Beberapa ketukan disusul teriakan (sedikit galak), akhirnya berhasil membangunkan mas-nya.

Kami kemudian diantarkan untuk melihat kamar. Well, apa yang bisa saya katakan. Kamarnya sih ada tempat tidur (ya iyalah), kipas angin, dan kamar mandi di dalam. Tapi bagian terburuk akan segera muncul. Bagian luar kamar langsung menghadap lahan lowong yang gelap dengan pepohonan tinggi. Membuat imajinasi akan hal-hal horor ataupun orang jahat melayang bebas di pikiran.

Masuk kamar, lihat kasur, duh.. kotor. Lumayan banyak ampas pasirnya, ternyata jatuh dari langit-langit kayu yang mulai reyot. Saya langsung ke kamar mandi. Sama saja, jauh dari nilai kebersihan. Ada tahi tikus di lantainya. Iyuuuuhhh.. Bau apek pula. Mau gimana lagi kan, terima nasib aja. Lagi pula, kami nggak bisa mandi juga, karena dari awal nggak niat mau nginep. Suka tidak suka, kami mesti mengambil kamar ini. Walau sesungguhnya saya lebih nyaman kalau tidur di mobil saja. Bukannya saya anak manja, cuma kalau badan sudah remuk hasil offroad sepanjang Meru Betiri. Jadi kepengen tidurnya enak gitu.

Untung sekamar sama Noven. Malam itu saya tidur buka baju, alias cuma pake bra dan celana pendek yang sudah dipakai seharian. Kalau Noven, lebih memilih buka celana pendeknya dan tidur pake kaos dan celana dalam aja. Baju dan celana kami sengaja angin-anginin, biar nggak terlalu bau kalau dipakai besok.

Sebagai alas dari sprei yang kotor, kasur ditutupin pashminah. Thank God saya selalu bawa pashminah kalau ke mana-mana. Sangat membantu untuk situasi-situasi seperti ini. Bahkan di antara lelah dan kamar yang kotor, kami malah ketawa-ketawa nggak jelas sama situasi malam itu. Memang ya, kalau lagi liputan ataupun liburan, pasti ada aja hal-hal kayak gini. Hal yang nggak enak tapi akan jadi bahan ketawa di hari esok.

image
Pagi di Tanjung Papuma.
image
Variasi kontur pantai yang beragam di Tanjung Papuma.
image
Vihara dekat pantai.

 

Kurang dari enam jam kemudian kami sudah stand-by di pantai. Pengen buru-buru lihat sunrise. Tapi lebih besar karena pengen cepat-cepat keluar dari kamar itu. Belum pukul enam, matahari tak nampak. Hingga pukul tujuh, masih juga belum nongol. Ah, perjuangan kami rasanya sia-sia saja. Ke sini hanya untuk memburu matahari yang hilang.

Kecewa, itu pasti. Karena dari awal mengincar foto sunrise. Bagaimana mau foto kalau objek utamanya nggak ada? Akhirnya kami memilih untuk eksplor pantai, mengambil foto-foto detail. Di ujung sana ada vihara. Warna merah menyala terlihat dominan. Pagi itu vihara yang saya lupa namanya belum terlihat aktivitas. Kami pun nggak bisa masuk karena pintu pagar terkunci. Ya sudah, pindah tempat.

Sepagi itu pantai masih sepi, sangat sepi. Selain saya dan Noven, hanya ada dua-tiga orang yang sudah berdiri di pasir. Papuma yang sendu tapi tak menghalangi gemuruh ombak menyambar keheningan. Pantai, bunyi ombak, tanpa banyak manusia, menjadi pelipur lara pagi itu. Ini yang membuat saya selalu jatuh cinta dengan pantai. Senang, sedih, banyak masalah atau sedikit, ada matahari atau tanpanya, beach can fix everything!

image
Jejak langkah yang kau tinggal.
image
Ini spot oke juga buat motret.
image
Karang begitu dominan di Tanjung Papuma.
image
Banyak tanaman ini di sini.

 

Menyusuri tepian pantai, saya menemukan keragaman kontur Tanjung Papuma. Mulai dari daratan landai berpasir, walau bukan pasir putih berkualitas, hingga yang berkarang sampai dihuni banyak bebatuan. Sebelah barat dikuasai para pasir. Bagian timur, milik karang.

Dari pantai inilah bisa terlihat batu karang yang menjadi simbol Papuma. Nggak bisa didekati, karena dahsyatnya ombak. Kalau ingin efek dramatis, coba deh jalan lebih ke timur. Ada satu lokasi yang biasa digunakan untuk melihat batu karang tersebut di posisi yang lebih tinggi. Biasanya orang-orang akan ke sini kalau ingin foto berlatarkan batu itu.

Untuk menuju lokasi puncak nggak perlu nanjak parah. Ada tangganya. Sepanjang jalan menuju titik puncak, kita bisa mengambil foto batu karang dari berbagai ketinggian. Di bagian puncak, ada semacam bale-bale yang bisa jadi tempat berteduh. Emang iya sih, pemandangan dari atas lebih epik. Di bawah sana terdengar dentuman ombak yang menampar bebatuan. Bahkan sepagi itu angin bertiup super kencang. Cukup dingin hawanya karena gerimis pun ikut memberi tambahan rasa.

image
Going up!
image
Pagi tanpa matahari.
image
Iconic view of Tanjung Papuma.
image
Karang tinggi dan besar beserta gulungan ombak yang maha dahsyat.
image
Acuhkan saja tampang kusut saya karena belum mandi dua hari. Photo by Novena Assen.

 

Saya suka di atas sini. Jauh lebih menyenangkan dibandingkan di pantai. Kami lumayan lama bertahan di sini. Karena sepi, karena nyaman, karena begitu terhipnotis dengan pemandangan di depan mata. Akhirnya sadar diri juga. Mesti cabut, karena hari itu mesti ke Banyuwangi. Alright then. ‘Til we meet again, Papuma.

Keluar Papuma, sekalian kami mampir ke Watu Ulo. Pantai juga, letaknya persis di sebelah Papuma. Watu Ulo juga memiliki aksen batuan karang pada sisi timurnya, tapi bukan itu ciri khasnya. Pantai berpasir cokelat ini memiliki bebatuan yang menjorok ke laut. Rupanya kayak badan ular, lengkap dengan efek sisik, makanya dinamakan Watu Ulo yang berarti batu ular. Kita bisa berjalan di atas batu tersebut, cuma jangan sampai di ujung banget. Ombaknya cukup kencang. Jadi lebih baik jaga jarak saja (kayak orang lagi berantem disuruh jaga jarak). Sebenarnya ada nama Watu Ulo tidak sembarang diberikan pada pantai ini. Kalau ingin tahu lebih detail, bisa baca Mitos Watu Ulo.

image
Watu Ulo,hanya sejengkal dari Tanjung Papuma.
image
Masih mendung.
image
Tempat makan sederhan ala Watu Ulo.

How to Get There?
Pantai Tanjung Papuma berada dalam administrasi Jember. Dari pusat kota butuh sekitar satu hingga dua jam. Sedangkan Pantai Watu Ulo letaknya persis di sebelah Papuma. Jalan masuknya sama.

Need to Know!
-Paling better sih sewa mobil kalau mau ke sini. Sewa motor juga bisa sih. Jalanannya masih aman dari kerusakan. Tanjung Papuma kerap jadi spot untuk melihat sunrise, jadi pastiin datang ke sini sebelum jam 6 pagi.
-Dekat pantai ada penginapan ala kadarnya, dengan tingkat kebersihan kurang dari standar. Harganya sekitar Rp200.000 per kamar, coba aja nego.
-Ada juga tempat makan dan bilas.
-Di Watu Ulo terdapat warung-warung sederhana yang menjual makanan.

 

-PJLP-

Advertisements

3 thoughts on “Matahari Yang Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s