Negeri Pasir

image
Seperti di seting-an film Star Wars ya.

Kalau bukan karena tiket promo, entah kapan akan berkunjung ke tempat-tempat impian, termasuk ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, si negeri pasir yang berbukit hijau dan bergunung api.

Terima kasih kepada Air Asia yang kala itu merilis rute terbaru mereka Jakarta-Surabaya. Secepat kilat satu nama melintas di kepala, Bromo. Belum afdol kalau doyan jalan tapi belum pernah ke Bromo. Iya kan! Walaupun tiket promonya ke Surabaya dan masih terbilang cukup jauh untuk mencapai Bromo, tapi nggak apa-apa deh. Yang penting sudah di Jawa Timur. Nggak masalah mesti melewati beberapa daerah lagi untuk ke sana.

Tiap kali gaung tiket promo bergema, ada dua orang yang langsung saya hubungi, Septy dan Eka. Dan seperti biasa pula, mereka ini orang-orangnya mureee, mau diajak ke mana aja. Dalam hitungan menit sudah beli tiket PP Jakarta-Surabaya seharga nggak lebih dari 200 ribu per orangnya..Yippy! Kadang-kadang suka bingung juga kalau dengar orang-orang bilang susahnya dapetin tiket promo. Entah karena jaringannya sibuk atau memang nggak beruntung aja. Well, sekian banyak beli tiket AA, nggak pernah kesulitan sih, puji Tuhan selalu dapat di harga yang dimau dan di tanggal yang diincar. Sepertinya rezeki traveler soleha 🙂

Di hari H perjalanan, pesertanya berkurang satu, Septy nggak bisa ikutan. Saya lupa kenapa dia nggak jadi ikut. Apa karena waktu itu abis masuk RS ya? Pokoknya perjalanan ke Bromo jadi date trip pertama saya dan Eka, serta awal dari banyak date trip kami selanjutnya.

As usual selalu milih flight paling pagi, yang sebenarnya bukan jenis penerbangan yang saya suka. Ya karena mesti bangun subuh buat ke bandara, jadi kurang fresh kalau siap-siap karena masih ngantuk. Apalagi biasanya di malam sebelumnya pasti kurang tidur karena kebiasaan packing last minute. Mau sarapan juga nggak begitu enak, karena masih terlalu pagi. Otak juga masih belum bekerja maksimal, padahal harus inget-inget barang yang mesti dibawa. Ya gitu deh, saya bukan morning person deh, not even close.

Kalau nggak salah pesawat kami berangkat jam 6 atau jam 7. Yang pasti penerbangannya lancar dan tiba di Juanda dengan selamat. Di bagian kedatangan, Mas Sugi sudah tunggu. Mas Sugi itu teman saya, baru kenal beberapa bulan sebelumnya pas nge-trip di Tangkahan. Mas Sugi ini kerjanya di dunia traveling, dia mengelola operator rafting di Sungai Pekalen, Probolinggo. Trus sering juga ke Bromo. Makanya pas banget Mas Sugi jadi pemandu saya dan Eka sepanjang di Bromo, Probolinggo, sampe nganterin ke Malang. Thanks a lot ya mas :))

image
On our way to Probolinggo then Cemoro Lawang.
image
Must try Rawon Nguling. Enak!

Dari Juanda kami pun melaju menuju Probolinggo, kota terdekat untuk menjangkau Bromo. So far perjalanannya lancar jaya. Nggak kena macet. Jalanannya pun cukup baik, bukan yang rusak dan bolong-bolong. Tapi sering berpapasan sama truk juga bus. Di tengah jalan diajakin makan di Rawon Nguling, salah satu rawon enak yang pernah saya icip. Harganya juga menyenangkan dompet.

Habis itu jalan lagi dan mulai memasuki Probolinggo, melewati Terminal Probolinggo di mana banyak mobil Elf ngetem. Mobil Elf ini yang biasa dinaiki backpackers yang mau ke Bromo. Dari sini jalanan mulai menanjak. Hawa mulai sejuk. Saya pun meminta kaca jendela diturunin. Pengen lebih bebas menghirup udara segar. Saya meyakini kalau membaui alam dengan cara itu akan membuat lebih nyatu aja sama daerah tersebut. Iya, itu satu kebiasaan kalau nge-trip lebih suka nurunin jendela biar langsung kena angin alam instead pakai AC. Menghirup udara segar minim polusi lebih nikmat, balas dendam karena di Jakarta nggak bisa menikmati udara bebas polusi. Kadang-kadang kepala juga dikeluarin, biar kena hembusan angin. Tangan juga suka dikeluarin sambil diangkat tinggi-tinggi. I know it’s kinda weird, but hey, I’m enjoyed that.

Mobil kemudian memasuki kawasan pedesaan dekat Bromo. Di kiri-kanan mulai menghampar perbukitan hijau berikut perkebunan rakyat. Yang mengagumkan, orang-orang ini bisa berkebun di lahan miring yang berada di ketinggian. Bahkan gravitasi pun tak sanggup mengalahkan rasa takut untuk berkebun. Hebat ya!

Tujuan kami adalah Desa Cemoro Lawang. Desa terakhir sebelum memasuki kawasan Bromo. Mendekati Cemoro Lawang, suhu pun makin menurun. Mungkin sekitar 15°C, mungkin juga kurang. Setelah berkelok-kelok dan tak berhenti menanjak, sampailah kami di Cemoro Lawang.

image
Perkebunan rakyat yang menghiasi perjalanan menuju Cemoro Lawang.
image
Go green!

Ah, langsung jatuh hati sama desa ini. Dengan segala keriwehan dan dinginnya, desa ini begitu menyenangkan. Pria-pria bersarung khas Tengger seliweran sambil merokok. Bukan, saya bukan jatuh hati sama salah satu pria bersarung ini. Cuma emang menyenangkan aja suasananya. Saat itu ada perasaan positif mengenai Cemoro Lawang dan yakin saya akan menemukan pengalaman menyenangkan selama di sana.

Kami berhenti tepat di depan Cafe Lava Hostel yang sudah di-booking jauh-jauh hari. Awalnya pesan kamar dengan kamar mandi tanpa air panas, tapi untung beralih ke pilihan yang pakai air panas. Karena kalau nggak, bisa dipastikan kami nggak akan mandi sepanjang di Cemoro Lawang. Dingin banget cuy! Hotel ini letaknya dekat banget sama pintu masuk taman nasional, palingan cuma jalan kaki 50 m aja.

Setelah check-in, unpacking, kami keluar lagi. Mas Sugi menyarankan untuk sewa satu ojek. Dia ngajak untuk keliling Pasir Berbisik sama Bukit Teletubis naik motor daripada mobil hartop. Karena dia uda sering ke Bromo, jadi kenal sama beberapa orang di sana dan berhasil pinjam motor siapa gitu, jadi kami hanya perlu sewa satu ojek aja.

Urusan motor kelar, berangkat, konvoi motor menuju negeri pasir dan bukit berumput hijau. Saya naik sama si tukang ojek, aiih, lupa nama si bapak. Kalau Eka dibonceng Mas Sugi. Normalnya sih kalau mau masuk kawasan Taman Nasional mesti bayar tiket masuk. Tapi karena kami datangnya menjelang sore, jadi nggak ada petugas yang nagih di loket.

Sebelum memasuki areal berpasir, motor melewati jalanan turun, cukup curam dan kurang begitu mulus aspalnya. Tapi katanya sebelum SBY datang ke Bromo, jalanan itu sudah rapi dan super mulus. Ih, nggak fair. Giliran presiden mau dateng, baru deh dibenerin. Melewati jalanan turunan trus nengok kanan, saya akhirnya melihat Bromo dan kepulan asap belerangnya dari kejauhan. Lord Jesus, langsung merinding. Tanpa kata, banyak rasa. Lalu berujung melodramatik dengan meneteskan air mata. Yes, Bromo-lah titik klimaksnya.

Selama ini nggak pernah mewek kalau berhasil datang ke suatu tempat. Tapi entah dengan Bromo. Saya nggak lagi “dapet” kok hari itu. Nggak lagi PMS. Tapi jadi emosional sekali pas lihat Bromo. Untung lagi pake kacamata hitam, kalau nggak, bakalan malu saya. Jadi mikir, gimana kalau kesampean ke Italia ya? Negara yang pengen banget banget banget didatengin. Bisa nangis bombay kali ya. Atau malah pingsan..haha. I will tell you later.

image
Penduduk Tengger kerap bolak-balik padang pasir di Bromo.
image
Eka dan Mas Sugi.

Biasanya orang-orang akan ke Pasir Berbisik dan Bukit Teletubis setelah lihat sunrise di Penanjakan dan naik ke Bromo. Tapi kami malah datangnya menjelang sore, naik motor pula. Ternyata lebih seru kalau naik motor. Hwaahh… Pengen teriak-teriak sambil setengah berdiri di motor karena saking girangnya lihat pemandangannya. Cuma kasihan sama supir ojeknya. Kasihan dia mesti bonceng cewek Jakarta yang super aneh nan emosional ini. Walau rada susah naik motor dengan jalanan berpasir, tapi supir ojek saya jago benar. Padahal cuma pake motor bebek doang.

Keuntungan terbesar mengunjungi Pasir Berbisik dan Bukit Teletubis di sore hari adalah lebih sepi, karena nggak banyak yang beredar sesorean itu. Jadi bisa lebih nyaman menghayati suasana. Kata Mas Sugi, kalau ke sini pakai hartop selepas sunrise, pasti ramai banget, trus keganggu dengan terpaan pasir yang beterbangan karena padatnya lalu lintas. Malas kan. Sepanjang jalan ketemu beberapa motor lainnya. Kalau turis asing malah jalan kaki dari Cemoro Lawang. Lumayan juga sih itu jaraknya. Tapi orang-orang bule itu emang tahan banting yee. Atau kelewat irit sampai nggak mau sewa ojek?

image
Padang rumput, padang pasir, bukit hijau, semua ada di sini.
image
Kalau yang ini kayak di Eropa. Sotoy amat, kayak udah pernah ke sana.

Kami datangi Bukit Teletubis dulu. Sebelumnya sempat berhenti untuk foto-foto ke arah Bromo dan Gunung Batok. Kemudian jalan lagi melewati jalanan yang mulai menampakkan perbukitan hijau. Jalanannya masih berpasir tapi sesekali terlihat rumput liar tumbuh di atasnya. Setelah itu makin dekat dengan bukit-bukit berlapis hijau yang disapa akrab Bukit Teletubis.

Iyaaa, mirip amat sama punya Teletubies. Tapi jauh lebih cantik. Mata nggak mau ditutup, bahkan untuk sedetik pun. Rasanya pengen guling-gulingan di bukit-bukit itu..hehe. Kayak lagi di setingan film di negeri ajaib. Keren banget!! Sebenarnya ada beberapa trek yang bisa dinaiki untuk ke puncak. Tapi kami lebih milih duduk-duduk di bawahnya. Lebih tepatnya kami malas untuk nanjak. Terlalu betah untuk berdiri dan menghentikan kekaguman dari bawah. Begitu tenang. Suara alam terdengar jelas. Trus kepikiran kalau camping di sini kayaknya seru juga.

image
So green!
image
Photo by Eka Eldina.

Kemudian Mas Sugi ngajak ke tempat berikutnya. Katanya ada batu yang mirip singa. Arahnya dekat Pasir Berbisik. Iya sih, mirip banget batunya kayak singa. Nah, di sini nih kami akhirnya kenalan sama Mbak Vera dan suaminya (lupa nama suaminya). Pasangan ini doyan jalan-jalan juga. Mereka dari Jakarta. Trus ke Malang. Dari Malang naik motor ke Bromo. Mereka nyasar gitu mau ke Cemoro Lawang, karena saat itu kabut makin tebal, jadi susah juga cari arah. Akhirnya nyamperin kami buat nanya arah kemudian join ke Pasir Berbisik.

Pasir Berbisik sendiri sebenarnya saya kenal dari film Indonesia yang juga berjudul senada. Sama magisnya seperti Bukit Teletubis. Pasir hitam yang ditutupi kabut tebal memberi kesan misterius. Hembusan angin menjadi efek tambahan. Mau foto-foto tapi terbatas pemandangannya. Akhirnya milih duduk dekat ibu penjual kopi. Bahkan di tengah padang pasir ada penjual kopi.

Akhirnya ngobrol aja sama si ibu. Dia cerita sudah lama jualan kopi di situ. Tinggalnya di desa dekat situ. Yang amazed, tiap pagi dia jalan kaki buat jualan di Pasir Berbisik. Naik turun bukit pasir, melewati kabut tebal dan udara dingin, hanya demi menjual kopi. Super woman banget. Padahal terlihat udah lumayan berusia juga tuh ibu.

Dengar cerita si ibu saya serasa ditampar. Kebayang betapa kita dengan nyamannya ke kantor naik mobil atau transportasi umum, tapi masih aja ngeluh tiap hari. Komen jalanan macetlah atau Commuter Line nggak jalanlah atau lama nungguin Trans Jakarta-lah. Padahal sepele. Lha si ibu kelihatan fine-fine aja dengan rutinitas trekking dua kali sehari.

Tapi lega sih, masih diingatkan untuk lebih bersyukur lewat cerita si ibu. Senang karena sebuah perjalanan bisa mengajarkan kita akan banyak hal lho. Bukan perkara hura-hura atau terlihat bergaya hidup hedon karena sering ke mana-mana seperti yang biasa dilihat orang awam dari traveler kayak saya dan teman-teman lainnya. Buktinya, sore itu saya bisa belajar hal sederhana dari seorang penjual kopi di tengah padang pasir. Strange but real.

image
Patung yang mirip singa.
image
Ini dia ibu penjual kopi yang super woman.

Selesai pelajaran moral di Pasir Berbisik, plus hari makin sore juga makin dingin, kami kembali ke hotel. Oh iya, kelupaan. Ngomong-ngomong soal dingin, waktu di patung singa saya nantangin Eka untuk lepas baju hangatnya selama perjalanan. Anaknya nggak kuat hawa dingin. Makanya saya nantangin untuk keliling-keliling pakai kaos aja. Saya juga ikutan lepas sweater. Sebenarnya iseng aja, mau lihat seberapa tahan kami nahan dingin. Pas buka sweater, sumpah dingin banget. Langsung gemetaran disko. Stupid, cuma kadang-kadang merasa mesti ngelakuin hal-hal konyol waktu nge-trip. Bukan karena saya konyol, walau ini benar juga, tapi lebih pengen menjalani sesuatu di luar batas kenormalan aja. Being ordinary is boring you know. Walau pada akhirnya kami nyerah pas mau balik ke hotel, at least we tried something stupid and funny too 🙂

Sesampai depan hotel, kami ngobrol sama Mbak Vera dan suaminya yang anonim..hehe. Ngajakin share hartop buat lihat sunrise besok. Lumayan kan, bisa lebih murah biaya patungannya. We’re deal dan janjian ketemuan jam tiga subuh esok hari. Alright then. Balik hotel trus mandi. Berhubung makin malam di Cemoro Lawang dinginnya makin nggak nahanin, better mandi pas sore. Itu juga kudu pake air panas. Dan fyi aja nih, mandi air panas di Cafe Lava kayak langsung disiram air panas. Buka kran dari shower yang keluar air panas mendidih yang abis dimasak di panci. Even udah diturunin suhunya, tetap aja masih panas. Satu kamar mandi sampai penuh sesak sama uap air panas, nggak keliatan sama sekali. Mesti ngeraba-raba buat ambil shampoo, sabun dan printilannya. Saya mandi juga sampai keringatan dan jerit-jerit karena kepanasan. Akhirnya sengaja mandi air dingin dulu, trus kalau uda kedinginan ganti ke air panas. Dan kalau sudah berasa panas lagi, ganti ke air dingin. Siklusnya begitu seterusnya. Rempong sekali mak!

Kelar mandi yang merepotkan itu, kami keluar cari makan malam di warung makan gitu. Ada beberapa pilihan, tapi rata-rata warung makan sederhana. Trus diajakin ke warung kopi langganannya Mas Sugi. Di sini ada perapian kecil dari kompor yang langsung dikerumunin buat angetin badan. Sepertinya beberapa warung kopi di sana punya kompor ini deh. Memang berguna banget buat ngilangin dingin. Selesai nongkrong, kami balik lagi ke hotel, mau tidur cepat.

Sampai esok pagi, matahari.

How to get there?
Taman Nasional Tengger bisa dimasuki dari Probolinggo dan Malang. Saran terbaik dengan sewa mobil.

Need to know!
*Daftar hotel sekitaran Desa Cemoro Lawang:
Java Banana Bromo
Lava View Lodge Hotel
Cafe Lava Hostel
-Ada juga beberapq guest house dan homestay kalau mencari rate murah.

* Sewa ojek untuk keliling Bukit Teletubis dan Pasir Berbisik sekitar Rp100.000.
*Sewa mobil hartop mulai dari Rp300.000.
*Tersedia beberapa warung makan dan kopi sekitar Cemoro Lawang.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s