Bromo…, Finally!

image
One of my favorite morning view.

Anak pantai naik gunung = jompo. Bahkan seukuran Bromo saja udah ngos-ngosan berlebihan saat ke Penanjakan. Damn you lemak!

Maaf ya, saya malu-maluin banget. Traveler jompo yang kelebihan berat badan tapi nggak kapok mangkir olahraga mulu. Akhirnya, kena getahnya pas ke Bromo, hilang kekuatan pas nanjak. Tapi nanti dulu deh cerita teparnya. Setelah kemarin seru-seruan naik motor keliling ke Bukit Teletubis dan Pasir Berbisik, hari kedua di Cemoro Lawang dijalani dengan aktivitas berat sejak dini hari. Jam dua pagi sudah bangun sambil menggigil. Dinginnya parah banget. Mau cuci muka sama sikat gigi aja butuh perjuangan. Keluar selimut, tentu saja gemetaran. Turun dari kasur, kaki langsung kena lantai yang dingin membeku semalaman. Ke kamar mandi, buka baju, well, Tuhan jadi saksi betapa beratnya lima menit terlama untuk seka-seka.

Selama siap-siap, dari kamar udah kedengaran bunyi hartop yang melaju. Bahkan sepagi itu udah cukup banyak yang lewat depan hotel. Subuh itu saya keluar kamar hotel memakai baju tiga lapis, celana dua lapis, sarung tangan, syal, topi, sandal gunung plus kaos kaki super tebal. Di luar, Mas Sugi, Mbak Vera dan suaminya udah nungguin, juga hartop sewaan kami berikut pak supirnya. Tanpa menunggu lebih lama, kami semua segera masuk mobil, cus ke Pananjakan.

Di dekat hotel ada pos, di mana kita mesti bayar tiket masuk taman nasional. Karena semalam sudah bayar, jadi tinggal kasih tunjuk tiketnya aja. Selepas pos, langsung melaju dengan kecepatan sedang, menuruni jalanan, lalu belok kanan dan masuk ladang pasir. Huwoooo… Seruuuuu! Walau sama sekali nggak bisa lihat apa-apa, selain masih gelap juga karena pasir-pasir yang mengepul sepanjang jalan, sehingga menghalangi jarak pandang. Palingan cuma bisa lihat lampu mobil di balik kabut, tampak memanjang, semua berbaris rapi karena berada di satu jalur.

Hanya hartop yang boleh lewat. Itu pun yang disewakan saja. Mobil pribadi, sekalipun hartop juga, nggak boleh masuk. Kecuali motor. Banyak anak-anak muda yang tinggal sekitaran Malang dan Probolinggo memilih naik motor buat lihat sunrise. Kelihatannya seru, adventure-an banget, tapi susah bung. Susah mengendalikan motor di trek pasir yang rentan plus keadaannya gelap dan berkabut. Jangan lupakan udara nan dingin. Banyak yang suka stuck di pasir. Kalau nggak jago-jago banget, jangan nekat bawa motor.

Duduk di kursi belakang membuat saya, Eka, Mbak Vera dan suaminya terbanting-banting sepanjang jalan. Walaupun jalanannya berupa gundukan pasir, tapi kan nggak semuanya rata. Belum kalau mesti belok-belok untuk menghindari jalur pasir yang terlalu lunak. Sudah deh, makin jadilah kami terombang-ambing di belakang. Tapi seru banget. Asli.

Perjalanan di lautan pasir kemudian dilanjutkan ke jalanan beraspal. Jalurnya tidak lebar, tapi penuh dengan kelokan. Jalanan pun semakin menanjak. Supir hartop kami sibuk memainkan gas, kopling, rem dengan lihai. Lihat depan lihat belakang isinya hartop semua. Di tepian jalan ada beberapa motor yang nekat memacu lajunya. Sebagian terhenti karena tak sanggup melawan gravitasi. Malah ada yang lagi dorong motornya.

Hartop yang awalnya berjalan penuh semangat kini melaju dengan kecepatan rendah. Sesama pengemudi mencoba hati-hati untuk memajukan kendaraannya di tengah kabut yang pekat. Plus, banyaknya hartop membuat kondisi jalan mendekati kemacetan.

Dan benar aja, mobil pun terpaksa berhenti, padahal bukan di tempat seharusnya. Karena kami berangkat terlalu siang, padahal sudah dari jam 3 pagi, tapi tetap saja ada yang tiba lebih dulu. Dan mereka sudah memarkirkan kendaraannya lebih di atas, makanya yang telat datang terpaksa turun lebih jauh dari tempat perhentian. Which is membuat kami mesti turun dan bergerak manual, dalam artian jalan kaki menuju Penanjakan, spot untuk melihat sunrise.

Buka pintu mobil, hawa dingin langsung menyerbu. Segera merapatkan jaket, merekatkan sarung tangan dan syal. Sedikit efek spesial ketika buang nafas atau saat ngomong dari mulut keluar asap (yup, kayak lagi musim dingin di luar negeri ya). Pertanda segitu dinginnya subuh itu.

Kami mulai berjalan, naik dan naik dan naik dan mulai lelah. Bodohnya saya, saat itu kelewat semangat. Pengen buru-buru sampai di atas. Alhasil, gara-gara jalan terlalu cepat belum apa-apa sudah capai mampus. Berada di ketinggian membuat keadaan makin memburuk. Detak jantung mengalun cepat, super cepat. Nafas pun jadi tersengal-sengal, menuju oksigen yang tak mampu saya hirup lagi. Saya kehabisan nafas. Beneranan nggak bisa nafas. Baru kali ini kehabisan nafas sampai separah itu.

Terpaksa berhenti sebentar. Mencoba mengatur nafas, *inhale exhale inhale exhale, sambil menyemangati diri sendiri untuk bertahan. Tapi nggak. Saya nggak sanggup lagi buat jalan nanjak. Kebayang mau pingsan, lantas membayangkan kalau itu terjadi, maka akan sangat merepotkan banyak orang. Secara saya berat juga kalau mau digotong. Belum juga soal malunya kalau nanti cerita pernah pingsan di Bromo. Aarrgghh, bukan itu yang ingin dikenang.

Di antara situasi darurat itu, datanglah bala bantuan bernama ojek. Sedari tadi sudah banyak tukang ojek sibuk menawari jasa antar ke Penanjakan. Cuma sedari tadi jual mahal sama mereka. Daripada makin payah, saya memutuskan naik ojek. Baru kali ini girangbenar naik ojek.

Tanpa babibu, tanpa nawar, langsung naik ojek, bertiga sama Eka. Saya duduk di tengah, di antara tukang ojek dan Eka, salah posisi sih, apalagi di saat saya ingin mengatur nafas agar kembali normal. Motor melaju sedikit, belok kanan, dan voilà, sudah sampai. Yup, sedekat itu jarak yang ditempuh. Serius, nggak percaya juga kalau beneran udah sampai. Tahu gitu kan jalan aja. Asli, nyesel banget. Tapi mau gimana lagi. Tadi udah kepayahan parah. Akhirnya cuma ketawa-ketawa meratapi kekonyolan karena mesti bayar ojek Rp20.000 untuk jarak super pendek. Ya sudahlah.

image
Perjalanan menuju Penanjakan. Foto diambil setelah sunrise.
image
Pintu masuk Penanjakan. Foto diambil setelah sunrise.

 

Memasuki bagian muka Penanjakan sudah ada banyak orang. Padat banget. Kami mesti menaiki beberapa anak tangga untuk menuju lokasi utama. Makin mendekat, makin padat pengunjung. Dan benar saja, di Penanjakan sudah sesak dengan orang-orang. Mau berdiri susah. Mau duduk nanti nggak bakal kelihatan. Mau menerobos ke depan, tapi sudah terlalu penuh. Serba salah. Seharusnya mereka membangun tempat ini lebih besar. Kan banyak yang ke sini tiap pagi.

Penanjakan sendiri berbentuk seperti arena yang dibuat bertingkat. Semua sudut sudah dipadati. Yang sudah nangkring di bagian depan, akan terus di situ hingga sunrise tiba. Kalau nggak, tempatnya akan diambil orang. Yang di belakang akan berusaha mencari celah, secuil apapun untuk bisa ke depan. Intinya, pagi itu chaos banget.

Sedikit hilang mood saat itu. Saya nggak mengharapkan momennya akan seperti ini. Berharap bisa menjemput pagi lebih khusyuk. Semua duduk tenang dan tak merisaukan berada di depan atau di belakang, karena semua akan melihat ke arah yang sama di tempat duduk bertingkat. Akan lebih adil karena semua duduk di tempatnya dan bisa menikmati pagi yang katanya magical itu. Cuma ya itu, praktik di lapangan menunjukkan orang Indonesia emang nggak tahu aturan. Atau nggak mau taat aturan. Semua benar. Bahkan lihat sunrise di Angkor Wat aja masih lebih teratur, padahal sama padatnya dan lebih beragam juga orang-orangnya. Kami pun terpaksa berdiri selama beberapa waktu. Ya kurang lebih dua jam-an, demi mengamankan spot, yang sebenarnya bukan titik terbaik, tapi lebih better daripada di belakang. Mati gaya juga sih. Mau selfie juga susah pisan. Terlalu berdesakkan. Berharap waktu cepat berlalu.

image
Detik-detik sang surya muncul.
image
Kabut masih memenuhi pemandangan.

 

Iya, waktu akhirnya berlalu. Entah itu pukul berapa saat kami mulai melihat secercah sinar. Datang dari sebelah kiri. Semua langsung memainkan gadget-nya. Segala kamera, kamera video, tablet, HP, melimpah ruah di udara. Semua mengangkat tinggi peralatan elektroniknya untuk mengabadikan detik-detik sunrise di Bromo. Yang kasian sih orang-orang di belakang. Kalau mereka mau motret, otomatis semua gadget milik orang-orang di depan akan masuk frame. Seperti yang saya alami.

Oke-lah kalau emang pengen motret. Saya paham kok. Tapi kalau pengen ngerekam video pake tablet segede gaban, (((heloooo!!!))). Ya sadar diri aja. Contoh sederhana kayak gini nih yang masih harus ditata dari wisatawan Indonesia. Hal-hal sederhana mengenai etika ketika traveling. Bukan karena datang duluan dan berdiri paling depan jadi bisa seenaknya. Semua ada aturannya. Semua juga bayar dan berjuang untuk menikmati hal yang sama. Coba hargailah hak orang lain dengan nggak jadi pejalan yang egois. Semua setuju?

Lihat itu saya akhirnya memilih motret sewajarnya aja. Nggak enak sama yang di belakang kalau kelamaan. Tapi nggak tahan juga lihat hasil foto kemasukan “objek asing” mulu, akhirnya coba menerobos kerumunan buat ke depan. Memanfaatkan trik nerobos kalau naik Commuter Line..hehe, akhirnya nyampe juga dekat pagar pembatas. Sudah di depan, masih antri lagi buat motret. Eaaa.. Rempong yaa. Mesti manjat dikit supaya dapat angle terbaik. Lalu mundur perlahan ke tempat semula, kasih kesempatan buat yang lain.

image
I’m dreaming of this for million times. Finally! Thank you Sweet Jesus.
image
Saya dan dia. Photo by Eka Eldina.
image
Bersama Mbak Vera dan suaminya. Photo by Mas Sugi.

 

Setelah sinar matahari makin menyala terang, di bagian tengah mulai nampak yang dinanti. Jajaran Gunung Batok, Bromo, dan Semeru. Satu-satu muncul perlahan di balik kabut. Dramatis sekali. Saya yakin kalau saat itu suasananya lebih tenang dan damai, pasti udah mewek lagi 🙂 Saat itu saya nggak banyak motret. Nggak mau melewatkan setiap momen kabut yang tersingkap. Kayak mimpi lihat itu semua. Gosh, satu pagi yang nggak akan pernah saya lupakan. Selamanya.

Seiring berjalannya waktu, situasi di Penanjakan sudah tidak sepadat di awal. Sebagian sudah turun untuk menyerbu Bromo. Karena ada juga yang kepengen menyaksikan sunrise dari sana. Saya dan Eka kemudian merapat ke pagar pembatas di bagian depan. Ingin memotret objek paling tersohor di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini. Tentu saja kami mesti mengantri lagi untuk mendapatkan spot terbaik. Selesai motret, dilanjutkan dengan selfie dan foto bersama Mbak Vera dan pasangannya. Kemudian Mas Sugi ngajak turun ke Bromo. Katanya lebih baik jalan sekarang, biar nggak kena macet.

image
Jajaran hartop sepanjang jalan menuju Penanjakan.
image
Pria-pria Tengger yang membungkus diri dengan kain sarung khas mereka.
image
Sisi lain Gunung Batok.

 

Perjalanan menuju hartop sewaan berjalan sekitar 10 menit dari Penanjakan. Keadaan masih ramai. Di tangga-tangga turunan, kalau lihat ke sebelah kanan, akan menyaksikan pemandangan menakjubkan dari rimbunan pepohonan, sepertinya cemara, dan masih ditutupi kabut pada bagian bawahnya. Mungkin ini yang kata orang negeri di atas awan. Karena ini yang saya lihat dengan mata kepala.

Sepanjang jalan juga akan menemukan beberapa warung makan dan minum, juga penjual jagung bakar. Keluar dari areal Pananjakan, terhampar deretan hartop yang diparkir di pinggir jalan. Seperti mengantri, memanjang ke bawah. Banyak banget. Saya sampai siwer, nggak ingat mobil mana yang kami sewa. Tapi biasanya ada nomor untuk mempermudah.

Setelah naik hartop, baru sadar kalau sudah nggak kedinginan. Sepertinya efek kepanasan karena berdesak-desakan tadi. Anyway, berjalan turun, kami tak menemui kemacetan. Mobil sempat berhenti di beberapa tempat karena ada tempat yang bagus sekali pemandangannya. Kabut masih menyelimuti di bagian bawah, sedangkan di atas nampak pepohonan, gunung, juga bukit-bukit.

image
Tempat parkir hartop jika ingin ke Bromo.
image
Kuda-kuda Bromo yang perkasa menahan dingin dan kabut setiap harinya.
image
Padang pasir yang terhampar luas sebagai halaman Bromo.

 

Kami kembali melewati jalanan yang sama. Kembali ke arah Cemoro Lawang. Tapi di tengah padang pasir, mobil berhenti. Di depan ada patok-patok pembatas. Di belakangnya tak terlihat apapun. Kabut masih menguasai. Tapi nyata terlihat kuda. Banyak kuda. Semua tahu kalau kuda-kuda ini bisa mengantarkan kita dekat tangga menuju Bromo. Awalnya meragu buat naik kuda. Tapi setelah konsultasi dengan Mas Sugi yang bilang jaraknya agak lumayan juga, belum termasuk turunan dan tanjakan, well, kami memutuskan naik kuda dengan deal Rp100.000 untuk biaya pergi-pulang.

Yang enak naik kuda karena nggak perlu nanjak. Tapi saya lupa kalau setelah tanjakan, ada turunan juga kan. Dan lewatin jalanan turunan sambil naik kuda itu mengerikan sekali. Mana jalanannya berpasir. Dan curam banget. Jadi tiap kali turun kami disuruh untuk merebahkan badan ke belakang. Pas diturunan, disuruh untuk memajukan badan sedikit mendekati tengkuk kuda. Tapi sama sekali nggak merasa aman, karena siapa yang tahu kudanya sanggup menahan wanita kelebihan berat badan seperti saya ini.

Yang tragis, Eka yang berada di belakang saya ngelihat kuda yang saya naiki kayak udah tepar. Kakinya tegang gitu, semacam nggak kuat karena kelebihan beban. Ya ampun, saya jadi merasa bersalah. Makanya sepanjang jalan, terus-terusan menyemangati si kuda, sebut-sebut namanya (saya lupa lagi nama si kuda), kasih pujian kalau dia berhasil membawa kami ke atas atau turun dengan selamat. Ah, so sorry kuda. Alasan kedua enaknya naik kuda adalah nggak perlu jalan di mana beredar banyak tahi kuda. Apalagi masih kabut. Iih, nggak lucu kan subuh-subuh injak tahi.

Turun dari kuda kami hanya tinggal nanjak sedikit menuju ujung tangga. Ya sebenarnya agak lumayan juga sih nanjaknya. Tapi untung masih kuat. Melewati Gunung Batok yang sudah mati. Saya suka alur pada dinding luar gunungnya. Plus, tampak hijau karena ditumbuhi tanaman.

image
Pendakian menuju tangga Bromo.
image
Gunung Batok yang sudah tidak aktif lagi.
image
Berpose sebelum menaklukkan tangga-tangga tinggi.

 

Setelah Batok, kami sampai di ujung tangga, lihat ke atas, oke, mari kita mulai. Katanya ada lebih dari 250-an anak tangga. Saya nggak sempat hitung. Tapi yang pasti, saya mesti berhenti beberapa kali untuk mengatur napas. Karena space tangga nggak besar, jadi nggak bisa berhenti sesuka hati dan bikin macet. Mesti berhenti di beberapa ceruk yang dibuat di beberapa tingkatan. Ceruk ini bisa dipakai untuk istirahat juga tempat untuk memotret.

Mencapai puncak, saya bergerak ke kiri, mencari celah untuk dapat melihat bagian kawah Gunung Bromo. Sedikit mengerikan tapi juga mengagumkan. Kawahnya dilapisi dinding batu dengan dasar yang mengeluarkan asap belerang. Cukup pekat juga asapnya. Tapi nggak berbau. Saya nggak cium bau belerang. Oh Bromo, finally I meet you! Nggak, saya nggak nangis kok. Lebih bangga aja ke diri sendiri karena tahan banting buat ke sini, di tengah balada jompo. Berada di puncak Bromo rasa-rasanya pengen teriak “I’m the queen of the world“, kayak Leonardo Dicaprio di Titanic. Well, I did it.

Noooo, I’m joking..haha.

image
Menghitung langkah berat menuju puncak.
image
Bromo indah di segala sudut.
image
Kawah Bromo yang tak berhenti berasap.
image
Pura Luhur Poten Gunung di kaki Bromo.
image
‘Til we meet again.

 

Hanya sesaat di puncak, kemudian saya dan Eka turun, lebih mulus dan lancar tanpa jeda untuk mengatur nafas. Kembali ke kuda kami, menikmati perjalanan lamban ke tempat parkir hartop. Melihat Pura Luhur Poten Gunung Bromo milik orang Tengger dari kejauhan saat mentari mulai meninggi. Wow, it was a beautiful day. Beautiful morning. Beautiful scenery. I wish, I wish I can see that beauty again.

How to get there?
Untuk menikmati surise di Penanjakan bisa melalui Malang atau Cemoro Lawang via Probolinggo.

Need to know!
-Sewa hartop dimulai dari harga Rp350.000, itu belum termasuk ke Bukit Teletubis dan Pasir Berbisik.
-Untuk menyewa hartop bisa minta dipesankan melalui hotel atau kalau tinggal di Cemoro Lawang, coba saja tanya pada penduduk lokal.
-Satu hartop bisa diisi 5 penumpang.
-Lebih enak kalau mencari tambahan orang untuk diajak sharing cost.
-Pastikan memakai pakaian yang tepat saat melihat sunrise. Suhu bisa sangat dingin.
-Bawa juga air minum jika memilih jalan kaki menuju Bromo. Karena jarak tempuhnya cukup jauh.
-Kalau naik kuda, standarnya bayar Rp100.000. Tapi itu tergantung kemampuan menawar.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s