Dekat di Mata, Dekat di Hati

image
Hutan bakau di Pantai Pasir Perawan.

 

Pengen liburan tanpa cuti? Leyeh-leyeh di pantai sekalian snorkeling. Sepedaan keliling pulau trus lihat sunset cantik. Dan cuma keluarin duit nggak lebih dari Rp500.000. Sok atuh ke Kepulauan Seribu.

Bagi traveler, ada tiga hal yang kerap menjadi musuh bebuyutan. Dana (unsur terpenting), waktu (sama pentingnya), dan jarak. Ketika tiga hal ini terbatas, apa yang bisa kita lakukan? Batal jalan? Betul. Banyak yang akhirnya nyerah dan nggak jadi jalan.

Saya ngerti dan tahu banget kok rasanya nggak bisa jalan karena duit lagi pas-pasan, atau nggak bisa ambil cuti karena kerjaan menumpuk, atau karena jatah cuti sudah habis, atau pun belum boleh cuti. Pernah dan sering banget nggak bisa liburan jauh-jauh, ya karena mentok di dua hal itu. Sucks ya!

Tapiii, segala sesuatu ada solusinya. Bahkan masalah terpelik sekalipun pasti ada jawabannya. Ada amin? Di dunia traveling pun berlaku hal serupa. Ada begitu banyak pilihan destinasi di negeri kita yang bisa memenuhi setiap kriteria dari masing-masing pejalan. Untuk kasus ini, di mana uang, waktu, dan jarak tak memberi kelegaan, ada satu jawaban terbaik yaitu Kepulauan Seribu.

Kepulauan Seribu itu hanya sejengkal dari Jakarta. Masih masuk dalam provinsi DKI Jakarta. Di sana banyak pulau dengan beragam daya tarik. Tinggal pilih mana yang disuka. Kalau pengen santai di pulau berpenghuni penduduk lokal, dengan pantai cantik dan bisa lihat sunset dan sunrise indah, saya saranin ke Pulau Pari.

Pengalaman beberapa kali ke Kepulauan Seribu, tapi sejauh ini Pulau Pari yang meninggalkan kesan istimewa dibanding yang lain. Pulau ini bisa dicapai dengan naik kapal kayu selama 2-3 jam (tergantung lokasi pemberangkatan).

Pari, Day One
Waktu itu saya berangkat dari Tanjung Pasir, Tangerang. Walau menuju Tanjung Pasir kelewat jauh, tapi keuntungannya cuma butuh dua jam ke Pari. Dan bisa bebas dari bebauan ikan dan becek di Muara Angke. Sedangkan kalau milih naik kapal dari Angke, bisa-bisa tiga jam baru nyampe di Pari. Dan lebih riweh kalau di Angke. Pusing saya.

Saat itu berangkat sekitar jam 7 atau 8 dan tiba di dermaga Pulau Pari sebelum tengah hari. Perjalanannya sendiri bisa dikatakan mulus tanpa gelombang laut yang berlebihan. Keadaan dermaga saat itu ya standar dermaga pada umumnya. Banyak kapal nelayan dan kapal untuk snorkeling yang lagi berlabuh.

image
Kapal-kapal nelayan hilir mudik di sini.
image
Dermaga di Pulau Pari.

 

Turun kapal langsung menuju homestay sewaan. Letaknya dekat pantai. Ada warung makan juga di dekatnya. Asoy. Saat itu saya berbagi homestay bersama 7-8 orang lainnya. Homestay-nya sendiri berupa rumah dengan tiga kamar milik penduduk setempat. Rumahnya standar aja, tapi cukup bersih. Saya sekamar sama Noven, itu lho, teman saya yang waktu itu barengan ke Tanjung Papuma. Setelah unpacking, lanjut makan siang. Ada ibu yang nganterin rantangan dengan menu ala rumahan. Enak deh. Kelar makan siang, langsung siap-siap ke pantai.

Namanya Pantai Pasir Perawan. Sedikit eksentrik dan bikin orang kepo pengen tahu kenapa dinamakan Pasir Perawan. Kalau menurut cerita orang sana, dinamakan begitu karena ada lekuk bibir pantainya yang “seksi” seperti milik seorang perawan. Kayak perawan atau nggak, pantainya cantik punya.

Lokasi Pasir Perawan sebenarnya nggak jauh-jauh banget. Palingan jalan kaki 10 menit. Cuma karena habis makan dan kekenyangan, trus matahari lagi pekat-pekatnya, kami ditawari naik angkot motor. Motor yang bawa bak terbuka di belakangnya. Satu bak bisa diisi 6-7 orang. Berhubung jalanan di Pulau Pari hanya selebar gang, makanya moda transportasinya cuma motor dan sepeda.

Setelah melewati rumah demi rumah, angkot motor pun belok di padang ilalang gitu. Sebelum sampai di pasir, kami disuruh turun. Sudah sampai ternyata. Inilah Pantai Pasir Perawan. Suka sejak pertama kali menjejakkan kaki di sini. Pantainya luas. Ombaknya tenang, tenang banget. Di sisi barat terhampar bakau. Bahkan saya kaget lihat gradasi air lautnya yang cantik amat. Biru muda sampai turqoise. Pasirnya pun terbilang putih. Biasanya cuma ketemu pantai-pantai kayak gini di luar Jawa.

image
Pantai Pasir Perawan.
image
Kawasan pantai yang sepi tak riweh.
image
Tanaman bakau banyak tersebar di pantai ini.

 

Saya dan Noven motret dulu di bagian yang banyak bakaunya. Sebenarnya sih lebih enak kalau sewa perahu buat keliling. Tapi saat itu nggak ada penjaganya. Kemudian kami menyeberang di daratan kecil yang ada di depan pantai. Palingan cuma 10 m lebarnya. Tapi karena arus air agak sedikit kencang dan kedalamannya mencapai hampir sedada manusia dewasa, kami terpaksa memutar sedikit.

Karena air sedang surut, makanya kami bisa ke daratan ini. Isinya cuma hamparan pasir juga bakau. Jauh di depan sana, lautan biru yang bebas. Tapi karena terlalu panas, saya memilih balik ke pantai dan berteduh di saung makan. Sebenarnya masih pengen nyantai-nyantai di Pasir Perawan, cuma diajakin buat snorkeling. Toh masih punya dua hari buat nikmatin pantai ini. Saya dan teman-teman kembali menaiki angkot motor dan dibawa ke dermaga. Di sana sudah siap kapal kayu berukuran cukup besar, bisa muat 30-an orang. Bagus deh kapalnya besar. Biar nggak usah dempet-dempetan sama penumpang lain.

Areal snorkeling nggak jauh dari pulau. Palingan cuma 20 menitan selepas angkat jangkar. Walau nggak bagus banget, tapi lumayanlah keadaan di bawah laut. Cuma saya sedikit repot buat naik ke kapal setelah menyelam. Posisi tangganya agak tinggi, jadi terlalu berat buat angkat badan dan menaiki tangganya. Makanya pas ke spot snorkeling kedua, saya memilih di kapal aja. Lokasi snorkeling kedua dekat dermaga. Kata Noven sih lebih bagus dari yang pertama. Lebih berwarna karang-karangnya. Sedikit menyesal sih nggak turun. Cuma sudah keburu pewe duduk-duduk di dek depan sambil ngobrol sama nakhoda ditemani angin sepoi-sepoi.

Sebelum memasuki masa mentari tenggelam, kami serombongan sudahi aktivitas mainan air dan bergegas menuju Pantai LIPI. Di sana katanya bagus buat lihat sunset. Pantai LIPI ini berada di penginapan milik LIPI, arahnya sebelah timur dari dermaga. Penginapannya sendiri cukup bagus dan bisa disewa untuk umum. Pantai LIPI sendiri rupanya bukan seperti pantai. Seperti bekas dermaga yang sudah rusak jalannya. Kami harus sampai di ujung dermaga untuk lebih dekat dengan objek yang diincar sore itu. Sebaiknya hati-hati kalau jalan di sini. Nggak terlalu lebar dan di beberapa bagian mengalami rusak cukup parah. Kiri-kanan sudah laut.

 

image
Jalan setapak menuju dermaga dekat Pantai LIPI.
image
Sunset di dermaga Pantai LIPI.
image
Salah satu titik untuk melihat mentari terbenam.

 

Sore itu sang surya memberikan pemandangan indah bagi kami yang masih kebasahan selepas snorkeling. Karena buru-buru pengen lihat sunset, jadi langsung jalan menuju Pantai LIPI tanpa ganti baju dulu. Kalau sunset-nya udahan, langsung buru-buru balik aja. Karena kalau terlalu gelap, bakalan repot pas balik. Selain gelap kan jalan setapak di dermaganya rada rusak. Bisa bahaya kalau lewat setelah gelap. Makanya kemarin saya dan Noven sengaja balik duluan. Eh, di tengah jalan diajakin naik motor bertiga sama penduduk setempat. Dia kasihan lihat kami jalan dalam dalam keadaan hampir gelap, apalagi jaraknya mash cukup jauh dari homestay. Senanglah kami ada yang berbaik hati. Sayang, belum juga setengah jalan motornya mogok. Mungkin kami terlalu berat. Alhasil kami bertiga jalan dalam gelap sambil si abang dorong motornya. Kasihan si abang.

Malam harinya nggak ada kegiatan berarti. Hanya makan malam, masih dianterin seorang ibu trus kami pada nonton tv. Ada yang sudah molor duluan. Sisanya nongkrong di warung kopi dekat pantai. Saya, baring-baring sambil ngobrol dengan sesama penghuni homestay lainnya. Tapi malam itu berniat tidur cepat karena esok pagi mau mancing. Pertama kali mancing nih, ihiiyy!

Pari, Day Two
Hari kedua di Pari disambut matahari bukan hujan. Sebenarnya niat mau lihat sunrise di Bukit Matahari, cuma badan terlalu malas untuk bangun pagi. Masih ada hari esok, jadi saya tetap lanjut tidur. Di jam sarapan, kami diantarkan makanan. Menu nasi lengkap dengan lauk-pauk dan sayuran. Pas sekali. Mengingat hari ini bakalan mancing seharian, butuh tambahan energi.

Di jam yang ditentukan, saya dan teman-teman di homestay berkumpul dekat dermaga. Karena acara memancing ini merupakan bagian dari perlombaan, makanya kami mesti ambil peralatan mancing, cuma benang pancing, kail, dan umpan. Sekaligus mengundi akan satu perahu dengan siapa.

Saya kedapatan seperahu dengan dua bapak. Yang satu nelayan asli Pari (lupa deh namanya). Lalu satu bapak dari Jakarta, beliau memang doyan mancing. Terlihat dari komplitnya peralatan mancingnya. Setelah berkenalan singkat dan mendapat pengarahan dari panitia, kami pun bergerak ke dermaga kecil di sisi pulau yang lain.

image
Pemandangan sekitar Pulau Pari.
image
We’re going fishing!
image
Pulau Tikus.

 

Areal pemancingan dekat Pulau Tikus, satu pulau terdekat dari Pari. Kami sempat mancing sekitaran situ, tapi kurang berhasil. Akhirnya lari ke tempat lain. Tapi sama aja. Setelah beberapa kali pindah lokasi, akhirnya si bapak nelayan dan bapak pemancing berhasil dapat ikan. Saya sendiri belum berhasil tangkap satu ikan sama sekali.

Berhubung ini perdana mancing buat saya, jadi rasanya excited tapi lama-lama bosan dan mati gaya. Dua jam melaut dan saya belum dapat apa-apa. Sempat sih beberapa kali benang saya bergerak, seperti ada yang narik-narik di bawah. Tapi karena saya terlalu cepat tarik benang pancingnya, jadi lepas deh ikannya *sigh.

Belum dapat ikan, matahari semakin menaik, akibatnya, paha dan kaki saya belang parah, saking lamanya berjemur. Belangnya sampai nggak hilang setahun. Trus kulit saya sampai kekupas gitu. Belum pernah sampai segitunya. Untung pakai tangan panjang saat itu. Kalau nggak, pasti sama parahnya.

Memasuki jam ketiga, kami berada dekat-dekat Pulau Burung. Kata si bapak nelayan, dinamakan Burung karena bentuk pepohonannya seperti burung yang sedang tiduran. Pulaunya kecil dan tidak berpenghuni. Saya berharap pulau ini bisa membawa keberuntungan. Dan benar saja. Setelah beberapa detik ngerasain benang saya ditarik-tarik, saya coba tahan sebentar, membiarkan sang ikan terjebak di mata kail. Kemudian setelah yakin, saya mulai tarik benang perlahan-lahan ke permukaan dan saat itu saya melihat ada ikan ukuran sedang tersangkut di sana. Hwaaahhh… Girang banget saya. Ikan pertama saya, hasil pancingan sendiri. Rasanya sukaria sekali, setelah tiga jam menanti. Kini saya tahu kenapa para pemancing meluapkan euforia berlebihan ketika berhasil mendapatkan ikan. Lihat saya, si bapak nelayan dan bapak ketawa girang sebagai bentuk selebrasi saya berhasil tangkap ikan pertama..hehehe.

image
Pemandangan di perairan sekitaran Pulau Pari.
image
Blue blue ocean.
image
Pulau Burung.

 

Setelah ikan pertama muncul, dengan mudah saya berhasil dapat tiga ikan lainnya. Kami bertiga lumayan dapat banyak. Total 1.2 kg. Sayang, kami balik ke pulau terlalu sore, akhirnya didiskualifikasi dan nggak bisa diikut sertakan dalam lomba mancing. Padahal kami yang paling banyak. Aah.. Sayang sekali. Saya sih kasihan sama si pak nelayan, soalnya dia kelihatan ngarep menang. Maaf ya, pak!

Kelar mancing kami semua kembali ke homestay. Ngaso, ngemil, rebahan, semua tepar. Saya milih tidur sebentar di kamar. Pas lagi baring-baring, kok cium bau tahi ya?! Mulai curiga. Berdua Noven cari di mana sumber baunya. Ealaahhhh… Ada tahi kucing nyasar di kasur kami. Pas di pojokan. Aaaahh!!! Ada apa sih sama tahi??? Lagi-lagi ketemu tahi.

Satu homestay akhirnya tahu kalau kasur kami jadi tempat kucing buang hajat. Diketawainlah kami. Untung nggak tidur di atasnya. Trus panggil orang buat beresin. Yang datang seorang ibu yang sambil ngedumel mesti bersihin tahi di kasur kami. Bagaimana nggak ngomel-ngomel tuh ibu, tahu sendiri kan bau tahi kucing kayak apaan. Dia marah karena kami nggak tutup pintu belakang yang biasa tempat kucing masuk. Kami mingkem aja sepanjang dia ngomong. Daripada makin meledak tuh ibu.

Abis itu saya kabur sama tiga teman, mau main-main lagi di Pasir Perawan. Kali ini kami sepedaan ke sana. Dulu masih buruk banget kalau naik sepeda. Sekarang juga sih, masih belum jago. Cuma lebih better sih. Makanya deg-degan juga pas genjot sepeda.

image
Private beach.

 

image
Photo by Novena Assen.

 

Sampai di pantai tanpa jatuh atau nabrak orang tuh sudah melegakan sekali. Sebenarnya sih nggak bisa lihat sunset di Pasir Perawan. Kami ke sini lagi karena pengen main-main aja. Tapi masih kelihatan kok semburat khas mentari terbenam memancar di langit biru. Seketika warna jingga menaungi kami. Sweet. Kemudian tidur-tidur di pasir, guling-gulingan di air. Sayang nggak bisa lama-lama karena ada yang mau shalat maghrib.

Di jalan pulang, saya berada diiringan sepeda paling akhir, tertinggal dari teman-teman. Kan sudah dibilang nggak jago gowes. Nah, di jalanan gang dengan keadaan makin gelap ini ada gerombolan bapak-bapak lagi jalan. Di situ ada pak lurah beserta anak buahnya. Saya mulai panik. Mau jalan di belakang mereka, nggak mungkinlah. Lambat banget mereka. Mau nggak mau mesti nyalip. Tapi semua menyebar di sepanjang jalan. Duuh.. Mau klaksonin, sepeda saya nggak punya bel.

Akhirnya saya teriak ‘permisi…permisi..permisi’, dengan suara super kencang. Cuma terlalu kencang dan posisi saya persis di belakang gerombolan itu. Kagetlah mereka, trus nengok ke arah saya. Nggak kelihatan mereka bete atau marah. Yang pasti, saat itu mereka lagi asyik ngobrol, sampai ketawa-ketawa gitu..hahaha. Maaf bapak-bapak. Nggak maksud. Jadi dari cerita ini, pesan moralnya adalah cari sepeda yang ada belnya.

Kembali ke homestay semua beberes, siap-siap buat acara musik dan bakar ikan di pinggir pantai. Seru, senang, kenyang. Satu hari menyenangkan yang bisa saya nikmatin. Pengennya sih ngebir malam itu. Cuma di pulau nggak ada yang jual. Terpaksa beralih ke minuman soda aja. Menjelang tengah malam, sebagian besar kembali ke homestay masing-masing. Sweet dreams, fellas.

Pari, Day Three
Jam lima pagi alarm di HP bunyi. Terlalu pagi untuk bangun, soalnya masih ada utang motret sunrise. Keluar kamar, semua masih nyenyak di kasurnya masing-masing. Saya dan Noven jalan kaki ke Bukit Matahari tanpa cuci muka dan sikat gigi. Bukit Matahari itu menjadi pilihan orang-orang yang mau lihat atau motret sunrise. Dari homestay ke Bukit Matahari cuma jalan sebentar. Letaknya di samping dermaga. Terus jalan sampai ujung.

Saat itu ada beberapa orang yang juga pengen lihat sunrise. Tapi mereka lebih milih berada di ujung dermaga yang lain, yang lebih dekat dengan matahari. Sedangkan saya dan Noven ingin di belakang mereka, biar dapat efek siluet orang dengan matahari.

image
Sunrise dari Bukit Matahari.
image
Laut bebas tanpa batas.
image
Bukit Matahari dari dermaga.
image
Bukit Matahari.

 

Sekitar jam 6-an baru deh muncul pemandangan khas di pagi hari. Memang bukan yang terbaik tapi tetap elok. Saya lebih banyak diam sambil duduk selonjoran di pasir menatap sang surya. Memanfaatkan momen selagi bisa bangun pagi. Kami tetap bertahan di sana .hingga satu jam kemudian, lantas kembali ke homestay untuk tidur sebentar.

Sebelum tengah hari, kami sudah selesai sarapan, packing, lalu jalan menuju dermaga untuk foto bersama di sana. Setelah itu naik perahu dan dibuai kembali Laut Jakarta yang begitu ramah siang itu. Terima kasih Pari untuk peraduan nikmatnya selama tiga hari. Ciao!

Paket perjalanan ke Pulau Pari:
Pulau Pari 1

Pulau Pari 2

Pulau Pari 3

 

Some misunderstanding:
– Kepulauan Seribu masih di wilayah administratif Jakarta lho. Kadang-kadang ada yang mengira kepulauan ini berdiri sebagai provinsi sendiri.
– Banyak yang menyebut Pulau Seribu. Salah besar ini. Yang tepat adalah Kepulauan Seribu. Bahkan tidak ada Pulau Seribu dalam gugusan kepulauan ini. Lain halnya jika menyebut Karimunjawa dengan gelar pulau. Memang karena ada Pulau Karimunjawa. Dan nama kepulauannya pun disebut Karimunjawa.
– Walau namanya Seribu, tapi jumlah pulau di sini nggak seribu. Total ada 110 pulau dengan 11 pulau yang dihuni penduduk lokal.
– Pusat pemerintahan Kepulauan Seribu berada di Pulau Pramuka.
– Kepulauan Seribu adalah Taman Nasional. Nah lho, baru tahu ya. Kepulauan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu sejak tahun 1995.
– Sebagai pengingat, ada dua aturan sederhana kalau kalian berada di kawasan Taman Nasional “Please take nothing but pictures, please leave nothing but footprints.” Jadi kalau ada yang nitip minta dibawain pasir atau ambil batu, jangan mau ya. Atau kalau guide snorkeling nyuruh injak coral buat pijakan, mesti ditolak. Ini dua hal yang sering banget saya temuin, dan sering pula dilanggar banyak traveler.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s