Tebing Tengkorak Suku Padwa

image
Kampung Padwa dengan tebing-tebing tengkoraknya.

Kakurandir dan Mukofdi menjadi kenang-kenangan kaum Padwa. Di sudut Biak, keduanya disapa tebing tengkorak.

Pulau Biak di utara Papua terasa begitu jauh, begitu asing, begitu misterius. Jarang yang berujar mengenai pulau ini. Tapi bagi saya, Biak menjadi pembangkit kenangan. Menyambangi negeri pesisir ini jadi mengingatkan saya akan Sorong. Kota kecil yang makin bergema karena ketenaran Raja Ampat. Sorong adalah kota kelahiran saya. Dan selama beberapa tahun saya tinggal di sana. Jadi ketika tiba di Biak, saya seperti pulang ke rumah. Menyeruput segala instrumen kehidupan yang dulu pernah saya rasakan.

Biak sendiri sebenarnya memiliki keunggulan di wisata pantai. Jeezz, pantai-pantainya keren banget. Kapan-kapan saya akan cerita. Kalau sekarang lebih tertarik untuk bahas satu kampung dekat Desa Urfu. Namanya Kampung Padwa. Kampung ini dihuni Suku Padwa. Yang membuat suku ini istimewa karena mereka hidup dengan membangun rumah terapung di atas perairan. Mengingatkan kita akan Suku Bajao di Sulawesi.

Tidak berhenti di situ saja keunikan suku ini, mereka punya tradisi tak lazim. Ketika kebanyakan orang menguburkan jenazah dalam liang kubur, kaum Padwa meletakkan jasad dalam peti mati dari kayu kemudian dibiarkan mengering, terkelupas kulit dan daging, lantas menyisakan tulang-belulang. Prosesnya berlangsung secara manual, memanfaatkan efek uap air asin. Nah, setelah tinggal tulang dan tengkorak baru deh diangkut dan diletakkan di tebing-tebing batu, tepat di pinggir pantai. Dua tebing utama bernama Kakurandir dan Mukofdi menjadi tempat peristirahatan terakhir orang-orang Padwa.

Tentu saja fakta-fakta di atas akhirnya membawa saya untuk berpijak di sana. Nggak mungkin melewatkan destinasi seperti ini. Menuju Desa Urfu, saya, Edo, dan supir agak terlalu siang ketika berangkat. Menjauhi pusat kota, sinyal telepon pun menghilang, kerumunan rumah, toko, dan pasar digantikan rangkaian pepohonan dan perkebunan milik penduduk. Jalanannya sendiri beraspal mulus, hanya ada dua jalur. Matahari begitu pekat, tapi angin timur hadir sebagai penyejuk.

Kurang lebih satu jam lebih akhirnya tiba dekat lokasi. Sempat nyasar juga, akhirnya tanya sama seorang mama (di Papua lebih tepat memanggil ibu dengan sebutan mama) yang sedang jalan bersama anaknya sambil menggotong ember di atas kepala. Ini pemandangan normal kalau ke Indonesia Timur.

Pas sekali mama memang ingin ke sana. Yo wislah, kami mengekor si mama. Dari jalan raya, kemudian masuk dan menghilang di balik semak-semak. Saya kira di balik semak-semak akan menemui jalan setapak menuju pantai. Oh tidak, Biak punya cara terbaik untuk mengejutkan saya.

Di balik semak-semak ada tebing karang vertikal dan sangat-sangat curam. Di hadapan saya, si mama sedang turun merangkak melewati tebing setinggi 40-50 m, plus masih menggotong ember di atas kepalanya yang berisi pakaian yang habis dicuci. OMG!! Serius ini!?! Entah saya kaget karena mesti menuruni tebing karang dengan risiko jatuh dan terluka parah atau melihat si mama begitu lihai melewati semua rintangan karang tajam tanpa terlihat repot sedikit pun. Ia nyeker lho!

Saya memilih turun paling akhir. Deg-deg-an cuy. Ini kalau kepleset dan jatuh bisa-bisa kepala saya bocor, kaki berdarah juga patah, dan nggak mungkin meninggal. Serius, saya bukannya berlebihan. Memang segitu curamnya. Ya Tuhan, berat sekali sih perjuangan untuk lihat hal-hal indah.

Here I go. Perlahan-lahan turun, nggak mau buru-buru. Berpikir beberapa kali mencari tempat untuk berpijak kaki dan tangan. Saya butuh lebih dari lima menit untuk turun. Biarin deh kelamaan. Yang penting selamat. Siapa juga mau cari perkara kena luka dengan sikon rumah sakit terdekat membutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.

image
Dua tebing penyimpan tengkorak Suku Padwa.
image
Kampung Padwa kini tak ditinggali kaumnya.
image
Untuk mengunjungi tebing tengkorak, bisa naik perahu.

 

Dari tempat turun, masih harus jalan beberapa puluh meter untuk menjumpai pantai dan pemandangan ikonik dari kampung terampung ini. Siapa saja yang tiba di Padwa akan melihat panorama pantai berwarna hijau kebiru-biruan dengan tebing-tebing batu dan rumah apung di atas air.

Walau ini merupakan Kampung Padwa tapi kita sudah tidak bisa melihat suasana perkampung terapung. Karena sudah beberapa tahun terakhir komunitas Padwa menyingkir dari pesisir dan mulai membangun rumah di lahan tanah. Alasan utama mereka meninggalkan pantai karena susahnya mendapatkan air bersih. Walau begitu, masih ada satu bapak yang tetap bertahan di situ. Beliau juga yang menjadi pemandu kami dan mengantarkan ke tebing tengkorak.

Saya dan Edo disarankan naik perahu untuk mencapai tebing. Tapi setelah lihat lebar perahu, boookkk, sempit amat. Ini mah kalau kami naik berdua bisa-bisa kebalik. Saya langsung mundur. Membiarkan Edo naik berdua si mama yang bersedia dayung perahu. Sedangkan saya memilih jalan di tepian pantai berkarang untuk mencapai tebing. Untung
saat itu air sedang meti (surut) dan ada tiga anak yang mau mengantarkan saya, thanks to them.

image
Tiga bocah yang mengantarkan saya ke tebing.
image
Rute jalan kaki lebih jauh dan mesti melewati karang bertajam.
image
Termasuk mesti nanjak juga.
image
Tebing tengkorak.

 

Naik perahu memang jauh lebih enak, ketimbang jalan kaki. Karena rutenya jadi lebih jauh dan mesti melewati karang-karang tajam sepajang jalan. Kadang mesti masuk air. Saya aja kerepotan jalan di atas karang tajam yang terkadang licin. Tapi bocah-bocah Biak super tangguh. Mereka terbiasa jalan tanpa alas kaki. Mau itu napak di atas tanah, batu, hingga karang, tetap telapak mereka tahan banting. Saya sampai diketawain mereka gara-gara kelamaan jalannya, karena terlalu parno jatuh atau kepleset. Ya bukan apa-apa, saya tuh suka ceroboh, makanya sering jatuh. Jadinya lebih hati-hati kalau lagi jalan. Which is jadi lama jalannya.

Sampai di tebing yang dimaksud, Edo sudah sibuk motret. Saya kemudian dikasih tunjuk si bapak beberapa tengkorak dan tulang yang ditaruh di bagian terbuka yang bisa dilihat dengan mudah. Jumlahnya nggak begitu banyak. Kata si bapak ada beberapa keluarga yang memilih untuk menguburkan di tanah.

image
Salah satu sisa tengkorak yang masih dapat dilihat di tebing Padwa.
image
Tulang-belulang yang ada sudah tidak begitu banyak.
image
Tangga untuk naik ke tingkat lebih atas pada tebing.

 

Kita juga bisa ke tingkat atas untuk menelusuri rongga tersebunyi. Hati-hati pas naik tangganya, karena kayunya sudah lapuk dan terlalu rentan kalau orang gendut naik. Pada bagian atas bisa ditemukan tumpukan tulang dan tengkorak peninggalan beberapa dekade lalu. Nggak usah parno. Ini bukan seperti gua-gua kuburan di Toraja. Lagian efek “horor” lihat tengkorak akan tersamarkan pemandangan pantai yang asoy. Suasananya juga tenang dan dibuat terbuai dengan semilir anging. Silakan kalau mau foto-foto. Bebas aja kok, selama nggak memindahkan tulang-belulangnya. Mau duduk-duduk di tepian tebing sambil menikmati suasana juga boleh.

 

image

image
Bocah Biak.
image
Tenang. Sepi. Indah.
image
Hamparan karang tersaji tanpa batas.

 

Seusai foto-foto, kami kembali dan memilih jalan kaki ke tempat kedatangan. Kemudian pamitan dengan si bapak, mama, dan para bocah di situ. Kembali menaiki dinding karang yang tampak tidak seseram sewaktu turun. Tapi tetap, saya jadi orang terakhir yang naik dan paling lama naik..hehe.

Note:
– Tidak ada papan petunjuk arah, sehingga kamu mesti menanyakan lokasi pada penduduk setempat.
– Kenakan sandal gunung untuk turun dan naik dinding karang yang menjadi jalan masuk ke tebing-tebing Padwa.
– Sebaiknya izin terlebih dulu sebelum melihat-lihat tebing tengkorak.
– Sediakan uang tips yang sifatnya sukarela kepada penjaga tebing.
– Lebih enak naik perahu untuk menyeberang ke tebing. Bayarkan jasa peminjaman perahu, di luar uang tips.
– Bawa air minum.

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Tebing Tengkorak Suku Padwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s