Danau Tercantik di Tanah Minang

image
Salah satu danau tercantik di ranah Minang.

Dulu, waktu pertama kali menjejakkan kaki di tanah Minang, hampir 20 tahun lalu, saya tak meresapi betul daerah ini. Hanya sehari berkunjung ke Bukittinggi lalu main ke Danau Singkarak, hanya membuat saya girang karena bisa seminggu bolos sekolah. Lalu Tuhan mempertemukan saya kembali dengan Sumatera Barat, hampir 16 tahun kemudian. Perasaan saya berbeda. Cara saya memandangnya pun demikian. Perjumpaan kedua juga ketiga kali setelahnya membawa imaji baru. Imaji akan negeri yang rancak bana.

Awalnya nggak sangka kalau Sumatera Barat ternyata luar biasa. Memang pantai bukan keunggulan mereka. Saya nggak bermaksud meremehkan Sikuai dan pantai-pantai di Mentawai. C’mon, lets be honest here, Indonesia Timur juara soal wisata bahari. Namun di sisi lain, saya terperangah dengan banyak hal di provinsi ini. Sejarahnya, budayanya, makanannya, kesemuanya menjadi daya tarik utama. Namun yang menjadi kesukaan saya ya danau-danaunya. Ah, indah tidaklah cukup untuk menggambarkan apa yang saya saksikan dengan mata kepala.

Danau-danau di Sumatera Barat tak terbatas kecantikannya. Walau saya lebih mencintai pantai, tapi susah untuk menampik danau alami yang lahir di tanah Minang. Di Sumbar ada lima danau, tapi ada empat nama yang dipuja-puji banyak mulut. Berada di lokasi berbeda, masing-masing punya kisah dan karakter yang akan mempesona siapa saja.

Danau Kembar
Di antara danau-danau yang akan saya bahas, Danau Kembar juaranya. Pilihan subjektif karena saya jatuh cinta sejak pertama kali ke sana. Lalu berkunjung lagi untuk kedua kalinya, saya makin cinta. Harmoni alam di sini dilukiskan Tuhan begitu dramatis juga fantastis.

Danau Kembar sebenarnya sebutan untuk dua danau yang letaknya berdekatan, yakni Danau Di Atas (Danau Di Ateh) dan Danau Di Bawah. Keduanya merupakan danau vulkanik yang berada di Kabupaten Solok, tepatnya dekat Jalan Raya Padang-Muaralabuh-Kerinci.

image
Perkebunan teh adalah salah satu panorama menjelang Danau Kembar.
image
Pematang sawah dan perkebunan penduduk juga menjadi panorama terbaik dekat Danau Kembar.

Belum tiba di lokasi, perjalanan menuju danau ini sudah menyenangkan. Walau melewati jalanan berkelok, tapi godaan pemandangan di sisi kiri dan kanan menambah nikmat. Rimbunan pepohonan hijau tergelar sepanjang jalan. Perkebunan penduduk, pematang sawah, dengan danau sebagai objek utamanya. Di kawasan ini, kubis, wortel, kol, markisa, dan terung Belanda menjadi hasil kebun terbesar. Lalu ada pula perkebunan teh yang terhampar luas dan hijau sepanjang jalan kenangan menuju Danau Kembar. Dengan banyaknya potensi, pemerintah setempat berniat membangun kawasan agrowisata agar para pengunjung bisa menikmati danau sekaligus berkunjung ke kebun-kebun di sekitarnya.

Sewaktu di jalan, saya sarankan untuk  turun dan mengambil gambar. Atau cukup dengan memandang frame alam yang bikin rasa bahagia dan syukur muncul seketika. Sesederhana itu bahagia. Hanya dengan memandang tanpa harus memiliki. Bagi pecinta fotografi, wilayah sekitaran danau menjadi ladang subur untuk “jepret-jepret”. Segala sudut mencitra indah.

Untuk menikmati Danau Kembar, saya memilih untuk menghampiri areal dekat Lembah Gumanti. Di dekat sini ada resor dan convention hall. Tapi kata supir saya, resornya rada spooky. Entahlah, saya nggak nginap di sana soalnya.  Lembah Gumanti sendiri menghadap ke Danau Di Atas. Dua kali ke sini, dua kali merasakan efek yang berbeda.

image
Ciamik amat yak.
image
Kayak lukisan ya!

Kali pertama, sekitaran danau terang-benderang karena sinar mentari yang pekat. Tapi tetap hawa dingin menyelimuti. Pohon-pohon pinus berjajaran pinggir danau. Ada perahu karet di ujung sana yang bisa dipakai untuk mengitari danau. Sedangkan kedatangan yang kedua membawa saya pada suasana yang lebih hening dengan efek kabut dan langit yang sedang bermuram durja. Lebih sendu. Saya pun jadi membiru alias galau 🙂 Kalau disuruh memilih, saya lebih suka kunjungan yang kedua. Bukan, bukan karena bisa bergalau ria, cuma lebih khusyuk aja. Nggak riweh dan padat orang. Oh ya, sebagai catatan, Danau Di Bawah tidak bisa dikitari dengan perahu karena banyak bukit besar di sekitarnya.

Danau Maninjau
Mereka bilang Danau Maninjau terbentuk dari letusan Gunung Sitinjau. Ada juga yang menyebut danau ini memiliki tautan kisah dengan Bujang Kesembilan. Entahlah. Legenda ini begitu hidup di kalangan penduduk sekitar Maninjau di Kabupaten Agam.

Danau Maninjau dianugerahi gelar danau terluas kedua di Sumbar serta kesebelas di Indonesia. Namun ukuran luas rasanya kurang untuk membanggakan Maninjau. Danau ini punya cara terbaik untuk mengungkap dirinya dalam rupa terbaik.

image
Danau Maninjau yang lahir dari legenda.
image
So peaceful!

Jadi ceritanya saya melakukan road trip dari Padang, lalu ke Pariaman, lanjut ke Agam. Tujuan akhirnya Bukittinggi. Untuk mencapai kota kelahirannya Bung Hatta ini, saya melewati Danau Maninjau. Mendekati danau, pemandangan sawah, rumah-rumah penduduk dengan lalu lintas jalanan yang tak semrawut menjadi situasi lazim. Pagi itu berjalan begitu lenggang.

Saya dan teman-teman sempat berhenti untuk memotret danau dalam jarak dekat, persis berdiri di tepiannya. Memutar pandangan, saya melihat semacam dinding yang seakan merangkul dan melindungi danau. Saat itu matahari sedikit malu berpijar, sehingga jauh di sana tampak gelap termasuk ditutupi kabut tipis. Tak jauh dari situ ada banyak keramba milik penduduk setempat yang menjadi media penangkap ikan keramba jala apung. Ikan ini yang menjadi kebanggaan warga Agam.

Sesi motret selesai, perjalanan pun dilanjutkan. Kami siap menaklukkan Kelok 44 yang tersohor itu. Jalanan nanjak dan berkelok-kelok sejumlah 44 ini menjadi momok menakutkan sekaligus rute menyenangkan bagi tiap pejalan. Tidak hanya berjumlah 44 saja, tapi kelokannya tajam dan cukup mengerikan. Cuma mereka-mereka yang super lihai saja yang berani menjajal rute ini. Kelok 44 juga menjadi rute langganan ajang Tour de Singkarak, balap sepeda lintas Sumatera Barat. Di sini nih diuji ketahanan pesepeda ketika menaklukan tanjakan demi tanjakan, kelokan demi kelokan.

image
Penampakan dekat Kelok 44.
image
Danau Maninjau dari Kelok 44.

Walaupun terlihat mengerikan, Kelok 44 juga menjadi titik terbaik untuk menikmati Danau Maninjau dari ketinggian. Di beberapa kelokan bisa memberi efek berbeda ketika melihat ke bawah. Di tiap kelok akan disertai tanda petunjuk kelokan ke berapa. Pastiin turun dan memotret plang bertuliskan ‘Kelok 44’. Waktu itu juga kami menemukan beberapa monyet yang berkeliaran di jalan atau menggantung sepanjang pepohonan. Sebaiknya hati-hati ketika melintas.

Saya dan teman-teman sempat berhenti beberapa saat. Udara sejuk nan menyegarkan terasa enak menyapa kulit. Matahari saat itu bersinar ramah. Melihat ke bawah, hening dan begitu misterius. Padahal saya habis dari sana ya. Intinya, Danau Maninjau dan Kelok 44 wajib masuk daftar petualangan kamu saat bertamu di Sumbar. Serius, keren soalnya.

Danau Singkarak
Yang terakhir adalah Singkarak, danau terluas di tanah Minang. Keagungannya begitu membahana, walau hanya dengan menyebut namanya saja. Danau Singkarak pertama kali saya datangi waktu kelas 5 SD, which is 20 tahun lalu. Yaaa, ketahuan deh umur saya *kemudian tutup muka.

Waktu itu saya lagi di Jambi, tepatnya di Kota Bangko. Trus diajakin ke Bukittinggi, sekalian mampir di Singkarak. Saat itu asyik banget. Saya, mama dan kakak saya, serta supir jalan-jalan ke Gua Jepang di Bukittinggi, keliling Pasar Atas, trus melipir ke Danau Singkarak. Kami gelar tikar, makan di pinggir danau, bukan makan ikan bilih sih, sambil mendengar alunan angin berbisik. Lalu ada satu bapak menawarkan jasa naik perahu keliling danau. Saya langsung mengamini. Naik di perahu mini muatan 2-3 orang, dayung sendiri dan menyapa Singkarak. Pengalaman saat itu begitu menyenangkan.

Kemudian, setelah hampir dua dekade berlalu,  here I am, berdiri di tepian Singkarak, lagi, namun merasa tak nyaman. Bagaimana mau menikmati suasana kalau saat itu Danau Singkarak lagi padat dipenuhi orang karena perhelatan Tour de Singkarak. Ramai banget karena saat itu hari terakhir dan penutupan tur balap sepeda. Banyak yang pengen datang untuk lihat hiburan sekaligus ngeksis.

image
Hello Singkarak!
image
Danau Singkarak adalah danau terluas di Sumbar.

Akhirnya saya cuma duduk-duduk aja di warung makan dan mengamati Singkarak yang nampak jauh walau kami saling berdekatan. Ah, mungkin lain waktu ya. Lain waktu saya bisa lebih syahdu merasakan keelokanmu. Sebenarnya setahun setelahnya saya sempat melintas lagi di danau ini, cuma nggak pakai mampir, habis buru-buru mau ke Batu Sangkar. Again, maybe another time.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s