Langit Jingga Dari Bukit Boko

image
Senja tercantik di Bukit Boko.

Prambanan selalu jadi anak emas di Yogyakarta. Tapi hati kecil saya tertuju pada Ratu Boko yang magis. Reruntuhan misterius yang tanpa diminta pasti akan membuat siapa saja mengaguminya.

Pertemuan pertama dengan Ratu Boko terjadi September 2012. Seusai “melahap” empat candi sebelumnya, saya menutup hari dengan mendatangi Candi Ratu Boko. Sudah banyak yang mengakui pemandangan senja di sini. Mereka bilang cantik. Saya pun termakan omongan. Penasaran pula. Plus, saya kan pecinta sunset, jadi haram hukumnya kalau melewatkannya. Selepas dari Prambanan, saya, mama dan dua kakak saya minta diantarkan ke Candi Ratu Boko.

Letaknya nggak yang dekat banget sih. Biasanya satu paket, kalau ke Prambanan pasti habis itu ke Ratu Boko. Di Prambanan sendiri menjual tiket terusan kedua candi ini termasuk menyiapkan shuttle bus.

image
Boko Resto dengan panorama cantik yang dapat dilihat.
image
Tuh kelihatan Prambanan dari Bukit Boko.

Kalau dihitung, mungkin sekitar 20 menit sudah sampai di Ratu Boko. Mendekati areal candi, mesti melewati jalanan menanjak dan berkelok. Kalau naik mobil atau motor, enak, turunnya dekat pintu masuk. Tapi kalau naik bus, itu baru repot. Seperti tahun lalu saya ke Ratu Boko lagi. Karena pesertanya banyak, pakai bus dong kami. Berita buruknya, kami terpaksa turun di bawah karena akses jalan ke atas terlalu sempit untuk sebuah bus. Akhirnya mesti naik tangga yang sudah pasti bikin kepayahan. Yang jompo, *puk puk puk.

Kali ini saya hanya akan cerita pengalaman waktu ke Ratu Boko pas pertama kali. Soalnya yang tahun lalu nggak dapat sunset. Lanjut ya. Di bagian pintu masuk kita bisa beli tiket. Di dekat situ ada tempat makan yang pewe buat duduk santai sambil lihat pemandangan. Dari situ bisa kelihatan Prambanan. Tapi agak jauh di sana.

Waktu itu baru setengah lima sore. Ada banyak waktu untuk eksplorasi candi sebelum bertemu surya tenggelam. Sebelum masuk, ada papan petunjuk di sebelah kiri yang menjelaskan sejarah dan asal-muasal Candi Ratu Boko. Hasil baca sekilas, candi ini dibangun sekitar abad ke delapan hingga sembilan Masehi, dengan corak Hinduisme dan Buddhaisme. Awalnya merupakan kompleks wihara, namun berubah fungsi sebagai  kediaman penguasa bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni pada tahun 856 M. Candi ini pertama kali ditemukan pada 1790 oleh Boeckholtz. Sudah, itu saja bekal saya ketika memasuki Ratu Boko.

image
Gapura Utama I dan Gapura Utama II.
image
Saluran air yang berada dekat Gapura Utama II.

Secara perlahan menaiki tangga demi tangga. Jalan setapak menuntun saya menuju yang dituju. Bahkan sejak saat itu warna jingga sudah menceriakan sore. Perlahan tapi pasti, kami makin mendekati Gapura Utama I yang berdiri di sekeliling rumput kering yang terpotong pendek dengan tanah merah menyembul di permukaan. Gapura ini memiliki tiga pintu dengan dua gapura apit.

Melenggang melewati bangunan pertama, tampak Gapura Utama II yang menjadi lambang kebanggaan Ratu Boko. Di gapura ini terdapat lima pintu. Berbeda dengan Gapura I, di Gapura II terdapat saluran air yang berada di kiri-kanan bangunan.

Kemudian saya bergerak terus, ke bagian tengah candi. Sebenarnya banyak tanah lapang yang mendominasi lokasi. Tapi masih tersisa bangunan-bangunan yang menjadi bagian dari candi, tapi kebanyakan hanya berupa reruntuhan. Kita masih dapat mengenalinya dari papan petunjuk yang menjelaskan fungsi dari tiap-tiap bangunan.

image
Candi Pembakaran.
image
Paseban.

Ada beberapa bangunan yang sempat saya telusuri yaitu Candi Pembakaran. Bangunannya ada di atas, jadi kita mesti menaiki beberapa anak tangga. Lalu akan menemukan sebuah lubang persegi dengan lubang yang cukup dalam. Di situlah ditemukan abu pembakaran, namun berdasarkan penelitian, tidak ditemukan abu bekas pembakaran jenazah.

Kemudian terdapat Paseban, ada dua bangunan yang diperkirakan letaknya saling berhadapan. Pada kenyataannya, tak ada yang tahu pasti apa fungsi Paseban. Tumpukan batu yang tersisa ini sengaja diberi nama sesuai dengan analogi Kraton masa sekarang yang berperan sebagai ruang tunggu tamu yang ingin menghadap raja. Sebenarnya masih ada bangunan lain, seperti Kaputren, Alun-alun, dan Gua, tapi saya nggak eksplor.

image
View from the top.
image
Stairway to heaven..hehe. Photo by Novie Picauly.

Melewatkan Keputren, saya menaiki tangga menuju Gardu Pandang (Panorama View) untuk mendapatkan pengamatan yang lebih baik. Saat itu sepi di atas sana. Pohon kering beranting tanpa daun tumbuh di sisi anak tangga. Serasa berada di musim gugur. Saya suka di sini. Indah ketika melongok di bawah sana. Apalagi cahaya jingga makin mempertajam warnanya.

Walaupun terasa hawa damai dan tenang, saya mesti turun, karena sebentar lagi matahari akan terbenam. Lokasi terbaik ya berada di belakang Gapura Utama II, tapi mundur sekitar 100-150 m agar lebih maksimal mendapatkan efek siluetnya. Saat itu sudah ada belasan fotografer dengan “kamera seriusnya” menanti momen yang ditunggu-tunggu. Saya memilih duduk ngample di rumput kering yang mesti hati-hati dicek terlebih dulu karena suka banyak tahi kambing.

Sesaat semua sudah sibuk dengan kamera. Mau DSLR, Mirrorless, kamera saku, hingga HP, sibuk membidik objek di depan sana. Lalu lalu, muncul beberapa cewek yang sedang foto narsis dekat Gapura Utama II. Otomatis gerombolan cewek ini masuk frame. Kami semua yang kepengen foto gapura tanpa objek manusia jadi kesal lalu berujung geram.

Sontak semua ngedumel dan bete sendiri lihat gerombolan itu tetap asyik dan merusak keseruan. Akhirnya semua teriak-teriak menyuruh mereka minggir. Eh, semakin dipanggil, semakin beraksi mereka. Kami sampai tepuk tangan, teriak kencang, melambaikan tangan, bersiul supaya menarik perhatian mereka. He eh, saking asyiknya narsis, sampai nggak kedengaran kalau kami semua lagi neriakin mereka. Ckckckck…

Somehow mereka sadar juga. Setelah minggir, jajaran tukang potret sama-sama ngoms ‘akhirnyaaaa’…hehe. Untung nggak kelamaan, karena kalau nggak, bisa kehilangan momen. Akhirnya pula semua bisa memotret dalam keadaan hening ketika menjemput surya dan mengembalikannya di ufuk barat. In the end, I’m happy to wrote Candi Ratu Boko, checked.

image
My mom and big sista.
image
Foto-foto siluet tampak cantik dengan efek jingga mentari.

More info about Candi Ratu Boko:
http://www.borobudurpark.co.id

 

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s