Stairways to Heaven

image
Salah satu pura unik di Bali.

 

Cuma menaiki 1.700 anak tangga saja kok untuk mencapai “surga” di Bali. Buat yang doyan trekking, gampang dong. Tapi bagi anak jompo, itu berat kawan!

Namanya juga anak pantai, kalau diajak trekking, bahkan ukuran termudah sekalipun sudah dianggap berat. Jadi pas dikasih tahu mesti naik ribuan anak tangga, rasanya pengen nyebur aja ke pantai. Tapi bagaimana dong, penasaran juga.

Yang mau saya kunjungi adalah Pura Lempuyang Luhur. Mungkin nggak banyak yang tahu mengenai tempat ibadah sekaligus objek wisata yang terletak di Kabupaten Karangasem ini. Bagi wisatawan, pamornya masih kalah dibanding Pura Besakih yang maha megah. Tapi bagi warga Bali, terutama penganut ajaran Hindu, Pura Lempuyang Luhur dikenal sebagai pura tertua di Tanah Dewata. Sekaligus menjadi acuan bagi banyak pura di Pulau Bali.

Kalau ditanya keistimewaan Lempuyang Luhur ada dua hal yang menonjol. Pertama, ada enam pura yang berdiri menemani Lempuyang Luhur. Masing-masing berada di tingkatan berbeda. Dalam pendakian menuju puncak (bukan AFI), yakni menuju Lempuyang Luhur, kita bisa sekalian mengunjungi pura-pura lain. 7 in 1. Tujuh pura dalam satu kawasan. Ketujuh pura ini saling melengkapi dalam aura yang sakral. Kemudian, hal kedua yang membuat pura ini begitu menarik karena berlatarkan Gunung Agung. Termasuk gunung yang sakral di Pulau Dewata.

Pada satu kesempatan, di suatu siang yang tak begitu panas, saya sudah tiba di pelataran parkir kawasan pura. Perjalanan ke sini merupakan terusan dari Taman Soekasada Ujung. Masih satu kawasan dan jalur. Seingat saya, perjalanan dari Taman Ujung ke sini sekitar satu jam lebih. Sempat nyasar juga, karena sopir saya, Pak Ngurah, belum pernah ke sini. Katanya jarang ada turis yang mau ke sini. Tapi sebagai orang Bali asli, Pak Ngurah penasaran banget pengen ke sini. Makanya doi girang banget pas dikasih tahu akan ke sini, karena dia pengen sekalian sembahyang.

Sebelum mengitari pura-pura, saya minta izin dulu. Karena nggak mungkin jalan sendiri, ada pendeta sekaligus berperan sebagai pemandu yang akan menemani kami. Baguslah, bisa tanya-tanya juga. Sebelum memulai perjalanan, saya dan teman saya, Noven, dipakaikan kain bali. Itu syarat untuk dapat memasuki tiap-tiap pura.

image
Pintu masuk Pura Panataran Agung.

image

image
Pura Telaga Mas.

 

Here we go. Pura pertama yang didatangi adalah Pura Panataran Agung. Jaraknya dekat dari pelataran parkir. Cukup naik tangga yang tak seberapa tingginya. Tiba di pelataran, ada semacam gapura penyambut. Lantas naik tangga lagi untuk kemudian bertemu muka dengan tiga jalur tangga yang di ujungnya terdapat pintu masuk menuju pura.

Ini nih bagian ikonik dari Panataran Agung. Pemandangan ini yang saya temukan di internet waktu googling destinasi di Bali. Kami lantas menaiki tangga, sebenarnya bebas mau naik dari mana saja, tapi dibukakan pintu yang tengah, jadi mesti naik di bagian ini. Sebelum masuk, saya dan Noven diberkati dulu oleh pendeta, disiramkan air suci, lalu dipersilakan masuk.

Bagian dalam pura ya seperti pura-pura pada umumnya. Nggak ada yang lagi sembahyang. Selesai motret, kami keluar dari pintu samping yang langsung menghadap jalanan. Jalan ini sebenarnya tembusan dari tempat parkir yang akan menuntun kita menuju pura kedua. Jaraknya lumayan juga. Sekitar 1 km, dengan sikon jalanan berkelok dan menanjak. Berhubung kami ngejar waktu, terpaksa naik ojek.

Sedikit ngebut, ojek yang mengangkut saya melewati beberapa orang yang ingin sembahyang di pura tertinggi. Kata pendeta, kadang-kadang mereka sengaja menginap di atas, daripada mesti bolak-balik. Kemudian tiba jua di Pura Telaga Mas, pura kedua yang tidak berupa bangunan, lebih kepada meja persembahan dengan dominasi kain kuning. Pura Telaga Mas menjadi gerbang masuk bagi sisa pura yang menunggu di balik bukit. Dari sini nih perjuangan panjang dimulai.

image
Ribuan anak tangga siap didaki.
image
Kawanan monyet berkeliaran bebas sepanjang pura-pura.
image
Pura Telaga Sawang.

 

Saya, Noven, Pak Ngurah, dan pendeta mulai menapaki tiap anak tangga. Awalnya sih semangat. Udara pun mendukung. Segar. Matahari malah menghilang sama sekali. Pohon teduh tumbuh sepanjang jalan kenangan. Kawanan monyet berkeliaran bebas di sini. Tapi nggak mengganggu kok. Kemarin cuma ketemu satu-dua ekor saja.

Saya lupa kami berjalan berapa lama untuk sampai di Pura Telaga Sawang, pura ketiga. Yang pasti sudah mulai kewalahan. Apalagi beberapa hari sebelumnya saya habis jatuh di perahu sewaktu mengikuti mangrove tour di Nusa Lembongan. Tulang belakang sakit sekali sampai bengkak. Makanya tiap kali nanjak, sakitnya makin terasa. Belum ditambah mesti pake sarung Bali. Ya sudah deh, makin repot pas nanjak. Pengen melambaikan tangan ke kamera dan nyerah, tapi, bagaimana mau melambaikan tangan, wong kameranya juga nggak ada. Jadi, lanjut jalan. Nanjak lagi.

Nafas makin nggak beraturan setelah menapaki Pura Lempuyang Madya. Langsung selonjoran dan minum sisa-sisa air dari botol 600 ml yang dibagi bareng Noven. Motret pun mulai mengendur semangatnya. Makin terpola aktivitasnya. Sampai pura langsung ngaso, masih ngaso, motret, ngaso lagi sambil nungguin Pak Ngurah selesai sembahyang.

Lempuyang Madya sendiri lebih cantik dari pura sebelumnya. Lebih tertata rapi. Pemandangan dari sini juga makin bagus cuma kabut mengurangi daya pandang.

Saya lupa sih sejak pura ketiga atau keempat kami keluar dari jalur anak tangga. Jadi begini. Ada dua jalur untuk mencapai Lempuyang Luhur. Mau rute cepat dengan naik 1.700 anak tangga dari Pura Telaga Mas tapi dengan catatan akan melewatkan beberapa pura. Atau bisa dengan rute memutar sehingga bisa menikmati ketujuh pura. Tapi tentu saja dengan catatan besar, akan lebih banyak mendaki anak tangga dan bukan itu saja, treknya pun berganti jadi tanah merah dan masuk hutan.

image
Pura Lempuyang Madya.
image
Pucak Bisbis.
image
Pemandangan dari atas.

 

Karena kami sok kuat, jadilah pilih rute memutar. Menuju Pucak Bisbis, pura kelima sebagian besar melewati jalan setapak dari tanah. Tapi sesudah Pucak Bisbis, jalanan makin nggak bersahabat. Resmi masuk hutan dengan pohon-pohon besar makin dempet sama badan. Akar-akan pohon di atas tanah jadi pegangan buat nanjak. Tingginya tanjakan sampai mesti angkat kaki sedada sambil memegang batang atau akar pohon di dekatnya supaya nggak jatuh.

Maaannn, pengen banget buka sarung pas nanjak-nanjak itu. Asli, ngerepotin amat. Belum lagi parno kalau ada ular. Eaaa… Malesin amat kan. Pada akhirnya kami kembali ke trek tangga. Tapi tangganya miring-miring gitu. Berasa lagi di Rumah Miring ala Dufan.

Saya makin lambat jalannya. Semua sudah sampai di Pura Pasar Agung, pura keenam, saya masih tertatih-tatih. Jalan, berhenti. Jalan, berhenti. Jalan, berhenti. Nafas tinggal di ujung. Tapi speak ke orang-orang lama sampai karena motret.

image
Trek menuju Pura Pasar Agung.
image
Pura Pasar Agung.

 

Makin shock pas sampai di Pasar Agung dan lihat penampakan penampung air ukuran gede warna oranye menyala berada persis di tempat sembahyang. Buset, nggak salah tuh taruh di situ? Di sampingnya juga ada tangki warna oranye muda, menyala pula.

Karena tinggal sebentar lagi sampai di pura terakhir, semangatnya muncul lagi. Kemudian meredup dan jadi sedikit seram. Gara-gara sepanjang jalan kabut makin tebal menutup jalan. Trus trus, Pak Ngurah dan pendeta yang jalan jauh di depan kami makin lama makin kelihatan seperti hantu yang melayang. Karena mereka pakai baju putih-putih dan tertutup kabut tebal. Makin spooky karena suasananya pun super hening. Terlalu hening malah. Bahkan batang-batang pohon yang diselimuti kabut kok kelihatan seram ya. OK, dehidrasi bisa membuat imajinasi seseorang makin aneh.

image

image
Pura Lempuyang Luhur.

 

Pada akhirnya bisa senyum lebar dengan gigi kering pas lihat papan nama Pura Lempuyang Luhur. Semua girang. Pak Ngurah langsung duduk dan mulai memanjatkan doa. Saya dan Noven langsung selonjoran sambil mengasihani diri sendiri. Tapi serius, haus banget. Air kami sudah habis dari kapan tahun.

Saya pun nekat minta air sama pendeta. Tapi nggak ada. Karena kasihan, kami dikasih buah. Buahnya dari sesajen yang dikasih umat. Iih, langsung dong terima dengan sukaria, habislah itu satu piring sama kami. Setelahnya baru nanya, nggak apa-apa dimakan sesajennya. Ternyata dehidrasi juga bisa bikin seseorang jadi nggak tahu malu. Tapi nggak ada yang bisa mengalahkan perasaan magis kala di sini. Pemandangannya pun epik. Puncak Gunung Agung kelihatan malu karena masih diliputi kabut.

Kami cuma 20 menitan di atas. Lalu turun bersama pendeta yang tadi jagain pura. Entah saking saktinya nih pendeta, dia cuma butuh 20 menit buat turun ke tempat parkir. Sedangkan kami, hampir sejam baru nyampe. Gila! Jalannya melayang kali ya. Kata pendeta yang nemenin kami, kalau naik dia cuma butuh 30 menitan.Woooww! Kemarin kami habis dua jam lebih.

image
Gunung Agung dan surya tenggelam.

image

 

Setelah turun, kami singgah lagi di Panataran Agung buat foto sunset dengan bantuan panorama Gunung Agung. Cantik! Magis banget! Habis itu kabur ke warung buat beli minum. Saking hausnya, langsung habisin setengah botol air mineral ukuran seliter dengan satu tegukan saja.

Trus perut ikutan ngamuk. Jadi pesan Popmie. Sambil nunggu, ini kok lututnya gemetaran ya. Makin diperhatiin, makin lebay gemetarannya. Shock kali ya otot-ototnya, sampai efeknya begitu..hahaha. Si Noven sama aja nasibnya.

Akhirnya semalaman itu kami berdua gosokkin Counterpain terus naikin kaki ke tembok sambil menertawakan kejompoan kami. Huft

Notes:
-Pengunjung wanita yang sedang haid dilarang masuk.
-Tiket masuk gratis, namun memberikan tip pada pemandu (minimal Rp100.000).
-Ojek dari Panataran Agung-Telaga Mas Rp10.000.
-Bawa minum jika ingin trekking keliling pura.

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Stairways to Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s