Gudang Sejarah Singapura

image
National Museum of Singapore, must visit!

Singapura tanpa belanja. Tanpa Universal Studios. Tanpa kuliner Peranakan. Jawabannya, museum. Sebagian orang, ralat, banyak orang meyakini ke museum itu membosankan. Garing. Kurang menarik. Terlalu serius. Bagi saya semuanya dipandang terbalik. Museum sangat menarik. Tidak membosankan. Sesuatu yang serius tapi bisa dibawa fun. Bahkan menurut saya ke museum itu seperti memasuki kapsul waktu yang berjalan mundur sekian tahun untuk dapat menikmati masa lalu.

Makanya Septy pernah bilang kalau saya itu museum lady. Karena kalau ke mana-mana pasti pengennya ke museum (juga pantai). Termasuk waktu kami “honeymoon trip” ke Singapura beberapa tahun lalu. Dari awal sudah wanti-wanti pengen ke museum, instead belanja. Soalnya banyak museum menarik di sana. Untung Septy anaknya woles kalau diajakin ke museum. Makanya kami bisa berlabuh di tiga museum, yakni National Museum of Singapore, Singapore Art Museum (SAM), dan Red Dot Design Museum.

Untuk kali ini ingin cerita museum yang pertama, kesukaan saya. National Museum of Singapore yang diibaratkan seperti gudang sejarahnya Singapura. Rangkuman kisah negara ini bisa dilihat di sini. Apa saja. Dari yang bermuatan politik dan sejarah, hingga hal-hal ringan seperti makanan khas, busana, termasuk film.

Untuk menuju museum ini, kami naik MRT dari Bugis MRT Station kemudian turun di Dhoby Ghaut MRT Station, jalan kaki lima menit ke arah Stamford Road, sampai deh. Kalau bingung, ini petunjuk arah ke National Museum of Singapore.

image
Bangunan terkesan klasik.
image
Bagian kubah yang cantik.
image
Serasa di abad 19-an tapi dengan sentuhan modern.

Dari jauh gampang banget kok untuk mengenali bangunannya. Gedungnya ala Victorian, bercat putih dan krem tua, dengan kubah di bagian atasnya. Kesan klasik begitu jelas terlihat. Kami sebenarnya dua kali datang. Di hari pertama pas banget sudah mau tutup, karena datangnya kesiangan. Akhirnya balik lagi keesokan harinya. Normalnya harga tiket masuk SGD10 (sekarang SGD6).

Memang termasuk mahal. Tapi kalau doyan museum dan sejarah, worth it kok mesti bayar segitu. Kalau mau dapat diskon 50%, tunjukkin saja kartu pelajar/mahasiswa. Kemarin kami melakukan sedikit “trik”. Karena kami bukan mahasiswa lagi tapi tampang dan gaya masih kelihatan kayak mahasiswa, jadilah nekat nunjukkin KTM, eh, berhasil deh dapat potongan harga. Itu juga terjadi pas ke Red Dot Design Museum. Lumayan banget memang, tapi sebaiknya jangan ditiru ya!

Bagian luar museum nggak menunjukkan suasana ramai. Kami masuk dan mengamati langit-langit bangunan dengan kubah yang ditutupi kaca. Cantik. Di bagian depan ini bisa beli tiket sekalian ada toko suvenir yang menjual pembatas buku, gantungan kunci, magnet, kaus, dan lain sebagainya.

Urusan administrasi kelar, kami belok kanan, di situ ada ruangan yang berisi foto-foto sejarah. Saya rada lupa apa saja, tapi cukup banyak menampilkan kegiatan kenegaraan. Kemudian lanjut ke lantai dua. Di sini tampak lebih luas. Ada banyak pintu yang masing-masing dibuatkan kategori sesuai koleksi benda yang dipajang. Searah tangga, ada koridor memanjang dengan ornamen kaca di atasnya. Karena interior yang serba klasik, museum ini cukup sering jadi lokasi foto prewed.

image
Foto-foto sejarah Singapura.
image
Food Gallery.
image
Botol-botol kaca yang mewakili bahan dan bumbu masakan.

Saya pun melipir ke pintu di sebelah kanan, di atas pintu tertulis Food Gallery. Di dalamnya ada banyak cerita mengenai kuliner Peranakan yang banyak rasa dan budaya. Ada Roti Prata, Chicken Rice, Bakkut Teh, Nasi Lemak dan lain-lain. Masing-masing menu didampingi papan penjelasan yang menerangkan asal-muasal makanan, bagaimana membuatnya, hingga menyertakan alat masak yang digunakan. Ah, seru amat. Langsung kebayang kalau Indonesia punya museum kuliner nusantara, pasti keren banget deh.

Lebih masuk lagi, ruangan ini ternyata jauh lebih besar dari yang saya kira. Di belakang sana ada puluhan botol kaca yang ndut-ndut, warna-warni, disusun berderet dalam rak bertingkat. Ceritanya ini gambaran bahan-bahan masakan. Di tiap botol ditempel gambar dan nama bahannya. Yang saya suka deretan botol yang berisi bumbu-bumbu dapur. Kita bisa membauinya dan main tebak-tebakan nama bumbu. Cool!

Kemudian saya lanjut lihat-lihat ruangan lain. Photography Gallery. Di pintu masuk, ketemu Septy yang keluar buru-buru, katanya seram soalnya rada gelap, trus di bagian depan banyak foto-foto jadul gitu. Ya elah, bagian mana sih yang seram? Saya sih tetap masuk. Kalau pun berasa creepy, tinggal keluar saja kan..hehe.

Di dalam, sejauh mata memandang, ruangannya penuh sama koleksi foto, kebanyakan hitam-putih. Ada yang besar-besar dengan pigura dari kaca. Ada yang ukuran A3, dipasang di satu sisi dinding. Bisa dilihat juga kamera klasik yang masih kelihatan bagus. Tapi ada satu benda yang menarik perhatian, sebuah paspor, family passport tepatnya. Jadi zaman dulu dibuat ringkas, satu paspor untuk seluruh keluarga. Fotonya pun segambreng. Lucu ya. Tapi rempeus juga kalau perginya misah-misah.

image
Foto hitam putih dalam pigura kaca.
image
Family passport.

Selanjutnya masuk di Film & Wayang Gallery, kesukaan saya. Begitu buka pintu ada layar putih besar sedang memutar film hitam-putih. Siapa saja bisa langsung nonton. Walau hanya visual semata tanpa suara pendukung tapi sudah keburu takjub. Saya santai dulu nonton film lawas karena sambil ngaso di tempat duduk bertingkat persis di hadapan layar.

Kalau pengen keliling, yang bisa dilihat ada poster-poster film era lampau yang penuh warna. Kreasi poster zaman dulu tuh lucu-lucu. Judul filmnya pun menggelikan, seperti Pendekar Bujang Lapok atau Berdosa sedikit frontal. Di suatu sudut ada koleksi video kamera klasik juga pita film. Di belakang sana ada replika panggung wayang khas negeri ini. Sepertinya lebih kental dengan nuansa Cina. Dekat situ dipajang baju-baju plus aksesoris yang dikenakan untuk pertunjukan wayang orang, serta boneka wayang.

image
Layar film di Film & Wayang Gallery.
image
Berbagai poster masa lalu.
image
Boneka wayang.

Lalu minggat ke Fashion Gallery yang juga menyimpan koleksi keren. Rangkaian busana klasik, baju-baju ala Cheong Sam sampai kebaya Encim juga dress-dress cantik dipamerkan dalam kotak kaca. Ada pula kosmetik jadul. Sedikit histeris pas lihat bedak batu yang biasa dipakai oma saya. Dulu saya suka curi-curi pakai bedak itu..hehehe. Habis enak sih baunya. Saya juga menemukan kain-kain panjang terbentang dari atas hingga bawah, penuh warna juga ragam jenis. Di sisinya diberi penjelasan nama, fungsi, dan bagaimana pembuatannya.

Lihat itu, trus kebayang rumah-rumah adat di TMII yang juga memajang baju tradisional. Dipamerkan ala kadarnya tanpa ada nilai estetika. Kaca berdebu. Kurang menarik. Bikin orang nggak tertarik. Beda banget sama di sini. Padahal kalau bisa dibilang budayanya nggak asli Singapura lho. Sudah kecampur sama Cina, India, Melayu, dan Arab. Koleksinya juga nggak sebanyak punya kita. Tapi mereka pintar aja memvisualisasikannya. Coba gitu pihak museum di Indonesia main-main ke luar negeri biar dapat inspirasi gitu, supaya koleksi di tanah air bisa diapresiasi dengan benar. Sayang banget kita punya budaya melimpah tapi tidak dikelola dengan bijak.

image
Alat-alat kecantikan.
image
Kain-kain etnik.
image
Jangan lupa mejeng sama teman-teman ini. Photo by Septiany Utami Dewi.

Last but not least ada Singapore History Gallery. Letaknya agak di belakang, sejurus koridor yang ada ornamen kaca. Sebelum masuk, kami dikasih audio player dan headphone, kemudian diberi petunjuk untuk mendengar rekaman kisah sesuai nomor yang tertulis di lantai. Kalau tandanya nomor 2, kita pencet rekaman nomor 2. Nanti muncul deh suara cewek yang cerita sesuai tampilan diorama. Audio tour tersedia dalam empat bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan Jepang. Jadi mengingatkan audio tour di Killing Fields, Phnom Penh. Oh ya, di sini nggak boleh motret ya.

Sesungguhnya saya lupa secara detail apa saja yang ditampilkan di galeri ini…hihihi. Habis perginya sudah tiga tahun yang lalu sih. Tapi yang pasti, saya benar-benar menikmati banget di sini. Tenang tapi benar-benar seru. Terhanyut sendiri dengar setiap cerita. Di pojokan suka dikasih kursi, jadi bisa lebih leluasa kalau pengen lama-lama di sini.

Keluar dari museum, rasanya senang banget. Betah berjam-jam di sana. Kami sampai lupa waktu karena saking serunya nih museum. Sama sekali nggak berasa “berat” untuk ukuran museum. Interpretasinya OK banget. Doa saya, semoga suatu saat nanti Indonesia bisa punya museum seperti ini. Amin.

National Museum of Singapore
93 Stamford Road, Singapore
Tel +65 6332 3659
www.nationalmuseum.sg

Jam Buka
10:00-18:00 (17:30 last admission)

Tiket Masuk
Gratis (untuk masuk bangunan museum)
SGD6 (untuk masuk galleries)

Note
-Perhatikan jadwal penutupan sementara gallery setiap tahunnya.
-Semua gallery bisa difoto, kecuali Singapore History Gallery.
Info Free Guided Tour

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Gudang Sejarah Singapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s