Senja di Pulau Merah

image
Seruput senja dari tanah Banyuwangi.

 

Dulu mah jarang ada yang tahu Pantai Pulau Merah. Kalau ditanya letaknya di mana, dijamin pasti pada jawab nggak tahu. Sekarang sih beda, pamornya mulai terangkat berkat Kawah Ijen dan Tanjung Papuma. Kalau singgah di dua objek wisata ini, biasanya diikuti dengan kunjungan ke Pantai Pulau Merah.

Awalnya juga nggak tahu pantai ini sampai supir saya menawarkan ke sana. Tiga tahun lalu saya lagi eksplor Jember-Banyuwangi. Paginya sempat menikmati Tanjung Papuma
di Jember yang mendung sedari awal. Pulang dari situ rencananya mau ke Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi. Cuma gitu deh, semua rencana jadi berantakan karena lamanya urus SIMAKSI yang super duper lelet di Kantor Taman Nasional (TN) Alas Purwo di Banyuwangi. FYI, SIMAKSI adalah Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi. Setiap masuk TN wajib punya SIMAKSI untuk izin melakukan aktivitas di dalamnya. Tiap-tiap TN punya beban biaya yang berlainan.

Hari itu saya lelah hati karena stuck tiga jam hanya buat nungguin pegawai di sana kerja santai tanpa menghargai waktu. Serius deh, keterlaluan banget lihat cara kerja pegawai di Kantor TN. Kan bukan pertama kali bikin SIMAKSI, masa bolak-balik nanyain ke saya, kroscek data, dan omong kosong lainnya. Wasting time banget! Akhirnya sudah terlalu siang untuk lanjut ke Alas Purwo. Terima kasih lho pak!

Karena batal ke sana, kami buntu ide, nggak tahu mau ke mana lagi. Mana sebelumnya gagal pula ke Kawah Ijen karena cuacanya lagi buruk. Rencana cadangan pun tak punya. Di tengah kegundahan itu, supir saya membuka suara dengan menyarankan kami ke Pulau Merah. Dia cuma bilang itu pantai dan bagus kalau sunset. Pantai dan sunset sudah cukup untuk membuat kami memutar haluan dan bergegas ke pantai yang masuk wilayah Banyuwangi ini.

image
Taman makam pahlawan di Banyuwangi.
image
Pemandangan menuju Pantai Pulau Merah.
image
Sawah dan sungai menjadi pemandangan khas sepanjang perjalanan.

 

Seperti orang buta yang sedang dituntun jalan, itulah saya dan Noven. Kami percaya saja mau dibawa supir ke mana pun. Pasrah sih lebih tepatnya. Mungkin karena sudah keburu bete akibat kelamaan “nyangkut” di Kantor TN.

Menjauhi Kota Banyuwangi, samar-samar instrumen perkotaan mulai menghilang dari pandangan. Kami semakin sering menjumpai persawahan, perkebunan, jembatan dengan sungai berair cokelat, juga rumah-rumah sederhana penduduk. Lalu lintas santai, kami pun berubah mood. Sirnah sudah rasa jengkel.

Pantai Pulau Merah atau disebut juga Pulo Merah terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Menurut perhitungan kasar, kira-kira dua jam kemudian kami memasuki pintu masuk sebuah kompleks. Dari luar seperti masuk kompleks perumahan. Memang ini adalah kompleks perumahan, lebih tepatnya perumahan bagi pekerja tambang di Tumpang Pitu. Hanya beberapa kilometer dari situ ada penambangan emas yang ternyata cukup terkenal. Makanya akan sangat wajar kalau sering menemukan pekerja-pekerja tambang dengan boots dan helm proyeknya sedang berkeliaran.

Dari pintu masuk menuju pelataran parkir mungkin jaraknya tak lebih dari 1 km. Buka pintu mobil, terdengar jelas gemuruh ombak. Pantai persis di depan mata. Hanya jalan beberapa meter sudah menginjak pasir.

image
Akhirnya tiba di Pantai Pulau Merah.
image
Langit yang muram.
image
Pantai lebih banyak dikunjungi masyarakat sekitar. 

 

Sore itu Pantai Pulau Merah cukup ramai tapi tak padat. Karena pantainya sendiri sudah luas dan panjang, masing-masing orang bisa leluasa menikmati suasana tanpa direcoki pengunjung lain. Lowong dan lega.

Sebelumnya saya berpikir Pulau Merah itu betul-betul berwarna merah. Tapi gambaran yang saya dapat bahwa Pulau Merah adalah sebuah pulau, seperti bukit hijau, letaknya cukup dekat dari pantai, ada di sebelah barat. Pulau kecil inilah yang menjadi simbol pantai. Kita bisa mendatangi pulau dengan berjalan kaki kalau air laut sedang surut. Katanya ada pura juga di situ, tapi waktu itu saya nggak terlalu ngeh. Pertama kali lihat Pulau Merah, biasa aja sih. Tapi tunggu kalau matahari terbenam. Kecantikannya berlipat ganda. Lihat saja fotonya.

Saya dan Noven masih punya waktu buat keliling dulu sebelum nongkrong nungguin sunset. Kami mengarah ke barat, niatnya mau lebih dekat ke Pulau Merah. Cuma airnya lagi pasang, ombaknya bisa dikatakan cukup dahsyat. Makanya pantai ini sering jadi arena bermain selancar. Bagi surfer pemula, cocok nih latihan di sini.

Karena nggak main air, kami lihat-lihat sekelompok cowok yang asyik main bola. Sepertinya sih penduduk kompleks, mungkin para pekerja tambang. Asyik ya punya rumah dan tempat kerja yang dekat pantai. Bisa mantai kapan saja.

Terus kami ganti suasana. Pindah tempat. Cari objek foto lain. Dari pengamatan, mayoritas adalah masyarakat lokal yang lagi asyik di pantai. Nggak ada turis. Seperti yang saya bilang di awal, beberapa tahun lalu pantai ini masih “perawan” dari kawanan wisatawan.

image
Before sunset.
image
Tadi awannya muram, sekarang biru pekat.
image
Delightful sunset. 
image
I’m the queen of the world!

 

Malas jalan, saya pun ngample aja di pasir, siaga dengan kamera karena mataharinya sudah mau pulang. Benar kata supir saya, sunset-nya cantik. Entah ya, saya selalu terhipnotis dengan pemandangan matahari tenggelam. Syahdu. Damai. Romantis. Sedikit melankolis. Yang pasti, warna-warni rasanya bikin sayang buat berkedip, walau sedetik saja. Jingga, biru, semua semarak di langit. Mataharinya juga hadir bulat utuh, nggak ragu bersinar terang, walaupun sudah masa penghabisan.

Sore itu kami juga melihat pelangi, melengkung sempurna di langit yang mulai temaram. Ah, kurang sempurna apa sore ini? Saya pun jadi menyesal terlalu bersungut-sungut di awal karena gagal ke Alas Purwo. Ternyata Tuhan sudah menyiapkan kejutan tak terduga di Pulau Merah. Well, life is full of surprises, right!

Note:
-Pantai Pulau Merah pernah rusak parah akibat bencana tsunami.
-Tiga tahun lalu gratisan masuk sini. Entah sekarang.
-Waktu itu belum ada warung makan dan minum. Mestinya sekarang sudah ada, tapi buat jaga-jaga, bawa bekal saja ya.
-Pantai Pulau Merah cocok untuk bermain selancar, walau saat itu belum ada jasa penyewaan papan selancar. Atau jasa buat belajar surfing.
-Waktu terbaik untuk mengunjungi Pulau Merah saat sore, menjelang sunset.

-PJLP-

Advertisements

One thought on “Senja di Pulau Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s