I’m Coming Derawan!

image
Welcome to Derawan Island.

Solo trip pertama saya ke Derawan. Deg-deg-an! Bukan takut nyasar atau takut ketemu orang jahat. Tapi karena saking excited-nya mau ngebolang sendiri. Udah lama kepengen, cuma belum kesampean. Akhirnya Derawan-lah jadi edisi perdana.

Sebelum ke Derawan, saya stay dulu di Berau. Merupakan kota kabupaten yang menjadi salah satu akses menuju Kepulauan Derawan. Akses lain bisa melalui Tarakan. Di Berau sendiri ada beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi, seperti Kesultanan Gunung Tabur, Kesultanan Sambaliung, Labuhan Cermin, juga wisata kuliner.

Hari H menuju Derawan saya berangkat terlalu siang. Sudah pesan taksi alias mobil Xenia buat diantar ke Dermaga Tanjung Batu. Taksi ini nggak dinaiki sendiri, karena sistemnya bukan taksi, tapi kayak angkot. Rutenya dari Kota Berau (Tanjung Redep)-Tanjung Batu. Kalau mau turun di antaranya juga bisa. Taksi akan jemput di mana pun kita berada dan diantar di mana pun tujuannya. Serasa lagi naik mobil jemputan sekolah.

Waktu itu mobil sudah sesak. Saya duduk di bagian tengah, dekat jendela. Di antara padatnya tempat duduk dan menumpuknya barang-barang, munculah bau ikan. Sama persis seperti bau di kapal ikan yang saya tumpangi dari Karimunjawa-Semarang. Bau yang bikin eneg selama sembilan jam melaut karena duduk dan tiduran di atas cooler box ikan. Dan siang itu, baunya muncul lagi. Eewww

Langsung turunin jendela sampai bawah dan mencoba menikmati angin segar yang masuk. Mualnya ditahan dulu sambil sibuk lihat keluar yang akhirnya bikin sadar dengan keadaan hutan yang berkurang pepohonannya. Banyak yang sudah bolong. Parah banget!

image
Penebangan hutan kerap ditemui sepanjang perjalanan menuju Tanjung Batu.
image
Dermaga Tanjung Batu.

Malahan sempat ke area penyimpanan batang-batang pohon karena salah satu penumpang diantar ke situ. Miris lihatnya. Banyak banget tumpukan batang pohon. Berapa banyak tuh pohon yang ditebang? Saya jadi hitung-hitungan. Sepuluh, bisa jadi lima tahun lagi kalau ke Tanjung Batu mungkin cuma bisa lihat tanah kosong yang kering kerontang. Oh Indonesia-ku.

Di samping pemandangan hutan yang mulai mengurang, saya sendiri cukup menikmati perjalanan. Jalanan sudah beraspal, mulus banget. Enak deh. Total dua jam sudah tiba di Tanjung Batu. Sore itu keadaan dermaga cukup ramai, lebih banyak calo buat boat ketimbang penumpangnya. Ada juga supir-supir taksi yang menanti penumpang buat diantar ke Berau.

Tanjung Batu sendiri menjadi gerbang bagi Kepulauan Derawan. Dari sini penumpang bisa diantar ke Pulau Derawan atau langsung menuju Pulau Maratua, cuma lebih jauh jarak tempuhnya.

Di dermaga saya sudah janjian dengan satu mas, kemudian dia antar ke boat kecil yang akan mengantarkan saya ke Pulau Derawan. Di pulau ini lebih banyak penginapannya. Ada yang sekelas resor hingga homestay. Tempat makan dan serta dive center pun tersedia. Intinya pulau ini lebih “hidup” dalam hal sarana wisata.

Saya naik boat mini, langsung cuuss dengan kecepatan sedang. Saya kira sudah terlalu sore untuk menuju Derawan, karena lihat jam sudah setengah enam. Ternyata, itu waktu terbaik (menurut saya). Sepanjang melaut bisa puas melihat langit biru yang bersinggungan dengan gradasi warna matahari terbenam, membuat saya terus melihat ke atas. Soalnya cantik betul. Selama ini kan kalau lihat sunset dari tepi pantai. Kali ini jauh lebih seru. Naik boat sambil diterpa angin sore dan ombak yang cukup ramah. Asyik deh!

image
The man.
image
On the way to Derawan.
image
Hello Derawan!

Cuma 30 menit saya sudah tiba di Pulau Derawan. Akhirnyaaa! Keadaannya cukup tenang dengan aktivitas manusianya yang adem-ayem. Saya langsung menuju homestay yang dimiliki pasangan kakek-nenek. Cukup nyaman dan bersih kamarnya dan cuma jalan kaki tiga menit dari tempat saya turun.

Saya sewa satu kamar dengan dua tempat tidur single, kipas angin, kamar mandi di luar, plus sarapan cuma bayar Rp150.000 per malam (tahun 2013). Selesai beberes, ngadem dulu di kamar sambil lihat hape, trus baru sadar kalau Indosat mati total di sini. Terpaksalah keluar beli sim card baru demi komunikasi dan eksistensi di dunia maya..hehe.

image

image

image

Habis beli sim card, trus cari makan dan kenalan sama pasangan dari Jerman, Michael dan Sandra yang sering banget bolak-balik Indonesia buat diving. Setelah ngobrol-ngobrol, saya ajak mereka sharing boat buat keliling besok. Soalnya lumayan banget kalau sewa sendiri, bisa kena dua juta.

Untung mau-mau aja mereka. Trus mereka bilang kalau ada dua cewek yang juga nyari sharing-an. Yo wis-lah, kami bertiga langsung nyari dua cewek itu. Well, saya lupa nama keduanya. Yang satu mungkin dari Spanyol. Dese udah ngebolang dan diving di mana-mana. Yang satu lagi rambutnya digimbal dan dia abis dari Viet Nam. Kami berlima ngobrol-ngobrol dan sepakat eksplor pulau-pulau esok pagi. Another good news, kata si cewek Spanyol ada pasangan yang juga nyari sharing-an. Yuk mareee, makin banyak yang gabung, berarti makin murah biaya patungannya. Yeah!

Akhirnya ketemuan sama pasangan tersebut, dari Spanyol, Tudith dan cowoknya yang caem dan unknown 🙂 Kami semua ke Dive Center dan coba nego harga kapal dan sewa peralatan menyelam. Sepakat di angka 1,8 juta untuk boat dengan tujuan Kakaban-Sangalaki. Kalau mau ke Maratua kena dua juta. Karena cuma punya waktu sehari untuk eksplor, saya begging ke mereka buat ke Kakaban sama Sangalaki aja. Akhirnya mereka pada mau ngalah..hehe. Kata mereka pasti karena saya nggak rela ngelewatin ketemu ubur-ubur. Iyalah, masa udah jauh-jauh ke sini trus nggak ke Kakaban. Setelah beres segala perintilan, kami pun berpisah dan janjian ketemu esok jam 9 pagi.

Saya kembali ke homestay, kepengen mandi. Sambil baring-baring di kasur kemudian mikir, nggak seburuk itu kok jalan-jalan sendirian. Memang akan bertemu hal-hal yang bikin bete atau nyusahin. Tapi balik lagi, bagaimana kita beradaptasi dan meresponinya. Semakin sering jalan, semakin baik kemampuan kita dalam beradaptasi dan merespon. Serius.

Kalau berpikiran jalan-jalan sendiri bakalan garing, well, kamunya yang harus mingle, coba sosialisasi dengan orang lokal atau sesama pejalan. Penampakan luarnya kamu tunggal, sendiri, satu. Tapi bukan berarti jadi individualis dan menutup konektivitas dengan yang lain. Banyak yang udah bilang kalau jalan sendiri justru lebih memudahkan kita bercengkerama dengan orang asing (bukan bule). Karena pada dasarnya kita juga makhluk sosial, mau nggak mau pasti pengen melakukan kontak dengan sesamanya. Masa mau diam aja sepanjang jalan.

Kalau kasih alasan takut atau khawatir, kamu nggak akan ke mana-mana kalau isinya cuma ketakutan aja. Nggak usah pergi liburan sendiri dulu deh. Dari yang sederhana aja. Pernah nggak jalan-jalan sendiri di dalam kota? Pernah nonton bioskop sendiri? Pernah makan sendiri di restoran? Pernah nonton konser musik sendiri? Atau jalan-jalan ke tempat wisata di dalam kota sendirian? Kalau belum, cobain deh. Itu latihan dasar kalau kepengen solo traveling suatu hari nanti. Kalau udah pernah dan nggak nyaman, itu soal kebiasaan aja. Karena kamu terbiasa melakukan itu sama orang lain. Atau kamu nggak suka dilihatin aneh sama orang lain karena jalan sendirian. Ya ampun, biarin aja orang mau lihat dan bilang apapun. Sekali-kali jadi orang cuek tuh ada enaknya lho. Atau bisa juga kamu memang nggak nyaman sama diri sendiri atau bahasa halusnya insecure. Yaaa, jangan
sampai insecure gitu dong.

Tapi latihan-latihan di atas memang perlu kita coba, entah mau solo traveling atau nggak. Banyak hal dari diri kita akan muncul ketika plesiran sendiri, yang awalnya nggak kita sadari sebelumnya. Nanti kalau lama-lama mulai terbiasa, coba ditingkatin levelnya. Coba lebih jauh jaraknya dan lebih ragam aktivitasnya. Lama-lama tanpa kamu sadari udah ngebolang ke tempat-tempat yang dulu mungkin cuma dimimpiin aja. Semua perjalanan diawali dari satu langkah sederhana.

Anyway, pokoknya malam itu saya senang, berada di tempat impian, dan nggak sabar nunggu besok karena mau bertemu ubur-ubur, manta ray, mungkin barracuda. Entahlah. Yang pasti saya akan mimpi indah malam ini.

Note:
-Kepulauan Derawan berada di Kalimantan Timur.
-Derawan merupakan nama kepulauan juga nama pulau. Sebagai kepulauan, Derawan merupakan kumpulan dari Pulau Derawan, Pulau Kakaban, Pulau Maratua, dan Pulau Sangalaki.
-Pulau Derawan dan Maratua merupakan dua pilihan tempat menginap bagi para pengunjung.
-Jaringan telepon, sms, dan internet bisa untuk pengguna Telkomsel dan XL.
-Listrik menyala penuh 24 jam.

Transportasi menuju Kepulauan Derawan: (Melalui Berau)
*Pesawat Jakarta-Berau (transit Balikpapan)
-Garuda Indonesia http://www.garuda-indonesia.com
-Sriwijaya Airlines http://www.sriwijayaair-online.com
-Lion Air (Jakarta-Balikpapan) & Wings Air (Balikpapan-Berau) http://www.lionair.co.id

*Sewa mobil dari Berau-Tanjung Batu Rp350.000-Rp500.000.

*Naik taksi dari Berau-Tanjung Batu Rp70.000-Rp100.000
Irphan Taksi 085246215534

*Sewa speedboat Tanjung Batu-Pulau Derawan Rp300-Rp500.000 (3-5 orang)

*Speedboat reguler dari Tanjung Batu-Pulau Derawan Rp70.000-Rp100.000

Penginapan di Pulau Derawan:
*Derawan Dive Resort http://divederawan.com
*Penginapan Danakan 081352543226
*Derawan Beach Cafe 081346562765
*Sari Cottage 081346538448
*Homestay Dona 081253143960
*Homestay Arlisah 081253143960
*Lestari 1 081347229636
*Lestari 2 081253500529

Tempat makan di Pulau Derawan:
Banyak tersedia tempat makan berupa restoran ataupun warung makan. Menunya berkisar seafood, nasi goreng, mie goreng, sate ayam, bakso, mie ayam, juga mi instan.

Operator Diving di Pulau Derawan:
-Derawan Ocean Dive
Osland 081254339636, 087811210575
-Derawan Dive Resort
http://divederawan.com

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s