Berdamai Dengan Ubur-ubur

image
Finally!

Ini merupakan kisah lanjutan dari posting-an I’m Coming Derawan! Setelah merapat di pulau pertama dan kenalan dengan teman-teman baru, waktunya island hopping. Saya bangun kelewat pagi di hari kedua di Derawan. Sepertinya terlalu semangat. Pagi itu nggak mandi, cuma seka-seka, cuci muka, sikat gigi, lanjut sarapan ala kadarnya di homestay.

Karena cuma ala kadarnya, saya keluar cari makan pagi yang benar alias makan nasi. Ketemulah satu restoran, namanya RM. Agusty. Cuma jalan kaki dua menit dari tempat inap. Pesan seporsi nasi goreng dan segelas jus mangga. Sarapan dua kali dirasa berlebihan? Iya, banget. Tapi saya perlu “full tank” kalau mau island hopping. Soalnya gampang kena mabok laut kalau perut kosong. Trus makin parah karena saya gampang lapar. Eaaaa…. Makanya beli juga nasi bungkus isi ayam goreng plus satu sisir pisang buat bekal. Kenapa pisang? Pisang itu cukup mengenyangkan. Dan diyakini sebagai kudapan pencegah mabok laut.

image
Menu sarapan sebelum snorkeling.
image
Pulau Derawan yang sepi di pagi hari.
image
“Penangkaran ikan hiu”.

Kelar makan saya masih punya waktu buat lihat-lihat suasana. Karena kemarin sudah hampir malam sampainya jadi pagi ini jalan-jalan melihat seperti apa Pulau Derawan. Waktu itu masih jam delapan pagi, tapi sepi-sepi aja tuh pulaunya. Tenang. Jalanan utamanya sendiri cukup lebar. Di kiri-kanan ada homestay, restoran, warung makan, toko suvenir, dan tentu saja rumah penduduk.

Dua tahun lalu Derawan sudah cukup ramai, baik dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Mungkin karena Derawan lebih murah (nggak yang murah banget sih) ketimbang jalan ke Wakatobi. Tapi Wakatobi juga super keren. Saya punya cerita seru waktu eksplor Pulau Wangi-wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Hoga, juga Pulau Tomia. Tapi nanti ya ceritanya.

Pagi itu sempat blusukan ke satu jalan setapak yang mengarah ke rumah apung yang bisa disewa untuk menginap. Dekat situ saya dikasih tahu satu mas kalau ada kolam hiu. Haaa! Kolam hiu! Trus saya dikasih tunjuk deh, tepat di bawah kayu-kayu penyangga rumah apung ada kawat jala yang dijadikan dinding pembatas. Di dalamnya ada beberapa hiu, masih cilik. Kata si mas, nelayan nggak sengaja tangkap hiu sewaktu cari ikan.

Saya langsung nggak percaya dengan pernyataan “nggak sengaja”. Langsung ingat kolam hiu di Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa. Di sana juga mereka bilang awalnya nggak sengaja tangkap hiu. Tapi lama-lama jadi banyak, trus dijadikan atraksi wisata. Habis itu dijual ke “pihak yang membutuhkan”, entah buat diambil siripnya atau dijadikan atraksi wisata.

Waktu itu saya tanya kenapa hiunya nggak dilepas aja. Tapi si masnya cuma diam aja. Makin curiga kan. Hal-hal kayak gini masih kurang mendapat perhatian para traveler. Mungkin dirasa seru kali ya bisa masuk di kolam hiu seperti di Karimunjawa. Atau lihat hiu dikurung dalam tempat yang begitu kecil. Tapi itu bukanlah habitat mereka yang asli, kawan-kawan. Kalau pengen ketemu hiu, gih menyelam. Banyak kok spot-spot diving yang merupakan jalur hilir-mudiknya si predator.

Saya cuma mau mengingatkan saja, kita tuh jalan-jalan bukan perkara mencari kesenangan aja. Bukan dapat foto keren mejeng bersama hiu. Tapi harus wise juga. Hiu hidupnya di laut bebas. Kalau ketemu mereka tinggal di dalam kolam dan dijadikan atraksi wisata berarti ada yang salah. Satu-satunya peran kita di sini adalah tidak mengapresiasinya. Sekalian mengingatkan ke teman-teman lainnya kalau hal ini nggak benar. Kalau mau lebih jelas mengenai hal ini, coba baca ini. Kelar jalan pagi, balik lagi ke homestay ambil tas, trus cuuss ke dive center. Karena perginya sama bule-bule, semua datang on-time, jadi bisa langsung jalan.

image
Dive center di Pulau Derawan.
image
Boat yang kami pakai untuk island hopping.
image
Just landed in Kakaban Island.

Kami naik boat 50 m dari tempat ketemuan. Sebenarnya rada sesak juga karena diisi tujuh orang yang gede-gede, plus dua kru. Tujuan pertama adalah Pulau Kakaban. Tengah jalan hujan deras menyambar. Deras banget! Saya sampai parno, takut batal karena cuaca parah. Tapi boat kami terus melaju tanpa menurunkan kecepatannya sedikit pun. Ajaibnya, ombaknya masih masih aman terkendali. Walau di dalam boat kami terguncang-guncang, tapi tetap ganti wet suit. Sesaat sebelum tiba di Kakaban, hujan berhenti dan matahari datang pelan-pelan. Terpujilah Engkau Tuhan semesta alam.

Boat menepi dekat dermaga. Kami bertujuh pun misah. Yang diving terjun di sisi kiri. Yang snorkeling ke sebelah kanan, persis dekat dermaga. Saya masuk tim snorkeling bersama Tudith dan pacarnya. Begitu masuk air, aah… sudah banyak karang terhampar di dasar laut. Table coral paling banyak dilihat. Juga jenis Acropora. School fish juga ramai seliweran. Seru deh pokoknya!

Lagi asyik-asyik snorkeling, dari bawah muncul underwater camera. Punya siapa nih? Saya tanya pasangan bule yang barengan, katanya bukan punya mereka. Kami juga nggak yakin itu milik rombongan yang barengan kami. Sepertinya punya gerombolan ibu-ibu yang saat itu lagi diving juga. Yo wis-lah kami simpan tuh kamera. Tapi malah sibuk foto-foto pakai kamera itu..hehe, nggak tahu diri. Kalau yang diving, titik selam dekat dermaga ini berupa zona drop-off, dinding karang membujur ke bawah. Kata mereka yang menyelam sampai 40 m gitu kedalamannya. Cuma karena habis hujan visibility di bawah nggak terlalu baik.

image
Hello little friend.
image
Pemandangan yang menarik di bawah Kakaban.
image
School fish seliweran di sana-sini.

Sejam kemudian kami sudah ngemper di dermaga sambil makan siang. Lapar!! Trus ketemulah sama si pemilik kamera. Senang banget doi pas tahu kameranya nggak hilang. Saking senangnya sampai minta temennya fotoin saya dan dia, katanya sebagai bukti kalau kameranya aman karena perempuan hitam manis ini 😉

Kelar makan, bubar jalan menuju Danau Kakaban yang berada di tengah pulau. Cuma ada satu akses, yakni melalui jalan setapak yang dibangun dari kayu. Jalan ini diapit rimbunan pohon, cukup adem, tapi masih basah karena efek hujan turun. Jalannya cuma sebentar kok, nggak lebih dari lima menit sudah tiba di dermaga yang sedikit reyot di pinggir danau.

Dari atas dermaga sih air kelihatan sedikit keruh. Mengedarkan pandangan, Danau Kakaban cukup cantik juga. Ada tumbuhan hijau di pinggirannya. Saya nggak tahu seluas apa danaunya. Tapi kita nggak perlu jauh-jauh berenang untuk bertemu ubur-ubur yang ramah. Tanpa menunggu aba-aba, semua turun perlahan lewat tangga, bukan terjun bebas. Kami cuma memakai goggles tanpa fin (sepatu katak). Memang tidak disarankan memakai fin karena takut akan melukai ubur-ubur.

Begitu di dalam air, nggak perlu tunggu lama, di sana kawanan ubur-ubur sedang meliuk-liuk dengan gemulai. Pergerakan mereka cukup lamban, tapi akhirnya mendekat juga. Pokoknya ngapung aja di air, tanpa banyak gerak, nanti ubur-uburnya datang dengan sendirinya. Berada di dekatnya, menyentuhnya (dengan sangat hati-hati), akhirnya membuat saya bisa merasakan momen istimewa yang hanya bisa dinikmati di dua tempat di dunia ini. Satu di Kakaban. Dua di Palau. Menakjubkan karena akhirnya runtuh jua dinding permusuhan dengan si jelly fish. Akhirnya bisa berdamai dengan ubur-ubur yang selama ini dihindari tiap kali melaut.

image
Sisa-sisa hujan.
image
Danau Kakaban.
image
With Sandra and Tudiht. Photo by Michael.

Penjelasan ilmiah mengapa ubur-ubur di sini tidak berbahaya bagi manusia karena danau ini tidak memiliki predator. Sehingga makin lama ubur-uburnya kehilangan kemampuan untuk melindungi dirinya dan hal ini telah terjadi selama ribuan tahun. Ada empat spesies yang hidup dan berkembang di danau ini, antara lain Aurelia Aurita, Tripedalia Cystophora, Cassiopeia Ornata, dan Mastigias Papua. Jauh lebih banyak dari yang dimiliki Palau.

Walau hewan ini tidak menyengat, tapi mesti hati-hati juga sewaktu menyentuhnya. 90% tubuhnya terdiri dari air, jadi rentan sekali. Kemarin saya jadi takut-takut pas megang. Mau berenang juga nengok-nengok ke belakang melulu, takut kena. Makanya dilarang pakai fin.

Kalau main-main ke Danau Kakaban, please please please behave! Tahu kok bakalan super excited, tapi pastikan juga keselamatan dan kenyamanan si ubur-ubur. Remember, be a wise traveler. Hampir sejam kami bertahan di danau sampai dikecewakan pemandu yang memanggil untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sangalaki. Bye jelly fish. Had a feeling that I’m gonna see you again.

Note:
-Pulau Kakaban merupakan bagian dari Kepulauan Kakaban di Kalimantan Timur.
-Pulau Kakaban bukanlah pulau berpenghuni. Di dalamnya terdapat Danau Kakaban yang menjadi habitat bagi empat spesies ubur-ubur yang tidak menyengat.
-Empat spesies tersebut adalah Aurelia Aurita, Tripedalia Cystophora, Cassiopeia Ornata, dan Mastigias Papua.
-Pulau dan Danau Kakaban ditetapkan sebagai World Natural Heritage Area tahun 2004 oleh Unesco. Otomatis ekosistem di dalamnya masuk dalam daftar perlindungan.
-Tidak tersedia warung makan di pulau ini, pastikan membawa persediaan makan dan minum secukupnya.
-Dekat dermaga dijual kelapa muda, sekitar Rp20.000 per buah (tahun 2013).
-Berenang di Danau Kakaban, dilarang menggunakan fin dan jangan terjun sambil melompat ke dalam air. Turunlah perlahan melalui tangga di dermaga.

Akses menuju Pulau Kakaban:
-Dari Pulau Derawan maupun Pulau Maratua kamu bisa menyewa boat dengan kisaran harga dua juta Rupiah.
-Masuk Pulau Kakaban dikenakan beban tiket sebesar Rp10.000 (tahun 2013).

Operator diving dan snorkeling:
-Derawan Ocean Dive (Pulau Derawan)
081254339636, 087811210575
-Derawan Dive Resort (Pulau Derawan)
http://divederawan.com
-Maratua Paradise Resort (Pulau Maratua)
www.maratua.com

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s