Last But Not Least, Sangalaki

image
Sangalaki, checked!

Sangalaki, pulau konservasi yang berperan dalam menjaga eksistensi populasi penyu juga menjadi arena bermain bagi ikan pari. Di situlah saya akan berlabuh.

Pulau Sangalaki merupakan bagian dari Kepulauan Derawan. Pulau yang akan saya kunjungi berikutnya dalam solo trip perdana ke Derawan. Sebelumnya saya asyik berdamai dengan ubur-ubur di Kakaban. Momen istimewa yang hanya dapat dinikmati di dua tempat di dunia ini. Tapi baru dapat kabar dari sepupu, di Togean juga ada ubur-ubur ramah seperti di Kakaban. Jadi penasaran kan!

Kali ini boat yang membawa saya dan enam teman baru dari tanah Eropa untuk menuju Sangalaki. Jarak tempuhnya sendiri palingan 30-40 menit saja dari Kakaban. Kami semua anteng dalam perjalanan karena memang ombak dan anginnya anteng pula.

Saya kira kami akan bersandar di dermaga pulau. Tapi hanya mengapung di perairan dekat pulau. Masih agak jauh dari bibir pantai. Tiba-tiba keheningan berubah menjadi aksi grasak-grusuk semua penghuni boat. Pemandu kami menyampaikan ada seekor ikan pari sedang berenang tak jauh dari boat. Secara dadakan kami berdiri dan mencari yang dicari.

Itu dia! Secara mengejutkan satu persatu penghuni boat langsung terjun bebas mengejar manta ray yang sedang “terbang melayang” di air. Saya sedikit terlambat, tapi akhirnya mampu mendekat, tapi sedikit takut-takut untuk lebih dekat. Maklum saja, ini kan pertama kali saya bertemu ikan pari manta, yang merupakan spesies terbesar di antara ikan pari lainnya. Plus, saya nggak pengen menganggu aktivitas main-mainnya.

image
Halo Sangalaki!
image
Teman baru yang akhirnya bisa kenalan juga.

Ah, seru banget lihatnya. Benar kata orang, ikan pari itu kayak terbang di dalam air. Elegan banget gayanya menyelam. Semua sibuk memotret dari segala sisi. Saya sih cukup santai menikmati pemandangan ini dari kejauhan.

Kami pun diberitahu si pemandu kalau sudah hampir enam bulan ikan pari tidak menampakkan diri di Sangalaki. Kemungkinan utama karena hewan ini mencari makan di perairan lain. Makin girang dong kami, merasa beruntung bahwa hari itu berjodoh dengan hewan mamalia ini.

Euphoria ikan pari kini beralih dengan kegiatan diving dan snorkeling. Lagi rombongan dipecah jadi dua tim, saya masuk di grup snorkeling, masih bersama Tudith and her cute boyfriend who’s wearing tight SpeedoEaaa.

Well, spot snorkeling di sekitaran Sangalaki kurang sebagus di Kakaban. Karang-karangnya tidak sepadat milik Kakaban. Banyak ruang kosong tanpa diisi karang. Beberapa kali saya temukan karang mati atau yang sudah hancur. Semoga bukan karena diinjak atau dirusak pengunjung.

image
Pemandangan bawah laut di perairan Sangalaki.
image
Tudith and her bf.

Ikan-ikan kecil kurang begitu ramai berenang. Cuma ketemu seekor penyu hijau di kedalaman. Sedikit kecewa sih. Akhirnya kami cuma berenang-berenang aja sambil foto-foto. Pasangan itu minta saya fotoin mereka dan nanti dikirim via email. Sayangnya kami lupa tukaran email..hihi.

Malas di air, saya naik ke boat. Sambil nunggu tim diving, makan dulu deh pisang beberapa buah, camilan langganan tiap kali melaut. 30 menit kemudian semua sudah di boat, siap kembali ke Derawan.

Dalam perjalanan pulang, penampakan kami semua terlihat sedikit capek, sedikit lapar, tapi masih kurang puas island hopping-nya. Di tengah jalan kami melihat kawanan lumba-lumba. Semua langsung sorak berteriak semangat. Trus semua mata melihat saya. Mereka minta saya ngomong ke nakhoda untuk putar arah dan mengejar hewan pintar ini.

Sayang si nakhoda bilang udah terlalu sore dan kami mesti ngejar waktu supaya tidak terlalu malam tiba di Derawan. Enam orang yang nggak ngerti Bahasa Indonesia dibuat penasaran menyaksikan percakapan teriak-teriak saya dan nakhoda karena kami duduknya berjauhan. Segera saya menyampaikan kabar sedih ke mereka yang nampak mupeng dan kecewa berat.

Sisa perjalanan kami semua hening. Mengintip keluar, langit mulai berubah warna. Semburat jingga kian melekat dengan langit. Mentari sudah di ujung cakrawala bertepatan dengan kaki menapak pasir Derawan.

image
Way back to Derawan Island.
image
After sunset.

Kami menuju dive center untuk mengembalikan peralatan menyelam dan menyelesaikan pembayaran jasa island hopping. Kami janji temu lagi untuk makan malam bersama jam delapan. Adios, for now.

Jam delapan, saya, Michael, Sandra, dan dua cewek anonim kumpul lagi, makan di tempat sate. Biasa aja sih satenya. Sambil makan kami saling share pengalaman jalan-jalan. Sandra dan Michael seru ngebahas pengalaman mereka diving di Indonesia. Mereka sudah sembilan kali ke Indonesia, mostly buat diving. Alor dan Flores jadi favorit.

Trus si cewek gimbal sedikit emosi pas cerita waktu dia di Cina. Dese nggak habis pikir dengan attitude orang-orang di Cina yang careless. Trus cerita soal keriwehan lalu lintas di Viet Nam pas ngebolang naik motor. Chaos banget katanya. Karena saat itu saya belum pernah ke Viet Nam, jadi manut-manut aja. Setahun setelahnya saya tiba di Ho Chi Minh City dan langsung mengamini komen si cewek gimbal. That city was crazy like hell!

Kemudian giliran cewek dari Spanyol yang mengakui diving di Kosta Rika tuh murah dan bagus. Dese bisa keliling dunia karena saudaranya kerja di maskapai penerbangan, makanya bisa dapat potongan harga tiket. Envy!

Trus giliran saya deh yang cerita soal perjalanan ke Queensland karena si cewek gimbal mau ke sana di akhir trip-nya. Sekalian saya promosi tempat-tempat keren di Indonesia yang mesti mereka datangi, seperti ke Tana Toraja juga Pulau Komodo.

image
Satu-satunya ATM di Pulau Derawan.
image
Kue sarang semut, salah satu kudapan di negeri pesisir Derawan.
image
Toko suvenir dengan baju-baju berwarna mencolok.
image
Kalau niat bawa oleh-oleh, nih bisa beli ikan asin.

Kelar makan, kami ketemu satu cewek dari Jerman, I forgot her name. Ternyata Sandra dan Michael pernah ketemu dia waktu di Malaysia. Trus barengan kami diajakin Michael ke pesta. Aheeiyy.. Michael dengar ada pesta yang diadain orang lokal. Entah pesta apaan. Dibikinnya di resto apung gitu.

Pas sampai, uda tinggal beberapa orang. Kami pun tanya, saya sih yang lebih tepatnya nanya. Pestanya udah kelar, padahal itu baru jam sembilan. Yaaa… Gagal deh pesta-pesta di pulau. Kami mau duduk aja dan pesan bir, cuma harganya terlalu mahal deh. Berlebihan banget mahalnya.

Semua balik badan dan jalan tanpa arah yang pasti. Trus siapa gitu usulin lihat penyu bertelur di sisi pantai yang lain. Oke-lah, ngikut aja. Daripada bengong juga di homestay. Kami jalan beriringan dalam kegelapan, semakin menjauhi rumah penduduk hingga bertemu pasir dan debur ombak.

Wilayah pantainya tak luas juga tak lebar. Gelap gulita. Untung bulan sedang purnama. Kami jalan membisu, mengendap-endap, takut ada penyu sedang bersarang. Cuma malam itu hanya menemukan jejak langkah penyu yang sepertinya tadi sempat mampir.

Di pojok sana ada dua pria dengan membawa ember di tangan. Asumsi kami merekalah pencuri telur. Kami pun penasaran dan tanya ke mereka. Yup, betul kan dugaan kami. Sepertinya mereka nggak dapat apa-apa malam itu. Ternyata hal-hal begini akan selalu menjadi persoalan tak berujung. Mau di Derawan atau di belahan Indonesia lainnya.

Kalau di sini kan mengendap-endap curi telur penyu. Nah waktu di Padang, saya lihat langsung banyak pedagang menjual telur penyu di pinggir jalan dekat Pantai Padang. Bahkan pemerintah setempat buta tuli lihat pelanggaran terjadi di depan mata. Again, be a wise person, everybody. Usahakan untuk tidak mengapresiasi hal-hal seperti ini.

Lanjut. Malam itu kami mengitari Pulau Derawan sambil ngobrol-ngobrol sepanjang jalan. Berhubung homestay saya yang pertama dilewati, sekalian pamit karena esok pagi sudah balik ke Berau. Bye guys, see you when I see you.

Malam berganti pagi, saya belum siap kembali ke daratan. Tapi apa daya, waktu memutus silahturahmi singkat dengan Derawan dan teman-temannya. Sebelum berangkat, saya sempatkan diri menelusuri pulau sekali lagi, sambil menambah stok dokumentasi.

image
Derawan di pagi hari.
image
Arrivederci!

Oh ya, kalau ingin bawa pulang buah tangan, saya lihat banyak ikan asin yang dijajakan. Bisa juga beli kue sarang semut dengan rasa manis yang dominan. Toko suvenir yang ada palingan menjual produk-produk pakaian ala pantai yang berwarna mencolok. Nggak ada yang istimewa sih.

Alright then, time to face it reality. Arrivederci! 

Note:
-Pulau Sangalaki merupakan pulau tak berpenghuni.
-Pulau ini menjadi tempat untuk pemeliharaan tukik dan sarang penyu untuk bertelur.
-Kita bisa mengambil bagian dalam proses pelepasan tukik ke laut atau mengintip penyu bertelur, tapi harus izin terlebih dahulu.
-Ikan pari manta juga kerap menyelam sekitaran Sangalaki.
-Ada 11 titik penyelaman di perairan dekat Sangalaki, yaitu:
gambar):
1. Channel Entrance
2. Coral Gardens
3. Turtle Town
4. Sandy Ridge
5. Manta Run
6. Sherwood Forest
7. Manta Parade
8. Manta Avenue
9. Eel Ridge
10. Lighthouse
11. The Rockies

-PJLP-

Advertisements

5 thoughts on “Last But Not Least, Sangalaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s