Menuju Lubang Kematian

image
Menerobos perut bumi, mencari sejarah yang terpendam.

Lubang pengap itu menjadi sumber kematian juga penghidupan. Di sana mereka menggerus perut bumi, menjarah emas hitam bagi para meneer dan mevrouw. Itulah lubang kematian, lubangnya Orang Rantai.

Sawahlunto dulunya hanya sebuah desa kecil yang tak dikelilingi perairan. Apa sih yang bisa diharapkan dari tempat yang terkesan terasing dan jauh dari peradaban ini? Namun situasi berbalik ketika W. H. de Greve menemukan batu bara pada tahun 1867. Belanda pun jatuh hati, melebarkan sayap, dan membuka tambang batu bara di banyak lokasi di Sawahlunto sejak 1891. Belanda getol sekali memburu barang tambang ini karena saat itu dunia sedang galak dengan mesin uap dan batu bara merupakan material pendukung yang utama.

Saya sendiri bingung, antara mesti berterima kasih pada de Greve karena sudah menemukan harta terpendam di negeri antah-berantah atau mengutukinya karena telah membangun mimpi buruk bagi Sawahlunto. Tapi yang pasti, batu bara mengubah segalanya.

Perjalanan sejarah batu bara ke kota panas ini memiliki daya tarik tersendiri. Walau cakupan wilayah Kota Tua-nya tak seberapa, namun masih tersisa bangunan-bangunan yang menjadi saksi bisu kisah pilu para Orang Rantai di era penjajahan. Orang Rantai adalah subjek penderita yang dipaksa bekerja menggali dan mengambil batu bara dari tanah Sawahlunto.

Beberapa lokasi sejarah yang kerap dikunjungi adalah Goedang Ransoem (dapur umum tercanggih abad 20 tempat memasak makanan bagi pekerja tambang), Museum Kereta Api Kota Sawahlunto dan Kereta Mak Itam (stasiun dan kereta pengangkut yang berperan dalam pendistribusian batu bara dari Sawahlunto ke Padang), Silo dan Sizing Plant (tempat menyimpan dan mesin pencuci batu bara), hingga reruntuhan Penjara Orang Rantai di kawasan Durian.

image
Termasuk museum yang cukup bagus untuk ukuran kota kecil.
image
Bagian dalam INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara berupa pajangan foto-foto Sawahlunto.
image
Rantai-rantai perengut kebebasan Orang Rantai.

Tapi ada satu objek yang tak mungkin dilewatkan karena menjadi sumber sejarah mengenai kelamnya perbudakan tambang di masa lalu. Adalah INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara & Lubang Tambang Mbah Soero yang terletak di tengah kota. Bisa jalan kaki 3 menit dari Taman Segitiga. Bangunan museum cukup modern, bersih, masih baru. Cukup bagus untuk ukuran kota kecil. Masuk INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara-nya gratis. Tapi masuk Lubang Tambang Mbah Soero wajib bayar tiket masuk plus kasih tip buat pemandu.

INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara serupa museum, terdiri dari dua lantai. Di dekat pintu masuk ada kotak kaca berisi rantai-rantai besi yang dulu diikat pada kaki dan tangan Orang Rantai (makanya mereka dinamakan demikian). Kalau keliling ruangan, terpampang banyak foto yang menampilkan Sawahlunto dan panoramanya masa kini. Ada juga dokumentasi hitam-putih dengan gambaran masa lalu.

Karena tidak banyak yang bisa dilihat, saya diantar ke ruang penyimpanan. Saya disuruh mengganti alas kaki dengan boots cokelat yang sudah disediakan, terdapat dalam beberapa ukuran. Kemudian mengenakan helm proyek. Dua atribut ini wajib dikenakan jika hendak menelusuri Lubang Tambang Mbah Soero.

Keluar bangunan museum, tapi dari pintu samping, saya berhadapan dengan halaman kecil. Lurus di sana tampak muka lubang. Di sisi kirinya ada tiga patung, seorang mandor Belanda sedang mengamati dua Orang Rantai yang sedang mendorong kereta pengangkut batu bara. Lokasinya lubang terlihat dempet sekali dengan pemukiman penduduk.

image
Ruang penyimpanan boots dan helm proyek.
image
Patung ikonik dekat Lubang Tambang Mbah Soero.
image
Pintu masuk menuju Lubang Tambang Mbah Soero.

Sebenarnya saya sudah dua kali ke sini. Tetap saja efeknya sama. Miris dan mengkerutkan hati. Kali pertama masuk lubang saya kurang mendapat informasi banyak, karena saat itu yang menemani bukanlah pemandu yang sebenarnya. Dia hanya bercerita seadanya. Setahun setelahnya saya kembali lagi, baru deh tahu banyak mengenai Lubang Mbah Soero.

Kali ini saya mau cerita pengalaman yang kedua. Lebih seru soalnya. Well, siang itu saya ke sana sama Adrian. Di depan lubang kami berkenalan sama Pak Win yang berbaju safari. Dia pemandu kami. Orangnya ramah, tahu banyak mengenai sejarah, dan bikin kaget orang..hehe.

Jadi ya, sebelum turun kami diajak berdoa bersama, memohon dilindungi selama di bawah sana. Dengan pengalaman historis juga mistis di dalam lubang ada baiknya berdoa dulu. Begitu amin, secara mengejutkan Pak Win setengah berteriak sedikit melotot dengan mata memerah menyapa kami dengan sambutan, “(((Bapak, ibu, sehat?)))” Ramah-tamah tersebut diikuti rangkaian penjelasan, masih dengan volume suara tinggi nan mencengangkan. Kasihan Adrian, doi pas banget di depannya. Saya sendiri habis-habisan nahan ketawa. Abis lucu sih. Di luar insiden di awal, Pak Win beneran pemandu yang OK.

Menuruni tangga mesti hati-hati karena pencahayaan yang temaram, lantai yang basah, serta sedikit curam. Saat ini ada dua level di bawah tanah. Cuma pengunjung hanya dapat melalui level pertama saja, karena di level lain masih digenangi air. Dekat lubang memang ada aliran Sungai Batang Lunto, airnya merembes hingga masuk ke kawasan tambang. Itulah mengapa lubang ini akhirnya ditutup dinding beton karena makin tinggi genangan airnya. Lalu ketika pemerintah Sawahlunto melakukan revitalisasi secara  berkesinambungan, lubang ini masuk dalam daftar perbaikan dan pada 2008 resmi dibuka sebagai objek wisata sejarah.

Pak Win menuturkan bahwa Lubang Tambang Mbah Soero dibuka sekitar tahun 1898. Kerap disebut juga dengan nama Lubang Tambang Soegar. Namanya sendiri berasal dari seorang mandor bernama Soero. Ia seorang pekerja yang tegas, taat beragama, dan disegani sesama. Walau begitu, tak banyak catatan yang merekam sisa hidupnya. Seperti apa sosoknya, keluarganya, bahkan tak ada yang tahu di mana makamnya.

Menginjak level pertama, lubang sudah dipermanis dengan paving block, walau masih basah. Penerangannya cukup, juga aman karena sudah dilakukan penguatan atap dan tiang penyangga. Suplai udara pun mengalir baik karena tersedia alat sirkulasi udara. Supaya penelusuran di dalam lubang lebih nyaman dan aman, pengelola hanya membolehkan maksimal 20 orang sekali kunjungan ditemani pemandu. Estimasi waktu kunjungan sekitar 15-30 menit.

Walau letaknya di bawah tanah, tapi sih nggak berasa pengap. Mungkin akan meresahkan pengidap claustrophobia. Walau jalannya sudah disemen dan dipasang paving block, tapi dinding lubang masih serupa asli. Beberapa bagian masih terlihat tonjolan batu bara yang kerap disebut emas hitam. Tapi ada larangan untuk menyentuhnya.

Tiap beberapa meter ada ceruk yang sengaja dibuat sebagai tempat berlindung. Karena zaman dulu di dalam lubang ada kereta mini yang terlihat seperti gerobak dan sering hilir-mudik mengangkut batu bara. Makanya tiap kali kereta mau lewat, para pekerja akan berlari dan berlindung dulu di ceruk itu. Dengar-dengar cerita, ada yang pernah tersangkut saat kereta lewat, ya karena terlalu lamban berlindung. Bagaimana nggak lamban, wong kakinya dirantai, trus capai juga kerja seharian, makan juga seadanya, belum kalau pakai dicambuk dan disiksa segala.

image
Langkah awal menuruni tangga nan curam.
image
Kata Pak Win, lorong ini sengaja ditutup karena ada alasan tertentu, mungkin sedikit mistis.
image
Jalanan lorong yang sudah aman dan nyaman untuk dilalui.
image
Photo by Adrian A. Mahakam.

Sambil jalan di lorong yang panjangnya mungkin beberapa ratus meter ini, kami pun dibawa pada satu kisah saat proses revitalisasi berlangsung. Pak Win menyatakan tim yang bekerja saat itu menemukan tulang-tulang manusia, tentu saja milik Orang Rantai. Sepertinya banyak yang menghembuskan nafas terakhirnya di sini.

Dirinya pun berkisah pengalaman salah satu pengunjung wanita yang dibukakan mata spiritualnya saat menelusuri lubang. Katanya wanita itu menangis hebat seusai keluar lubang. Secara ajaib dia melihat situasi di zaman perbudakan itu, menyaksikan bagaimana Orang Rantai disiksa dan dipaksa bekerja menggali batu bara. Perlakuan biadab yang disaksikan di depan mata itu tentu saja membuat wanita itu jadi menangis.

Merinding saya. Ngeri juga ya bisa lihat itu semua. Dalam hati berharap jangan sampai deh ada pengalaman-pengalaman spiritual seperti itu. Nggak yakin bisa kuat. Ada juga anak muda yang niat masuk lubang buat foto-foto penampakan. End up-nya, semua foto doi nge-blur semua. Itulah makanya Pak Win dari awal suruh kami berdoa dulu. Kemudian diwanti-wanti untuk menjaga kesucian hati selama di dalam.

Perjalanan di “perut bumi” berakhir dengan menaiki tangga tapi di pintu yang lain. Keluarnya sih persis di jalan seberang museum. Jadi lubangnya melintasi bawah jalan. Kemudian saya dan Adrian pamitan dengan Pak Win dan melanjutkan jalan-jalan sejarah ke Museum Goedang Ransoem. yang cuma berjarak 150 meter saja.

Prosedur memasuki Lubang Tambang Mbah Soero:
1. Wajib mengenakan boots dan helm proyek yang telah disediakan. Tidak ada biaya peminjaman.
2. Titip tas dan barang berharga di ruang penyimpanan.
3. Boleh membawa kamera ke dalam lubang.
4. Dilarang membawa korek api dan pemantik.
5. Dilarang menyentuh material batu bara.
6. Dilarang mengambil material batu bara.
7. Dilarang memisahkan diri dari pemandu dan rombongan.
8. Pengunjung wanita yang sedang haid dilarang memasuki lubang.

INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara & Lubang Tambang Mbah Soero
Jl. Muhammad Yazid
Sawahlunto
Tel: 0754-61725, 61985

Waktu buka:
Senin-Minggu, 09:00-17:30

Tiket:
INFO BOX Galeri Tambang Batu Bara GRATIS
Lubang Tambang Mbah Soero Rp8.000 (2013) plus tip pemandu

How to get there?
Pertama, terbang ke Padang dulu. Dari Jakarta ada beberapa maskapai, seperti:
-Garuda Indonesia
http://www.garuda-indonesia.com
-Sriwijaya Air
http://www.sriwijayaair.com
-Citilink
http://www.citilink.co.id
-Lion Air
http://www.lionair.co.id

Tiba di Padang, bisa sewa mobil ke Sawahlunto (Rental mobil Febriadi 081363300367). Atau naik bus (Bus Jasa Malindo dari Padang, Bus Emkazet dari Bukittinggi dan Batu Sangkar).

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s