Dapur Tercanggih Abad 20

image
Goedang Ransoem disebut-sebut sebagai dapur tercanggih di abad 20.

Nggak banyak museum yang dibangun dari bekas dapur. Tapi ada satu yang berdiri di Kota Sawahlunto, yakni Museum Goedang Ransoem yang bertitel dapur umum tercanggih di abad ke-20.

Kalau sempat menyimak tulisan saya sebelumnya mengenai Lubang Mbah Soero, objek wisata yang satu ini berkenaan dengannya. Masih satu kisah juga letaknya pun berdekatan. Berada di pusat Kota Sawahlunto, masuk dalam kawasan Kota Tua-nya. Nggak mungkin nyasar dan susah menemukannya. Kotanya kecil dan jalannya cukup mudah ditelusuri. Tanya orang juga pasti pada tahu kok.

Sedikit penjelasan, Sawahlunto sendiri merupakan kota tambang yang begitu populer dengan batu baranya. Tahun 1800-an, Belanda, lebih tepatnya William de Greve menemukan “emas hitam” di sini. Kemudian waktu berjalan dan Sawahlunto pun berubah dari desa terasing menjadi kawasan tambang paling berharga milik kompeni.

Untuk mengeruk barang tambang ini dari perut bumi, dipekerjakanlah Orang Rantai. Mereka korban kerja paksa. Mengingat pentingnya keberadaan Orang Rantai semasa penambangan, Belanda berusaha menyiapkan kebutuhan pangan bagi mereka. Itulah asal-muasal berdirinya Goedang Ransoem.

image
Penampakan bangunan yang masih berwujud asli, walau sudah melalui perbaikan.
image
Panci-panci besar menjadi alat memasak yang kerap digunakan.
image
Sedikit suram sih ruang pamer di museum ini.
image
Kompresor yang membantu kegiatan masak-memasak di dapur umum ini.
image
Contoh makanan yang disajikan tiap harinya.
image
Potret hitam-putih yang dipajang.

Kalau dilihat dari bangunannya, sudah mengalami perbaikan namun konstruksi dasar masih tersisa. Di sini ada beberapa bangunan yang dapat ditengok. Di dalam Kitchen Gallery, keadaan ruangan yang minim cahaya serta kesan tua begitu pekat terasa. Setiap pengunjung bisa melihat sendiri berbagai alat yang dulu digunakan untuk memasak. Dari kompresor yang berkenaan dengan uap panas pada tungku pembakaran, panci-panci super besar, serta aneka potret hitam-putih yang mengenang masa lalu. Di dalam kotak kaca juga terdapat etalase makanan yang dulunya disajikan pada Orang Rantai.

Saya kemudian keluar untuk melihat sendiri tungku pembakaran batu bara (Power Stroom) yang rupanya seperti speaker raksasa. Kotak berwarna merah menyala ini menjadi ujung tombak bagi kegiatan masak-memasak di era itu. Masih nampak baik, hasil revitalisasi. Ada pula menara tinggi, tinggi sekali, bercat putih. Bentuknya seperti corong. Menurut pemandu saya, itu adalah lubang pembuangan asap. Dibuat tinggi sekali supaya tidak mencemarkan lingkungan sekitar. Lalu di pojok sana, ada gedung IPTEK Center, yang isinya bertalian dengan catatan-catatan aktivitas sains dan pengetahuan.

image
Halaman belakang Goedang Ransoem.
image
Keliatan kayak stereo box.
image
Tungku pembakaran.
image
Gedung IPTEK Center.

Walaupun nggak banyak yang bisa dilihat, tapi sayang juga dilewatkan kalau lagi mampir di Sawahlunto. Apalagi dengan fakta-fakta yang menyebutkan besarnya pasokan pangan yang dihasilkan di sini, serta alat-alat yang digunakan, cukup pantas menyematkan titel dapur tercanggih abad ke-20. Next destination, Museum Kereta Api Kota Sawahlunto dan Kereta Mak Itam yang juga turut sumbang peran dalam masa penjajahan batu bara di Sawahlunto.

Beberapa fakta mengenai Goedang Ransoem:
1. Dapur umum ini menghasilkan 65 pikul beras, setara dengan 3.900 kg untuk setiap harinya.
2. Menu yang dimasak terdiri dari nasi putih, ubi, ikan asin, daging, telur asin, sayur sawi putih dan hijau, serta kol.
3. Menu di atas diberikan tiap siang dan malam hari.
4. Sedangkan untuk sarapan, disediakan lapek-lapek, dibuat dari beras ketan merah, dibubuhi kelapa dan gula merah serta dibungkus daun pisang. Sarapan diberikan tiap pukul 10:00, lengkap dengan teh.
5. Selain untuk Orang Rantai, pasokan makanan juga ditujukan bagi pekerja di rumah sakit.
6. Peralatan masak yang digunakan berukuran besar, terbuat dari campuran besi dan nikel dengan bahan bakar dari batu bara.
7. Uap panas untuk memasak dihasilkan dari tungku pembakaran batu bara (power stroom).
8. Sejak 1945, dapur umum ini tidak lagi memasak untuk pekerja tambang, tapi bagi TKRI. Tiga tahun kemudian, makanan-makanan dibuat dan dialokasikan kepada Kenil.

Museum Goedang Ransoem
Jl. Abdul Rahman Hakim
Sawahlunto
Tel: 0754-61985

Jam buka:
Selasa-Minggu
Pukul 08:00-17:00

Tiket masuk:
Dewasa Rp4.000
Anak-anak Rp2.000

How to get there?
Pertama, terbang ke Padang dulu. Dari Jakarta ada beberapa maskapai, seperti:
-Garuda Indonesia
http://www.garuda-indonesia.com
-Sriwijaya Air
http://www.sriwijayaair.com
-Citilink
http://www.citilink.co.id
-Lion Air
http://www.lionair.co.id

Tiba di Padang, bisa sewa mobil ke Sawahlunto (Rental mobil Febriadi 081363300367). Atau naik bus (Bus Jasa Malindo dari Padang, Bus Emkazet dari Bukittinggi dan Batu Sangkar).

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s