Dari Sawahlunto Menuju Emmahaven

image
Lintasi waktu bersama Emmahaven dan Mak Itam, tentu saja di Sawahlunto.

Jelajah Sawahlunto masih berlanjut. Memang kota kecil ini tengah berkembang dan begitu mengunggulkan wisata sejarah melalui Kota Tua-nya. Sebelumnya saya sudah menerobos perut bumi dan menelusuri Lubang Mbah Soero yang dulunya adalah salah satu lokasi penambangan batu baru. Kemudian menyeberang untuk singgah di Museum Goedang Ransoem yang merupakan dapur umum. Dulunya menjadi tempat menyediakan kebutuhan pangan para pekerja tambang atau yang biasa disebut Orang Rantai.

Kini, perjalanan sejarah membawa saya menuju Museum Kereta Api Kota Sawahlunto yang hanya berjarak jalan kaki 10 menit dari Goedang Ransoem. Serunya wisata Kota Tua di Sawahlunto ke mana-mana dekat. Bisa jalan kaki saja. Naik ojek juga bisa sih, kalau malas panas-panasan. Kalau angkot, kayaknya selama di sana nggak pernah lihat sih. Palingan mobil Elf, tapi itu kan rute dari luar kota.

Dari Goedang Ransoem, sepanjang jalan kaki kita akan melewati Lubang Tambang Mbah Soero, pastinya. Lalu ada Taman Segitiga yang kalau malam bikin saya keingatan akan Star Hollow di serial Gilmore Girls. Di taman ini ada Free Wi-Fi lho! Lalu melewati Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto yang dulunya merupakan tempat hiburan bagi para meneer dan mevrouw Belanda. Di pelatarannya juga tersedia layanan Free Wi-Fi.

Nggak nyangka kan kota seperti Sawahlunto bisa canggih begini. Jangan salah, mereka sudah punya fasilitas bebas internet-an ini sebelum di Jakarta punya lho! Saya ke sana empat tahun lalu dan sudah ada fasilitasnya. Jadi kalau malam-malam, anak-anak muda di sana akan nongkrong di taman sambil bawa laptop sekalian nongkrong sama teman-temannya. Asyik deh pokoknya.

Lanjut. Dari Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, saya jalan nanjak dan belok kiri. Dari situ sih museum sudah kelihatan, palingan jalan sekitar 200-300 meter lagi, trus sampai deh. Jadul banget penampakannya. Di bagian depan ada beberapa ruas rel, sudah termakan waktu.

image
Peron dan beberapa ruas rel dekat museum.
image
Penampakan Museum Kereta Api Kota Sawahlunto. Photo by Angga.
image
Mesin-mesin pengatur rel.

Museum Kereta Api terletak di stasiun. Dulunya merupakan Stasiun Sawahlunto, memang masih stasiun sih sekarang, cuma sudah nggak digunakan lagi. Di peronnya, terdapat jam klasik yang juga sudah lanjut usia.

Di pintu masuk museum terpampang papan bertuliskan lantang ‘Museum Kereta Api Kota Sawahlunto’. Di bawahnya ada pintu kaca yang kalau dari luar sih nggak terlihat seperti rupa museum. Masuk ruangan, lantai berkarpet dan ada meja penerima tamu (kayak kondangan) di satu sisi. Saya disuruh isi buku tamu lalu lepas alas kaki (kayak mau masuk masjid).

Area museum ada di sebelah kiri, di satu ruangan mini yang dimaksimalkan sedemikian rupa. Di dalam ruangan terdapat beberapa koleksi klasik berbagai peralatan perkereta-apian. Ada lampu, semacam lentera yang dulu digunakan sebagai tanda ketika kereta akan memasuki stasiun. Ada juga atribut penjaga peron (saya lupa namanya, juru lansir kalau nggak salah), miniatur lokomotif kereta api uap, serta potret hitam-putih yang menggambarkan peran Stasiun Sawahlunto di masa lampau.

image
Museum mini yang memaksimalkan betul penataan ruangannya.
image
Lampu tanda serupa lentera.
image
Atribut penjaga peron.

Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan yang lain, Stasiun Sawahlunto memiliki peranan dalam perjalanan sejarah tambang di Sawahlunto. Seperti yang diketahui, secara geografis letak Sawahlunto tidak dekat dengan perairan. Tentu saja akan menyulitkan dalam proses pendistribusian. Maka dari itu diputuskan untuk membangun jalur kereta api dengan rute Sawahlunto ke Pelabuhan Emmahaven yang sekarang dikenal dengan nama Teluk Bayur. Pembangunannya sendiri dimulai sejak 16 Juli 1889.

Sejak berdiri sebagai sarana penghubung dengan dunia luar, Stasiun Sawahlunto mulai didayagunakan untuk mengangkut batu bara menggunakan kereta uap bernama Mak Itam dengan jarak tempuh 151,5 km dan waktu perjalanan 10 jam non stop dengan kondisi jalan menanjak dan berkelok.

Karena Mak Itam merupakan kereta uap, tentu saja berbahan bakar batu bara. Konon dibutuhkan 1 ton batu bara untuk sekali perjalanan. Secara resmi aktivitas pengangkutan batu bara berakhir tahun 2000-an karena menurunnya produksi tambang. Kemudian stasiun ini dialihfungsikan menjadi museum per 17 Desember 2005.

image
Kereta Api Uap Mak Itam.
image
Rupa dalam gerbong Kereta Mak Itam.
image
Jalur perjalanan Mak Itam, somewhere in Silungkang. Photo by Adrian A
. Mahakam.
image
Tujuan akhir Mak Itam, Emmahaven, si Teluk Bayur.

Selain bangunan stasiun, sebenarnya pengunjung bisa menaiki Mak Itam. Saya sendiri sempat menaikinya beberapa tahun lalu. Lokomotifnya berwarna hitam gagah dengan desain klasik yang cantik. Waktu naik, seru sih, suara dan gemuruh kereta jadul ini membuat melayang ke zaman yang telah lewat. Waktu itu cuma 10 menitan aja naiknya, dari stasiun sampai Silungkang. Tapi sayang, karena usia yang telah lanjut, pemerintah setempat sudah mengistirahatkan kereta ini. Tapi kalau kepengen naik kereta uap, ada tuh di Solo, jasa wisata menaiki Sepur Klutuk Jaladara, kereta dengan lokomotif uap buatan Jerman tahun 1896.

Nah, kalau belum puas melahap sejarah, masih ada beberapa bangunan historis yang bisa dinikmati, mumpung di Sawahlunto. Yuk jalan kaki mengitari Kota Tua Sawahlunto!

Museum Kereta Api
Jl. Kampung Teleng
Sawahlunto
Tel: 0754-61023

Waktu buka
Selasa-Minggu
Pukul 08:00-17:00

Tiket masuk
Dewasa Rp3.000
Anak-anak Rp2.000

How to get there?
Pertama, terbang ke Padang dulu. Dari Jakarta ada beberapa maskapai, seperti:
-Garuda Indonesia
http://www.garuda-indonesia.com
-Sriwijaya Air
http://www.sriwijayaair.com
-Citilink
http://www.citilink.co.id
-Lion Air
http://www.lionair.co.id

Tiba di Padang, bisa sewa mobil ke Sawahlunto (Rental mobil Febriadi 081363300367). Atau naik bus (Bus Jasa Malindo dari Padang, Bus Emkazet dari Bukittinggi dan Batu Sangkar).

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s