Mengitari Kota Tua Sawahlunto

image
Si antik Sawahlunto.

Sawahlunto adalah satu dari beberapa tempat yang membuat saya jatuh hati sejak pandangan pertama (too cheesy yak). Tapi beneran ini. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, ada rasa menyenangkan dalam diri saya. Kota ini jelas berbeda dengan saudara-saudaranya di Sumatera Barat. Kesan Minang bahkan tak melekat erat kecuali ketika saya memulai perbincangan dengan penduduk lokal yang langsung mengeluarkan dialek khas.

Menepi di Sawahlunto serasa nggak lagi di tanah Minang. Pluralisme penduduknya begitu hangat terasa. Tidak dari kaum pendatang asal Jawa yang sebagian merupakan turunan dari Orang Rantai, tapi juga dari sisa-sisa kolonial yang nampak pada beberapa bangunan bersejarah yang menghiasi Kota Tua Sawahlunto.

Memasuki bagian akhir dari napak tilas sejarah tambang di Kota Sawahlunto, saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk berjalan bersama di Kota Tua Sawahlunto. Kawasan ini menjadi bagian penting dari tatanan sejarah dan bukti nyata keberadaan dan pengaruh kaum kompeni.

image
Kantor atau mungkin kediaman walikota Sawahlunto.
image
Taman Segitiga yang menjadi titik tengah Kota Tua Sawahlunto.
image
Pasar Remaja menjadi bagian dari kehidupan di kota ini.

Yang enak dari eksplorasi Kota Tua adalah kita hanya perlu berjalan kaki saja. Semua bangunan letaknya berdekatan. Waktu kali pertama ke Sawahlunto saya kurang begitu leluasa menikmatinya. Waktu itu lagi heboh dengan perhelatan Tour de Singkarak. Tapi saat itu yakin sekali akan kembali lagi ke sini. Eh, beneran kejadian. Setahun kemudian saya mampir lagi di Sawahlunto dan akhirnya berkesempatan menjelajah lebih luas.

Di Kota Tua-nya ada beberapa bangunan penting yang lahir dan berdiri bersama dengan keberadaan kota yang dulunya merupakan desa terpencil. Lubang Tambang Mbah Soero, Museum Goedang Ransoem, Museum Kereta Api Kota Sawahlunto, merupakan lambang sejarah kota tambang ini. Tapi masih ada beberapa gedung yang patut disambangi saat bertamu di Sawahlunto, antara lain:

1. Gedung Kantor Pusat UPO

image
Cat gedung berwarna salem menjadi simbol kota yang eye-catching.

Pagi itu saya bangun lebih pagi dari biasanya. Jam 6 pagi sudah keluar homestay yang letaknya cukup di luar kawasan Kota Tua, jauh di atas bukit. Saya dan Adrian memilih turun jalan kaki sembari menyeruput embun dan sinar pertama si mentari.

Super menyenangkan pagi itu. Sisa hujan semalam masih membekas. Kami hanya perlu jalan 10 menitan untuk tiba di Taman Segitiga. Taman ini menjadi semacam alun-alun kota tempat muda-mudi nongkrong. Selain dihubungkan dengan jaringan Free Wi-Fi, dekat kolam ada trek batu untuk refleksi.

Tepat di depan taman ada Gedung Kantor Pusat UPO yang dulunya disapa Ombilin Meinen. Dibangun sekitar 1916 oleh pemborong Cina dan menjadi simbol kota. Sekarang gedung bercat salem ini digunakan sebagai Kantor Utana Pertambangan Perseroan Terbatas Bukit Asam-Unit Pelayanan Ombilin (PT. BA-UPO).

2. Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

image
Dulu gedung ini menjadi tempat hiburan bagi pejabat Belanda.

Zaman dulu Gluck Auf, begitu sebutannya, merupakan arena bagi para pejabat kolonial dan noni-noni Belanda kongkow-kongkow seusai kerja. Katanya mereka sering main bowling di sini. Kebayang serunya suasana, musik-musik mengaduh, ada yang dansa dengan mevrouw bergaun panjang ala Victorian, trus bapak-bapaknya hisap cerutu sambil minum Whiskey. Tapi di lain sisi orang Indonesia ditawan kebebasannya, meringkuk di penjara atau mati di lubang tambang. Ironis.

3. Wisma Ombilin

image
Photo by Adrian A. Mahakam.

Tepat di seberang Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto terdapat Wisma Ombilin yang memiliki daftar panjang penuh sejarah sebelum difungsikan sebagai Hotel Ombilin. Bangunan ini memiliki arsitektur atap menggunakan gable maupun detail ventilasi yang menggunakan konstruksi rollage, tipikal bangunan kreasi Eropa.

Sebelum menjadi tempat menginap, Wisma Ombilin dulu menjadi tempat berkumpulnya pasukan khusus KARST. Lalu menjadi asrama tentara Belanda di masa agresi militer. Kemudian sebagai Kantor POM tahun 70-an, bangunan klinik, hingga berujung menjadi Hotel Ombilin.

4. Gedung Koperasi UPO

image
Terlalu banyak kabel melintang di sana-sini, merusak estetika gedung pas dipotret.

Di sebelah barat Hotel Ombilin ada bangunan bergaya Indo Europeesche Stijl yang mulai berdiri tahun 1910. Sekarang namanya Gedung Koperasi UPO.

5. Gereja Katolik Santa Barbara

image
Gereja Santa Barbara sudah berusia 90 tahun lebih.

Persis di sebelah Gedung Koperasi UPO ada bangunan religius. Gereja katolik yang masih tampil apik walau telah berusia lebih dari 90 tahun.

6. Sekolah Santa Lucia Sawahlunto

image
Santa Lucia dibangun tak lama setelah Gereja Santa Barbara.

Dekat dengan gereja, tepat di belakangnya terdapat gedung Sekolah Santa Lucia Sawahlunto. Pembangunan sekolah ini berdekatan dengan pembangunan gereja di sebelah. Sudah uzur juga usia si sekolah. Dari dulu bangunan ini hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan, khususnya menjadi tempat belajar anak-anak Belanda dan pekerja tambang. Berhadapan dengan sekolah ada Pasar Remaja yang atap bangunannya menggunakan detail khas bangunan Minang.

7. Rumah Pek Sin Kek

image
Rumah Pek Sin Kek mulai tergerus usia dan zaman.

Putar haluan dan kembali ke arah Gedung Koperasi UPO lalu belok kiri. Jalan sedikit, di sebelah kanan merupakan tempat tinggal Pek Sin Kek. Siapa sih dia? Beliau adalah salah satu tokoh yang tercatat sejarah sebagai saudagar penting di era lampau. Di rumah itu ia mendirikan toko makanan dan minuman yang disebut-sebut terbesar di Sawahlunto masa itu.

Dulunya ia menyewa rumah tersebut dari Haji Thaher tahun 1950. Rumahnya sendiri sudah berdiri sejak tahun 1906, tepat di Jalan M. Yamin. Dengan waktu panjang yang dimilikinya hingga abad ini, tentu saja bangunan ini mengalami pergantian fungsi dalam beberapa era. Dulu pernah digunakan sebagai gedung teater, tempat perhimpunan masyarakat Melayu, tempat berkumpulnya pelopor barisan maut, hingga menjadi tempat pembuatan es.

8. Masjid Agung Nurul Islam

image
Menara masjid tampak dari Museum Kereta Api Kota Sawahlunto.

Coba jalan mengarah Museum Kereta Api Kota Sawahlunto, terus saja. Ada Masjid Agung Nurul Islam. Yang khas dari masjid ini adalah menara tingginya. Mencapai angka 75 m dan dicatat sebagai menara masjid tertinggi di Asia saat itu.

Namun sebelum berperan sebagai tempat ibadah, bangunan ini terlebih dahulu melayani warga Sawahlunto sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pertama. Kemudian berkembang menjadi bengkel dan tempat persembunyian senjata tentara Indonesia zaman penjajahan Jepang.

9. Silo

image
Cantik juga kalau dipotret sore-sore menjelang sunset.

Tiap kali mau masuk Kota Sawahlunto, pasti akan bertemu pandang dengan tiga tabung raksasa yang berdiri sejajar. Ketiganya merupakan Silo. Bangunan ini merupakan tempat menyimpan batu bara. Kini sudah tidak digunakan lagi.

10. Sizing Plant

image

Persis di sebelah Silo ada pula Sizing Plant. Kalau yang ini berfungsi sebagai tempat beroperasinya mesin-mesin pencuci batu bara. Di bagian bawah ada corongnya gitu, dari situ batu bara akan keluar dan langsung masuk di gerbong kereta yang berada persis di muka corong. Jadi ada jalur rel di situ. Tapi sayang sudah tertutup rumput tebal.

Waktu ke sini juga saya dan Adrian sampai harus numpang masuk via kantor pariwisata Sawahlunto, biar dapat angle lain pas motret. Jalan lain ya terpaksa berumput ria cuma saya cukup parno, takut ada ular or something. Ya habis sudah nggak terurus gitu. Cuma kalau mau ke sini agak jauh untuk jalan kaki dari Kota Tua.

11. Puncak Cemara

image
Si antik Sawahlunto.

Last, ada satu spot yang nggak boleh dilewatkan. Namanya Puncak Cemara. Memang letaknya di luar Kota Tua, tapi dari sinilah kita bisa melihat Sawahlunto seutuhnya. Saya dan Adrian menutup hari itu sembari menyantap senja yang akan datang.

Terletak di atas bukit dengan jajaran pohon cemara, makanya dinamakan Puncak Cemara, kita bisa menyaksikan kota tambang ini dari sudut pandang terbaik. Dulunya lokasi ini merupakan area penambangan. Karena sudah tidak digunakan lagi, ditanamlah pohon cemara.

How to get there?
Pertama, terbang ke Padang dulu. Dari Jakarta ada beberapa maskapai, seperti:
-Garuda Indonesia
http://www.garuda-indonesia.com
-Sriwijaya Air
http://www.sriwijayaair.com
-Citilink
http://www.citilink.co.id
-Lion Air
http://www.lionair.co.id

Tiba di Padang, bisa sewa mobil ke Sawahlunto (Rental mobil Febriadi 081363300367). Atau naik bus (Bus Jasa Malindo dari Padang, Bus Emkazet dari Bukittinggi dan Batu Sangkar).

-PJLP-

Advertisements

9 thoughts on “Mengitari Kota Tua Sawahlunto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s