Dua Sisi Tanjung Aan

image
Dua sisi Tanjung Aan yang berlainan kontur satu sama lain.

Tanjung Aan itu seperti sebuah koin. Satu keping tapi memiliki dua citra yang kontradiksi satu sama lain.

Gelora pariwisata di Lombok Selatan memiliki jaminan keindahan yang tak bisa disangkal. Tidak seperti kawasan timur Lombok yang masih terisolasi dan minimnya sarana wisata (tapi masih perawan ,asri, dan memang bagus), wilayah selatan sudah maju dalam hal memberi kenyamanan bagi para pengunjungnya. Akses jalan sudah beraspal mulus. Sarana penginapan pun cukup banyak dan tersedia beragam pilihan bagi segala kelas pejalan. Tempat makan pun banyak. Termasuk pengelolaan objek wisata yang sudah terkoordinasi cukup baik.

Untuk urusan destinasi, Lombok Selatan berjaya dengan jajaran pantai biru-tosqa yang, aah, rasanya tak cukup jika saya tulis dengan kata indah. Walau memang indah, tapi sejumput kata tak cukup untuk menjabarkan rupanya. Ada beberapa pilihan pantai yang kerap menjadi tujuan wisata di sini. Seperti Pantai Kuta, Pantai Selong Belanak, Pantai Mawun, juga Tanjung Aan. Tenang, tenang. Semua akan saya bahas satu per satu. Tapi sabar. Kali ini giliran Tanjung Aan yang akan naik pentas dan dipertunjukan pada khalayak.

Pantai Tanjung Aan disebut sebagai tempat asal Putri Mandalika. Sedikit cerita dulu. Ada yang menyebutkan bahwa putri ini melompat dari bukit untuk menghindar dari kejaran pangeran yang ingin menikahinya. Kurang tahu juga kenapa si putri nggak pengen nikah. Pokoknya mitos berujar sang putri lompat dari bukit lantas bereinkarnasi menjadi nyale atau cacing laut. Dari sinilah lahir Ritual Bau Nyale, di mana cacing-cacing ini akan muncul ke permukaan pada waktu-waktu tertentu dan masyarakat sekitar akan memburu dan menjadikannya sebagai salah satu bahan olahan masakan. Biasanya sekitar bulan Februari.

Butuh perjalanan sejauh 75 km atau paling cepat satu setengah jam dari arah Kota Mataram. Kalau baru landing di Lombok International Airport di Praya sudah lumayan jaraknya. Tapi sangat dekat jika sudah berada di Pantai Kuta. Kalau dari Kuta cuma tiga kilo saja. Jangan kaget kalau ada Pantai Kuta di Lombok. Pantainya lebih cantik dibanding sepupunya di Bali. Itu pendapat subjektif saya lho.

image
Tanjung Aan versi pertama.
image
Versi ini terlihat pantai yang landai berombak tenang.

Kaki saya sudah berpijak dua kali di Tanjung Aan. Dua kali ke sana, saya mendatangi Tanjung Aan yang berlainan. Kali pertama supir saya membawa ke Tanjung Aan 1, sebut saja begitu. Setelah melewati Pantai Kuta, laju kendaraan melewati jalanan yang cukup sempit kalau dilewati dua mobil yang berpapasan. Jalanan sedikit bolong dibeberapa bagian. Tapi masih bisa dimaklumi. Tak berapa lama, sampailah kami di halaman parkir. Sederhana tak dibuat rapi. Dari tempat mobil berhenti pun sudah terlihat pantai. Saya jalan sekitar 50 m sudah menyentuh bibir pantai.

Tanjung Aan versi pertama menyuguhkan panorama pantai yang landai, ombak begitu tenang, areal pasir yang luas dan lebar. Awan-awan terbentuk cantik. Kalau nengok ke kiri, seperti memandang lukisan. Lengkap dengan perahu kecil beserta bendera. Di sisi kanan bisa melihat bukit-bukit hijau di kejauhan saling memeluk satu sama lain.

image
Latar di belakang bak lukisan. Photo by Eka Eldina.
image
Bukit-bukit hijau tampak saling berangkulan di sana.

Saya jadi meragu. Setahu saya sih Tanjung Aan banyak karangnya ya. Kok yang ini mulus-mulus saja, cuma ada sebagian kecil di sana. Tapi hanya karang yang tidur di pasir. Kemudian saya melayangkan pandangan jauh ke arah utara. Dari kejauhan nambak batu-batu hitam, banyak, juga tinggi. Jangan bilang itu yang saya cari. Cuma kalau ke sana jauh sekali jalannya. Bisa
memutar lewat sisi pantai. Tapi panasnya tak terkira, karena matahari tepat bersinar di atas kepala.

Akhirnya saya hanya bisa berbesar hati karena tak menuju yang dicari. Waktu tak mencukupi pula karena siang itu mesti mengejar waktu ke Desa Sadet lalu melaju ke bandara untuk terbang ke Bali. Ya sudahlah, belum rezeki.

Tapi, siapa sangka rezeki ke Tanjung Aan datang begitu cepat. Sebulan kemudian saya mampir lagi ke Tanjung Aan, kali ini melipir ke Tanjung Aan 2 yang jadi incaran. Kembali melewati rute yang sama, cuma mobil tidak belok di pintu masuk yang sama. Masih jalan terus hingga satu atau dua kilo lagi, baru deh masuk ke pelataran parkir. Nah, ini baru benar. Ini nih Tanjung Aan yang sesungguhnya, yang sering lihat di foto-foto.

image
Tanjung Aan versi kedua.
image
Karang-karang berhamburan di pinggir laut.

Ada dua area pantai. Sebelah kiri nampak lebih santai tanpa direcoki karang. Sedangkan bagian kanan menjamur dengan batu-batu hitam yang nampak tak tergoyahkan. Namun saya malah memilih naik satu bukit yang berada di antara keduanya. Dari bukit inilah dapat menyaksikan panorama Tanjung Aan seutuhnya. Gaduh ombak menyambar karang dan bebatuan. Tak ada hening. Tapi dalam kebisingan sanggup mendamaikan hati. Duduk di satu sudut, membisu tak bergeming, hanya ria di hati. Kembali meyakini pantai mampu menyembuhkan segala gelora.

Turun dari bukit, saya coba mendekati batuan hitam yang diincar para fotografer. Tapi karena saya malas foto-foto, akhirnya minggat ke sisi pantai yang lebih tenang. Selonjoran di pasir di bawah pohon teduh lalu buka laptop dan mulai nyicil tulisan. Deadline, cuy…hahaha. Enak juga ya kerja di pinggir pantai. Kalau bosan, tinggal angkat muka dan lihat pemandangan yang menyegarkan.

image
Naik ke bukit supaya bisa lihat pemandangan seutuhnya.
image
Hati-hati kalau ingin mendekati karang-karangnya.

Cuma ada sedikit gangguan ketika saya didatangi ibu-ibu penjaja kain tenun yang getol tanpa menyerah menawarkan barang dagangannya. Padahal sudah ditolak halus sampai sedikit nyolot, tapi tetap saja si ibu gigih bertahan. Situasi kayak begini cukup nyata terlihat kalau ke sini. Ada beberapa pedagang kain yang berkeliaran menjajakan barangnya di pinggir pantai. Tapi di luar itu, Tanjung Aan got the best credit from me.

How to get there?
Pilihan terbaik adalah menyewa kendaraan roda empat. Kalau kuat, bisa saja naik motor. Perjalanannya memakan waktu 1,5-2 jam. Rute yang bisa ditempuh yakni Mataram-Cakranegara-Kediri-Praya-Batunyale-Sengkol-Rambitan-Sade-Kuta-Tanjung Aan.

Note!
-Waktu itu tidak ada tiket masuk. Hanya bayar parkir saja Rp10.000 (2014).
-Dari Tanjung Aan 2 bisa sewa perahu (minimal Rp250.000) menuju Batu Payung. Itu lho, pulau yang jadi tempat syuting iklan rokok yang masak-masak di pinggir pantai.
-Bulan Februari Tanjung Aan akan ramai dengan momen Bau Nyale.
-Tersedia warung makan dan minum di sini.

-PJLP-

Advertisements

3 thoughts on “Dua Sisi Tanjung Aan

  1. Dulu saya pertama kali dateng Agustus 2009 masih sepi. Katanya mau dibangun hotel di situ. ENtah sudah terlaksana atau belum ya? Sayang juga waktu itu mendung padahal hitungganya masih kemarau. Yah, semoga suatu saat nanti bisa ke sana lagi dan memang bener2 jauh dari Mataram. Kalau nggak bawa kendaraan pribadi (dulu nyewa sih) susah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s