Blusukan Demi Si Haram

image
We are food hunter.

First and foremost, (((Happy birthday Jakarta!))) Thank you for accepting me since 24 years ago. I love you, sometimes hate you, then love you again, yeah, there are up and down feeling about you. But for sure you’ll always be my heart.

Berhubung hari ini ulang tahun Jakarta yang ke-… (ayo yang ke berapa?), saya pengen share pengalaman waktu Enjoy Jakarta beberapa waktu lalu. Salah satu cara menikmati Jakarta ya dengan kulineran. Tersebar banyak tempat makan yang wajib dicoba, termasuk yang akan saya ceritain. Lets begin the story

Hari Sabtu itu enaknya posesif sama kasur, bantal, peluk guling erat-erat trus baru bangun di atas jam 10. Tapi Sabtu itu ada tiga cewek malah bangun pagi, siap-siap, lalu bergegas menuju utara Jakarta. Misinya cuma satu, makan enak.

Pelakonnya ada saya dan Inne, dua pemakan babi kelas berat yang hari itu berangkat dari kediaman kami dalam keadaan perut kosong. Rencananya kami akan mengguncang Gang Gloria..wkwkwkwk. Kami mau berburu kuliner haram a.k.a babi yang nikmatnya luar biasa. Ada Cindy juga, temannya Inne. Walaupun dese nggak makan bebong (baca: babi), tapi tetap mau ikutan karena penasaran juga sama kuliner di gang sempit itu.

Jam 9 pagi kami janjian di halte Trans Jakarta Glodok. Saya sampai duluan, tumben. Duo Palmerah itu agak sedikit telat, jadi saya masih sempat numpang Wi-Fi-an dulu di halte. Lumayan, bisa download beberapa lagu. Setelah ketemuan, kami jalan kaki ke Gang Gloria. Turun jembatan penyeberangan, uuuhh..bau!! Langsung tercium bau pesing yang amit-amit deh. Di pojokan ada dong satu bapak lagi nempel sama tembok dan pipis. Iihh.. Disunat aja nih orang-orang yang doyang kencing sembarangan.

Anyway, untuk menuju kawasan perniagaan Glodok, kami hanya perlu jalan 10 menitan. Sepagi itu sudah ramai aja. Pas di ujung jalan masuk ke kawasan Pancoran, Cindy beli cakwe Medan. Ukurannya gendut-gendut dan lebih besar dari cakwe-cakwe pada umumnya. Enak pula. Tapi lupa harganya berapa. Nggak mahal sih, orang belinya di pedagang gerobak gitu.

Sambil makan cakwe kami lanjut jalan. Lewat depan toko orang, agak sempit, tapi nyaman-nyaman aja. Palingan cuma jalan 300-400 m kemudian sudah sampai di muka Gang Gloria. Penampakannya seperti gang pada lazimnya yang sempit, semrawut, kusam, rada kotor, dan pasti sekelebat muncul .pikiran untuk mundur trus kabur cari makan di tempat lain.

image
Pasukan makan enak.
image
Tak Kie versi lawas.
image
Areal Tak Kie yang serba sederhana tanpa kesan mewah.
image
Sarapan endeus, Es Kopi Susu dan Bacang Babi.

Well, do not judge the book by its cover. Walau terlihat kurang meyakinkan, ayo terus maju melangkah, karena di dalam sana ada setumpuk makanan yang nikmatnya luar biasa. Bagi Jakartans, mestinya sih harus pernah ke sini, walaupun cuma sekali aja. Satu titik kuliner yang wajib disambangi. Eits, isinya bukan makanan non halal aja, ada kok menu-menu lain.

Perhentian pertama kami tak lain dan tak bukan, Es Kopi Tak Kie. Pada kenyataannya kami bertiga bukan penikmat kopi, tapi kekeuh pengen ke situ dan ngopi..hehe. Penasaran sama minuman yang dibuat sederhana tanpa mesin kopi canggih ala kedai-kedai kopi yang berharga hingga ratusan juta itu. Kami pesan Es Kopi dan Es Kopi Susu yang cuma seharga Rp13.000 saja. Kopinya rasa jadul. Enak! Suka! Prefer yang kopi susu. Katanya rasanya masih konsisten seperti waktu pertama kali berdiri. Luar biasa ya!

Tak Kie sendiri tempatnya sederhana banget. Ruangan tanpa AC, terdiri dari kursi dan meja kayu, rada sempit, dan cukup riweh karena orang mondar-mandir. Selain jual kopi, ada juga bakmi dan Nasi Campur. Sempat kami ngobrol sama istri dari anak atau cucunya (lupa saya) yang punya Tak Kie. Sambil motong-motong bawang dia cerita Tak Kie sudah hampir seabad umurnya. Dan sampai sekarang nggak pernah sepi.

image
Must try, Bakmi Amoy.
image
Macam-macam menu di lapak Bakmi Amoy.
image
Semuanya enak..hehehe.
image
Kalau Nasi Campur sama ya wujudnya di mana-mana.

Lanjut seruput kopi. Mestinya ada temannya nih. Lihat bacang, langsung sikat. Enak! Pakai babi pula. 1 buah harganya Rp13.000. Trus lirik Bakmi Amoy yang buka lapak persis di depan Tak Kie. Langsung ajak Inne pesan bakminya.

Demi menghindar perut kenyang sebelum waktunya, kami hanya pesan seporsi Bakmi Babi buat di-share. Kalau nggak salah harganya Rp25.000. Trus kami beli juga Siomay, Bakso Goreng, dan Risol. Masing-masing cuma Rp5.000 aja. Dan iya, semuanya enak. Untuk bakmi tersedia beberapa pilihan mie. Ada juga menu Nasi Campur. Tapi memang untuk kenyamanan makan, lapak Bakmi Amoy seadanya banget. Jadi lebih baik nongkrong di Tak Kie trus pesan Amoy. Jadi sekalian gitu.

Karena udah lama nggak makan bebong, rada kalap juga tuh. Tapi mesti ditahan-tahan, soalnya masih banyak yang pengen dicoba. Keluar Tak Kie, lanjut jalan. Destinasi berikutnya Gado-Gado Direksi. Sempat nanya arah karena nggak tahu letaknya. Katanya jalan terus hingga ujung gang, trus belok kiri. Ada warung warna biru, nah, itu tempatnya.

image
Aneka camilan di toko yang kalau nggak salah namanya Kawi.
image
Banyak bahan-bahan makanan juga dijual di sini.

Sampai di ujung gang, ada toko makanan, Kawi kalau nggak salah. Masuk bentar di situ, sekalian ngadem, mumpung tokonya pakai AC. Dulu pernah ke sini, soalnya seru sih lihat banyak makanan yang jarang dilihat di toko-toko kebanyakan. Makanan kaleng produk Cina cukup banyak. Termasuk daging Ma Ling yang wuenak itu.

Kelar cuci mata, kami kembali mencari warung biru yang langsung dikenali dari jauh. Again, penampakannya jauh dari deskripsi rapi, bersih, nyaman. Tapi gado-gadonya sudah kondang sejak dulu karena banyak dibeli para direksi. Makanya toh namanya begitu.

Saat itu hanya kami pembelinya. Sepertinya mereka juga masih siap-siapin bahan. Langsung pesan seporsi gado-gado dengan takaran cabai nggak terlalu pedas. Kelihatannya sih normal aja. Dari cara bikin, bahan-bahannya, semuanya nggak beda secara signifikan. Mungkin pembedanya ada kerupuk udang.

image
Shocking pink sign.
image
Sederhana banget tempat makannya.
image
Rp25.000 buat seporsi gado-gado.
image
Sibuk amat sih tante mainan hape.

Setelah dijamu ramah sama ibu-ibu penjajanya, kami bertiga mulai beraksi, bukan makan tapi foto-foto dulu. Pokoknya sepanjang acara makan enak ini terpola deh skema kami. Datang, foto tempat, ngobrol-ngobrol sama pemiliknya, makanan datang lalu foto makanan, terus icip-icip, abis itu sibuk sama hape masing-masing buat edit foto, kemudian posting di Path..hihi. Ngeksis amat yak.

Balik lagi soal Gado-Gado Direksi, he eh, enak. Bumbu kacangnya yang bikin enak. Kental, gurih, paling enak digadoin pakai kerupuk udang. Harganya Rp25.000 saja pemirsa. Sedikit mahal dari standar harga gado-gado, apalagi dengan perhitungan ini jajanan kaki lima. Tapi must try-lah.

Pamit dari situ agak bingung mau nyari apa lagi. Terus kepikiran Rujak Shanghai. Di sini juga populer dengan makanan itu. Begitu pun Rujak Juhi. Kembali tanya-tanya orang di mana bisa beli Rujak Shanghai, trus ditunjukkin arah kembali ke tempat kami masuk lalu belok kanan. Benar deh, ketemu juga.

Lapaknya cuma booth gitu dan jadi satu ruangan sama Ayam Goreng Pemuda. Tanpa basa-basi kami pesan satu porsi aja. Sebenarnya nggak tahu juga kayak apaan rujaknya sampai ternganga sendiri lihat komposisi bahan-bahannya. Segala bahan dicampur jadi satu, tapi perpaduannya ajaib banget deh.

image
Lapaknya cuma sepetak.
image
She scared of jelly fish.
image
Juhi, semacam cumi-cumi.
image
Kelihatannya cantik ya, tapi…

Bahan utamanya juhi, semacam cumi-cumi. Ukurannya gede, trus direbus. Lalu, ada ubur-ubur, juga direbus. Disusul kangkung, masuk juga dalam panci rebusan. Okay, its getting weird. Setelah semua sudah matang, trus dipotong-potong tuh. Tapi “keajaiban” Rujak Shanghai masih berlanjut.

Satu per satu bahan lain dijejalin dalam piring. Selain juhi, ubur-ubur, dan kangkung, ada juga lobak serta ketimun. Lalu dibubuhi dua saus dan saus tomat buatan sendiri dengan warna fushia yang super cute. Terakhir, tumbukan kacang tanah jadi topping pemanis. Asli jadi nggak kepengen makan. Udah keburu enek duluan. Habis semua bahannya nggak nyambung gitu.

Begitu disajiin kami cuma lihat-lihatan sambil nunggu siapa yang mau jadi korban buat makan pertama. Ya udalah, saya nekat, coba makan. Mmmh… Weirdo banget ini rujaknya. Bingung juga mau bilang rasanya mirip apaan. Yang pasti nggak suka ubur-ubur dan juhinya. Masih amis dan kenyal banget. Tapiiii anehnya,  kangkungnya pas sama saus tomatnya. Makin aneh pas Inne bilang suka. Wh@t the.. $*@₩×₩???!! Cukup sekali aja deh makan ini.

Menjelang siang saya merasa perlu cari kudapan buat nutupin sisa-sisa Rujak Shanghai. Kami pun melenggang nyebrang ke arah pertokoan Pancoran. Di lorong-lorongnya lebih ramai lagi sama tukang jualan. Kami milih masuk di salah satu gang yang bagian mukanya dijejalin pedagang buah. Terus jalan trus sampai lihat satu tempat makan yang keliatan paling rapi dan bersih dari semua yang sudah kami lewati.

Masuk, nggak, masuk, nggak, kami sepakat masuk ke Warung Mie Belitung. Tempatnya nggak gede-gede banget. Kayak rumah-rumah antik khas orang Tionghoa gitu. Cute deh. Pajangan dan detail tempatnya lucu-lucu deh. Cuma satu aja kekurangannya, rada panas.

image
Pajangan dari iklan zaman dulu.
image
Mie Belitung tuh tempatnya antik dan lucu-lucu pernak-perniknya.
image
Cempedak goreng.

Pengennya pesan Mie Belitung, tapi perut udah terlalu sesak. Cempedak Goreng dan Es Jeruk jadi pilihan aman. Enak juga ini. Es Jeruknya segar banget. Kalau harga, mmh… lupa. Minumnya sekitar 11-15 ribu. Cempedak seporsi juga nggak lebih dari 20 ribu. Habis itu kami udik nyobain toilet-nya. Kirain bakalan bau dan jorski, eh, ternyata bersih dan lucu juga. Ada hiasan segala di temboknya.

Kemudian kami lanjut jalan, blusukan di lorong-lorongnya. Ada yang lebar ada yang sempit banget. Macam-macam deh yang bisa dilihat. Dari makanan, pakaian, mainan, apa aja deh. Karena nggak ada yang dicari lagi, kami hijrah
ke restoran Bakmi Gang Mangga.

Terpaksa naik taksi dulu ke restoran yang letaknya dekat Halte Mangga Besar. Sebenarnya yang kita datangin tuh bukan tempat di Gang Mangganya. Cuma karena udah malas ngubek-ngubek, cari yang gampang aja, persis di pinggir jalan raya.

image
Bektim juga jadi incaran di Pancoran.
image
Camilan here. Camilan there. Camilan everywhere.
image
Bakmi Babi Komplit khas Gang Mangga.

Tempatnya nyaman dan lagi sepi saat itu. Walau di dalam perut  makanan sudah desak-desakan, masih nekat diisi Bakmi Babi Komplit dengan pilihan mie yang lebar-lebar. Udahlah, nggak usah ditanya rasanya. Saya sama Inne sukaria bisa icip tuh mie. Oh ya, pesan juga Juice Pala, enaak!

Sebenarnya petualangan makan enak kami masih berlanjut hingga PIK, perut kami fleksibel sekali yak. Tapi ceritanya saya pending dulu. Go to go, almost 3.00 am.. Selamat sahur semuanya.

How to get there?
Paling enak naik Trans Jakarta jurusan Kota, lalu turun di Halte Glodok. Lalu jalan kaki ke arah perniagaan Glodok. Bisa juga naik Commuter Line turun di Stasiun Jakarta-Kota, trus naik angkot apa aja yang ke arah Glodok.

Note!
-Semua jajanan dibuka dari pagi sampai sore. Tak Kie kalau nggak salah cuma sampai siang aja.
-Kenakan baju super nyaman, alas kaki nggak usah rapi-rapi amat, bawa topi dan kacamata hitam.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s