Nothing Can’t Stop Us

image
We’re jump!

Salah satu perjalanan yang berkesan ya trip ke Bali with my two bitches. Waktu terbang, membawa lima tahun berlalu cepat. Nggak nyangka udah setengah dekade lalu kami bergila ria di Pulau Dewata. Nggak nyangka juga kalau saya butuh waktu selama ini buat nulis perjalanannya. Maafkan saya teman-teman. Padahal ini perjalanan perdana pake duit sendiri deh, jadi membekas banget. Asiiikkk…

Lagi-lagi karena Timehop saya diingatkan perjalanan ini. Timehop bisa jadi racun karena bikin mupeng sama perjalanan-perjalanan terdahulu. Tapi seru juga sih bisa nostalgia, trus re-post and share di medsos yang akhirnya bikin tambah galau karena kangen akut sama perjalanan itu dan momen-momennya.

image
Smile!
image
Sebenarnya biasa aja sih pemandangannya, tapi…

Baiklah, saya mulai berkisah ya, tapi lebih baik dipersingkat di bagian awal. Intinya kami beli tiket promo Air Asia (what else) yang saat itu memang lagi mencengangkan banyak orang karena harganya murah gila. Jadi termasuk generasi pertama tuh yang menikmati terbang murah ala maskapai Malaysia ini.

Peserta perjalanan ada Septy, Eka, dan saya tentu saja. Rini diajakin juga tapi dia nggak bisa ikut. Kami bertiga eh berempat sudah sahabatan dari SMA. Karena nggak pernah jalan-jalan bareng (pada akhirnya bisa jalan berempat sih), kemudian promo tiket murah muncul dan kami kangen Bali, hingga akhirnya sampai juga di Pulau Seribu Pura. Yeay!

Pilihan ke Bali karena kami belum puas keliling-keliling di sana. Terakhir ke Bali waktu study tour zaman SMA. Dari sebelum berangkat aja udah ribet banget saking semangatnya. Waktu itu juga masih amatiran banget soal jalan-jalan. Tapi seru sih dengan segala kehebohan dan persiapan super duper berlebihan. Mana sebelum berangkat sempat berantem sama Eka pula dan nggak ngomong sekian lama. Duh, drama deh..hehehe.

Anyway, total empat malam kami di Bali. Cukup beragam objek wisata yang kami didatangi. Dari Museum Antonio Blanco di Ubud, main-main di Pantai Padang-Padang, Dreamland, water sport di Tanjung Benoa, ke GWK, Pantai Geger, plus makan di sana-sini.

image
Septy & Eka.
image
One fun day!

Tiap tempat di atas berkesan sih. Ada ceritanya masing-masing. Tapi saya suka waktu kami ke Pura Ulun Danu. Tempat wisata yang menurut saya nggak kayak di Bali. Suasana sekitar Danau Beratan dan hawa sejuknya super menyenangkan.

Jadi waktu itu hari kedua di Bali tapi hari pertama kami mulai eksplor. Karena baru sampai hampir tengah malam sehari sebelumnya. Sesuai itinerary, kami akan ke Ubud trus lanjut Bedugul. Saya menikmati banget laju perjalanan ke Bedugul. Ya itu, hawanya berubah sejuk, kiri-kanan lihat perkebunan penduduk, malah kabut mulai beraksi menutup pemandangan. Sesekali serasa lagi jalan di atas awan, karena kabut tadi. Kami sempat berhenti buat foto-foto, padahal sih view-nya lagi biasa aja. Namanya juga turis norak..nyahahaha.

Kembali jalan, lambat laun mulai nampak Danau Beratan di sisi kanan. Kelihatannya biasa aja. Tapi langsung berubah pendapat waktu lihat danau dengan dua bangunan pura di dekatnya. Kabut menyelubungi latar di belakang danau sampai-sampai kami nggak tahu ada apa di belakang sana. Are we in nirvana?

Dari pintu masuk aja sudah kelihatan ramai dengan jajaran bus pariwisata. Keluar mobil sewaan, mata lebih banyak menemukan turis asing ketimbang milik lokal. Kelar bayar tiket masuk (lupa waktu itu harganya berapa), kami jalan terus, terus, kemudian merapat tepat di sisi Beratan. Hawa sejuk sedikit dingin menusuk kulit.

image
Mmmh…
image
Sesi pemotretan masih berlanjut.
image
Lama-lama makin absurd.

Karena waktu itu masih newbie, jadinya kami lebih sibuk foto-foto narsis ketimbang mendokumentasikan panorama. Rada nyesel juga saya. Pose lompat jadi andalan utama ke manapun kami melangkah. Cape juga cuy lompat berulang kali. Apalagi kalau hasil fotonya kurang maksimal. Misalnya pas jepret saya masih lompat, Eka udah mendarat duluan. Atau Septy dan Eka udah pas lagi “melayang”, eh fotonya shaking. Ya gitu deh, mesti ulang lagi dan lagi dan lagi. Fiuh… Sama persis waktu kami jumpalitan di Sam Poo Kong, Semarang. Nggak tahu diri ya kami, lompat-lompat di tempat sakral.

Lokasi foto awalnya dekat danau, persis di pinggirnya. Trus maju ke arah dekat puranya. Trus ketemu satu lokasi yang ada pohon-pohon cemara dan kursi-kursi taman gitu. Hijau banget. Rada sepi pula, makinlah kami beraksi. Duduk, berdiri, lompat, dari gaya sok asyik sampe absurd tak berujung, semua kami lakoni…hahaha. Dimaklumi aja ada beberapa gaya yang abege banget. Maafkan kami yaa! *ala-ala Takeshi Castle.

Sebenarnya nggak banyak juga yang bisa saya ceritain. Memang karena nggak ada kejadian yang gimana-gimana. Palingan pas Septy nggak sengaja ketemuan sama oom-nya pas mau balik. Udah, segitu aja. Datar amat ya..hehehe. Sekali-sekalilah jalan tanpa kehebohan.

image
Yeehaaww!
image
Yeay!
image
They look so happy or crazy?!

Pokoknya kalau baru pernah ke Bali, Pura Ulun Danu wajib dikunjungi. Pura ini punya sejarah yang sedikit orang tahu. Saya aja baru tahu pas mau nulis ini, hasil browsing-browsing. Kalau pengen tahu lebih lanjut,Ā  ini cerita sejarah di balik Ulun Danu yang termasyur.

Need to know!
Tiket
-Turis Domestik
Dewasa Rp10.000
Anak-anak Rp7.500
-Turis Asing
Dewasa Rp30.000
Anak-anak Rp15.000

Parkir
Motor Rp2.000
Mobil Rp5.000
Bus Rp10.000

Note:
-Berpakaian yang sopan karena ini kawasan sakral.
-Dilarang memasuki pura, kecuali memang ingin berdoa.
-Bawa pashminah, jaket atau cardigans kalau nggak kuat hawa dingin.

Ps: All photos by Septiany Utami Dewi, Eka Eldina.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s