Si Kapitan Medan

image
Si kapitan Medan.

Nama saya Tjong Fung Nam. Tapi orang-orang lebih familiar dengan sapaan Tjong A Fie. Saya punya rumah cantik, ada di Medan. Mereka menyebutnya Tjong A Fie Mansion.

Awalnya saya bukanlah siapa-siapa. Hanya orang sederhana yang punya kehidupan sederhana. Saya keturunan orang Hakka, dari Tiongkok sana. Lahir dan hidup di abad 19 seakan membatasi langkah untuk maju. Saya terpaksa putus sekolah dan bersama kakak membantu usaha dagang orang tua.

Untungnya saya cekatan, cerdas, juga pemimpi ulung. Asa untuk memiliki hidup yang lebih baik membuat saya nekat meninggalkan tanah leluhur dan mengembara jauh hingga ke tanah Hindia Belanda. Bayangkan, saya yang baru berusia 18 tahun, hanya membawa modal 10 Dollar perak uang Manchu. hijrah ke Medan menyusul kakak, Tjong Yong Hian yang kala itu sudah menjadi pembesar di sana.

Walau punya saudara yang telah meraih sukses di negeri orang bukan berarti kehidupan saya pun jadi mudah. Pindah ke Medan membuat saya mesti berusaha lagi dari nol. Saya bekerja di toko Tjong Siu Fong. Sehari-hari bertugas mencatat perbukuan, melayani pedagang, menagih utang, dan pekerjaan administrasi lainnya.

Mereka bilang saya ulet dan memiliki watak kepemimpinan yang menonjol serta pandai bergaul. Saya sendiri tidak suka candu, judi, atau pun main perempuan. Makanya dengan mudah bisa meraih simpati banyak orang.

Dengan segala usaha dan kerja keras, saya akhirnya menjadi Kapitan atau pemimpin kaum Tionghoa di Medan, menggantikan kakak saya di tahun 1911. Berubahnya status tentunya juga merubah kehidupan saya seutuhnya. Terpujilah dewa-dewi di langit, akhirnya kehidupan saya menjadi lebih baik, seperti yang saya impikan dulu. Saya memiliki perkebunan teh, tembakau, kelapa di beberapa wilayah. Turut menaruh modal di aktivitas pertambangan di Sawahlunto. Serta terlibat dalam berbagai bisnis lainnya.

image
Tjong A Fie Mansion masa lalu.
image
Tjong A Fie Mansion masa kini.
image
Gapura depan yang dihiasi ornamen cantik pada bagian atap.

Wujud keberhasilan semua itu salah satunya saya wujudkan melalui rumah cantik yang berdiri kokoh sejak tahun 1900. Banyak yang memuja keanggunan rumah saya ini. Jelas rumah ini cantik, soalnya ada banyak budaya yang terpancar dari kediaman yang berada di daerah Kesawan, tepatnya di Jalan Ahmad Yani No. 105. Cina, Eropa, Melayu, bahkan unsur Art Deco menjadi pendukung keelokan Tjong A Fie Mansion.

Ayo, mari masuk. Saya punya banyak cerita mengenai rumah ini. Dari luar rumah saya tampak khas ala Cina. Bangunan bertingkat dua yang memiliki ciri jendela-jendela besar terlihat berbeda dibanding bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Di gerbang masuk ada gapura depan yang memiliki ornamen cantik. Di dekatnya ada taman kecil yang menambah keasrian rumah saya.

Ya sudah, silakan masuk. Saya tak sabar untuk mengajak kalian keliling rumah ini. Ruang paling depan sekarang menjadi areal tunggu bagi setiap pengunjung yang datang. Ada beberapa kursi-kursi kayu bernuansa klasik mengisi ruangan yang cukup lowong itu. Dulu sih ini adalah ruang istirahat para pelayan saya.

image
Aksen khas Cina tersebar sepanjang sudut mansion.
image
Ruang tamu.
image
Ruang Tamu Melayu.

Kalau dijelajah, ada beberapa ruangan penting di kediaman ini. Seperti Ruang Tamu Utama, persis setelah ruang paling depan. Sedikit “kosong” tanpa banyak perabot untuk ukuran Ruang Tamu Utama. Di sini bisa terlihat dua elemen menonjol yang terdapat di hampir seluruh bangunan, yaitu keramik lantai yang khas Cina serta platform yang dilukis cantik.

Di sisi Ruang Tamu Utama ada pula ruang tamu lain. Ada yang bergaya Melayu, ada pula yang menyuguhkan nuansa ala Eropa. Pertemuan-pertemuan bisnis dengan berbagai kolega saya lakoni di sini. Tempatnya memang menyenangkan. Tapi itu bukanlah areal yang saya agung-agungkan.

Saya juga tak segan membiarkan siapa saja untuk melihat-lihat kamar pribadi. Ruangannya cukup besar. Kalian bisa lihat tempat tidur berkelambu yang pasti akan mengingatkan rumah kakek-nenek. Ada pula meja dan lemari kayu berwarna gelap. Persis di samping kamar ada ruang makan. Saya tuh punya banyak koleksi perabot makan yang cantik-cantik. Biasanya buatan negeri asal saya.

image
Kamar tidur utama.
image
Mansion ini punya banyak koleksi alat makan yang didatangkan dari daratan Cina.
image
Meja sembahyang dan altar pesembahan.

Kalau sudah puas foto-foto di sini, yuk ke areal lain. Sebelum ke atas, semua pengunjung akan menemukan areal terbuka di tengah bangunan. Dari bawah bisa terlihat interior jendela khas rumah-rumah peranakan. Warna hijau tua mendominasi.

Di depan sana kalian bisa melihat ruang sembayang dengan altar persembahan yang pekat dengan warna merah. Saya itu menyembah Kwan Kong, dewa perang yang berkepribadian setia. Sosok inilah yang saya tiru dalam kepemimpinan selama berkuasa. Di lantai dasar juga terdapat ruang doa lainnya, yang biasa saya tujukan untuk mendoakan para leluhur.

Ya sudah, mari ke atas. Di sini nih terdapat ruangan yang sedari tadi ingin saya pamerkan. Lewat tangga yang juga dilukis cantik dindingnya, saya akan mengajak Anda sekalian ke arena hall. Arena ini bisa disebut lantai dansa karena saya cukup sering menyelenggarakan pesta dansa di sini. Tamu-tamunya ya teman dan kerabat dari Eropa.

image
Atap dan langit-langit mansion biasanya dilukis.
image
Ballroom untuk pesta dansa.
image
Potret-potret lawas banyak tersebar di arena Ballroom.

Kalau sekarang sih ruangan ini sudah dialihfungsikan menjadi ruang pamer saja. Banyak potret-potret tempo dulu menghiasi tembok. Di sini juga udara bebas keluar-masuk, soalnya banyak jendela-jendela berukuran besar mengisi ruangan. Cantik juga kalau ingin potret-potret di sini. Saya sendiri masih terbayang betapa megah dan anggunnya perhelatan dansa yang kerap saya adakan. Semua bersukaria, tak peduli warna kulit, ras, dan golongan yang melekat di diri.

Berlawanan dengan ruang dansa adalah wilayah yang kini ditempati anak-cucu keturunan saya. Maaf, untuk yang ini saya tidak membebaskan siapapun untuk menengoknya. Tapi saya harap sisi lain rumah ini bisa memberi pandangan bagaimana saya dan keluarga hidup di Kota Medan. Walau jauh dari kampung halaman, namun Medan sudah menjadi rumah kedua bagi saya.

image
Banyak sudut yang cantik untuk dipotret.
image
Bagian ikonik, ciri khas rumah peranakan.
image
Photo by Mas Sugi.

Fakta mengenai Tjong A Fie:

-Ia telah menikah sebanyak tiga kali.

-Dari isteri ketiganya ia memperoleh tujuh orang anak.

-Tahun 1917 ia menerima gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Hong Kong.

-Pada 4 Februari 1921 Tjong A Fie meninggal karena pendarahan otak di kediamannya. Proses pemakamannya berlangsung meriah dan dihadiri banyak pihak.

Tjong A Fie Mansion

Jl. Ahmad Yani

Kesawan, Medan

www.tjongafiemansion.com

Jam buka:

09:00-17:00

Tiket masuk:

Rp35.000

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s