Dear Hachikō

image
Belajar setia dari seekor anjing.

Salah satu teman terbaik yang bisa dimiliki manusia adalah binatang. Hubungan antar makhluk hidup ini bisa berjalan seimbang dan mencipta harmonisasi yang kadang bikin kita terkagum-kagum. Melihat dua subjek yang berbeda bisa hidup berdampingan dan menjadi sahabat sejati.

Tentu sudah berapa banyak sih kita menemukan cerita-cerita ajaib mengenai pertemanan manusia dengan binatang. Ada yang mengharukan. Ada pula yang bikin mengkerutkan dahi. Tapi apa pun itu, kita, manusia, bisa belajar banyak hal dari makhluk hidup tersebut. Sama seperti satu sahabat yang kisahnya begitu membahana hingga ke luar negerinya. Hollywood bahkan mengangkat kisahnya ke layar lebar. Banyak yang tersentuh. Banyak yang mengiba. Saya sendiri tersendu parah. Ah Hachi, you’re one of a kind.

Kalau pernah nonton film Hachi: A Dog’s Tale, pasti tahu kisahnya yang begitu melegenda. Anjing jenis Akita ini sebelum dipelihara oleh Profesor Hidesaburo Ueno ia dimiliki oleh Keluarga Giichi Saito. Namanya dulu Hachi bukan Hachikō. Selama tinggal bersama si profesor yang mengajar ilmu pertanian, Hachikō kerap mengantar dan menjemput majikannya di Stasiun Shibuya saat pagi dan sore hari. Kisah sendu dimulai ketika sang profesor meninggal dunia dan Hachi terus menunggu sang majikan yang tak kunjung pulang. Bahkan ia tak mau makan selama tiga hari. Dan Hachi masih terus melakukan rutinitas ini hingga beberapa waktu lamanya, sampai-sampai orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya jadi mengenal dan menyanyanginya. Lama-kelamaan orang-orang menambahkan kata ‘ko‘ di akhir namanya yang berarti sayang.

Kisah anjing setia ini menyentuh hati seorang pematung bernama Teru Ando. Di tahun 1933 ia mengajukan proposal dan pengumpulan dana untuk mendirikan patung peringatan bagi Hachikō. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1934, berdiri manis Patung Hachikō di depan Stasiun Shibuya yang peresmiannya dihadiri Ando sendiri dan 300 undangan. Sedihnya, Hachikō ditemukan tidak bernyawa Maret 1935 karena mengidap filariasis. Sebenarnya ada dua patung lainnya. Yang satu berada di luar Stasiun Odate, kampung halaman Hachikō. Yang kedua berada di depan Akita Dog Museum.

image
On my way to Shibuya Station.
image
Stasiun Shibuya era tahun 30-an.
image
Patung ikonik di awal-awal keberadaannya.
image
Finally met the loveable dog.

Karena kisahnya begitu inspiratif mengajarkan kita akan kesetiaan, saya ngebet banget pengen ke Patung Hachikō waktu ke Tokyo. Belum afdol rasanya kalau nggak mampir. Hari pertama di Tokyo aktivitasnya masih santai aja. Jalan-jalan nikmatin suasana kota yang cukup berangin di bulan Juli. Dari tempat saya menginap di kawasan Akasaka, saya dan beberapa teman naik MRT menuju Shibuya. Ini merupakan satu distrik di Tokyo yang merupakan area perbelanjaan ternama.

Saya sendiri rada lupa berapa lama perjalanan dari Akasaka ke Shibuya. Tapi yang pasti nyobain MRT di Tokyo itu membingungkan. Banyak amat jalurnya. Ruwet deh. MRT di Singapura nggak ada apa-apanya deh. Pokoknya kalau mau ke Patung Hachikō, naik kereta yang JR Yamanote line tujuan Shibuya, trus pilih Hachikō exit. Keluar stasiun, baru deh ketemu keramaian seketika. Turis, non turis, ramai di sini. Tujuan pertama langsung ke Patung Hachikō. Patungnya dari tembaga gitu, berdiri dekat tempat duduk. Patungnya dibuat seolah ia sedang duduk menanti tuannya. Karena sudah menjadi objek ikonik, cukup banyak yang antri foto bareng Hachiko.

Persis di depan patung ada satu gerbong kereta, bercat hijau. Semacam museum mini yang di dalamnya menyuguhkan informasi-informasi mengenai Hachiko dan sejarah pembuatannya. Ada foto-foto hitam putih yang menggambarkan Stasiun Shibuya di masa lampau. Sayang sih, sebagian besar yang dipampang dijelaskan dengan tulisan Kanji, jadi sama sekali nggak ngerti.

image
Museum mini mengenai Hachikō.
image
Benar-benar menggunakan gerbong kereta api.
image
Jadi ingat Commuter Line di Jakarta yak.

Selain Patung Hachiko, ada kok hal lain yang bisa dinikmati selagi di Shibuya. Waktu itu saya menargetkan mau nyobain menyeberang di jalanan Shibuya yang ramai itu. Yang begitu tenarnya sampai masuk di banyak film Hollywood. Seru amat deh pas nyebrang. Riweh dan banyak banget orangnya, but somehow aman terkendali. Orang-orang seakan tahu mesti jalan dan menyeberang supaya nggak saling menabrak. Jalan juga nggak bisa santai, jalan cepat setengah berlari gitu.

Sampai di seberang kami misah-misah. Saya jalan sama Ina. Kami masuk keluar toko-toko baju dan sepatu. Trus baru sadar kalau lagi musim Great Sale, jadi pas mampir di Forever 21, ketemulah sepatu sandal caem yang kalau dikalkulasiin cuma 70 ribuan Rupiah aja. Langsung beli dong..hihi. Salah banget sih ke Tokyo di musim Great Sale. Sedikit kalap pas ke  H&M yang berujung nggak mau masuk pas lewat Uniqlo..hehe.

image
Siap-siap mau menyeberang di Shibuya yang hits seantero dunia itu.
image
Around Shibuya yang lagi marak great sale.
image
Bule mah kalah gaya di sini. Cewek-cewek Jepang lebih stylish.

Gara-gara sight-seeing pertokoan di Tokyo, jadi menemukan kebiasaan pramuniaga di sana (kebanyakan cewek imut, mungil, dan kalem) teriak-teriak pakai toa buatan dari kertas yang dibentuk seperti corong, nawarin dagangan sambil berdiri di atas kursi kecil. Si Ina fotoin, cuma ditegor satpam dan disuruh hapus.

Kalau pun ke Shibuya nggak niat buat belanja, lokasi ini cocok buat hunting foto atau menikmati parade wanita-wanita Jepang yang punya taste fesyen yang unik merempet ekstrem, yang entah kenapa asyik aja dilihatnya. Sesekali akan menemukan mereka lewat pakai kimono lengkap. Seru deh pokoknya.

PS:

I’m dedicate this writing to Miss Beatrix Kiddo, my dearest best friend.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s