Ketika Kopi Berfilosofi

image
Filosofinya, ceritakan saja semua.

Euphoria kopi sebagai minuman sudah bergeser menjadi gaya hidup bahkan tren. Malahan banyak yang sebenarnya bukan pecinta kopi sejati namun terbawa arus untuk menjadi pelakon semu, biasanya demi eksistensi. Apalagi didukung dengan menjamurnya kedai-kedai kopi yang kian menawarkan varian biji kopi serta racikan minuman yang kaya rasa.

Sebenarnya sih sah-sah aja ya. Sisi positifnya industri kopi di Indonesia makin galak dan pengusaha-pengusaha lokal makin berdaya karena meningkatnya pasokan. Plus anak-anak bangsa juga makin mengenal produk-produk dalam negeri. Kalau saya sendiri sih senang-senang saja, artinya makin banyak coffee shop yang pengen dicoba, walau catatan besarnya saya mantan penikmat kopi. Cuma memang dari dulu selalu nyaman kalau duduk-duduk santai di kedai kopi, tapi itu nggak berlaku untuk si kedai kopi hijau bersimbol medusa itu ya. Dari dulu nggak terlalu tertarik kalau mau nongkrong di sana.

Karena sekarang kedai kopi sudah tak terhitung jumlahnya, saya jadi bingung sendiri mau icip-icip yang mana dulu. Akhirnya dibuatlah skala prioritas. Biasanya sih datang ke kedai kopi yang lagi happening dulu. Mainstream banget ya. Abis itu baru mulai seleksi berdasarkan lokasi, jenis minumannya, sampai harga.

image
Dari luar penampakan Filosofi Kopi yang cukup mencolok mata dengan interior kaca.
image
Etalase yang sederhana saja.
image
Filkop nggak pernah sepi pengunjung.

Nah, kali ini saya mau bahas satu kedai kopi yang baru banget Kamis kemarin saya datangi. Anak-anak gaul se-Jakarta pasti tahu dengan Filosofi Kopi. Kedai kopi yang terinspirasi dari film yang berjudul sama. Filmnya juga terinspirasi dari buah karya tulisan Dee a.k.a Dewi Lestari yang bertitel serupa pula. Saya sendiri sudah pernah baca buku Filosofi Kopi tapi belum sempat menyaksikan versi layar lebarnya. Tapi begitu penasaran waktu tahu Filosofi Kopi betul-betul membuka gerainya dan membawa pengunjungnya untuk lebih intim dengan seting bahkan para pemeran filmnya. I thought it was a good idea.

Jadi setelah berkali-kali gagal ke sana, akhirnya berhasil menyambangi Filosofi Kopi yang terletak dekat sekali dengan Blok M Square. Penampakan gerai yang persis di sebelah toko perhiasan di sisi kiri dan mini market di bagian kanannya. Tampak kontras dengan interior kaca yang memenuhi seluruh tampak muka. Kaca tembus pandang yang digerus desain tulisan dan gambar untuk memberi “warna”.

image
Tempat duduk dekat jendela ini jadi spot favorit saya.
image
Desain ala rustic jadi konsep utama di Filkop.
image
Salah satu pajangan yang mencitra tema kopi.

Bagian luar merupakan non-smoking area yang sangat terbatas sekali kursinya. Dan di jam tiga dan empat sore, matahari langsung menyorot ke bagian itu. Buka pintu masuk, banyak manusia di dalamnya. Riweh dan cukup bising. Sepertinya bukan waktu terbaik untuk mengunjungi Filkop (nama pendek Filosofi Kopi). Walau penuh, akhirnya berhasil dapat tempat duduk. Awalnya di depan jendela tembus pandang, tapi kemudian mundur karena matahari saat itu terlalu pekat.

Kesan pertama sih saya tertarik dengan desain tempat yang ala-ala rustic gitu. Area barista untuk bekerja pun dibuat sederhana saja, tanpa membuat jarak dengan pengunjungnya. Pajangan-pajangan lucu, tentu saja gambar-gambar yang bertalian dengan film Filosofi Kopi pun tersebar di beberapa tembok. Kursi dan meja cukup banyak tersedia, walau saya merasa pendingin ruangan tidak difungsikan secara maksimal. Tapi yang paling menarik perhatian ya jelas pria macho berkaos putih dengan leather apron khas Filkop sedang sibuk di belakang meja kasir sambil melayani pengunjung. Nope, bukan Chicco. I wish Chicco, but its Rio Dewanto. Ya tapi doi terlihat charming juga sih, makanya sepanjang di sana banyak cewek-cewek yang sibuk minta foto bareng. Sepertinya banyak yang doyan ke sini karena pengen ketemu sama Chicco or Rio. Ya semoga saja Filkop nggak hanya memanfaatkan ketenaran pemiliknya dan akhirnya jadi nggak memperhatikan kualitas rasa kopinya.

Well anyway, di Filkop saya icip dua kopi dan dua side dish. Pertama ada Ben’s Perfecto. Ini nih signature dish dari Filkop yang ada di film dan bukunya juga ada. Ben’s Perfecto tuh cappucino, pakai kopi Tiwus yang dari Ijen itu. Cukup enak sih, walaupun menurut saya masih ada yang lebih enak dari ini. Trus nyobain juga Tiwus Tubruk. Berat untuk menikmati rasanya, karena menurut saya terlalu asam. Sampai ragu apa ada kopi seasam ini. Ternyata memang ada toh kopi dengan rasa yang mengejutkan lidah. Tapi maaf, saya kurang begitu suka.

image
Ben’s Perfecto, Tiwus Black Coffee, Tiwus Tubruk, Churros, Waffle.
image
Beberapa menu yang must try di Filkop.
image
Waffle dan Churros sebagai side dish.

Sebagai teman minum, ada Churros yang dibalur gula putih plus chocolate dipping sauce. Untuk rasa, hmm… sedikit keras, tapi nggak terlalu mengecewakan sih. Trus makan juga Waffle dengan topping es krim tiga rasa. Sorry to say, waffle-nya kurang begitu lembut, sedikit keras, thank God ada es krim yang bisa menambah rasa.

Untuk non-coffee beverages, Filkop juga punya menu Chocolate Latte, Green Tea Latte, Red Velvet Latte, Ice Tea, Iced Lemon Tea, dan Iced Lychee Tea. Sedangkan untuk snack-nya ada French Fries dan Fried Cassava. Sebenarnya sih super penasaran pengen nyobain Affogato Orgasm with Durian Ice Cream. Maybe next time, sekalian pengen ngerasain nongkrong-nongkrong di sana rada malam gitu. Sepertinya lebih seru. Fyi, di sini nggak ada Wifi yak, biar orang-orang lebih berkualitas obrolannya kalau lagi hang-out di sini, ketimbang sibuk sama gadget-nya.

Filosofi Kopi
Jl. Melawai VI (depan Blok M Square)
Blok M, Kebayoran Baru

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s