Ngojek ke Kelud

image
Memacu motor menuju Kelud.

Si anak pantai kali ini main-main ke gunung. Cuma ke gunungnya nggak pakai hiking, tapi naik ojek. Enak kan untuk orang jompo kayak saya ini…hehehe.

Tapi bukan berarti nggak kepengen naik gunung. Pengen banget kok! Cuma memang mental dan fisik masih harus ditempa dulu nih. Jadi kalau diajakin naik gunung, saya paling sering jawab nggak.

Untungnya ada beberapa wisata gunung yang masih ramah untuk dikunjungi untuk orang-orang seperti saya ini. Seperti Bromo, gampang banget kan. Gunung Galunggung juga masih asyik. Kelimutu di Ende juga masih aman terkendali untuk dijajal. Opsi lain ada Gunung Kelud di Kota Kediri. Kalau ngomongin Kediri, memang nggak bisa dihilangkan dari kejadian waktu gunung ini meletus beberapa waktu lalu. Bencana nasional yang berimbas buruk tidak hanya untuk Kediri semata, tapi Malang, Surabaya, Yogyakarta, dan sekitarnya. Kawasan wisatanya Gunung Kelud pun mesti diisolasi.

Namun setiap masa sukar pasti akan berlalu jua. Waktu membawa Kediri dan Kelud kembali bangkit. Dengan harapan baru keduanya ditata kembali, cantik kembali, bahkan menyita perhatian lebih. Termasuk perhatian dari saya. Hati ini menumpuk rasa penasaran seperti apa rupa Kelud pasca diterjang letusan? Pikiran saya membayangkan hal-hal buruk. Tapi, ah sebaiknya saya simpan kisahnya pada bagiannya. Mari awali dengan hujan abu.

image
Nggak sempat masuk dan liat isinya.
image
Gerbang masuk kawasan wisata Gunung Kelud.
image
Photo by Febri Amar.

Perjalanan saya Kediri sekitar pertengahan 2014 merupakan satu penjelajahan lanjutan selepas Malang dan Batu. Kalau naik mobil, sepertinya butuh beberapa jam saja. Cuma kemarin agak sedikit terhambat karena beberapa jalan terkena imbas longsor.

Kediri sendiri dikenal sebagai kota di mana pabrik rokok yang terkenal itu berada. Dari sisi pariwisata, Kediri punya beberapa titik yang menjadi jagoannya. Salah satunya ya si Kelud ini. Walau sempat deg-degan juga mau ke sini, ya takut aja kalau misalnya tiba-tiba erupsi lagi gitu. Apalagi ke Kelud dalam edisi urusan kantor, asik ya ngantornya ke gunung berapi yang aktif. Ya sudahlah, berdoa saja sepanjang jalan.

Perjalanan dari hotel ke Kelud lowong tanpa macet, tapi nggak bisa dipungkiri kalau sepanjang jalan abu dari Kelud menyelimuti tanah Kediri. Mata sering menemukan di depan tiap-tiap rumah ada tumpukan tinggi abu vulkanik yang berhasil dikumpulkan. Biasanya mereka membebaskan siapa saja yang ingin mengambilnya. Dengar-dengar rumor, penduduk sana takut untuk menghargai abu tersebut jika ada yang berminat. Mereka takut sesuatu yang buruk terjadi karena abu tersebut kan mereka dapatkan gratis, karena hasil letusan. Percaya nggak percaya sih.

Kalau nggak salah sih nggak sampai dua jam udah sampai di lokasi. Di tengah jalan sempat mampir untuk sarapan dulu di warung serba sederhana dekat perkebunan orang gitu. Lumayan deh makan soto murah meriah dengan rasa yang cukup enak. Keramahan ala Jawa juga membuat saya nggak mikirin mesti makan ala kadarnya di gubuk sederhana yang nggak rapi.

Habis makan perjalanan dilanjutkan dan saya pun meneruskan tidur. Ngantuk cuy, dari pagi sudah bangun padahal malam sebelumnya pulang malam karena nyari Pecel Pincuk dan nongkrong-nongkrong di Simpang Lima Gumul. Sejam kemudian saya dibangunkan, kami sudah sampai di gerbang masuk. Ternyata mobil nggak bisa masuk, kami disuruh sewa ojek untuk mencapai kawah yang sayangnya saat itu masih ditutup hingga radius 3 km. Ya sudahlah, terima nasib saja.

image
Jalan berkelok menuju si puncak.
image
Pemandangan epik menjelang Kelud.
image
Jalur pasir bekas dialiri lahar panas.

Di loket masuk beli tiket dan di depannya sudah ada jajaran supir ojek dengan motornya. Semua ada antriannya. Ongkos ojek Rp25.000 untuk pp. Begitu duduk di motor bebek, langsung cus, menembus jalanan dua jalur yang diapit pemandangan yang menceriakan hati.

Saya sungguh menikmati pengalaman ngojek ke Kelud. Kiri-kanan jalan ada perkebunan penduduk, seperti kebun nanas. Rimbunan pohon dan bukit-bukit hijau nan jauh di sana begitu menyegarkan pandangan. Siapa yang sangka beberapa waktu sebelumnya daerah ini diamuk Kelud dan dihujani abu vulkanik.

Jalanannya sendiri sebenarnya nggak semuanya baik. Ada yang bolong-bolong, sepertinya efek erupsi. Hawa sejuk juga turut andil mencipta rasa nikmat mengunjungi daerah ini. Ada rasa damai. Juga tenang. Walau gejolak Kelud beberapa bulan sebelumnya membuat banyak yang menderita. Sepanjang jalan tak menemui lalu lintas kendaraan lain selain satu-dua motor penduduk sekitar yang mengangkut hasil kebunnya. Memang sepanjang jalan bisa melihat kebun nanas yang ditata dan dikelola baik. Itulah satu kebaikan bertanam cocok di lahan dekat pegunungan. Tanah tumbuh subur.

Perjalanan ke atas sebenarnya hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja. Tapi kami tiba cukup lama karena beberapa kali berhenti untuk menikmati panorama dan membidiknya melalui kamera. Seperti jurang besar yang menganga dengan gusuran tanah dan abu yang sudah tak terbentuk rupanya. Rimbunan pohon yang sudah hancur berantakan di dasar dan tepian jurang. Beberapa hanya menyisakan batang pohon yang kurus kering tanpa disegari dedaunan hijau. Langsung membayangkan lahar panas yang menghancurkan segala yang dilewatinya. Betapa rusaknya semua yang ada di situ.

image
Ada sesajen persisi di tepian jurang.
image
Anak Jakarta pacaran ke mall, anak Kediri pacaran ke gunung berapi.
image
Photo by Febri Amar.

Kami masih sempat berhenti beberapa kali hingga akhirnya tiba di pos terakhir yang beradius tiga kilometer dari gunung. Karena si Kelud masih mengeluarkan asap belerang, kami terpaksa menikmatinya dari kejauhan, yang sebenarnya juga nggak bisa terlihat karena terhalang bukit. Tak apalah. Dengan tempat parkir yang cukup luas, pengunjung hanya jalan sekitar 150 meter untuk melihat langsung kawasan dekat kawah yang sudah tak beraturan bentuknya. Sesungguhnya ada empat puncak di Kelud, tapi saya jadi bingung sendiri mana Puncak Sumbing dan tiga puncak lainnya. Selain meluluhlantahkan area sekitar gunung, letusan terakhir menyebabkan hilangnya Anak Gunung Kelud. Kalau ingin melihat bagaimana penampakan Kelud yang sekarang, dekat pelataran parkir menyediakan dokumentasi foto dan video Kelud dan waktu ke waktu. Kita bisa beli kok. Untuk VCD-nya dihargai Rp20.000. Di situ juga ada teropong yang bisa digunakan, walaupun tidak akan bisa melihat Kelud juga. Biayanya Rp5.000 untuk beberapa menit saja.

Dari pos itu bisa maju ke jalan setapak berpasir dan batu, di situ bisa lebih leluasa menyaksikan pemandangan. Walau tak banyak yang bisa dinikmati, namun suasananya super menyenangkan. Terkadang hanya hening dipadu tiupan angin. Bakalan betah sih duduk-duduk di sini, walaupun nggak tersedia tempat duduk. Orang-orang biasanya hanya memanfaatkan pembatas besi yang berada di pinggir jalan sebagai alas duduk. Aktivitas yang bisa dilakukan sih nggak banyak. Palingan cuma foto-foto atau menikmati hawa sejuk yang menyegarkan. Walaupun tak bisa menikmati Kelud seutuhnya, perjalanan ngojek ke Kelud begitu menyenangkan dilakoni. Salah satu things to do while in Kediri.

Need to know!

-Sebaiknya berangkat pagi jika ingin ke Kelud. Menghindari kabut yang akan menghalangi pemandangan.

-Udaranya sesungguhnya sejuk, cuma siapkan saja selendang/ pashminah/ cardigans untuk antisipasi.

-Tetap berada di trek yang disediakan, jangan coba menyimpang dari jalur.

-Bawa air minum. Sebenarnya ada sih warung-warung sederhana, cuma tidak buka setiap waktu.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s