Mengintip Gemerlapnya Kehidupan Baba dan Nyonya di Pinang Peranakan Mansion

image

Saya harus cerita mengenai Penang, saya suka kota ini! Kayaknya banyak banget ya tempat yang bikin jatuh hati atau saya aja yang terlalu gampangan, eh… Perjalanan ke Penang saya lakoni dua tahun lalu, kota yang menyenangkan untuk dijelajahi pejalan perempuan atau bagi mereka yang ingin ngebolang sendiri.

Kalau dari Jakarta, ada direct flight menuju Penang yang disebut juga Pineng, cuma tiga jam mengudara sudah sampai. Akomodasi mulai dari hotel bintang lima hingga kelas hostel ala dormitory melimpah ruah di kawasan turis. Restoran, kafe, kedai kopi, hingga food hawkers mewarnai sudut kota, makanya nggak heran kalau kota ini menarik sebagai destinasi kuliner. Akses menuju tempat wisatanya memudahkan turis, bisa jalan kaki, naik bus, atau sewa sepeda. Biaya hidup di Penang jauh dari kata mahal, bisalah subsidi silang kalau ingin foya-foya tidur di hotel nyaman atau makan enak tiap saat.

Penang menjagokan George Town yang diklaim UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Kota antik ini menarik wisatawan untuk menikmati bangunan-bangunan bersejarah dengan jalan kaki, foto-foto, atau kontempelasi sejenak. Selain itu, bisa juga ke Fort Cornwallis, Kek Lo Si Temple, main ke Pantai Batu Ferringhi, bernarsis ria di Street Art, atau mengunjungi beberapa museum yang memameran koleksi unik.

Rumah Kebesaran Orang Peranakan

Di antara sederet tempat istimewa di Penang, saya mau cerita mengenai Pinang Peranakan Mansion. Walau bisa ditebak isinya akan seperti apa, tapi rasanya selalu menyenangkan bisa ke tempat yang didominasi budaya dan sejarah yang kental. Lokasi museum dekat kawasan Little India, tepatnya di Church Street.

Bagi yang pernah ke Tjong A Fie di Medan atau Baba & Nyonya Heritage Museum di Melaka, pasti bisa menemukan kesamaan ketiga tempat ini. Mansion atau bisa dikatakan rumah besar ini merupakan bagian dari budaya Peranakan, salah satu komunitas dengan akulturasi budaya dan menjadikannya sebagai kaum yang unik. Orang Peranakan erat kaitannya dengan pendatang asal Tiongkok yang mendapat sebutan Baba dan Nyonya.

Biasanya mereka merupakan golongan kaya yang terpandang di komunitasnya, memiliki gaya hidup yang sophisticated, lengkap dengan segala atribut, perabot, koleksi properti berkualitas tinggi. Salah satu kebanggaan mereka ya rumahnya, yang disebut mansion.

Di sinilah kita bisa melihat betapa agung dan gemerlapnya kehidupan kaum Peranakan zaman dahulu. Dari mansion-nya kita bisa melihat kreasi arsitektur yang menggabungkan beragam gaya dan kultur, belum lagi jajaran koleksi barang pecah belah, furnitur, pakaian dan perabot makan yang artistik.

image

image

image

image

Dihiasi Detail Menarik

Pinang Peranakan Mansion tipikal rumah Babah dan Nyonya pada umumnya, yang dibangun akhir abad 19. Diberi nama Hai Kee Chan yang berarti Sea Rememberance Hall. Bangunannya sendiri pernah menjadi kediaman Kapitan Cina Chung Keng Kwee dan sudah bertahan selama beberapa dekade, sampai era revitalisasi untuk mengembalikan kecantikannya seperti sedia dulu.

Mencari Pinang Peranakan Mansion nggak susah kok, waktu itu modal peta wisata yang diambil dari bandara bisa ketemu dengan mudah. Iya, masih pake peta manual bukan Google Maps karena saat itu nggak beli SIM Card Malaysia dan nggak berniat roaming juga.

Setelah sampai dengan selamat tanpa nyasar, saya disambut bangunan hijau muda yang terlihat mentereng dibanding bangunan-bangunan di sebelahnya. Dengan pelataran parkir yang cukup luas, pengunjung dituntun menuju pintu masuk berukir warna emas, ada dua petugas yang menyambut dan mengantarkan menuju loket. Begitu bayar, baju saya ditempelkan stiker tanda lunas, baguslah bukan pakai cap di tangan.

Hasil melihat sekilas, saya langsung teringat Tjong A Fie Mansion di Medan, tipikal bangunannya serupa, walau yang di Penang lebih cantik sih. Dekat pintu masuk ada Front Hall, semacam partisi dari ukiran kayu yang memisahkan area depan dengan bagian rumah yang lain, ini yang khas dari rumah-rumah Peranakan.

Partisi ini menghadap langsung ke pintu utama dan dipercaya sebagai spirit wall yang berperan menangkal setiap roh jahat yang akan memasuki rumah. Celah partisi juga digunakan penghuni wanita buat ngintip siapa yang lagi bertamu, karena biasanya area itu diisi kaum pria.

Dari Front Hall saya maju ke tengah, di situ bisa lihat keseluruhan rumah yang bertingkat dua. Area tengahnya semacam semi terbuka yang dilengkapi kursi kayu. Bisa duduk-duduk santai di sini dan adem juga. Pinang Peranakan Mansion memiliki banyak ruang yang bisa dimasuki, seperti Reception Hall dan Sideroom Downstairs. Kebanyakan didominasi detail dan ukiran kayu, ada juga cermin-cermin besar, dan perabot-perabot berdesain cantik.

Dari sekian ruang di lantai pertama, Dining Hall atau ruang jamuan makan yang menawarkan atmosfer Eropa. Bisa dilihat dari koleksi keramik ala era Victorian, gelas-gelas, porselen, serta peralatan makan perak, semuanya dari Eropa. Ditampilkan juga Western-Styled Dining, ruang makan yang biasa digunakan untuk menjamu tamu-tamu dari Benua Biru.

image

image

image

image

Meninggalkan lantai pertama, saya menuju tingkat kedua melewati tangga utama. Ada cerita menarik juga nih mengenai tangganya, bahan untuk membangunnya berasal dari lokal maupun diimpor, seperti susuran tangganya yang berasal dari Glasgow. Trus kalau dilihat teliti, bisa menemukan desain fleur-de-lis yang Eropa banget.

Saya lebih suka ruangan-ruangan di lantai dua, mungkin karena lebih bervariasi isinya. Ada satu ruangan, seperti kamar yang dilengkapi tempat tidur, televisi, radio, lemari yang serba lawas, termasuk gaun panjang yang dihamparkan di atas tempat tidur. Ada juga ruangan yang diisi barang pecah belah, pajangan-pajangan dari Kristal yang dipajang dalam lemari kaca, sedangkan di sisi lain, ada ruang menjahit beserta mesin jahit, koleksi kain etnik. Walaupun menarik, kebanyakan ruang pameran kurang dari segi pencahayaan, jadinya rada susah buat foto-foto.

Karena berburu waktu, terpaksa turun lagi ke lantai satu yang ternyata masih ada area lain yang belum dieksplor. Agak di belakang ada beberapa ruang pamer yang juga menarik, kebanyakan menampilkan foto-foto hitam-putih, berbagai benda seni, dan koleksi pribadi keluarga Baba dan Nyonya. Semua ditata rapi, bersih, dan benar-benar terawat, bahkan lantai tiap ruangan yang bermotif menarik dipoles hingga berkilau sepanjang waktu.

Untuk menikmati kunjungan di Pinang Peranakan Masion, sebaiknya sisihkan waktu minimal 90 hingga 120 menit. Banyak spot foto di sini, jangan lupa bawa kamera kesayangan. Tenang, pengunjung bebas foto-foto di mansion tanpa ekstra biaya izin memotret.

Pinang Peranakan Museum
29, Church Street
10200, Penang, Malaysia
www.pinangperanakanmansion.com.my

Waktu Operasional
Senin-Minggu (termasuk hari libur nasional), 09.30-17.00

Tiket Masuk
Dewasa MYR20
Anak-anak di bawah 6 tahun gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s