Terasing di Tangkahan: Part I

image
Lets get lost in Tangkahan!

Ketika hutan menjadi penjagamu. Dan kumpulan makhluk berbelalai panjang menanti untuk diberi kasih sayang. Saya menyesap sepi yang tak menyayat hati karena alam berbisik syahdu dari tanah Tangkahan.

Banyak yang berputar mencari tempat tersembunyi guna mengisi hati yang kosong. Perjalanan dengan misi untuk mencari yang terhilang. Maklum ya, zaman sekarang orang gampang banget galau. Biasanya mereka mengejar kepingan surga dari negeri antah-berantah. Semakin terasing, semakin mudah bercengkerama dengan alam. Kalau saya boleh sebut satu nama, Tangkahan bisa menjadi opsi untuk menyingkir dari keramaian.

Namanya saja masih terasa asing. Satu lokasi eko wisata di tanah Sumatera Utara. Diberdayakan oleh Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) yang menawarkan konsep tourist friendly, environmental friendly, serta community friendly. Intinya para tamu selain menikmati alam, ikut pula mengonversi lingkungan, bisa juga belajar budaya dan kearifan lokal penduduk setempat. Jadi jalan-jalan bukan perkara hura-hura dan ngeksis bisa ke tempat A, B, hingga Z, tapi ada tambahan nilai di dalamnya.

Tangkahan sendiri berada di salah satu area dari Taman Nasional Gunung Leuser. Ada dua desa yang dibawahinya, yakni Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang.

Sedikit cerita mengenai eko wisata Tangkahan. Awalnya kawasan sini marak dengan illegal logging. Tentu meresahkan sekali melihat alam yang masih perawan ini lambat laun terkikis keindahannya. Sehingga muncullah para pejuang-pejuang alam yang merupakan warga lokal, mereka berinisiatif untuk menjaga hutan. Diperbantukan kawanan gajah, bersama mereka melestarikan rimba Tangkahan. Ternyata dari sinilah bermula ide untuk membuat kawasan wisata yang juga diharapkan bisa membantu perekonomian penduduk sekitar. Seiring berjalannya waktu, jadilah Tangkahan seperti sekarang ini.

Saya sendiri tahu Tangkahan sejak tiga tahun lalu. Gara-gara mendengar pembicaraan teman yang habis liputan ke sana. Eh, nggak disangka beberapa bulan setelahnya saya kesampean ke sana, walaupun untuk urusan liputan juga, tapi tetap Puji Tuhan.

image
Akses penghubung yang masih terbatas.
image
Sambutan hangat dari mereka.
image
Para inang mendoakan keselamatan kami selama di Tangkahan.
image
Satu-satunya rakit di Tangkahan.

Perjalanan bermula dari Medan, berangkat pagi, saya dan rombongan menuju ke arah Langkat. Dua jam terakhir menemukan jalanan berbatu dan berpasir. Mulai terlihat hamparan perkebunan sawit. Seperti masuk kampung di negeri antah-berantah. Entah ya sekarang sudah bagus atau belum kondisi jalannya. Tapi sih menurut saya tingkat kerusakannya nggak parah-parah banget. Nggak separah kayak ke Geopark Ciletuh kemarin. Memang ada jembatan dengan struktur yang sangat jauh dari kata aman. Bukan jembatan juga sih. Ada celah di jalan dan cuma dikasih papan besi sebesar roda aja di atas celah tersebut. Serba hati-hati deh kalau mau lewat, takut kegeser kan. Ada juga lewatin jembatan gantung yang juga mesti pelan-pelan kalau dilewati. Terkadang mesti gantian buat lewat karena sempitnya jalur.

Setelah tergoncang-goncang akhirnya sampai juga di lokasi. Sudah ada beberapa gajah yang menyambut kami. Beberapa dikalungkan rangkaian bunga oleh si gajah. Pintar ya! Pengunjung disambut dengan pengalungan bunga dari para gajah serta pemakaian ulos oleh para inang (perempuan asli Tangkahan) sebagai tanda penghormatan. Di tangannya, para inang memegang wadah berisi beras bercampur air yang di atasnya ditaruh sebutir telur. Kemudian mereka melemparkan beras kepada pengunjung sebagai doa agar semuanya baik-baik saja selama di sana.

Selepas seremoni penyambutan di pintu masuk Tangkahan, kami digiring untuk menuruni tangga yang sedikit curam yang nanti berakhir dekat pinggir Sungai Batang Serangan. Hwaahh… hawa sejuk dan desiran bunyi air sungai mengalir, serta rimbunnya pepohonan hijau memeluk Tangkahan dengan mesra. Suasana rimba yang menyejukkan hati ini bikin saya nggak sabar untuk bertualang di dalamnya.

image
Trek tangga untuk menuju tourist information.
image
Salah satu penginapan di Tangkahan.
image
Pemandangan dari tempat penginapan saya.

Posisi homestay kami ada di seberang sungai. Dan satu-satunya cara untuk ke seberang ya dengan naik rakit. Ada sih jembatan gantung, cuma letaknya agak jauh di sana. Berhubung rakitnya kecil, hanya memuat sekitar 12 orang, kami mesti antri demi ke seberang. Arusnya cukup kuat siang-sore itu. Tapi yang bikin rakit ini tetap stabil adalah penjaga rakit nggak perlu mengayuh, dia tinggal menarik tali yang sudah dipasangkan di badan rakit. Cukup tarik tali nanti rakit akan melaju sesuai treknya.

Tiba di seberang kami kembali menaiki tangga, anak tangganya kecil-kecil. Di Tangkahan sendiri ada beberapa homestay, yang saya inapi cukup lumayan jaraknya, tapi oke pemandangannya. Di bawahnya langsung sungai dengan rimbunan pepohonan sebagai latar. Homestay saya sendiri sederhana aja, sistemnya per kamar. Ada kamar mandi di dalamnya. Tempat tidur standar aja, trus dikasih kelambu karena malam-malam lumayan banyak nyamuk. Listrik belum full 24 jam. Yang paling the best, sinyal Mentari baik untuk sms, telepon, hingga data sama sekali nihil. Jadi benar-benar terasing ya.

Setelah unpacking keluar kamar dan ngobrol-ngobrol sama teman-teman satu homestay. Pokoknya sampai malam kami belum eksplor Tangkahan. Bagus deh, biar leyeh-leyeh dulu. See you in Terasing di Tangkahan: Part II.

Kantor LPT Tangkahan
Gedung Visitor Center Tangkahan
Desa Namo Sialang, Kecamatan Batang Serangan
Langkat, Sumatera Utara, Indonesia 20883

tangkahanecotourism.com/

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s