Terasing di Tangkahan: Part III

image
Into the wild.

Petualangan di negeri Tangkahan masih berlanjut. Kalau ketinggalan kisah sebelumnya, silakan baca Terasing di Tangkahan: Part I dan Terasing di Tangkahan: Part II.

Selepas melenggang bebas mengikuti arus sungai, kami kembali menaiki ban masing-masing. Kembali menelusuri Sungai Batang Serangan, yang menjadi sungai utama di kawasan ini. Airnya berwarna cokelat, tentu saja bikin geli dan merinding membayangkan ada pacet. Katanya suka ada gitu. Ewww. Tapi sampai akhir perjalanan saya aman sentosa dari serbuan pacet. Cuma lengan saya tergores gitu karena mencoba menutup muka dari semak-semak yang mengenai muka. Eh ternyata semaknya berduri gitu, kebaretlah lengan sampai berdarah.

Sekitar 10 menit ban kami diarahkan sang pemandu ke sisi timur. Rupanya sudah mau tiba di lokasi air terjun berikutnya. Dari situ kami jalan mengikuti aliran sungai. Again, jalan di sungai yang berbatu super licin itu sungguh merepotkan. Airnya sih cuma semata kaki aja. Cuma tetap aja, licin banget.

100 m bukan jarak yang menyulitkan untuk menikmati Air Terjun Glugur. Lega karena nggak perlu nanjak-nanjak untuk menikmati pemandangan. Tinggal jalan langsung nyemplung. Tapi kami mesti melewati tumpukan batu hitam yang tidur manis di beberapa area.

image
Susur Sungai Batang Serangan yang aman dari jeram menakutkan.
image
Air Terjun Glugur.

Rasanya ingin terjun bebas dan mandi air yang menyegarkan itu. Cuma perut mengaduh lapar. Matahari sudah menyentuh ubun-ubun kepala. Waktu makan siang tak dapat dielak. Dan ini adalah salah satu makan siang paling menyenangkan.

Jadi sembari kami para peserta santai-santai duduk di batu-batu sungai, pemandu kami sibuk menyiapkan santapan siang. Makanan sudah dimasak cuma tinggal ditata saja. Di pinggir sungai ada semacam meja dari batang pohon gitu. Makanannya ditaruh di atasnya. Lalu, dengan kreatifnya mereka meletakkan aneka buah di atas salah satu batu yang ada di sungai dengan dialasi dedaunan hijau. Aah.. lucu amat. Sambil menikmati alam, kami makan siang literally di sungai, duduk di batu-batunya dengan kaki dialiri air. It was fun!

Kelar makan, semua nggak malu-malu buat nyebur ke air terjun. Segar banget! Ada bagian yang dalam sih, tapi tenang, di area tertentu juga dangkal. Terus kami merapat ke kucuran air dan foto bersama. Betah banget sih di sini. Cuma hari berlalu cepat. Sore menjelang. Pemandu kami menyuruh bersiap dan melanjutkan langkah.

image
Makan siang paling menyenangkan.
image
Lucu ya!

Kembali melintasi sungai, menaiki ban, dan dibawa semakin menjauh dari tempat persinggahan kami. Di suatu titik mesti berhenti dan kami siap untuk jalan kaki mengitari perkampungan sekitar. Tujuannya sebenarnya kembali ke homestay, tapi kami diajak tur melihat kehidupan penduduk lokal.

Sekitar 1-2 km aja sih jalannya, tapi nggak terlalu jauh rasanya. Masuk perkebunan kelapa sawit, melewati perkampungan, dengan berbagai macam rupa jalanan, tur ini terbilang ringan dan santai untuk dilakukan. Walaupun baju kami pada basah semua akibat mainan air, tapi semua asyik-asyik aja menikmati suasana. Mendekati lokasi homestay, kami tidak menyeberangi Sungai Batang Serangan dengan rakit melainkan melewati jembatan gantung.

image
Jalan-jalan lintas perkebunan kelapa sawit.
image
Menemui penduduk lokal saat melintas desa setempat.

Sedikit menyeramkan karena jembatannya goyang-goyang dan dibatasi tidak boleh dilewati banyak orang sekaligus. Cuma akhirnya jadi lama lewat karena banyak yang malah “nyangkut” di sana untuk foto-foto. 10 menit jalan jembatan gantung saya dan pasukan lainnya tiba jua di kediaman kami. Fiuuhh.. Capai tapi seru. Lelah tapi nikmat.

Ternyata keseruan tidak berakhir. Malam tiba kami malah makin asyik karena inang-inang Batak Karo dengan ulos cantiknya menggelar tarian. Beberapa dari kami ditarik untuk menari bersama. Apalah arti pesta ala orang Batak tanpa tuak. Kami disuguhkan tuak yang ditaruh di ceret aluminium. Pengalaman minum tuak pertama kali ya di sini. Baunya nggak enak, rasanya tidak seburuk baunya. Sampe tengah malam menjelang kami masih dibuai keramahan penduduk lokal.

image
Menari-nari trus menari.
image
Sayonara, Tangkahan! Photo by Anti.

Hari terakhir kami jalani sedikit malas-malasan. Maklum, abis pesta semalam. Tak banyak yang dilakukan selain duduk bercengkerama menikmati sisa-sisa waktu. Sebelum tengah hari, saya pun berpisah dengan Tangkahan. Terima kasih untuk kedamaian sejenak yang begitu membekas. Til we meet again.

Kantor LPT Tangkahan
Gedung Visitor Center Tangkahan
Desa Namo Sialang, Kecamatan Batang Serangan
Langkat, Sumatera Utara, Indonesia 20883

tangkahanecotourism.com/

-PJLP-

Advertisements

One thought on “Terasing di Tangkahan: Part III

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s