1001 Kisah Anker

image
Tiada hari tanpa kisah saat menjadi anker.

Yuhuu…

#MomiNat edisi kedua hadir di permukaan. Proyek nge-blog bareng Miss Innath berlanjut setelah kemarin sempat miskom karena seharusnya temanya food, tapi saya malah mengira sharing recipe…hehe.

#MomiNat kali ini mengangkat tema transportasi dan di kepala saya kok nyangkutnya kereta api ya. Udah lama memang pengen ngebahas suka-duka jadi Anker alias Anak Kereta, tapi belum-belum kesampean. Akhirnya datang juga kesempatannya.

Kereta api yang mau saya bahas ya Commuter Line (CL). Moda transportasi yang efektif dan efisien ini jadi kebanggaan orang-orang Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, juga Bekasi. Selain mampu mengikis waktu perjalanan, kini layanannya pun bisa dikatakan mengalami peningkatan, walaauuu belum maksimal seperti yang diharapkan.

Jadi pengguna kereta tuh ada enak dan nggak enaknya. Yang pasti tiap hari ada aja cerita yang bikin ketawa, sebal, bisa juga marah sampai hanya mampu geleng-geleng kepala. Berjuta rasa deh kalau jadi Anker.

Orang awam yang nggak pernah naik CL pasti berpikiran kereta itu sesak, panas, serasa “dipepes”. Well, ada benarnya juga. Terima nasib aja berangkat pagi di jam yang ramai-ramainya trus AC-nya pakai mati segala. Rrgghh… Belum kalau pantat kesenggol sana-sini, berhadapan muka dengan muka sama mas-mas berujung canggung maksimal sepanjang jalan, sampai berdiri sambil terombang-ambing karena nggak ada pegangan. Cumaaa, entahlah. Ada situasi-situasi yang mungkin rada parah sih tapi ajaibnya bisa dilalui dengan super woles. Mungkin karena sudah terbiasa lebih tepatnya.

Travel With Economy Style
Sebelum kereta api bertransformasi menjadi Commuter Line, ada zaman di mana kereta api ekonomi berkeliaran. Saya sebenarnya lebih prefer naik ini. Selain lebih murah, dulu cuma seribu or dua ribu gitu, trus lebih kebuka, maksudnya pintu dan jendela benar-benar ngablak, jadi nggak bakalan kepanasan.

Cuma tensin juga sih. Pernah suatu pagi naik kereta ekonomi, udah dandan cantik plus pakai parfum yang bikin wangi semerbak, eehh.. tahu-tahunya saya kedapatan satu gerbong sama dua kambing. Nasib. Mau pindah juga udah susah ya. Jadi bau kambing yang wah itu nempel sampai kantor.

Kalau naik kereta ekonomi pas malam lebih ajib lagi. Nuansa romantis dan horor jadi beda-beda tipis nih. Dari delapan gerbong palingan cuma dua yang nyala lampunya. Itu pun lampunya yang kuning dengan watt super minim, cuma satu atau dua yang nyala di pojokan, udah kayak naik angkot. Sisanya gelap gulita, man. Nggak jelas siapa yang duduk di sebelah lo. Itu kalau beneran orang. Berdiri juga takut nyenggol yang seharusnya nggak disenggol. Belum lagi mesti waspada sama copet dan teman-temannya.

Tapi belum lengkap ngomongin kereta ekonomi tanpa pengamen, pedagang asongan dan pengemis. Segala jenis ada deh. Ada pengamen yang model keroyokan, maksudnya full band dan ramai-ramai. Ada juga anak-anak punkyang, maaf, selalu terlihat kusam dari kepala sampai kaki dan pede mampus walau belum mandi berminggu-minggu. I guess mereka belum mandi beberapa minggu.

Di Stasiun Manggarai juga suka naik pengamen-pengamen tuna netra. Suka parno kalau lihat mereka jalan melintas antar gerbong. Takut nyangkut dan jatuh. Ada juga ibu-ibu dengan music box-nya bukannya nyanyi tapi heboh dan bising teriak, “(((Permisi ya permisi. Permisi yaa permisi))).” Itu suaranya bisa terdeteksi dari dua gerbong sebelumnya.

Kalau buat pengemis, sampai sekarang saya paling nggak ngerti sama mereka yang memilih mengemis sambil menyapu lantai gerbong, dibersihin dari sampah abis itu minta duit ke penumpang. Lhaa..!?!? Wong saya nggak nyuruh bersih-bersih.

Kalau soal pedagang asongan, paling ganggu itu pedagang minuman yang biasa dorong kotak minumnnya sepanjang gerbong. Kadang main tabrak aja kalau melintas. Kaki berapa kali tuh kelindas rodanya. Tapi paling seru kalau lihat yang jualan ikat rambut, bando, jepitan dkk. Digantung di depan kita trus lihat atas ke bawah, ke atas, bawah lagi, saking banyak pernak-perniknya.

Ada juga pedagang buah. Aah..paling malas kalau ketemu sama yang jualan jambu biji. Baunya nggak banget. Dan anehnya selalu jodoh ketemu tukang buah itu. Oh ya, pernah nih ada penumpang beli jeruk Bali. Dikiranya bakalan dibungkus, ealah, dikupas aja lho tuh jeruk yang gede, trus kulitnya dibuang aja di lantai.

Mendadak Jadi Sprinter
Jadi anak kereta itu bisa sekalian olahraga. Ajaibnya, CL bisa membuat orang yang jompo sekalipun akan berlarian sepanjang peron demi mengejar kereta. Ada beberapa stasiun di Jakarta yang kerap jadi lokasi untuk “dipermainkan” oleh CL.

Seperti Stasiun Tanah Abang. Peron untuk rute Parung Panjang dengan Bogor/Jatinegara tuh beda. Mesti nyebrang. Dulu, sebelum dibangun jalan penyeberangan, kita mesti pindah peron dengan naik tangga, jalan di lobi, kemudian turun ke peron yang dituju.

Sebenarnya biasa aja. Tapi situasi akan berubah kalau baru mau turun CL dari arah Palmerah trus trus lihat di peron tetangga ada CL menuju Bogor. Panik berlebihan langsung menjalar seluruh tubuh. Atur napas, siapkan ancang-ancang, dan begitu pintu terbuka, kabur tunggang langgang memburu kereta sebelum melaju. Itu pun pake embel-embel dihadang penumpang jurusan Parung Panjang yang sudah menerobos masuk di CL yang akan saya tinggalkan. Nggak sering mesti ngomel-ngomelin orang karena sering sekali penumpang transportasi umum jarang mendahulukan yang turun.

Ngotot-ngototan mah sering. Saya sama kolega di kantor sampai sengaja ngalangin pintu dan nggak mau minggir karena orang-orang maksa masuk padahal kami belum turun. Ributlah tuh ibu tapi jadi panik sendiri dese karena dia malah stuck, karena kami nggak mau mundur dan yang di belakang dia terus dorong. Hah!

Stasiun Kampung Bandan juga the best banget buat olahraga ekstrem waktu ngejar-ngejar kereta. Peron 1 buat rute ke Depok/Bogor. Peron 2 untuk jurusan Jatinegara. Sedangkan Peron 3 menuju Jakarta-Kota. Sama sih situasinya kayak di Tanah Abang. Dari Peron 1 ke Peron 2 & 3 mesti lewat jembatan penyeberangan. Makin heits karena tangga-tangganya keropos semua, alias nggak rata dan sangat nggak aman, apalagi buat lari-lari. Mau lari tapi ngeri jatuh. Mau jalan juga nanti tertinggal. Tapi yang ngenesin sih udah lari-lari, tinggal dikit lagi nyampe CL, tapi pas banget pintunya ditutup. Hiks!

Stasiun Sudirman juga nggak kalah heboh. Peron ada di level bawah, kalau naik dari Dukuh Atas, bukan Blora. Kebayang mesti jadi sprinter dadakan pas jalan santai memasuki stasiun, tahu-tahunya dengar bunyi CL memasuki peron. Apalagi Sudirman itu stasiun yang riweh dan luar biasa gila penumpangnya.

Public Enemy
Saya sama Rara, rekan sependeritaan CL paling nggak suka sama mbak-mbak kantoran yang naik dari Sudirman. Kami berdua biasanya naik dari Karet, satu stasiun sebelum Sudirman. Tiap kali masuk Sudirman, duh, bawaannya parno. Abis mbak-mbak kantoran yang rapi, kalem, dan cewe banget penampilannya, bisa berubah jadi sosok super rusuh yang nggak peduli dorong sana-sini demi dapat tempat. Tua-muda, aji gile, rusuh semuanya. Kuat-kuatin badan dan batin aja berhadapan sama mereka.

Tapi sih penumpang wanita CL pada umumnya unbelievable. Rusuh, iya. Careless, iya. Buat ibu-ibu bawaannya pengen ngajak ribut karena mereka malah lebih rusuh. Pokoknya kalau mau dapat duduk, janganlah masuk gerbong khusus wanita. Justru perempuan-perempuan ini lebih tega nggak kasih duduk, even buat wanita hamil dan orang tua.

Oh ya, ada juga jenis penumpang yang sampai sekarang saya masih menganalisa korelasi mereka. Kalau pernah naik kereta ekonomi, biasa tuh suka ada rombongan masteng dan mbakteng binal yang menurut saya berlebihan dalam segala hal. Biasanya mereka gerombolan gitu. Cuma sebagian yang duduk. Sering masteng-nya duduk trus mangku si mbakteng. Atau nggak si cewe berdiri trus gelendotan di mas-nya. Sepanjang jalan mereka cekikikan nggak jelas. Trus yang duduk di bawah pakai alas koran yang kalau turun dibiarin aja gitu berserakkan. Malesin deh!

Not to be Missed
Banyak banget momen yang bikin hahahihi kalau naik kereta. Seperti saya kan sedikit chubby, jadi suka dikira lagi hamil. Jadinya cukup sering dikasih duduk deh. Lucky me! Begitu saya dikasih duduk, langsunglah memainkan peran ibu hamil. Pas mau duduk sengaja pelan-pelan sambil pegang perut..nyahahahaha. Biar total gitu aktingnya. Nggak diniatin sih, cuma kalau rezeki dapat duduk, ya masa ditolak…hihi.

Paling enak juga naik kereta di jam-jam akhir. Lebih sepi dan tenang. Cuma amit-amit dinginnya. AC-nya full trus pakai kipas angin segala. Penumpang di satu gerbong palingan 10 orang. Bahkan kurang. Bikin hawa dingin makin menjadi-jadi. Biasanya cewe-cewe yang pulang malam udah prepare pashminah or pakai jaket dari awal.

Trus ya, sering juga nih udah buru-buru ngejar kereta, ternyata cuma sampai Manggarai, bukan tujuan akhir Depok/Bogor. Iishh.. Abis itu ngos-ngosan dan kehausan.

Paling siteng tuh pas saya dan Rara turun Kopaja 608 di flyover Karet. Begitu turun, pas banget hujan turun. Terpaksalah kami lari-lari sambil hujan-hujanan menuju Stasiun Karet. Makin senewen karena keretanya udah mau masuk. Kalau yang familiar dengan situasi dekat Karet, tahulah riwehnya jalanan itu. Makanya suka pusing sendiri kalau mau nyeberang. Akhirnya kami berhasil naik kereta itu (sambil ngos-ngosan dong). Tapiiii, begitu masuk, orang-orang pada ngeliatin kami karena lumayan kuyub. Apalagi si Rara, kayak abis mandi..hehe.

Ada juga satu masa di mana seluruh gerbong dikhususkan bagi penumpang wanita. Enak banget tuh. Bisa lebih lowong. Cuma masih aja penumpang pria yang nggak tahu. Mereka main masuk aja, trus baru sadar kemudian kalau semuanya perempuan. Ada yang telat sadarnya trus pintu udah keburu tutup. Jadi dia mesti turun di stasiun berikutnya. Sebenarnya biasa aja sih. Cuma begitu lo tahu jadi satu-satunya makhluk bertestoteron dan banyak pasang mata ngeliatin, mmh.. malu juga cuy.

Ada juga nih kejadian saya lagi berdiri di gerbong pertama, nyandar persis di dinding pembatas ruangan masinis. Trus ada satu ibu lagi jalan ke arah saya, terus dese mencoba dorong-dorong pintu masinis. Ternyata dia nggak ngeh kalau pintu itu menuju ruang masinis. Dikiranya masih ada gerbong lain. Akhirnya tuh ibu balik badan sambil nyengir sendiri.

Jajanan Khas
Stasiun nggak selalu jadi media transportasi, tapi juga jadi tempat mangkal jajanan seru nan enak. Ada beberapa stasiun yang punya jajanan tertentu yang identik. Dulu banget, zaman stasiun belum ditertibkan, ada banyak penjaja makanan yang biasanya jadi tempat perhentian sebelum dan sesudah naik kereta.

Seperti kue lopis di Stasiun Tebet. Saya tuh suka niat berangkat sedikit awal buat turun dulu di Tebet, pesan dan makan lopis, abis itu naik lagi kereta ke arah kantor. Abis enak sih lopisnya. Sebenarnya letaknya nggak di peron, tapi abangnya bikin bolongan gitu supaya penumpang bisa pesan dari dalam peron. Ada juga bakwan Malang di Stasiun Duren Kalibata. Adanya di ujung peron. Tiap kali lewat kok baunya semerbak ya. Akhirnya melipir juga. Ternyata, lumayan enak juga tuh. Murah pula. Tahu deh sekarang jadi pindah ke mana.

Kalau di Stasiun Universitas Indonesia mah saya doyannya Bakso Rudal. Salah satu jajanan kesukaan anak-anak UI. Emang enak sih. Tapi nggak tahu ya sekarang masih enak atau nggak. Posisinya bukan di peron, tapi dekat ruangan operasional stasiun.

Lain lagi di Stasiun Jakarta-Kota. Dulu tuh ramai gitu di peron 11-12 yang dihuni ibu-ibu penjual pecel. Dagangan super laris ini selalu jadi incaran penumpang yang lagi nunggu kereta datang. Sekarang sih udah nggak ada, tapi saya lihat beberapa mangkal di Taman Fatahillah. Kemudian pisang goreng di Stasiun Manggarai. Dia lebih dekat ke Jalan Tambak. Yang jualan biasa cewe-cewe semua dengan warung yang dipenuhi pisang tanduk yang digantung. Ramai euy yang beli. .

Commuter Line Masa Kini
Secara keseluruhan bentuk pelayanan CL sudah mengalami peningkatan. Sudah tidak terlalu sering menemukan AC yang mati atau gangguan kereta karena masalah sinyal. Walau beberapa minggu lalu dihebohkan dengan kereta tertabrak di Stasiun Juanda.

Banyak stasiun juga sudah dipugar dan diperkuat fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Yang paling signifikan ya Stasiun Palmerah. Dulu mah bapuk banget. Udah kecil, tempat duduknya dari besi rel, itu pun sedikit. Trus sepanjang peron tidak semuanya ditudungi canopi. Parah deh. Padahal Palmerah itu kayak model Sudirman, banyak pegawai kantoran yang naik dari situ. Kalau sekarang mah, wah, keren banget.

Sekarang juga makin dimudahkan dengan sistem e-ticketing. Cukup memiliki kartu E-Money, BCA Flazz, ada lagi dari kartu BRI dan BNI, seluruh penumpang makin mudah untuk menggunakan jasa CL. Tapi ingat, minimal harus memiliki saldo Rp11.500 karena itu tarif terjauh CL.

Jadi inget waktu masih menggunakan sistem tiket kertas, nanti di tengah jalan ada petugas yang akan cek tiket sepanjang delapan gerbong abis itu dibolongin. Paling malas kalau lagi padat-padatnya. Tujuannya supaya menghindari penumpang-penumpang gelap yang nggak pernah beli tiket. Tapi nggak ngaruh ah. Masih banyak kok yang curi-curi kesempatan. Sama sekali nggak efektif.

Saya sih optimis kereta api di Indonesia akan semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya. Apalagi kalau nanti sudah terintegrasi dengan sistem transportasi lainnya. Semoga nggak hanya jadi wacana semata. We’ll see ya!

-PJLP-

Advertisements

One thought on “1001 Kisah Anker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s