Jangan Gendut Kalau ke Sunyaragi!

image

Ketimbang ke tiga keraton yang menempati Kota Cirebon, saya paling tertarik dengan Gua Sunyaragi. Dari foto-fotonya saja sudah bikin penasaran. Dengar cerita teman yang meliuk-liuk menyusuri lorong-lorong sempit di sana, jelas bikin kaki ingin cepat menghampiri. Cuma satu, kalau gendut, susah euy kalau pengen eksplor.

Gua Sunyaragi itu bagai labirin di tengah Kota Cirebon. Dari luar saja kita bisa melihat bangunan berbatu tajam yang nampak mencolok. Saat itu saya benar-benar dibuat penasaran sejadi-jadinya karena sudah lama ingin ke sana. Dengan pelataran parkir yang cukup luas juga adem, masuklah melalui pintu yang tidak dikawal penjaga ataupun petugas karcis. Kamilah yang mesti menghampiri seorang petugas yang duduk dekat rumah adat untuk membayar tiket masuk.

Selesai dengan perkara administrasi, mari kita bertualang. Sunyaragi bukanlah sembarang gua. Salah satu gua yang artistik, teduh, dan bikin betah sebenarnya. Gua ini bukan gua alam yang dulu dibangun rezim Jepang. No no no! Bukan pula peninggalan era kompeni Belanda. Sunyaragi lahir atas buah karya dari Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati pada tahun 1703.

Sunyaragi dibangun karena Pesanggrahan Giri Nur Sapta Rengga berubah fungai menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon yang sekarang dikenal dengan nama Astana Gunung Jati. Berlokasi di Sunyaragi Kesambi, persis di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, gua ini kerap disebut Taman Air Sunyaragi. Hal ini dikarenakan konstruksi bangunannya serupa taman air.

Kalau diteliti, arsitektur bangunannya memiliki banyak unsur di dalamnya, baik dari Indonesia sendiri, Cina, Timur Tengah, pengaruh Hindu, hingga sentuhan Eropa. Total ada 12 bagian di Sunyaragi, antara lain:
1. Bangsal Jinem sebagai tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih.
2. Gua Pengawal sebagai tempat berkumpul par apengawal sultan.
3. Kompleks Mande Kemasan (sebagian hancur).
4. Gua Pandekemasang sebagai tempat membuat senjata tajam.
5. Gua Simanyang sebagai tempat pos penjagaan.
6. Gua Langse sebagai tempat bersantai.
7. Gua Peteng sebagai tempat nyepi untuk kekebalan tubuh.
8. Gua Arga Jumud sebagai tempat orang penting keraton.
9. Gua Padang Ati sebagai tempat bersemedi.
10. Gua Kelanggengan sebagai tempat bersemedi agar langgeng jabatan.
11. Gua Lawa sebagai tempat khusus kelelawar.
12. Gua Pawon sebagai dapur penyimpanan makanan.

image

image

Namanya sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta, yakni sunya (sepi) dan ragi (raga). Definisi namanya merupakan refleksi dari tujuan berdirinya gua ini, yakni sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

Saya bingung mau menelusuri yang mana dulu. Nggak ada arah ataupun petunjuk yang bisa diikuti. Suka-suka hati saja mau jalan yang mana. Jalan sedikit, saya menemukan pintu kayu dengan dinding batu di akhir sebuah jalan setapak. Seakan mengingatkan saya pada film The Lord of the Rings. Begitu buka pintu, ada semacam ceruk yang bermuara di area Sunyaragi yang ikonik itu. Hamparan bangunan berbatu seperti tanaman merambat yang menundungi bangunan. Hwaah…, sedikit suram namun unik, nggak lazim.

image

image

Ada banyak gua di area tersebut, yang dulunya menjadi ruang-ruang meditasi. Tapiii, kok kecil-kecil ya jalan masuknya. Terlalu sempit. Sempit parah pas masuk. Saya takut nggak muat kalau keluar. Trus pas mau masuk di gua apa gitu, di dekat situ ada tiga remaja yang lagi duduk-duduk santai. Mereka lihat saya yang ragu-ragu mau masuk gua atau nggak. Trus nyeletuklah salah satu. “Hati-hati, mbak! Ada pocong di dalam.” Trus saya akhirnya nggak masuk. Bukan, bukan karena ditakutin ada pocong, tapi karena emang nggak muat deh. Jadi kalau mau ke Sunyaragi, jangan gendut ya!

Secara keseluruhan ada banyak ruang dan rupa gua yang bisa dimasuki. Ada yang bentuknya kayak rumah Hobbit. Di belakang sana ada yang serupa panggung gitu dengan kolam airnya. Ada beberapa tumpukan batu yang terlihat seperti tengkorak. Ya, ada yang aneh ada juga yang cantik. Kalau main petak umpet di Sunyaragi asyik juga sih. Cuma hati-hati, dinding guanya itu cukup tajam. Pastikan perhatikan langkah. Saya sarankan jangan pas tengah hari ke sini, panas! Sore jam 3 atau 4 yang paling pas. Trus menurut saya lebih enak kalau pakai jasa pemandu, biar lebih jelas gitu Nggak ada papan keterangan sama sekali yang menjelaskan gua. per gua, hanya papan nama guanya saja.

Gua Sunyaragi

Sunyaragi, Kesambi

Cirebon – Jawa Barat

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Gendut Kalau ke Sunyaragi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s