Back to the 90’s

image
Back to the past.

Bukan perkara susah move on, tapi kenyataannya tahun 90-an melahirkan banyak karya dan kreasi seni yang everlasting. Nggak heran membekas gitu, seakan susah beranjak untuk menikmati hal-hal yang kekinian. Anaknya lawas banget.

Menurut saya, tahun 90-an itu belum tercemar dengan para alayershahaha. Musisi masih idealis mencipta lagu tanpa ngikutin pasaran yang didominasi kaum alay. Film-film pun masih orisinal, tanpa sekuel yang beranak-pinak dengan ide cerita yang serba dipaksa. Bahkan sinetron tuh masih asyik untuk ditonton, karena format penayangan cuma seminggu sekali dan durasi iklan nggak berlebihan. Tema cinta-cintaannya pun bukan yang galau dan menye-menye.

Bagi mereka yang tumbuh di zaman 90-an, yuk nostalgia bersama saya lewat tulisan ini!

Romantika Telenovela
I’m a big fan of telenovela! Dulu ya. Bahkan untuk anak usia sekolah dasar, yang notabene belum proper untuk nonton yang begituan, tapi suprisingly saya lumayan ngikutin banyak seri…nyahahaha.

Dulu sih seru aja ya nonton telenovela. Ingat banget pulang sekolah buru-buru ke rumah trus nyalain tv dan asyik nonton sambil make kaos kutang sama rok sekolah. Cukup sering bolos tidur siang tuh. Sering banget melewatkan jam mandi sore karena lagi enak-enaknya nonton.

Awal-awal banget saya suka telenovela The Right to Love (Direito de Amar), alasannya karena setingannya jadul gitu dengan baju-baju panjang ala Victorian. Theme song-nya juga enak. Tenovela jadul lainnya macam tiga gadis kembar, Maria Paula, Maria Vernanda dan Maria Guadalupe jadi satu-satunya telenovela oke yang disiarin di Indosiar. Tapi saya lupa apa judulnya. Cassandra ala-ala gypsi juga keren tuh. Di mana Osvaldo Rios, mantannya Shakira terlihat yummy banget saat itu.

Lalu memasuki era emas Thalia yang merajalela dunia telenovela. Maria Mercedez langsung meroket di pasaran. Semua 0rang hafal betul lagunya padahal nggak pernah belajar Bahasa Spanyol. Kemudian balada Thalia berderet tanpa henti. Sambung-menyambung dari Maria Cinta Yang Hilang, Marimar dengan anjing Pulgosonya yang bisa ngomong, termasuk Rosalinda (ayamour). Setelahnya saya juga doyan La Mentira yang ceritanya nggak biasa dengan tokoh sentral Veronica dan Virginia. Ada juga Esmeralda, Ezperanza, sampai Cinta Paulina. Trus pasti ingat dong Chabelita dan tante rambut palsunya. Setelahnya, telenovela mulai meredup dan tenggelam begitu saja di pertelevisian Indonesia.

Cukup Seminggu Sekali
Bosan nggak sih tiap hari nonton sinetron dengan durasi lebih dari sejam? Gregetnya jadi kurang. Cerita jadi dipaksa-paksa. Jumlah episode beratus-ratus. Belum lagi ditambah akting pemain yang ala kadarnya dan ketahuan banget kurang persiapan. Itulah kenapa saya merindukan format sinetron seperti dahulu kala. Di mana cukup seminggu sekali dan palingan hanya 26-30 episode trus tamat deh. Nggak perlu mengkerutkan dahi dengan segala kejanggalan dan hal-hal yang berlebihan di dalamnya.

Ada juga masa di mana saya suka nonton sinetron yang disadur dari novel-novelnya Mira W. Nggak cheesy. Wajar. Sederhana. Kalau ngomongin favorit, saya sih sudah pasti suka Cinta, yang main itu Deasy Ratnasari (yaoloh), Primus Yustisio, Atalarik Syah. Theme song-nya memorable banget! Bahasa Kalbu from Titi DJ. Tapi nggak ada yang bisa mengalahkan Tersanjung yang nggak kehitung lagi episodenya. Sampai muntah karena tuh sinetron nggak kelar-kelar. Herannya masih banyak yang nonton.

Jangan lupakan Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, trus Sahabat Pilihan. Nama-nama macam Ari Wibowo, Dian Nitami, Gunawan, Paramitha Rusady, Adam Jordan, Jihan Fahira, Vira Yuniar, hits banget deh pokoknya. Oh ya lupa, Jeremy Thomas. Trus saya keingatan serial-serial komedi yang sebenarnya nggak lucu-lucu banget, macam Gara-Gara, Ada-Ada Saja, Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Jinny oh Jinny. Ya ampun.

Kung Fu, Vampir, dan Totok
Bahkan sampai sekarang masih membekas nama Yoko dengan Bibi Lung-nya. Jarang anak 90-an yang nggak tergila-gila sama Legend of the Condor Heroes. Anak-anak cowo di SD dulu yang sok-sok jago kung fu gitu. Trus kita yang cewek-cewek bikin model rambut kayak Bibi Lung, yang ambil sedikit rambut di pelipis trus dibasahin air dan tempel ke pipi..hahaha. Belum lagi kalau pas istirahat sekolah main duduk bersila membelakangi trus main totok-totokan kayak di serialnya, ceritanya lagi menyalurkan energi. Duuh…

Di era itu banyak juga film Cina yang bertema vampir. Trus saya dan teman-teman terinspirasi dari filmnya, kami nulis di secarik kertas ala-ala tulisan Cantonese, trus nanti ditempel di dahi salah satu teman kami yang berperan jadi vampir. Ceritanya itu catatan mantra untuk “mematikan” vampir. Kalau kertasnya copot, nanti hidup lagi vampirnya. Apakah yak?!? :))

Forever and Ever
Banyak yang bilang musik itu berhenti di tahun 90-an. Sisanya hanya pengulangan di era-era sebelumnya. Ada benarnya juga sih. Ada perbedaan rasa ketika menikmati musik masa kini. Terlihat serupa. Kadang terlalu galau. Kok madesu banget sama hidup. Lirik pun merembet agak alay.

Coba kilas balik ke zaman Kla Project dan Dewa 19 yang puitis merangkai kata dan nada. Bikin terngiang-ngiang hingga dua dekade. Siapa yang bosan dengarin Yogyakarta atau Kangen? Kebanyakan lagu-lagu 90-an itu nyangkut di otak. Makanya nggak pernah bosan. Entah ya, karya-karya di dekade ini menawarkan sesuatu yang murni, nggak neko-neko, sederhana namun menjadi magnet yang tak tergoyahkan.

Era boyband dengan anggota super cute wara-wiri sepanjang 10 tahun itu. Westlife salah satu yang favorit dan paling suka sama Nicky. Heboh kalau ada video klipnya di televisi. Dulu tuh cuma ngandelin tv buat liat video klip, berhubung youtube belum kondang. Jadi kalau sampai ketinggalan nonton dan tinggal sisa-sisa, bisa nyesal banget. Lebay boookkm!

From Series to Series
Saya mesti bilang kalau televisi jadi teman terbaik saya semasa kecil. Semacam adiktif sama program-program televisi. Lagi, saya ini kok bukannya nontonin tayangan yang pantas dengan usia, kok lebih sering nonton tayangan dewasa ya..hehe. Tapi gitu, kalau ada adegan ciuman atau sex trus jadi malu sendiri, abis itu nunduk..haha.

Dari sekian banyak serial Hollywood yang seliweran di tv, ada beberapa nama yang selalu dinanti tiap minggunya. Favorit banget sih The A-Team dan Mission: Impossible. Selalu takjub nonton dua serial ini. Kemudian judul-judul seperti Airwolf, Knight Rider, MacGyver, Renegade, Beverly Hills 90210, Baywatch, Miami Vice, sampai Melrose Place.

Tuh kan, nggak ada habisnya sih ngebahas segala hal yang berbau 90-an. Nostalgia yang menyenangkan. Sekarang sih lagi excited karena 7 November nanti ada konser 90’s Big Reunion, di mana yang perform artis-artis yang berjaya di 10 tahun itu. I just can’t wait!

Viva 90’s!

Ps: Tulisan ini saya dedikasikan untuk proyek ngeblog bareng Mbak Innath yang rajin meeting 😉 Kali ini temanya Lawas.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s