Tator Lembar Pertama

image
Saya datang, Tator! Photo by Eka Eldina.

If a Leo (that’s me) wants something, they (I) will do everything to get itYes, benar banget. Tapi dalam artian positif lho. Seperti merealisasikan mimpi ke Tana Toraja (Tator) yang bisa dibilang maksa (banget) karena cuma one day trip tapi membutuhkan 16 jam perjalanan pergi-pulang. Nothing is impossible, right!

Perjalanan ini sebenarnya melelahkan sih. Cerita Tator dimulai ketika saya dan Eka tiba di Makassar tengah malam trus terpaksa numpang tidur di bandara karena belum bisa check-in. Besok paginya dari bandara kami naik Damri ke kota, trus mampir beli tiket bus eksekutif Litha yang paling kondang itu untuk rute Makassar-Tana Toraja. Harganya Rp150.000 (tahun 2013) dan berangkat malam itu jam 21:00. Dari pagi sampai siang kami memutuskan tidur dulu di hotel, karena masih ngantuk. Untungnya bisa early check-in. Siang-sore muter-muter ke Fort Rotterdam, kulineran, enjoy sunset di Pantai Losari trus balik hotel buat siap-siap.

Setengah sembilan malam sudah stand-by di pool bus Litha, somewhere di mana itu. Jam 21:00 bus berangkat tepat waktu dan kami kegirangan karena busnya super nyaman dan bersih. Full AC, kursinya empuk, dapat selimut, trus ada penopang kaki jadi bisa selonjoran buat tidur, dan satu lagi, yang paling saya suka, di bagian kepala ada semacam ceruk gitu, yang berguna sekali sepanjang jalan karena bikin tidur nggak terganggu akibat melewati jalanan berkelok. Ceruk itu bikin kepala aman sticked di ceruk tersebut, walau mesti geleng kanan-geleng kiri efek melewati jalan berkelok.

Mereka bilang pemandangan sepanjang perjalanan bagus banget. Tapi kami yang memikirkan prinsip ekonomi, yaitu pengeluaran sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya lebih memilih berangkat malam supaya tidak perlu mengeluarkan biaya penginapan. Kasarnya, lebih memilih tidur di bus dan bisa sampai di tujuan baru, daripada mesti bayar penginapan dan bus, tapi waktu tidak dimaksimalkan seefisien mungkin.

Selama delapan jam dibawa putar-putar melewati kelokan tajam yang semestinya sih bikin perut bergolak. Apalagi bus dikemudikan dengan kecepatan yang lumayan tinggi, agak parno juga. Cuma efek ngantuk membuyarkan itu semua. Kami asyik tidur dengan nyaman. Sempat berhenti sekali untuk makan subuh dan ke kamar mandi. Palingan Cuma 30 menit, habis itu lanjut jalan. Mendekati Rantepao, sayub-sayub lagu gereja diputar si supir. Baru pernah euy naik bus umum trus muterin lagu rohani. 30 menit kemudian bus pun berhenti. Di luar belum terang betul. Hawa masih cukup dingin, tapi menyegarkan. Berhenti di jalan dua arah yang katanya merupakan jalur utama kota. Rantepao, kami datang!

image
Pemandangan Kete Kesu dari kejauhan.
image
Tongkonan yang menjadi kebanggan orang Toraja.
image
With Eka Eldina.

Posisi kantor Bus Litha ada di jalanan utama yang pagi itu belum terlalu ramai. Tapi sudah lumanyan banyak orang seliweran. Saat itu bingung, disorientasi arah dan tujuan. Pertama karena masih ngantuk. Kedua bingung mau mulai dari mana. Akhirnya kami cari ATM dulu, berhubungan kehabisan uang tunai. Kami merasa butuh makan abis itu. Perut kosong bikin nggak bisa mikir. Jam 6 pagi belum ada restoran yang buka. Lalu kami lihat ada warung, yang dikiranya semacam warteg. Tanya ada makanan, si ibu cuma punya nasi ketan dan ikan soko yang asin. Itu menu tradisional orang Toraja. Ya sudahlah, kami langsung serbu. Cukup enak ternyata. Tapi pagi itu saya nyesal sejadi-jadinya karena baterai kamera habis karena sepanjang perjalanan kameranya nggak sengaja on. Sedih banget lho. Untung masih bisa ngandelin kamera HP.

Kalau perut sudah terisi, sudah bisa diajak kerja sama otaknya..hehe. Dari awal kami berniat sewa ojek ketimbang naik mobil. Sebenarnya sih bisa sewa motor aja trus Eka yang nyetir, tapi kasihan. Ntar kecapean. Trus takut juga ketemu trek jalanan yang aneh-aneh. Dengan mulus kami berhasil transaksi jasa ojek muter-muter Toraja seharian dengan harga Rp175.000 per orang. Not bad, memang segitu kisaran harganya. Here we go, petualangan di Tator dimulai bahkan sebelum adik-adik masuk sekolah.

Naik motor sepagi itu cukup bikin badan kedinginan. Kabut masih menerpa beberapa area. Matahari bahkan belum bangun. Kami menyerahkan urusan rute ke supir ojek. Pokoknya hanya kasih tahu mau ke mana saja, biar dia saja yang atur. Tujuan pertama ada Kete Kesu. Paling dekat lokasinya dengan Kota Rantepao, palingan hanya 15 menit perjalanan dari pusat kota.

Pagi itu saya bahagia banget. Senyum-senyum sendiri di kursi penumpang. Terkagum-kagum dengan diri sendiri karena akhirnya bisa sampai juga di Tator. Entah berapa lama punya mimpi untuk ke sini. Thank you, my God. Akhirnya kami sampai di lokasi. Bahkan penjaga loketnya saja belum ada. Kami nyelonong masuk melalui jalan setapak. Dari pelataran parkir sampai ke area utama Kete Kesu cuma 100 meter saja. Begitu sampai, aahhh… Pengen menjerit. Akhirnya!!

image
Peti mati dari kayu dengan uki
image
Tengkorak dan tulang-belulang bertebaran.
image
Patung Tau-tau.

Pagi itu kabut masih mengiring awan dengan bias mentari mulai menyusup di antara pepohonan. Di depan saya ada beberapa tongkonan yang berdiri saling berhadapan, berjajar rapi, dan melukiskan segala kecantikan budaya Toraja. Masing-masing terlihat gagah dengan tanduk kerbau yang dipasangkan menumpuk ke atas. Detail ukiran, atap tongkonan yang khas, serta rahang kerbau menjadi aksen pemanis. Senangnya datang kepagian, belum ada satu turis. Cuma ada penduduk lokal yang sedang siap-siap memulai aktivitas di hari baru. Kete Kesu sendiri merupakan desa wisata yang masih terjaga kelestarian budaya dan adat-istiadat.

Kami sempat masuk di tongkonan yang dipercaya tertua di sana. Pintu masuknya kecil betul. Di dalamnya agak gelap, dengan langit-langit bangunan yang rendah. Nggak ada perabot ataupun perkakas. Sepertinya tidak ditinggali. Persis di sebelahnya ada toko suvenir yang menjual barang ukiran yang cantik-cantik. Dari tatakan gelas,  tatakan piring, pajangan, juga nampan. Pengen banget beli nampannya, cuma agak repot bawa-bawa nampan sepanjang keliling Tator.

Kami masih bertahan di Kete Kesu hingga setengah jam kemudian karena diajak supir ojek ke bagian belakang. Di sana ada kuburan. Yes, destinasi utama di Tator sebagaian besar didominasi tempat pemakaman. Ada yang menganggap aneh, buat apa sih liburan ke kuburan? Well, ini bukan sembarang kuburan. Ada daya tarik tersendiri yang membuat destinasi unik di Tator ini menarik untuk disambangi. Tidak ada embel-embel unsur horor karena sejujurnya, selama di sana sama sekali nggak ada rasa takut yang berkaitan dengan unsur-unsur hantu.

Lanjut! Ternyata area belakang Kete Kesu lebih luas dari yang saya bayangkan. Sepanjang jalan setapak berbatu yang di sisinya banyak pohon bambu, ada juga tongkonan-tongkonan dalam ukuran cukup besar yang menjadi kuburan. Gokil ya! Segede itu bangunan kuburannya. Lalu belok ke kanan di mana ada banyak anak tangga yang terletak dekat tebing batu. Di tebing-tebing inilah terpampang jelas peti-peti mati, ada yang masih utuh, ada yang sudah bolong sana-sini dan mempertontonkan tiap tulang yang di dalamnya. Malah ada juga tengkorak-tengkoraknya dipajang rapi di atas tumpukan kayu. Petinya ada yang ditaruh saya di tanah. Ada juga yang tergantung malang-melintang di atas sana. Cuma beralas kayu sebagai tumpuan. Entah berapa banyak peti mati dan tumpukan tulang-tengkorak yang ada di sini. Somehow, semuanya sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Justru kami terkagum-kagum dengan ukiran peti yang cantik sekali. Detailnya terlihat rumit dan bertahan walau diserbu hujan dan matahari sepanjang waktu. Oh ya, jangan kaget kalau lihat boneka serupa patung yang buat layaknya manusia. Namanya Tau-tau, boneka khas Toraja yang menjadi simbol orang yang telah meninggal. Maksudnya dibuat Tau-tau supaya orang-orang yang masih hidup bisa terus mengingat sosok yang meninggalkan.

Sejenak di Kete Kesu sudah membawa kebahagiaan ya. Selanjutnya, menelusuri gua kematian di Tator Lembar Kedua.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s