Tator Lembar Kedua

image
Menyusuri gua kematian, Londa.

Main-main ke gua kematian sepertinya bukan ide menarik kala liburan. Namun Londa mampu menjaring pejalan untuk singgah dan menemukan gua berisi peti mati dan tumpukan tulang-tengkorak.

Scary? Not at all. Tapi memang nggak bisa memaksa semua orang untuk menikmati jenis wisata seperti ini. Tana Toraja (Tator) memang mengunggulkan destinasi-destinasi yang membawa unsur budaya dan adat istiadat. Seperti diketahui bahwa kematian merupakan sikls kehidupan yang mendapat apresiasi tinggi bagi orang Toraja. Sebuah kematian berarti digelarnya sebuah pesta budaya. Bahkan tempat peristirahatan terakhir juga memiliki cerita dan ritual tersendiri. Inilah yang menjadikan Tator sangat kaya dalam kultur. Mereka sangat menjunjung tinggi segala warisan budaya, sehingga generasi demi generasi bisa menyaksikan sendiri kekayaan daerah cantik ini.

Di awal petualangan sehari di Tator, saya dan Eka sudah terlebih dulu mampir di Kete Kesu, salah satu desa adat paling populer yang jaraknya dekat dengan pusat Kota Rantepao. Cantik rupanya, persis seperti di foto-foto yang saya lihat di internet. Londa menjadi lokasi kedua. Supir ojek yang kami sewa seharian membawa kami menuju Londa sembari menyeruput pagi yang damai. Saya lupa berapa lama waktu yang dibutuhkan dari Kete Kesu menuju Londa, tapi yang pasti perjalanan kami sedikit terhambat karena motor ojek yang dinaiki Eka bermasalah gitu bannya. Kayaknya bocor deh.

Ban selesai diperbaiki, perjalanan pun dilanjutkan. Berhubung perginya sudah dua tahun silam, jadi rada lupa panorama sepanjang jalan. Yang pasti sih menyenangkan. Bebas polusi, hawa sedikit berkurang sejuknya karena matahari mulai meninggi. Satu lagi, nihil macet. Jalannya pun sudah dilapis aspal. Walau memang ada beberapa wilayah yang butuh diperbaiki. Memasuki kawasan Londa, saya menemukan lahan parkir yang lebih luas ketimbang di Kete Kesu. Ada gapura dekat situ yang memancarkan kecantikan ukiran khas Toraja.

image
Boneka Tau-tau yang kerap dicari pemburu maka untuk dijual.
image
Peti-peti mati bergelantungan sana-sini.

Londa sendiri adalah kawasan pemakaman yang diperuntukkan bagi leluhur orang Toraja dan keturunannya. Mungkin perlu diketahui bahwa jauh sebelum agama masuk, di Tator sendiri sudah memegang kepercayaan dari nenek moyang disebut Aluk Todolo atau biasa disebut Alukta. Dari kepercayaan inilah lahir suatu tradisi untuk segera melaksanakan upacara pemakaman (aluk to mate = memperlakukan orang yang telah meninggal). Karena semakin cepat jenazah dimakamkan, akan semakin banyak kesempatan untuk melaksanakan upacara pemberkatan lainnya.

Namun, yang sering terjadi adalah jenazah-jenazah tersebut (terpaksa) disimpan terlebih dahulu di dalam gua dan liang-liang bukit. Alasannya kalau bisa karena masih menunggu kerabat yang tinggalnya jauh dari lokasi. Atau bisa juga karena masih menabung untuk membiayai Upacara Rambu Solok (upacara mengantarkan jenazah menuju puya – alam lain) yang diketahui memerlukan biaya yang besar.

Dahulu masyarakat adat Toraja menyimpan jenazah di dalam rumah tongkonan, lamanya waktu menyimpan jenazah paling lama tiga puluh enam malam untuk keluarga bangsawan. Sementara dari golongan lainnya kurang dari itu, atau bahkan tidak disimpan sama sekali karena upacaranya sangat singkat. Seiring berjalannya waktu, kemudian masyarakat adat Toraja memberi sebutan dan anggapan yang berbeda-beda tentang jenazah yang disimpan. Ada yang menganggap To Makula, bahwa jenazah yang disimpan dianggap hanya sebagai orang yang sakit, dan To Mate, jenazah sedang dalam rangkaian upacara Aluk To Mate.

image
Rada berantakan sih tumpukan peti matinya. Saking banyaknya.
image
Biasanya para kerabat akan meletakan uang, rokok, dan barang lainnya di dalam peti mati.

Area gua dan lubang di Londa bisa ditempuh mudah dari arah parkiran. Sekitar beberapa menit jalan kaki, sudah sampai tuh. Mendekati lokasi gua, saya melihat begitu banyak tumpukan peti mati yang bergelantungan sana-sini. Tidak beraturan. Banyak yang sudah keropos. Tulang dan tengkorak terburai begitu saja, walau tak ada perasaan risau menyertai langkah saya. Di atas sana, di sebelah kanan, ada semacam etalase boneka Tau-tau yang dipajang lebih rapi. Tapi ada pintu jeruji yang akan ditutup jika malam tiba. Kata supir ojek yang juga menjadi pemandu saya, terpaksa mesti dipalang karena banyak yang berniat mencuri boneka untuk dijual bahkan ke negara lain. Katanya harganya cukup tinggi.

Kami pun tak menunggu lama untuk memasuki gua. Di sini kami butuh bantuan lampu petromax untuk menerangi langkah. Bisa disewa dekat tempat parkir. Waktu itu cuma bayar Rp30.000 saja. Berhubung berat dan panas, lampu petromax dipegang supir ojek. Dia juga yang menjadi pembuka jalan di depan. Lorong-lorong gua ada yang lebar, ada juga yang sempit. Ada yang rendah langit-langitnya, ada yang sedikit lowong di atas. Sama sekali tidak tercium bau tak menggenakkan dari tulang-tulang tersebut. Memang sedikit pengab, tapi saya tidak merasa terganggu sama sekali. Ya mungkin kekhawatiran saya adalah ular. Takut saja ada ular di situ, nggak lucu kan! Sempat ketemu laba-laba cukup besar sih yang bikin Eka parno, tapi seterusnya perjalanan kami aman terkendali.

Ada satu cerita sih dari salah satu tengkorak yang ada di dalam Londa. Kami ditunjukkan ada dua tengkorak yang diletakkan di atas tanah secara berdampingan. Ceritanya pemilik kedua tengkorak tersebut adalah pasangan kekasih. Namun karena cinta mereka tidak direstui keluarga masing-masing, mereka pun menghabisi nyawa dan mati bersama-sama. Semacam Romeo and Juliet. Karena tak bisa bersatu di dunia ini, mereka dipersatukan dalam gua kematian ini.

image
Tumpukan peti mati untuk anak-anak.
image
Hey. that’s me!

Oh ya, ada juga satu ceruk yang isinya tumpukan tengkorak. Biasanya sih jadi langganan para turis untuk berfoto ria di situ. Saya juga sih. Cuma waktu itu antara takut-nggak takut sih. Mau foto tapi dekat sekali dengan tengkorak-tengkorak itu. Akhirnya berhasil juga.

Penelusuran di dalam Londa tak berlangsung lama. Kami keluar dan kembali menghirup hawa sejuk yang menyegarkan. Pemandangan sawah dan pepohonan hijau menjadi variasi yang menyejukkan mata. Kami pergi ke arah areal persawahan untuk melihat penampakan Londa dari seberang sana. Jalan setapak mesti dilalui. Hati-hati melangkah. Setelah berada di titik terbaik, barulah kami menyaksikan Londa yang magis nan jauh di sana. Lagi ada cerita yang kami dengar, another sad story. Jadi ada prosesi pemakaman nih. Karena masyarakat di sini memiliki prinsip posisi peti menunjukkan kasta sosial, tentu saja prosesinya lebih repot. Karena nih orang cukup dikenal dan punya posisi, ditaruhlah di atas. Daripada peti diangkut dari bawah ke atas, orang-orang bawa ke puncak bukit lalu diturunkan pelan-pelan. Namun sayang, di tengah-tengah prosesi, ada salah satu kerabat yang tanpa sengaja terjatuh dari puncak bukit. Which means, meninggal. Jadi keluarga tersebut mesti melalukan prosesi pemakaman kedua kali itu. Ya ampun, malang benar ya orangnya. Kisah sendu tersebut menjadi penutup perjalanan kami di Londa.

Penelusuran jejak budaya di Tator masih berlanjut. Berikutnya giliran Lemo dalam Tator Lembar Ketiga.

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Tator Lembar Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s