Tator Lembar Keempat

image
Yeehaawww!

Tana Toraja (Tator) tuh ngangenin ya! Makin terasa kangennya selama nulis perjalanan ke sana. Entah ya, sisi daerahnya yang masih natural, budayanya yang masih kental, terus selama di sana juga ketemu orang-orang yang menyenangkan, bikin betah. Lebih tepatnya nggak puas sih, karena saya cuma punya waktu sehari saja untuk eksplor Tator.

Kalau dilihat-lihat dari destinasi yang saya kunjungi selama di Tator, objek makam yang menjadi tujuan wisata. Ya memang inilah yang menjadi penanda, identitas, ciri khas dari pariwisata di Tana Toraja. Embel-embel horor, spooky, dan sejenisnya bukanlah rasa yang saya hayati. Bukan karena saya anaknya berani. Ya itu ada betulnya juga. Tapi bagaimana kita mau takut kalau dipaparkan alam dan budaya yang tiada tara? Asli deh. Bahkan rekan jalan saya yang biasanya “cupu” (Hahahasorry, Eka), bisa enjoy banget kok menikmati kuburan demi kuburan di Tator.

Di lembar terakhir dari kisah di Tator, langkah kami bermuara di beberapa tempat. Ada Pallawa yang penampakannya tak berbeda jauh dari Kete Kesu. Merupakan desa wisata yang juga menarik, cuma kurang banyak dikunjungi wisatawan. Menurut saya sih karena lokasinya jauh dari Kota Rantepao. Trus, di sini juga tidak terdapat areal pemakaman layaknya Kete Kesu. Di Pallawa kita bisa lihat jajaran tongkonan yang berdiri cantik mencitra keindahan. Ada satu rumah yang memiliki susunan tanduk kerbau sangat banyak, bahkan hampir menyentuh tiang atap.

Pallawa sendiri tak begitu padat aktivitasnya. Siang itu sepi. Hanya ada ibu-ibu seliweran. Di pojokan ada beberapa kios yang menjajakan tenun ikat. Pengen banget beli, cuma saya memilih menunggu sampai kami tiba di Desa Sa’dan Malimbong, yang dikenal sebagai desa tenun ikat. Maksudnya biar lebih banyak pilihan kain etniknya.

Berlalu dari Pallawa, kami bergerak menuju Bori Parinding. Matahari makin menyengat. Jalanan pun mulai tak bersahabat. Berdebu dan berkerikil. Saya sudah mulai terkantuk-kantuk. Sempet merem entah sampai berapa lama dan kaget bangun karena helm saya kepentok helm supir ojek. Sudah lelah juga sih, cuma masih tinggi semangatnya buat melanjutkan perjalanan.

Bori Parinding memiliki rupa yang tak biasa. Lahannya dihuni menhir-menhir berbentuk phallus yang ditanam menantang langit. Jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi cukup eksentrik dan tidak lazim dilihat. Kok saya jadi teringat Stone Henge di Inggris. Walau ada yang berpikiran proses pembuatannya menggunakan kekuatan magis, namun nyatanya batuan kuno ini dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat Toraja dahulu kala. Tinggi rendahnya batu menunjukkan status sosial sosok yang meninggal.

Siang itu hanya ada beberapa pengunjung.  Kalau jalan ke arah kanan dari pintu masuk, kita bisa berdiri di satu batu pipih yang merupakan titik baik untuk menyaksikan panorama Bori Parinding secara utuh. Selain batu-batu peninggalan era Megalitikum, di situ juga terdapat kuburan batu. Benar-benar batu yang dikeruk dan didesain sedemikian rupa untuk menjadi liang peristirahatan. Unik-unik ya kuburan di Tator. Bisa di dalam gua, di tebing batu, bahkan di dalam pohon.

Yes, tepatnya di dalam pohon tara. Jadi kalau berjalan lebih belakang, kita bisa melihat area pemakaman untuk bayi. Para bayi yang meninggal tidak dikubur di dalam tanah, melainkan diletakkan di dalam lubang yang dibuat pada batang pohon. Lubang-lubang ini memiliki kandungan getah yang diyakini dapat mengganti makanan si jasad bayi. Bayi yang dikubur di sini meninggal sebelum berusia 6 bulan atau belum tumbuh gigi.

image
Enter a captionBagian depan Bori Parinding
image
Sekilas Bori Parinding seperti Stone Henge, tapi dengan ukuran batuan yang lebih kurus dan kecil.

Bori Parinding menjadi lokasi pemakaman terakhir yang kami sambangi selama menjelajah Tator. Sekarang waktunya berburu tenun ikat. Karena saya suka mengkoleksi selendang-selendang etnik, makanya nggak boleh sampai kelupaan buat ke kampung tenun. Sayangnya, sore itu di kampung tenun cuma ada dua kios yang buka. Ada satu ibu yang sedang memintal benang. Duh, cantik-cantik sekali kain-kainnya. Warna-warni dengan motif yang menarik. Saya jatuh hati dengan selendang warna kuning yang menyala di antara yang lain. Tanpa adegan tawar-menawar yang berkepanjangan, resmi selendang saya beli di harga kurang dari Rp150.000.

Setelah lihat-lihat kain, kami jalan ke arah saung-saung gitu. Bukan saung sih, rupanya sih kayak tongkonan, tapi fungsinya untuk menyimpan hasil kebun dan sawah. Nah di bagian bawah bangunannya ada semacam bale-bale gitu. Adem banget duduk di situ. Akhirnya kami berempat, saya, Eka, dan dua supir ojek jadi tidur siang di situ…hahaha. Jangan mikir mesum lho. Tapi pewe banget tiduran di sana. Apalagi di depan kami ada sungai kecil. Gemericik air sungai bikin tenang. Kami semua terbuai. Terlena.

image
Pohon yang menyimpan jenazah bayi.
image
Batuan besar yang juga menjadi kuburan. 

Sejam kemudian kami berempat sudah duduk manis di motor, siap melaju kembali ke Kota Rantepao. Badan sudah lengket dibasuh keringat. Kantuk pun masih menjerat. Makanya kami minta dicarikan tempat untuk menumpang mandi, kalau bisa pengen tidur sebentar, karena bus untuk kembali ke Makassar baru berangkat jam 21:00. Cari-cari, dapatlah wisma ala kadarnya yang bisa disewa untuk beberapa jam dan kami cuma bayar Rp50.000 saja.

Wismanya sendiri nggak ada bagus-bagusnya. Bersih? Hell no!! Bayangkan, kasurnya aja ada ampas-ampas gitu. Trus masuk kamar mandi, oh well, jorski mampus. Tapi bagaimana dong, kami pengen mandi, harus mandi lebih tepatnya. Akhirnya dengan giat Eka cuci bak…hahaha, sejak kapan traveling mesti cuci bak?! Tapi lumut di dasar bak masih nempel. Akhirnya saya ambil sarung bantal dan lap-lap-in baknya…wkwkwkwk. Seketika sarung bantal jadi warna hijau kehitam-hitaman. Eewww

Kelar beberes kamar mandi, Eka mandi. Saya memilih tidur di kasur yang dialasi kain, ya karena nggak yakin juga bakalan bersih. Rada pulas juga tuh tidurnya, sampai nggak tahu kalau Eka udahan mandinya. Kemudian, nggak lama dari itu insiden wow amazing itu terjadi. Gini ya, wisma yang kami sewa itu bentuknya rumah-rumah kayu. Bahkan dinding yang membatasi antar kamar yang cuma kayu tipis aja. Selama check-in, aji gile check-in, ya pokoknya dari awal kita masuk, sama sekali nggak kelihatan tamu lainnya. Dikirain kosong, ternyata…

Di saat saya lagi enak-enaknya tidur dan Eka lagi ganti baju, kok sayup-sayup kedengaran suara cewek. Suara cewek yang lagi mendesah. Makin lama desahannya makin tinggi nadanya. Kayaknya “makin enak” gitu. Saya langsung buka mata, bangun dan duduk, trus lihat-lihatan sama Eka dan kami sama-sama melihat ke dinding kayu di depan mata. OMG, jangan bilang di kamar sebelah kami lagi “begituan”??? Dalam hening kami mempertegas situasi di seberang, karena si cewek makin aduhai desahannya. Oke, fix! Tamu di kamar sebelah lagi having sex.((((Huahahahahahahah))), saya langsung ngakak sejadi-jadinya. Eka juga. Karena ketawa kami super kencang, sepertinya tamu sebelah jadi diam. Ceweknya nggak mendesah lagi, tapi bunyi tempat tidur yang berderit masih kedengaran :))) Serasa lagi nonton film bokep. Karena nggak kedengaran, saya jadi berdiri dan mendekatkan telinga ke dinding kayu. Tapi habis itu sunyi senyap, cuma suara orang-orang nyanyi lagu gereja di luar sana. Nggak lama kami dengar bunyi langkah kaki dan suara membilas di kamar mandi. Yaaa… udahan deh. Hehehe

Asli, random amat kejadian di wisma itu. Dikiranya cuci bak sudah paling parah, eehh, tahu-tahunya itu nggak ada apa-apanya sama kejadian tadi. Oh my goodness. Sampai keluar dari wisma, kami nggak berhasil bertemu muka dengan muka dengan tamu kece dari kamar sebelah.

image
Pallawa yang serupa Kete Kesu.
image
Ibu pengrajin tenun Toraja.

Menjelang malam kami dijemput lagi sama supir ojek. Padahal harusnya mereka nggak perlu jemput, cuma inisiatif jemput karena khawatir, katanya daerah situ bukan “daerah baik-baik”. Ya, sudah kejadian, bang ;)) Kami diantar tepat di depan pool Bus Litha. Namun, jam 21:00 belum tiba, makanya kami makan malam dulu di Cafe Aras. Ternyata ini restoran favorit turis-turis asing. As usual kami disangka turis asing karena di depan resto ada beberapa pemandu yang langsung menawarkan jasanya dalam Bahasa Inggris. Begitu kami bilang nggak, baru deh mereka nyerocos dalam Bahasa Indonesia.

Anyway, Cafe Aras terlihat bersih, nyaman, walau harga agak sedikit mahal. Terlihat dari sticker Tripadvisor di bagian depan. Saya pesan nasi goreng yang lumayan banyak dan lumayan enak. Kami cukup menikmati waktu di sini. Pewe juga. Jam 9 kurang, kembali jalan kaki ke pool bus yang sudah nangkring. Langsung naik, atur posisi dan tidur pulas sampai tiba di Makassar esok subuh. Its a wrap! Tator, thank you for everything. See you when I see you!

-PJLP-

Advertisements

One thought on “Tator Lembar Keempat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s