Wedding, Movies, and Reality

image
Its all about wedding.

Nikah.
Hmm…

(Masih) Hmm…

Dari kemarin-kemarin nggak ada ide gitu buat nulis tentang nikah-menikah. Kalau nggak ada ide, kenapa tetap maksa buat ditulis? Ya abisan ini tema #MomiNat terbaru. Cari gara-gara sebenarnya dengan mengiyakan buat mengusung tema ini :s

Hmm… Bagaimana kalau bahas film-film yang bertemakan wedding? Tapi bukan untuk diulas dari sisi sinematografi atau akting pemain, tapi lebih ke jalan ceritanya yang akan saya kaitkan dengan realita yang ada. Well here are my thoughts:

27 Dresses
Suka film ini. Bercerita mengenai wanita single, mapan, mandiri yang memiliki impian untuk menikah suatu saat nanti dan tidak hanya menjadi bridesmaid bagi teman-temannya.

My thought:
Film ini realistis dengan kehidupan pada umumnya. Banyak wanita di luar sana yang nggak melulu ingin berperan sebagai pendamping pengantin wanita. Nggak melulu jahit seragam buat jadi pengiring mempelai. One day they’re wishing to wearing they’re own gown. So do I.

Walau salah satu sahabat pernah bilang saya tuh feminis radikal (padahal sih nggak juga), tapi bukan berarti saya nggak punya mimpi untuk membangun mimpi-mimpi lainnya dan merealisasikannya dengan seseorang. Sekuat-kuatnya saya. Semandirinya saya, tentu menginginkan kehadiran Mr. Priscilla to help and guide me. Saya juga yakin di antara wanita-wanita hebat  di luar sana yang menurut beberapa opini dianggap sebagai “kaum yang ditakuti” karena kemandiriannya, pasti merasa demikian. Sebagian dari kami masih memerlukan seseorang di samping.

The Wedding Planner
Inti film ini adalah jatuh cinta dengan “orang yang salah”. Seorang wedding planner mestinya jadi sosok yang akan membantu segala proses pra pernikahan hingga momentum itu berlangsung. Tapi kalau seorang J.Lo yang tanpa diduga bisa jatuh hati dengan kliennya sendiri, bagaimana ceritanya dong?

My thought:
Pasti pernah kan suka, naksir, nge-gebet orang yang seharusnya sih nggak disuka, ditaksir, digebet! *Ketawa dulu ah. *Sebenarnya menertawakan diri sendiri… hahahahaha. Pembelaan diri yang sering terucap adalah namanya juga perasaan, siapa yang bisa kontrol sih mau suka sama siapa? Iya sih, benar banget. Tapi persoalannya adalah, apakah perasaan itu mau dilanjutkan atau tidak? Biasanya saya cuma bilang pilihlah ke mana hati dan akal membawamu. Tapi kalau hati dan akal jalannya mencar-mencar…. Selamat ya, kawan…hehehe. Saya bantu doa saja.

Made of Honor
I like this movie! Patrick Dempsey yang playboy punya sahabat yang baik hati. Setelah 10 tahun bersahabat, tanpa diduga Dempsey jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Yang bangke, doi jatuh cinta di saat sahabatnya mau nikah. Kemarin-kemarin ke mana aja, bang?

My thought:
Cinta datang karena ada di dekat. Sering sih dengar cerita teman yang akhirnya jatuh hati sama sahabat sendiri. Mereka bilang lebih nyaman ketika sahabat akhirnya jadi pacar. Katanya nggak perlu jaim-jaim lagi. Sudah saling tahu kebiasaan dan sifat masing-masing. Jadinya nggak perlu melalui fase pengenalan dan adaptasi. Well, kalau saya sendiri pengennya nggak sih. Sudah enak sahabatan, nggak mau dibumbui kisah-kisah romansa. Apalagi sudah anggap seperti saudara sendiri. Sayang gitu kalau hubungan persahabatan mesti ikutan putus kalau hubungan kasmarannya juga putus. Karena nggak ada jaminan suasana akan normal seperti awal-awal kan. Tapi ada kok yang masih baik-baik aja hubungannya walau udah putus. Tapi kalau memang ketemu cinta dengan sahabat sendiri, go ahead-lah. Kalian termasuk yang beruntung bisa menggapai asa dan bahagia yang nyata di sekitar tanpa perlu mencari lebih jauh.

》The Proposal
Funny movie! Asyik aja lihat Ryan Reynolds dan Sandra Bullock di film ini. Betapa menyebalkannya sosok yang bossy yang diperankan Bullock. Nggak ada yang suka. Semua mencibir. Semua memakinya. Mungkinkah jatuh cinta dan mau menikah dengan orang seperti ini? Mungkin sekali 🙂

My thought:
Entah ini bisa disebut sial atau tidak ketika jatuh hati dengan orang yang kita sebel. Gue tahu Inne pasti akan ketawa di bagian ini. Oh well, saya cuma mau bilang, hati-hati sama orang. Jangan sebel-sebel amat. Benci dan suka tuh beda-beda tipis. Serius. Based on true story, my story…hahahaha, segala sesuatu yang berlebihan tuh nggak baik. Dari sebel, trus jadi noticed dengan keberadaan dia. Trus makin jeli. Makin detail diamati. Eh, lama-lama dicari-cari kalau orangnya belum nongol. Abis itu, kok jadi kangen ya?!?&$¥@¥₩×)₩× :)))) Seperti ungkapan too much love will kill you, sama halnya pun dengan too much hate will kill you. Tapi ya, ada teman saya yang menemukan cinta dari proses seperti ini lho. Dari sebel bisa suka, lalu cinta, dan sekarang sudah menikah dan punya anak-anak yang lucu.

Udahan ya, saya kehabisan ide 🙂
Adios! Selamat menikmati akhir pekan yang tinggal beberapa jam lagi..hiks hiks.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s