A Caves or Temples?

image
With my beloved travel mate.

Mereka bilang belum afdol kalau ke Kuala Lumpur (KL) tapi belum mampir ke Menara Petronas. Kalau menurut saya, belum afdol ke KL kalau belum singgah di Batu Caves. Banyak yang bilang KL itu seperti Jakarta, cuma lebih maju. Benar sih. KL juga memiliki transportasi massal yang terintegrasi dengan baik, seperti LRT, Monorail juga KTM. Juga benar. Cuma ya, untuk sisi pariwisata hanya ada sedikit nama yang terangkat. Seperti Batu Caves yang menjadi daya tarik tersendiri karena keunikan kontur dan lansekapnya. Ditambah dengan unsur religi menambah nilai tambah objek wisata yang kerap dikunjungi wisatawan selain Petronas.

Ke Batu Caves mudah aja sih. Dari KL Sentral (ini adalah pusatnya transportasi di KL), cukup naik KTM Komuter Trains menuju Stasiun Batu Caves. Tiketnya murah sih, MYR2. Perjalanannya nggak lebih dari satu jam. Turun di Stasiun Batu Caves lantas jalan kaki sebentar. Jalannya nggak jauh kok! Sekitar 200 meter aja. Setelah itu akan sampai di area terbuka yang mempertunjukkan patung Murugan berwarna emas menyala yang tegak berdiri di samping ratusan anak tangga di sampingnya. Latar belakangnya ada dinding gua batu yang terbuka besar sekali.

image
Dewa Murugan dipuja di Batu Caves.
image
Tampak muka Gua Cathedral.
image
Di sekitar areal gua banyak terdapat monyet.

Membayangkan ratusan anak tangga yang menanti untuk didaki membuat saya sudah lelah duluan. Jadi waktu ke sana pertama kali sama Septy, kami naiknya pelan-pelan aja. Berhenti-berhenti buat foto sekaligus menikmati suasana. Walaupun alasan sesungguhnya kami sudah cukup gempor. Di ujung tangga, ada semacam gapura yang dihiasi ukiran tokoh-tokoh dalam ajaran Hindu. Perlu diketahui bahwa Batu Caves merupakan bagian dari jajaran bukit kapur yang di dalamnya terdapat beberapa gua dan kuil Hindu yang didedikasikan bagi Dewa Murugan. Batuan kapur tersebut diperkirakan sudah terbentuk sejak 400 juta tahun lalu. Namanya sendiri diambil dari Batu Sungai yang mengalir melewati bukit.

Batu Caves terdiri dari tiga gua utama dan beberapa yang kecil.Yang terbesar adalah Gua Cathedral, dengan tinggi mencapai 100 meter, di mana pengunjung mesti menaiki 272 anak tangga. Ini nih tangga yang bikin saya dan Septy gempor. Cuma 22 anak tangga dari jajaran anak tangga di Gunung Bromo. Tapi nggak ada apa-apanya sama ribuan anak tangga di Pura Lempuyang Luhur di Bali. Ada pula Gua Ramayana yang ikonik dengan patung Hanoman serta ukiran kisah epik Ramayana. Kalau ingin mencoba atraksi wisata jelajah gua untuk melihat fauna di dalamnya. Posisinya berada di pertengahan anak tangga yang banyak tadi. Ada belokan ke kiri, di situ kalian bisa mengikuti Dark Cave Tour dengan paket seharga MYR30 (2012). Turnya sendiri berlangsung selama 45 menit dan didampingi pemandu.

image
Kotak donasi yang terdapat di mulut gua.
image
Hanay terdapat beberapa toko suvenir dekat Gua Cathedral.
image
Dari luar tak terbayang akan sebesar ini penampakan di dalam gua.

Karena nggak ikutan turnya, saya dan Septy lanjut naik. Di ujung tangga ada areal depan yang diisi penjual suvenir. Cuma dua-tiga gerai saja. Macam-macamlah yang dijajakan. Dari yang berbau barang-barang religi menyangkut Dewa Murugan, hingga suvenir lazimnya seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, kaos, dan sebagainya. Di dekat mulut gua ada semacam tabung besi yang merupakan kotak donasi. Ke Batu Caves sendiri sebenarnya gratis, tapi pengunjung bisa memberikan sumbangan sukarela. Nggak kasih juga its ok sih.

Penelusuran di Batu Caves berlanjut. Di dalam gua yang dihiasi stalaktit ini saya bisa leluasa. Besar banget guanya! Juga luas sekali. Lebih besar dari lapangan bola (sepertinya). Di beberapa sudut ada beberapa kuil-kuil kecil. Ada patung-patung ala Hindu yang terpatri di dinding batu. Walau saya mesti akui kebersihan gue kurang diperhatikan. Ada sedikit bau menyengat. Kalau kita terus melangkah, akan menemukan tangga lain yang akan menuntun ke area lain. Di situ merupakan area terbuka yang disertai sebuah kuil yang didominasi warna biru muda. Overall, cuma itu saja sih yang bisa dinikmati pengunjung. But, its a must-visit place while you’re in Kuala Lumpur. Sebelum berpisah dengan Batu Caves, saya dan Septy bikin tato permanen dengan henna ala wanita-wanita India. Lumayan, cuma MYR10.

image
Salah satu kuil Hindu yang terdapat di dalam gua.
image
Banyak patung Hindu bertebaran di dalam gua.
image
Beautiful creation!

Dua tahun kemudian saya kembali lagi ke Batu Caves. Nganterin Eka yang belum pernah ke sana. Sayang hari itu hujan cukup deras. Saya sudah keburu malas buat naik tangga, akhirnya memilih duduk-duduk dekat kuil gitu. Padahal kepengen ikutan Dark Cave Tour karena waktu itu batal join karena kakinya Septy sakit gitu. Sayang sekali sih, cuma ya sudahlah. Tapi ada satu pemandangan oke sih. Pas tiba di areal Batu Caves sebelum naik tangga, siang itu lagi banyak burung yang berkeliaran. Nggak tahu juga itu burung apa. Sebelum hujan turun, secara teratur mereka terbang, naik ke langit muram. Ah cantik sekali mereka di atas sana. Sebelum pergi menjauh, mereka terbang memutar beberapa kali membuat semua pengunjung menengadah dan langsung merekam di gadget masing-masing. Ternyata ada kesan lain dari Batu Caves.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s