Sehari (Bukan) Naik Gunung

image
Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum.

Liburan ringkas tanpa makan biaya dan waktu yang berlebihan menjadi opsi paling realistis kalau ingin “kabur” sejenak dari rutinitas. Nggak usah muluk-muluk. Nggak usah jauh-jauh. Yang penting bisa membunuh rasa penat dan meluruskan kembali sel-sel otak yang kusut, walau cuma sehari.

Kalau sering memantau aktivitas traveling akhir-akhir, makin terlihat banyaknya tawaran open trip di mana-mana. Tentu hal ini makin mempermudah ruang gerak mereka-mereka yang ingin jalan tapi terbatas dana. Karena ikutan open trip bisa banget memangkas dana. Plus, bisa tambah teman baru dengan kenalan dengan sesama pejalan lainnya. Ada banyak lokasi yang ditawarkan. Masing-masing disesuaikan dengan tingkat kesukaan dan preferensi.

Biasanya perjalanan-perjalanan tersebut bisa memakan waktu beberapa hari. Melihat keadaan ini, kemudian lahirlah one day trip. Perjalanan satu hari yang sangat compact, tanpa bikin pusing urus cuti karena biasanya pergi saat akhir pekan. Lokasinya biasanya nggak jauh-jauh kok. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pernah mengikuti one day trip milik Tukang Jalan ke Situs Gunung Padang & Stasiun Lampegan di Cianjur. Paketnya sendiri senilai Rp165.000 saja (tanpa makan) dengan lokasi meeting point di Plaza Semanggi. Lumayan banget kan liburan singkat yang bikin kantong nggak nangis!

Jadi di suatu Sabtu, jam setengah enam pagi saya sudah menerebos jalanan Jakarta dengan Gojek menuju MePo. Nggak biasa-biasanya nih akhir pekan bangun super pagi. Jadwal keberangkatan sekitar jam 6 pagi, akhirnya molor hingga jam 7 lewat. Berangkat dengan tiga mobil Elf dari Jakarta, rombongan melaju menuju Cianjur via Puncak. Sempat kena macet sebelum mencapai Puncak, biasalah, bukan Puncak kalau nggak macet. Setelah itu, jalanan lancar jaya.

Memasuki Cianjur, hawa panas makin terasa. Perjalanan pun sudah memasuki jalan dua jalur yang agak sempit dengan alur yang berkelok-kelok. Ada bagian curam di sisi lain. Sedikit berdebu. Ada juga beberapa satu jalur yang sedang diperbaiki, otomatis mesti gantian buat jalan. Setelah kiri-kanan diisi rumah-rumah penduduk, pemandangan perkebunan teh. Siapa sangka ada perkebunan teh di sini. Habis itu kembali saya melihat jajaran rumah penduduk. Jalanan ada yang menanjak dan baluran aspal sudah mengelupas. Sehingga beberapa kesempatan badan terbanting-banting di mobil.

image
Pintu masuk menuju deretan ratusan anak tangga menuju situs.
image
Ada dua pilihan anak tangga. Yang ini versi lama.
image
Kalau yang ini versi baru.

Akhirnya menjelang tengah hari rombongan tiba juga di pelataran parkir Situs Gunung Padang. Kami dianjurkan cari makan siang dulu sebelum naik ke situs. Kemudian rombongan diberi pilihan, yang mau naik tangga, silakan. Dengan catatan mesti jalan nanjak sebentar plus menaiki 700an anak tangga. Saya langsung skip pilihan itu. Nggak deh. Lagi pengen santai menikmati pemandangan, tanpa mesti ngos-ngosan nanjak. Makanya saya pilih naik ojek. Pikirannya bakalan aman sejahtera, bebas dari nanjak-nanjak. Ternyataaa…

Jadi buat kalian yang berniat naik ojek buat ke Situs Gunung Padang, sebaiknya pertimbangkan sekali lagi. Ongkosnya memang cuma Rp50.000 pp (Oktober 2015). Kalian bisa langsung turun di samping situs, cuma tinggal jalan sedikit. Tapi, perjalanan sekitar 15 menit itu semacam nonton film thriller. Tegang maksimal. Bagaimana nggak dag-dig-dug, kiri kanan curam dan motor mesti melewati jalur setapak yang mungkin hanya 2-3 meter lebarnya.

Mending kalau jalannya diaspal atau paling nggak disemen. Ini masih berbatu, pasir, kadang tanah merah. Ya ampun, saya berdoa sepanjang jalan. Sialnya, motor yang saya tumpangi nggak ada pegangan besi di belakang. Jadi makin was-was karena nggak ada keseimbangan sama sekali. Kadang-kadang lewatin jembatan dari bambu yang kelihatan super rentan, makanya tiap lewat hanya bisa satu motor aja. Oh my gosh!

Ada satu bagian yang jalanan nanjak terus-terusan dan sepertinya supir dan motornya udah poll-pollan buat ngegas, tapu bakalan nggak sampai nih. Saya inisiatif turun dan jalan kaki sedikit. Daripada kami sama-sama jatuh. Setelah melewati jalanan berliku penuh aral dan bahaya (iisshlebay), akhirnya sampai juga di tujuan. Memang persis di samping situs. Cuma ya gila juga perjalanannya. Kami yang rombongan naik ojek begitu turun semua reaksinya sama. Geleng-geleng kepala dan langsung ramai ngebahas betapa gila trek jalannya. Sayang sih saya nggak foto treknya. Lagipula, mana sempat juga mau foto kalau udah parno sepanjang jalan.

Selepas melepas nafas lega bisa sampai dengan selamat, saya mulai susur kawasan situs. Asyik foto, saya terlambat sadar kalau ada pemandu yang sudah menceritakan sejarah Gunung Padang di tingkat bawah. Dengan logat Sunda yang kental, si bapak berujar mengenai situs yang dipercaya ukurannya melebihi Candi Borobudur. Walau begitu, belum ada kepastian rupa dan fungsinya di zaman dulu.

Namun ada perkiraan kalau situs ini dulu digunakan sebagai tempat pemujaan warga sekitar 2000 tahun SM. Dalam penelitian yang lain, ada pula yang beranggapan kalau situs ini ada kaitan dengan Piramida di Mesir karena kesamaan ruang di dalamnya, malahan usianya lebih tua dari Piramida. Sungguh teramat sayang ketika aktivitas ekskavasi dihentikan. Jadi semua ini masih menjadi opini sepihak.

image
Selamat datang di Situs Gunung Padang.
image
Repotnya jalan sendiri adalah mesti minta tolong orang nggak dikenal buat fotoin.
image
With my fellow travellers.

Sepanjang mata memandang, hanya batu dari era Megalitikum yang terhampar di hampir seluruh area. Kebanyakan berupa tumpukan batu yang berantakan. Ada menhir juga. Hayoo, masih ingat nggak menhir itu apa? Situs Gunung Padang memiliki banyak sekali menhir dan dakon dari batu andesit yang mengandung kadar besi tinggi. Situs ini memiliki lima teras. Di teras pertama diduga sebagai tempat pentas seni dengan tarian serimpi. Di teras ini juga ditemukan batu gong dan batu gamelan yang bernada ketika dipukul. Sedangkan di teras kedua terdapat batu lumbung, batu duduk dan batu pandang ke Gunung Gede-Pangrango.

Teras ketiga, bisa ditemukan sebuah batu yang terdapat goresan cakar maung. Di teras ke empat ada batu gendong. Namun, batu gendong ini tidak memiliki sifat mistis jika ada seseorang yang bisa menggendongnya. Sedangkan di teras kelima atau yang paling tinggi terdapat batu pendaringan. Di sini juga ada menara pandang untuk melihat pemandangan kawasan Situs Gunung Padang hingga memandang jauh ke Gunung Gede-Pangrango.

Di trip ini sempat kenalan sama teman-teman baru. Ada Echi dan Sarah. Trus Wenda, Adam, dan Agit yang juga solo traveler. Karena saat itu saya jalan sendiri, jadi seru aja ketemu sama mereka-mereka ini. Akhirnya sisa perjalanan jadi barengan terus, walaupun beda mobil Elf.Selepas narsis-narsisan sana-sini, kami turun. Saya yang naik ojek, awalnya minta ditunggu di tempat tadi diturunkan. Tapi karena kapok sama jalanan nan ekstrem, lebih bijak kalau turun lewat tangga, walaupun mesti turun 700-an anak tangga.

FYI, ada dua jalur tangga untuk menggapai situs ini. Tangga lama dan baru. Yang lama jelas lebih sedikit anak tangganya, tapi jauh lebih berat. Jarak antar anak tangga cukup tinggi. Belum lagi treknya dari bebatuan berbentuk tangga. Tapi nggak parah-parah banget sih. Sedangkan tangga baru lebih manusiawi. Treknya sudah disemen. Jaraknya pendek-pendek, tapi dengan catatan lebih banyak jumlah anak tangga. Pick wisely, guys.

Saya cuma mau bilang kalau turun ratusan anak tangga tidaklah melelahkan. Masih normal sih tingkat gempor-nya. Di titian akhir, ada area yang biasanya menjadi hunian supir ojek yang disewa untuk antar-jemput. Awalnya ojek cuma mengantar sampai di titik ini. Kemudian mereka membuka rute memompa adrenalin hingga pengunjung bisa semakin mudah ke situs. Saya yang sudah ditunggu supir ojek, segera menaiki motor. Sebenarnya jaraknya dekat saja, cuma agak menurun sedikit. Nggak sampai 2 menit, voilá, sudah tiba di parkiran. Sekitar 20 menit kemudian, rombongan pun melaju ke Stasiun Lampegan dengan terowongannya yang merengut sang ronggeng.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s