Stasiun, Terowongan & Ronggeng Yang Hilang

image
Lights, camera, and action! Photo by Echi.

Lampegan, stasiun tertua di Indonesia dengan terowongan yang dituduh telah merengut sang ronggeng. Lampegan di Cianjur punya nama di ranah perkereta-apian di Indonesia. Walau tak seberapa besarnya, namun kombinasi sejarah Indonesia dengan Hindia Belanda melebur bersama di sini.

Dalam perjalanan sehari bersama Tukang Jalan dengan destinasi Situs Gunung Padang dan Stasiun Lampegan. Keduanya disandingkan karena lokasinya yang berdekatan. Terlebih dahulu saya dan rombongan dibawa untuk mengitari Situs Gunung Padang. Seru sih, bikin jantung was-was pas naik ojek menuju situs, tapi pada akhirnya puas melihat salah satu bagian dari sejarah Indonesia, walau hanya berupa tumpukan batuan andesit dari era Megalitikum.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Stasiun Lampegan. Tak lebih dari 10 menit perjalanan dari pelataran parkir Gunung Padang. Ternyata kecil saja stasiunnya. Tipikal stasiun di kota kecil. Sepi dan tenang. Cuma sedikit disisipi suara musik kondangan yang terdengar ramai di ujung sana. Peronnya tak seberapa panjangnya. Lampegan jika dilihat tak ada kesan istimewa. Tapi sesuatu yang mungil, biasa dan tampak sederhana kadang menyimpan kelebihan di dalamnya.

image
Stasiun Lampegan yang mungil namun asri dengan tanaman hijau.
image
Terowongan Lampegan.

Kalau dari catatan sejarah, Stasiun Lampegan terletak di jalur Manggarai-Padalarang yang berada di letak geografis Desa Cimenteng, Cianjur. Dibangun pada tahun 1882, stasiun ini berfungsi sebagai penjaga Terowongan Lampegan yang letaknya saling berdekatan. Awalnya kereta yang melewatinya digunakan untuk mengangkut hasil bumi. Tahun 2001 stasiun ini pernah ditutup, namun difungsikan kembali sembilan tahun kemudian.

Sejujurnya saya lebih tertarik dengan Terowongan Lampegan. Terowongan ini membelah bukit Gunung Kencana. Dulunya sepanjang 600 m, sekarang sih hanya tersisa 400 m saja. Sejak aktif kembali sebagai jalur transportasi, kereta rute komersial Sukabumi-Cianjur kerap melintas di sini. Dengan pengalaman nihil bisa berada dekat sebuah terowongan kereta api, saya ingin lebih dekat dengannya. Banyak yang sibuk berpose di depannya. Tapi saya, Echi, Adam, Wenda, satu bapak dan anak perempuannya, malah memasuki terowongan demi misi mencapai sisi yang lain.

Awalnya kami sempat ragu mau meneruskan perjalanan. Pertama ada unsur ragu campur sedikit takut. Lalu takut rombongan akan meninggalkan kami karena nantinya akan terlalu lama. Trus, ditambah dengan kenyataan bahwa ujung terowongan seakan jauh padahal kami sudah berjalan cukup lama. Tapi pada akhirnya, kami terus melanjutkan perjalanan setelah sepakat bersama untuk maju terus, pantang mundur.

Hawa terowongan cukup dingin, juga sedikit lembab. Gelap tentu saja. Hanya setitik cahaya yang nampak. Batuan kerikil yang kadang-kadang basah, bahkan kubangan air menjadi tumpuan kami. Sedikit gelisah karena cahaya begitu minim. Diperparah ketika telepon genggam saya mati begitupun dengan aplikasi senter yang saya gunakan. Mati, makin gelap ini. Terpaksa jalan dalam gelap. Terkadang yang di depan menyorotkan senter untuk membantu penglihatan. Tapi rasa gelisah itu makin terasa karena cerita ronggeng yang hilang langsung bermain-main di pikiran.

Ah, saya lupa cerita perihal kisah menarik (mungkin banyak yang bilang mistis) mengenai si ratu ronggeng. Kita mesti mundur ke tahun 1882 untuk mengetahui cerita ini bermula. Saat itu tasiun dan Terowongan berhasil berdiri. Karena menjadi salah satu proyek kolonial yang berhasil, dibuatlah seremoni. Pesta besar tersebut menghadirkan Nyi Ronggeng Sadea, yang konon dikenal sebagai salah satu ronggeng terbaik saat itu. Senanglah itu meneer-meneer Belanda menyaksikan gemulai gerak dan lekuk tubuh Nyi Sadea. Gemuruh pesta meredup dan Nyi Sadea bersiap untuk pulang.

image
Terowongan Lampegan di sisi lain.
image
Terowongan yang nihil cahaya.

Beliau pulang dengan melintasi terowongan, dan anehnya, sejak ia masuk, sama sekali tak terlihat setelahnya. Ada dua cerita yang berkembang. Pertama, Nyi Sadea karena kecantikannya telah diperistri oleh “penunggu” terowongan Lampegan. Kedua adalah Nyi Sadea dijadikan tumbal saat peresmian Lampegan dan konon jasadnya di tanam di dalam tembok terowongan. Mengerikan sekali ya. Entah ini benar atau tidak, namun kisah mistis ini sudah melegenda di masyarakat sekitar, bahkan menjadi sisipan menarik bagi pengunjung yang singgah.

Makanya pas dengar cerita itu sedikit merinding disko sih. Seram aja gitu, masuk-masuk terowongan trus tiba-tiba diperistri “penjaga terowongan”…IIihhh. But, so far so good. Pasukan nekat tetap maju terus hingga ujung terowongan. Di ujung sana sama aja sih tampak mulut terowongannya. Bentuk relnya membelok gitu, makanya kami tetap waspada, takutnya ada kereta api yang lewat. Di situ juga ada bocah-bocah yang lagi main-main. As usual, anak-anak kalau mau difoto pasti pada malu-malu. Cuma satu yang berhasil bertahan saya potret, sedangkan teman-temannya pada kabur. Apa mungkin saya terlalu agresif, padahal sih maksudnya terlihat friendly.

Sekitar lima menit di ujung terowongan, kami kembali lagi. Somehow, perjalanan balik terasa lebih cepat. Kami tiba di tempat semula dengan selamat dan sudah disambut salah satu pemandu yang sudah nungguin kami…hahaha. Ternyata semua udah kumpul, kecuali kami. Udah ditungguin, masih sempat-sempatnya foto dengan pose tiduran di rel..nyahahaha. Mumpung ya, kapan lagi ke sini. Pas sepi pula. Abis foto-foto, kami naik ke Elf masing-masing, sempat mampir makan di kawasan Puncak (di mana lagi-lagi kami mesti ditungguin satu rombongan karena kelamaan makan), sempat kena macet pula, tapi akhirnya berhasil sampai Jakarta sekitar jam 10 malam.

Its a wrap! My one day trip with Tukang Jalan and fellow travellers. It was fun! See you in next trip.

-PJLP-

Advertisements

One thought on “Stasiun, Terowongan & Ronggeng Yang Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s