Menyepi di Gili Kondo

image
Let’s go the Gili!

Gili Trawangan terlalu lazim, tapi memang seru sih. Gili Meno dan Air pas bagi mereka yang bosan dengan keriuhan Trawangan. Ingin menengok sisi lain Lombok? Gili Nanggu bisa menjadi jawaban. Tapi hanya Gili Kondo yang sanggup menepiskan kegaduhan dan membiarkan kita menyesap sepi bersama pantai, pasir, dan langit tak bercela.

Lombok dengan gili-gilinya menjadi sajian wisata yang tak kalah hebat dengan Bali dan nusa-nusanya. Bali memang ngangenin, tapi Lombok jelas punya kualitas alam yang tiada tara. Coba sempatkan waktu untuk singgah di Lombok. Bagi penyuka pantai, laut, dan alam yang masih “perawan”, masih banyak lho area-area yang wajib dalam daftar kunjungan, ya seperti gili-gili-nya. Gili sendiri dalam Bahasa Sasak berarti pulau. Di Lombok sendiri terdapat puluhan gili, antara lain:

  • Lombok bagian utara = Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air
  • Lombok bagian barat = Gili Genting, Gili Lontar, Gili Gede, Gili Bedis, Gili Sudak, Gili Nanggu, Gili Tangkong, Gili Berairan, Gili Amben, Gili Asahan, Gili Layar, Gili Rengit, Gili Goleng, Gili Anyaran, Gili Poh
  • Lombok bagian tengah = Gili Anak Anjan, Gil Krucut, Gili Penginang, Gili Anak Ewuq
  • Lombok bagian timur = Gili Sulat, Gili Kondo, Gili Lampu, Gili Kapal, Gili Petagan, Gili Bidara, Gili Belek, Gili Merengke, Gili Pasaran, Gili Lawang

Dari daftar di atas, beberapa nama sudah diakui mata dunia. Sebagian lain mulai dilirik. Sedangkan sisanya masih dipandang sebelah mata. Ya seperti Gili Kondo ini. Sebenarnya alasannya bukan karena kurang cantik. Bukan. Tapi lebih kepada minimnya informasi dan deskripsi mengenai pulau ini. Ditambah pula terbatasnya akses menuju ke sana. Gili Kondo sendiri masuk dalam Lombok bagian timur dan perlu diketahui bahwa kawasan ini masih terbatas dalam hal akomodasi dan transportasi untuk kegiatan pariwisata. Satu-satunya cara teraman dan termudah ya dengan sewa mobil. Bisa juga sih menggunakan motor, tapi jauh juga jaraknya dari bandara.

Gili Kondo sesungguhnya merupakan pulau milik Perama Tour, itu lho, yang menyediakan jasa sailing trip ke Komodo dan sekitarnya. Itu hanya salah satu dari setumpuk jasa wisata yang ditawarkannya. Biasanya Gili Kondo dijadikan tempat singgah sejenak bagi peserta sailing trip sebelum mereka bertolak menuju Komodo. Walau terkesan privat untuk penumpang sailing trip, namun Gili Kondo menerima tamu lain yang ingin menikmati pulau mungilnya. Mau menginap pun bisa.

image
Pemangan Gili Kondo dari depan.
image
Pasirnya cukup lembut walau tak putih jernih.

Perjalanan ke Gili Kondo dkk kami lakoni sehabis menikmati Desa Sembalun di kaki Rinjani. Febri sudah mengontak terlebih dulu bapak nelayan yang nantinya akan mengantarkan kami dengan perahu kayunya. Mobil yang kami sewa dititip dekat tepian pantai di Desa Sambelia, lantas kami berjalan menuju perahu yang sedang tertambat. Kalau dari situ hanya butuh sekitar tak lebih dari 20 menit untuk tiba dengan selamat di Gili Kondo. Lagi, wilayah perairan di sini tak begitu membuat kami gusar. Sehingga kami bisa lebih leluasa untuk menikmati pemandangan. Dari kejauhan, Gili Kondo dapat ditangkap mata. Semakin mendekat, semakin terlihat suasana pulau yang sedang diisi pejalan asing yang singgah sebelum melanjutkan sailing trip.

Begitu sampai di pulau, kami langsung menemui pengelola setempat, sekalian izin dan ingin menyewa penginapan. Memang tak bisa berharap penginapannya akan semenarik di Pulau Macan (agak jauh ya perbandingannya), cuma tak buruk-buruk amat sih. Pertama kami ditawari menginap di kamar yang agak sempit dan sumpek. Lalu kami memilih tinggal di rumah gantung yang mirip rumah pohon. Lucu sih dari depan. Areanya memang sangat-sangat terbatas. Hanya satu kamar yang muat diisi satu kasur saja. Ada teras kecil yang juga dijadikan balkon. Di bawahnya terdapat saung ala-ala rumah tradisional. Kami langsung ambil. Biaya sewanya cuma Rp150.000 per malam (Januari 2014).

image
Menjelang sunset.
image
Sunset di Gili Kondo.

Pihak pengelola sebenarnya menyediakan makanan, tapi harganya belum termasuk dengan biaya sewa rumah pohon. Pilihan makanannya bisa seafood atau kalau mau aman pesan saja nasi atau mi goreng. Perlu diketahui bahwa listrik tidak berjalan penuh dalam sehari. Saat malam, memang hanya menggunakan genset, tapi itu pun akan dimatikan menjelang waktu tidur, sebelum tengah malam. Untuk mandi pun menggunakan air payau, tapi nggak parah-parah banget sih.

Sesungguhnya tak banyak yang bisa dilakukan selain leyeh-leyeh di pinggir pantai, menikmati sunset dan sunrise, mainan air, dll. Kalau mau mengitari pulau, palingan hanya butuh 15 menit saja. Betul-betul mungil pulaunya. Sore itu saya sibuk menikmati senja sambil berbaring di pasir dengan musik manis sebagai backsound. Mau berburu foto sunset, rasanya enggan. Tapi akhirnya mesti bergerak juga karena gerimis merusak suasana. Tapi oke sih pas motret langit mendung, dramatis sekali efek gerimisnya.

Saat malam, kami hanya duduk di saung di bawah rumah pohon sambil mengobrol, makan nasi goreng (karena seafood yang dipesan sudah keburu dihabiskan tamu sailing trip) diiringi suara berisik genset. Habis makan, saya dan Febri mencoba menyusuri tepian pantai, ingin tahu seberapa luas pulau ini. Ternyata segini aja..hehe. Tapi seru sih, serasa punya pulau sendiri. Tenang. Hening. Walau pas tidur mesti diteror nyamuk. Tapi serius, Gili Kondo jadi selingan menyenangkan bagi mereka yang mulai penat dengan kepadatan di Trawangan dan sekitarnya.

image
Rumah panggung sebagai tempat bermalam.
image
Mendung menjelang sunset.

Gili Kondo di pagi hari juga memberi pemandangan indah. Nggak kalah kece mentari tenggelam kemarin sore dengan matahari yang terbit di pagi itu. Awalnya saya nggak berminat bangun subuh untuk berburu sunrise. Cuma kapan lagi kan? Belum tentu saya akan ke Gili Kondo lagi. Ya sudah, akhirnya ikutan mejeng di pinggir pantai menyambut si jingga. Posisi untuk melihat sunrise ada di bagian muka pulau, yang menghadap ke Gili Bidara. Sedangkan kalau ingin menikmati sunset, bisa memutar di bagian belakang pulau. Bisa dilihat foto-fotonya kalau ingin tahu seperti apa rupa sunrise di Gili Kondo. Habis itu kami mulai packing dan menunggu jemputan si bapak nelayan (yang saya lupa namanya) yang akan membawa kami island hoping ke pulau-pulau sekitar.

-PJLP-

Advertisements

One thought on “Menyepi di Gili Kondo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s