The Gilis

image
Gili Bidara yang sederhana dengan kebun wijennya.

Kalau sudah singgah di Gili Kondo, monggo mampir ke pulau tetangga. Gili Kondo bukanlah penguasa tunggal. Ia punya kawanan gili yang turut meramaikan suasana. Ada Bidara yang persis di depan. Juga Petangan yang dihuni kawanan bakau. Tak lupa Gili Kapal yang timbul tenggelam selaras pasang-surut air laut.

Saya sudah berujar banyak mengenai Gili Kondo. Si mungil yang tak banyak diperbincangkan, namun punya sisi menarik untuk diulas. Setelah semalam tidur sedikit kepanasan dan diteror nyamuk, saya meraih pagi bersama mentari yang tak segan menunjukkan wajahnya. Sesudah itu, saya bersiap diri untuk island hoping ke pulau-pulau sekitar.

Jam sembilan pagi sudah dijemput kembali oleh si bapak yang saya sampai sekarang saya lupa namanya. Ia datang tepat waktu. Kami pamitan dengan Kondo beserta penghuninya. Menarik diri, menjauh, lalu menggapai Gili Bidara yang cuma sejengkal. Tak ada ombak besar menghadang. Tak ada goncangan yang membuat gusar. Hanya 10 menit melintasi lautan tenang pagi itu.

image
Lepas sauh dan berlabuh di Bidara.
image
Pohon bidara yang juga menjadi sebutan gili ini.

Berhadapan dengan Gili Kondo ada Gili Bidara, pulau yang menjadi tempat tinggal bagi penduduk lokal sejak beberapa dasawarsa lalu. Terhitung sekitar 16 kepala keluarga yang menetap di sini. Mereka tinggal dalam rumah-rumah sederhana yang dibangun dengan material ayaman bambu. Walau tak memiliki fasilitas bagi wisatawan, namun kamu dipersilakan untuk mengunjungi gili ini.

Jalan-jalan di kebun wijen dan ubi milik penduduk menjadi salah satu daya tariknya. Sekalian melihat langsung pohon bidara, yang menjadi asal muasal nama pulau ini. Iya, dulu banyak sekali tumbuhan bernama latin Ziziphus mauritiana di sekitaran pulau, makanya diberi nama serupa. Jika ingin lebih lama menetap di sini, bisa kok menumpang inap di saung mushalla milik penduduk. Ada juga tempat mandi dan untuk makan, bisa memberi sekian Rupiah kepada penduduk untuk menyiapkannya.

Penjelajahan gili pun dilanjutkan ke gundukan pasir ala Gili Gosongan. Sebenarnya lebih dikenal sebagai Gili Kapal, yang namanya berasal dari sebuah kapal perang milik Jepang yang kandas di situ. Walau pamornya dikenal karena sebuah kapal yang karam, namun lama-kelamaan daratan ini tenggelam. Jadi, siapa saja yang ingin menginjakkan kaki di gundukan pasir yang hanya selebar beberapa meter ini, mesti tiba di Gili Kapal di masa air surut. Dari situ, tinggal lanjutkan perjalanan sebentar ke Gili Petangan, yang merupakan kawasan hutan bakau.

Untuk mengelilinginya, kamu tak perlu turun dari kapal yang ditumpangi. Tapi ingat, jika lebar dan besar kapal terlalu berlebih, bisa dipastikan tidak akan muat untuk meliuk-liuk di antara bakau. Oh ya, walau kedalaman air tak seberapa, tapi jangan coba-coba untuk menceburkan diri. Areal perairan bakau kerap ditemukan buluh babi. Nikmati saja pemandangan bakau dari atas kapal. Jika ingin melihat panorama bawah laut, bisa menikmati dekat Gili Lampu. Karang-karangnya masih bisa dilihat kecantikannya. Sebenarnya singkat saja perjalanan mengitari gili-gili yang ada sekitaran situ. Cuma ya itu, perjalanan menuju Lombok Timur itu butuh 3 jam-an dari Senggigi. Tapi nggak masalah dong, sekali-kali menjajal spot baru di Lombok. Jangan Gili Trawangan melulu. Setuju?!

image
Gili Petangan yang tanpa daratan.
image
Gili Kapal yang hanya gundukan pasir. Photo by Febri Amar.

 

 

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s