Pine Wonderland

image
This is pine wonderland.

Menemukan lagi secuil lahan di tanah Jogja yang tak melulu mengandalkan Keraton dan Merapinya. Nggak usah jauh-jauh ke Gunung Kindul. Hanya di Bantul saja kok. Mereka menyebutnya Hutan Pinus Mangunan. Saya menyanjungnya sebagai Pine Wonderland.

Pasti pernah kan nonton film-film bertema fairytale atau sejenis fantasi? Biasanya ada adegan di hutan yang cantik atau semacan padang hijau yang menyejukkan hati. Nah, pemandangan syahdu itu saya temukan ketika melawat ke Hutan Pinus Mangunan di Bantul, Yogyakarta. Seperti biasa, media sosial mewartakan kecantikan hutan ini sehingga saya pun jadi jatuh hati dan dibuat penasaran. Jadi begitu tahu akan menghabiskan tahun baru di Jogja, saya langsung mengusung nama objek wisata ini di daftar itinerary.

Sedikit kisah mengenai si objek, Hutan Pinus Mangunan merupakan bagian dari hutan di kawasan Resort Pengelolaan Hutan Mangunan atau yang biasa disingkat RPH. Dulunya kawasan ini sepi tumbuhan alias hanya berapa lahan tandus. Kemudian inisiatif untuk melakukan reboisasi pun direalisasikan. Ditanamlah jenis pohon lain seperti mahoni, akasia, kemiri, kayu putih, termasuk pinus merkusii. Waktu berjalan, lahan yang dulu gersang menjadi hijau dan asri, termasuk kawasan hutan pinus. Walau hanya sebagai lahan tumbuh pinus, namun sanggup menarik minat wisatawan, khususnya mereka yang ingin berburu foto cantik ala-ala Kota Forks seperti di film Twilight.

image
Welcoming gate.
image
Salah satu jalur untuk menyelusuri kawasan hutan.

Mengunjungi Hutan Pinus Mangunan sama sekali nggak membutuhkan usaha yang berlebihan. Sewa saja mobil dari Yogyakarta, palingan hanya 60-90 menit perjalanan saja. Naik motor sepertinya seru, walaupun jalanan menanjak dan kelokannya mengharuskan pengendara untuk ekstra hati-hati. Rute ke sini pasti searah dengan Makam Imogiri. Mendekati lokasi, pemandangan semakin menarik. Hijau, sejuk dan lalu lintas yang tidak begitu padat. Padahal sedang libur tahun baru, tapi di kawasan ini nampaknya jauh dari keramaian.

Tiba di lokasi, mobil yang disewa menuju pelataran parkir di sebelah kiri kemudian tinggal menyeberang karena hutan pinus berada di sisi kanan jalan. Sebelum masuk ada petugas yang menagih parkir mobil Rp10.000. Tak ada beban karcis pengunjung. Tapi saya curiga besok-besok akan dikenakan chargeAnyway, sejak memasuki hutan pinus, rasanya adem banget. Tenang gitu, padahal saat itu cukup ramai juga. Tapi masih nyaman aja sih.

Agak bingung sih mau ke mana dulu, tapi akhirnya gerombolan si berat alias saya, Inne dan Evan memilih naik ke dataran yang lebih tinggi. Ternyata dekat situ ada rumah pohon dengan dua tingkat. Wuiihh… Harus manjat nih! Cuma mesti antri. Karena saat itu lagi ramai, kami akhirnya eksplor daerah lain. Sempat turun ke sisi rendah, di mana situasinya jauh lebih sepi. Mesti turun melewati tangga yang dibuat sederhana. Rimbunan pohon pinusnya nggak begitu padat seperti di lokasi kedatangan. Di sini ada batu ajaib yang dulunya jadi tempat semedi. Enak sih di sini. Cuma mesti dirusak oleh kehadiran nyamuk-nyamuk. Kami akhirnya naik lagi.

image
The fragile tree house.
image
Stunning view!
image
Gerombolan si berat.

Lucky us, lagi sepi yang di rumah pohon. Ya nggak sepi-sepi banget sih. Kami bertiga naik ke level pertama. Palingan cuma 15 meter saja tingginya. Di situ ada dua remaja yang sedang duduk menunggu giliran untuk naik ke level dua. Jadi begini. Untuk menikmati rumah pohon, tiap pengunjung mesti mengantri. Di tiap level hanya diberi kesempatan lima menit untuk menikmati pemandangan. Memang tidak ada petugas yang mengontrol, makanya pengunjung mesti sadar diri ketika mendapat giliran. Jangan kayak pasangan yang malah asyik pacaran di level dua sehingga kami semua mesti teriak-teriak ke atas untuk mengingatkan mereka.

Di level pertama pemandangannya udah ciamik. Di sini bisa muat lima orang saja. Giliran mau naik ke level dua, kok yak takut. Habis tangga kayunya berdiri tegak lurus, tanpa ada pegangan yang meyakinkan. Asli, deg-degan deh. Dengan bobot tubuh yang berlebihan ini, saya ragu tangga kayu itu bakalan kuat nggak ya menopang. Puji Tuhan bisa berhasil ke atas, walau setengah repot untuk menjejakkan kaki karena ruang geraknya terbatas.

Di level dua saya sama sekali nggak berani berdiri. Takut ambruk. Apalagi alasnya cuma bambu dan kayu gitu. Makin parno begitu Inne dan Evan ikutan naik. Boookkk, kami bertiga aja ditimbang bareng bisa 250 kg sendiri (baru tahu jumlahnya segitu waktu timbang di Museum Kereta Api Ambarawa). Dengan beban 250 kg, di level 2 yang rapuh itu kami tetap ngeksis foto sana-sini, di sela-sela rumah pohonnya yang ikut bergoyang seiring angin menyapa. Scarryyyy!!!

Di luar ketegangan di puncak rumah pohon, kami kagum betul dengan panorama di depan sana. Cantik. Duduk membisu sambil memandang rimbunan pepohonan hijau dengan awan dan langit yang cerah, ah semuanya nampak sempurna. Pantas saja pasangan itu betah di sini. Pewe banget soalnya. Sayang lima menit berlalu cepat. Satu-satu kembali turun. Ternyata proses turun sama mengerikannya dengan proses naik. Mencoba nggak lihat bawah, but to be honest, sepanjang naik-turun di rumah pohon saya berdoa dalam hati..hehehe. Nggak lucu kan lagi enak-enak liburan ada insiden jatuh.

image
Bisa juga sewa hammock kalau ingin santai di sini.
image
Photo by Evan Praditya.

Kelar dari rumah pohon, kami masih foto lagi di rumah pohon yang lain. Kali ini lebih rendang. Dengan latar deretan pohon pinus yang rindang, sekali lagi kami mesti antri. Kalau di rumah pohon ini tersedia papan yang bertuliskan Hutan Pinus yang biasa jadi properti pemotretan. Selain foto-foto, di Hutan Pinus Mangunan tersedia juga penyewaan hammock. Biaya sewanya Rp20.000 saja. Kalau nggak lagi buru-buru, enak banget sih tidur-tiduran di hammock sambil baca buku dan dengarin album American Songbook-nya Rod Stewart. Mantap tuh. In the end, saya merekomendasikan teman-teman pejalan yang sedang di Jogja buat mampir di Hutan Pinus Mangunan. A must-visit spot, not just for hunting photos only, but to relax and enjoy the nature.

-PJLP-

Advertisements

7 thoughts on “Pine Wonderland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s